Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
PUM : Calluella


__ADS_3

"Hei... Akal sehatmu sudah hilang ha?! Kau mau aku jadi tontonan?!!" pekik Franz pada Ovin, saat mengetahui tujuan lain Ovin di saat-saat sedang di culik begini.


"Ya, mendapatkan kesempatan di tengah kesempitan. Bukannya itu julukan yang pas untuk situasimu saat ini?" balas Ovin.


Terpedaya dengan pesona Franz yang punya penampilan acak-acakan, siapa yang tidak mau coba?


Bahkan ketika Ovin sendiri belum pernah merasakan dipangku dengan manja seperti itu, tentu saja, Ovin juga jadi ingin melakukannya.


Rambut pendeknya yang kusut, keringat berlimpah menyusuri setiap inchi kulit puti bersih yang menggoda, serta pakaian yang bahkan tidak di kancing dengan benar, setiap jakun itu bergerak menelan saliva di tengah sepasang matanya tertutup, godaan itu tidak lain benar-benar sukses untuk memikat kaum hawa seperti dirinya.


Di tambah dengan rona pipi yang memerah, kedua daun telinga yang kina bersemu menampakkan sensitifnya, serta kedua paha kaki yang sedikit mengangkang memperlihatkan lekuk body paha yang kuat, menciptakan pesona tersendiri yang tidak bisa di hindarkan.


Benar, kepopuleran Franz memang pada dasarnya terletak pada penampilannya bak pangeran berkuda putih.


Namun, tidak banyak yang tahu kalau pangeran itu sudah lebih dulu Ovin dapatkan.


'Ada apa dengannya? Tiba-tiba malah membuat aku malu di depan banyak orang seperti ini. Ovin, baru juga ketemu tapi dalam waktu singkat dia justru sudah berbeda dengan apa yang aku lihat terakhir kali.


Jadi-- apakah ini sifat dia yang sebenarnya?' karena sepasang mata Franz di tutup dengan kain, dia pun hanya bisa menebak-nebak saja.


"Franz, dengar kan? Ovin, di bahkan mau ikut melihat saudara kecilmu. Pasti unyu-unyu kan?" goda Calluella, semakin membuat banyak orang di sana jadi terpaksa menahan malu sendiri.


"Diam kau~ Kita belum pernah bertemu sekali pun, tapi main culik orang saja. Jangan seenaknya menggodaku, aku tidak akan tergoda, sekalipun kau punya dua melon besar,"


"Oh, jadi maksudmu kau akan tergoda saat kau menemukan buah melon yang baru tumbuh?"


BLUSHH...


Padahal hanya berkata melon, tapi Ovin yang menjadi salah satu perempuan setelah Calluella, dia langsung tersipu malu.


"Ya, kau menyesakkan," ejek Franz, membuat Calluella tersenyum masam.


"K-kau, mulutmu ternyata nggak bisa di jaga ya? Padahal kau sudah tahu aku ini siapa, tapi kau bahkan tidak punya sopan santun kepadaku," ucap Calluella seraya menepuk permukaan dada bidangnya Franz.


"Pfft~" bahkan beberapa anak buahnya, tidak tahan untuk tertawa.


"Apa yang kalian tertawakan!" tegas Calluella.


"Maaf, kami tidak akan tertawa lagi," langsung pada mode serius lagi, meskipun di dalam benak hati mereka, mereka masih menertawakan majikannya yang di ejek oleh Franz.


"Yah... Aku, menyukai cara menegangkan seperti ini. Menegangkan seperti adik kecilmu ini~ " bisik Calluella pada Franz dan jarinya menunjuk-nunjuk ke area pribadinya Franz. "Unyu-unyu- ayo perlihatkan pada kakak cantik ini,"


"Behenti! K-kau... Sama gilanya dengan dia." baru kali ini Franz dipermainkan oleh wanita yang seperti ini.


Sampai tidak lama setelah teriakannya Franz, suara milik seseorang yang baru saja masuk ke dalam gudang itu, langsung menggema.


"Calluella!" panggil seseorang dengan nada yang sangat lantang.


"Ha? Jangan teriak begitu dong, telingaku bisa tuli." Jawab Calluella dengan selamba dan masih tidak beranjak dari pangkuannya Franz.


