
"Lihat tamu yang ada disana minumannya sudah kosong, kamu berikan ini padanya." Perintah Merli pada pelayan.
"Baik nona."
Ovin yang sedang berdiri di balkon akhirnya didatangi oleh satu pelayan yang membawakan minuman. Karena gelasnya sendiri juga sudah kosong, jadi Ovin menerima tawaran dari pelayan itu dan mengambilnya.
'Hahaha, minumlah.' Senyuman licik pun tersungging di bibir Merli yang hatinya sudah dipenuhi dengan kebencian terhadap Ovin.
Merli sudah menabur obat bius di dalam minuman yang sudah ada di tangan Ovin, dengan begitu setelah Ovin benar-benar meminumnya dan mendapatkan efek dari obat bius itu sendiri, Merli bisa melanjutkan rencana berikutnya.
Merli menunggu untuk waktu yang cukup lama dan tibalah saatnya.
'Cepat! Aku sudah tidak sabar lagi.'
Benar-benar mengutuk dan berbuat jahat pada teman sekelasnya.
Ovin meminum minumannya untuk seteguk saja, barulah ia pergi ke toilet untuk beberapa hal.
Merli lantas mengikutinya dari belakang, dan menunggu sampai obatnya bereaksi.
Beberapa saat kemudian terdengar suara orang terjatuh, Merli buru-buru masuk ke dalam dan mendapati Ovin tergeletak. Ia pun mulai melaksanakan skenarionya, Merli memapah dan membawa Ovin keluar dari toilet kemudian ada seorang laki-laki datang dan menawarkan bantuan untuk membawa Ovin ke kamar dan rencana demi rencana Merli buat.
5 menit kemudian.
'Hihihi.....Ovin pasti sedang bersenang-senang.' Dengan hati gembira Merli seperti orang gila karena tersenyum-senyum sendiri.
Lalu tiba-tiba senyuman licik tadi berubah menjadi kemarahan yang sedang ditahan. Dari arah tatapannya, Bella baru mengetahui kalau Ovin kembali masuk ke ruang pesta dan itu membuat Merli geram sendiri yang artinya.
Rencananya tidak berhasil. Merli yang terlalu bodoh atau anak itu yang susah di jebak?. Lalu Bella menyeruput wine di tangannya.
'Bagaimana bisa! Dia seharusnya tidak sadar!' Geram Merli melihat musuhnya datang kembali.
"Membosankan. Gumam Ovin.
"Ovin! Ovin!" Panggil Rosly sambil berlari menghampiri Ovin yang akhirnya dapat dia temukan. "Dari mana saja kamu?" Tanya Rosly kepada Ovin.
"Ada serigala pengganggu." Ovin memberikan kunci kamar hotel pada Rosly.
"708? Apa yang ingin dilakukan serigala itu?" Rosly bertanya penasaran.
"Memakanku." Dengan ekspresi datarnya Ovin berhasil membuat Rosly bereaksi.
"Hiii...." Bulu kudur Rosly langsung meremang karena di acara pestanya, ternyata ada yang berani mengganggu teman berharganya itu.
Ingin mengacaukan pestanya? Tidak akan mungkin terjadi. Rosly meminta beberapa temannya pergi ke satu kamar yang menjadi sangkar serigala itu.
"Apa kamu mau pulang?" Tanya Rosly khawatir.
Salah satu alis Ovin terangkat dan bertanya, "Apa aku tidak di ijinkan pulang dulu?"
"Tentu dong, jika bisa tunggu sampai acaranya selesai, kalau ngantuk tiduran saja di ruang istirahat." Rosly benar-benar menawarkan kebaikannya kepada Ovin.
"Baiklah. Oh....ngomong-ngomong kita pertama kali kenal karena peristiwa apa ya?" Hal ini saja Ovin juga lupa, karena kebanyakan bisa mengenal dirinya karena satu peristiwa yang tidak sengaja terjadi.
__ADS_1
"Masa kamu tidak ingat, itu loh....6 bulan lalu kamu menolongku dari penculik." Jawab Rosly dengan wajah tak puas hati, gara-gara pertemuan pertama mereka, ternyata Ovin melupakannya.
"........ " Ovin berfikir sesaat, "Oh aku sudah ingat. Sekarang pergilah, banyak temanmu yang belum kamu sapa."
"Baiklah orang-orang ku akan membereskan sisanya. Jadi jangan pergi dariku dulu, aku ingin berbincang denganmu lebih banyak." Rosly pun akhirnya pergi.
"................" Ovin pun hanya memberikan senyuman lemah, karena tidak akan menyangka kalau tokoh utama di acara pesta ulang tahun malam ini adalah seorang kenalan yang tidak sengaja berkenalan di sebuah insiden penculikan yang terjadi kepada Rosly.
Kebiasaan dari anak pemilik perusahaan terkenal memang selalu mendapatkan pengalaman seperti itu, dan Ovin adalah penyelamatnya. Itulah awal dari hubungannya dengan Rosly.
'Tapi siapa yang mengerjaiku? Jika aku lengah bisa gawat.' Ovin pun mengerutkan keningnya yang memang