"Apa yang kau lakukan disitu?!" dan datanglah pria dewasa dengan pakaian berjas berwarna biru tua. Pria tinggi yang sepantaran dengan wanita bernama calluella.


Rambut serabai berwarna hitam pekat, dan memiliki retina berwarna coklat, itu pun kalau kalian benar-benar memiliki mata yang bagus di saat berada di cahaya yang tidak begitu terang itu.


"Turun!" perintah pemuda ini pada Calluella agar turun dari pangkuannya Franz, karena pemandangannya sungguh cukup menyakitkan matanya.


"Nggak mau." malah melekatkan lagi pelukannya pada Franz.


Pria yang baru datang itu semakin geram melihat tingkah Calluella yang keras kepala.


"Aku bilang turun!" perintahnya lagi, kali ini pria ini bersedia untuk berjalan menghampiri wanita itu dan segera menarik tangan Calluella dari leher Franz.


"Ihh! Aku kan mau bersamanya." tangannya makin mencengkram leher Franz dengan maksud memeluknya dengan begitu eratnya, saking enggan untuk berpisah dengan anak muda yang baru saja dia goda habis-habisan.


" Uhk..uhuk.., lepaskan aku. " pinta Franz, entah kondisi apa yang sedang terjadi saat ini, lehernya jadi tercekik, dadanya sesak, dan nafasnya pun jadi terasa susah karena dadanya Calluella yang besar itu menghimpit erat dadanya.


Sangat berbeda saat berpelukan dengan Ovin, kali ini dia benar-benar merasa tersiksa dengan pelukan wanita tersebut.


Bukannya senang, tapi memang menyesakkan.


"Aku harusnya tidak menyuruhmu." pria ini masih ngotot agar Calluella melepaskan pelukannya pada Franz.


"Kalau kau nggak mau melepaskan anak ini, aku akan mengadu pada ayahmu." ancam pria ini terhadap Calluella.


"Tapi aku masih ingin bersama dengan anak ini, dia masih muda- aku suka dengan aromanya juga," mengendus aroma keringat yang bersemayam di permukaan kulitnya Franz, Franz kembali bergidik ngeri.


"Apakah aku tidak lebih harum dari aroma bau kencur anak itu?"


"E-eh~ Aku serius, jika kau nggak mau melepaskan dia, aku akan menghubungi Ayahmu sekarang, kalau kau berani berselingkuh di depanku," dengan cepat pria ini langsung mengeluarkan handphone nya.


"Jangan lakukan itu!" Calluella seketika mematung, dan ketika tangan pria itu mencoba agar tangan Calluella lepas dari leher Franz, nyatanya ancamannya benar-benar berlaku.


Pria ini memutuskan agar Calluella turun dari pangkuannya Franz, dia langsung menggendong Calluella ala bridal.


"Wow... Kau makin kuat." senang, bisa di gendong ala bridal oleh laki-laki tampan ini, Calluella langsung menempatkan kepalanya di salah satu bahu pria ini.


"Nah, kalau sudah tahu aku semakin kuat, seharusnya kau tidak seenaknya duduk di atas pangkuan laki-laki lain.


Awas saja, nanti saat kau sudah jadi milikku sepenuhnya, kau akan aku pangku sepanjang hari sampai kau tidak bisa berjalan,"

__ADS_1


BLUSHH...


Rona pipi semua orang langsung kembali hadir dalam diri mereka, saking malunya mendengar kata-kata yang terdengar vulgar itu.


"K-kau ini! Ahh! Jangan membuat kepalaku traveling begini dong," protes Calluella.


"Haha, satu hal lagi yang harus kau perhatikan, jangan coba-coba merokok lagi, tidak usah berlagak." ujarnya lagi, memperingatkan Calluella bahwa yang Calluella coba untuk merokok tadi, sungguh tidak bagus.


"Yah... Aku kira dengan begitu mereka akan takut dengan sosokku. Tapi..malah, sebaliknya," Calluella melirik ke arah Jerry dan Ovin yang masih terikat, menunjukkan wajah kalem alias tidak terlihat takut.


Pria ini tersenyum lemah, gara-gara satu orang wanita, semuanya jadi heboh, sampai-sampai ketiga remaja yang dia kenal, malah ikut terseret dan di ikat layaknya seorang penjahat.


"Maafkan wanita gila ini, pasti berat melihatnya menggoda suamimu. " tuturnya, ucapannya menunjuk ke arah Ovin.


"Kenapa kalian bisa-bisanya tahu hubunganku yang rumit ini?. Enteng sekali kalian bicara ' suamimu '. " sela Franz di detik itu juga.


Lantas membuat mereka semua memperhatikan Franz dalam diam, karena kebetulan matanya Franz masih tertutup dengan kain hitam.


'Hah, leganya. Memang aku tidak cocok dengan dada besar. Sangat sesak, bagaimana bisa orang ini punya selera begitu.' dalam pikirannya, Franz sudah merasa bersyukur dengan kondisinya saat ini karena akhirnya bisa bebas dari tangan Calluella.


"Kau harusnya bersyukur, bisa punya wanita dengan stamina kuat seperti dia." tutur pria ini lagi, dengan maksud mencoba menasihati Franz.


Ovin jadi malu sendiri, malah di bela dengan ucapan seperti itu.


"Stamina kuat? Kuat apanya? Dia bahkan beberapa kali pingsan di tanganku,"


"Ahaha, tentu saja, demi mendapatkan perhatianmu dia bisa melakukan apapun yang dia inginkan agar kau bisa bersamanya," jawabnya dengan tawa renyah miliknya. "Ya kan, Calluella?"


"Oh-oh! i-iya, itu biasanya terjadi, karena aku juga kadang begitu, biar orang ini hanya perhatian kepadaku saja, walaupun ada kalanya memang tidak di sengaja," jelas Calluella.


"Hei...Tu-tuan E-eon, ja-jangan ber-kata seperti itu, sa-saya jadi malu!"


"Malu? Bahkan sampai saat tadi kau bisa bicara tidak tahu malu di depan mereka, kenapa hanya seperti itu saja kau bisa malu?" timpal Franz, dia masih tidak begitu puas hati dengan ucapannya Ovin sampai beberapa waktu yang lalu.


"Biarin!" ketus Ovin.


"Vin, kau kenal dengan orang itu?" bisik Jerry kepada gadis disebelahnya yang sedang menanggung malu sendiri.


"Ahahaha... Lihat, wajah meronanya, aku yakin dia mudah digoda pria lain jika ucapan seperti tadi saja, sudah membuatnya tersipu malu. " sindir Calluella.


"Sudah, aku benar-benar akan mengadumu pada ayahmu." ancam pria yang dipanggil Eon oleh Ovin tadi.


"I-iya." dan Calluella segera terdiam lagi.


"Hahh..." Terlihat juga wajah frustasi Eon karena harus mengursi Calluella.


'Drama apa ini? Dia lagi-lagi memyembunyikan hal ini dariku. Sampai aku ikut diculik seperti ini.' batin Franz, tubuhnya sudah tak karuan, selain keringat juga masih ada bersemayam parfum yang ditinggalkan oleh Calluella tadi.


Hari-harinya tidak pernah tenang selama gadis itu berada di sisinya, dan semuanya pasti akan selalu membawa dirinya ( Franz ) ke tiap masalah yang dibawa Ovin.


"Dia tunangannya?" gumam Jerry.


Setelah beberapa saat, Jerry kini akhirnya duduk di sofa yang nyaman.


Yah... Setelah kedatangan pria bernama Aeon yang disapa Ovin sebagai Eon itu, pria itu menyuruh anak buahnya untuk melepaskan ikatan di kursinya dan akhirnya terbebas juga.


"Ternyata sifat aslimu muncul. Katanya tidak mau." ujar Franz pada Ovin dengan begitu ketus.


Mereka berdua masih terikat di kursi, tapi kali ini matanya Ovin juga ditutup dengan kain hitam dan kedua orang ini malah duduk saling berjejer.


Berbeda dengan mereka berdua, Jerry adalah satu-satunya yang di lepas dan di suruh duduk di tempat yang terpisah.


"Kenapa mereka tidak dilepas?" tanya Jerry pada pria di depannya.


"..." namun tidak ada jawaban.


Yah, ada alasan tersendiri kenapa bodyguard ini tidak mau mengatakan apapun, karena tugasnya hanya menuruti semua perintah serta persyaratan dari majikannya saja.


"Tidak mau apa?" Tanya balik Ovin kepada Franz.


"Kau mau melihat adiku kan?"


"Adikmu kan perempuan, aku sudah lihat adikmu." balas Ovin, mengalihkan perhatiannya dari apa yang barusan Franz katakan.


Dan Ovin masih saja bisa mengelak pertanyaan tersebut. Padahal maksudnya bukan adik perempuan yang Ovin katakan, namun yang lain dari yang lain.


"Cih, jadi selama ini... Sikap polosmu cuma pura-pura?" terka Franz.


"Aku memang polos." singkatnya. Dia menjawabnya dengan terus terang.


Meskipun terdengar seperti menyangkal ucapannya, namun menurut yang Ovin pikirkan, dirinya memang terlalu polos.


Yang pertama dari segi hati, yang terus saja bergejolak, rasa suka yang hanya di dasari dari visual saja, serra dirinya yang terlalu naif karena bisa-bisanya terpesona dengan Franz yang jelas-jelas punya sifat yang cukup buruk.


"Polos dari mananya? Ucapan mesummu keluar tadi, saat Calluella bilang menginginkanku." kata Franz, kembali mengunggah topik itu lagi.


"Aku tidak tahu cinta, cuma tahu hatiku sedang suka, berarti aku masih polos. Aku tidak tahu apa-apa tentang percintaan. "


'Sejak kapan dia bisa menyangkal ucapanku terus? Pintar sekali ya kalau menjawab.' terheran melihat sikap Ovin yang kini jauh lebih aktif dari pada sebelumnya.

__ADS_1


"Polos bukan berarti menyangkut tentang percintaan, dan aku bukan tanya tentang cintamu, tap- "


"Aku membahas diriku sendiri, masalahku sendiri, jadi cukup ya... Aku salah lagi, lagi, dan lagi. Aku tahu aku naif, memang tidak pantas memilikimu, karenaku... Kau jadi ikut diculik. Tapi... aku akan meminta Tuan Eon, untuk melepaskanmu sekaligus mengantarmu kerumah." terang Ovin bergitu panjangnya, ia kesal lagi... Entah kenapa hatinya membludak ingin berteriak.


"Kalau kau tidak pulang, apa gunanya aku pulang juga? Ibuku akan bertanya terus." beber Franz, pada akhirnya dia membuat alasan dengan menggunakan Ibu nya sebagai dalih.


"Yang kau khawatirkan adalah dimarahi Ibumu, aku akan mengurus hal itu." ketusnya, dia tahu kalau Franz sedang membuat alasan saja dengan menggunakan soal Ibu nya sendiri, padahal dari hati, Ovin berpikir kalau Franz tidak mungkin punya niat dari hati nuraninya sendiri.


"Lalu kau sendiri?" tanyanya lagi.


"Disini saja." ia benar-benar lelah, berbicara dengan satu orang saja sudah lelah, lagi ini... Dengan Franz yang dipenuhi pertanyaan dan kata pulang terus. "Lagi pula kelihatannya mereka lebih menginginkan aku, jadi untum apa aku pulang?"


"Weh, bukannya kau sudah berjanji kalau kah akan pulang?"


"Tapi situasinya sekarang ini mereka terlihat tidak akan membiarkanku pulang begitu saja! Aku punya urusan dengan mereka, tidak sepertimu itu yang hanya-" enggan untuk mengatakan kalimat selanjutnya, Ovin akhirnya terdiam.


"Hanya apa?"


"Tidak ada-" akhirnya Ovin pun memilih untuk tidak mengatakan yang sebenarnya, karena dia tidak mau urusannya jauh lebih panjang.


Franz lantas menatap Ovin dengan penuh curiga.


"Ah..." Ovin menghela nafas panjang, dan ketika itu ia menoleh untuk menatap Franz.


Meskipun tidak mampu melihat wajah Franz, tapi ia merasa memang Franz ada disitu dan entah sama-sama sedang menoleh ke arahnya atau tidak, Ovin pun menyampaikan beberapa hal pada Franz.


"Intinya karena aku memiliki urusan disini, aku jadi tidak bisa ulang, titik itu saja, ok?"


Dan seketika suasananya menjadi hening.


'Urusan apa? Sampai tidak mau memberitahuku?' detik hati Franz, dua masih terus memperhatikan Istri nya yang tampak lelah itu.


Melihat ada air mineral yang tergeletak di lantai, Franz pun mengambilnya dan mencoba untuk meminumnya.


'Rasanya, hmm... Tidak ada yang aneh.' karena dia pikir kalau selain dirinya, Ovin juga pasti haus, dia pun tanpa sungkan memberikan Ovin minum.


"A-apa ini?" tanya Ovin dengan penuh keraguan.


"Air, kau pasti haus kan?" sahut Franz dengan cepat.


"Air dari mana? Jangan seenaknya minum air sembarangan! Kali saja ada racunnya!" tegas Ovin, memperingati Franz yang dirasa cukup ceroboh.


"Nggak ada racunnya, aku tadi sudah minum duluan. Ya, kalau kau nggak mau ya sudah, aku akan menghabiskannya sendiri."


"E-eh, jangan..." akhirnya Ovin pun tidak ingin membiarkan air minum itu dihabiskan oleh Franz.


Meskipun ada banyak sekali perselisihan diantara mereka berdua, namun entah kenapa Franz sendiri justru benar-benar seperti lampu suis.


Beberapa waktu yang lalu mereka berdua sempat bertengkar, tapi hanya karena air, pertengkaran mereka berdua sudah reda, seakan sudah dibawa kabur okeh angin.


"Buka mulutmu," pinta Franz.


Ovin dengan menurut, membuka mulutnya.


Dan dalam beberapa waktu itu, dia pun memberikan. air kepada istrinya itu.


Gluk...Gluk...


"Hahh... Makasih. Oh ya, maaf jika aku jarang bicara. Aku memang tidak tahu bagaimana caranya bicara dengan orang seperti kalian."


"Tapi kau bisa bicara tuh~" sambil menghabiskan air yang masih tersisa.


"Aku bicara karena menjawab pertanyaanmu!" tuturnya lagi.


"Jadi kau akan bicara jika aku mau bertanya?"


"Ya... Tergantung pertanyaannya juga."


"Kalau begitu aku akan tanya, kenapa kamu bisa mengenali dia tuan Aeon?" akhirnya dia pun bertanya juga, karena dia sendiri merasa aneh dengan Ovin, yang dia pikir buta wajah, selain itu, 'Katanya dia buta wajah, tapi kenapa dia bisa tahu siapa orang yang barusan itu?' batinnya.


Dan meski yang ditanyakan Franz adalah, bahwa Ovin buta wajah pada semua pria tapi kenapa ia bisa tahu laki-laki tadi bernama Aeon, Ovin justru menjawab yang lain.


"Karena aku pernah bertemu dengannya."


'Kenapa dia menjawabnya malah pernah bertemu? Aku mengerti tiap orang punya alasan masing-masing bisa bertemu, tapi yang aku maksud tadi itu kenapa dia tahu kalau laki-laki itu Aeon? Katanya buta wajah! Dia tidak berbohong, kan?'


Franz pun begitu tidak puas dengan jawabannya gadis ini.


[ Kalau aku memberitahukan jawaban, maksud dari pertanyaan Franz sebenarnya, pasti mereka akan mengetahui kelemahanku. ] fikir Ovin di saat itu pula, karena ia tidak bisa percaya dengan semua orang di sekitarnya, jadi sebisa mungkin dia harus menyembunyikannya denganbaik.


Kelemahan bahwa Ovin memiliki kekurangan di bagian mengenali wajah orang lain.


"Kau-- Ah!, benar-benar sangat mengganggu pikiran." rutuk Franz.


"Memangnya apa yang membuat aku mengganggu pikiranmu?"


"Mau bersikap tidak tahu lagi? Tiap di dekatmu aku selalu terbawa masalahmu."


"Mereka menculikmu karena memang ada urusan denganmu juga. " kata Ovin, membuat Franz melongo.

__ADS_1


__ADS_2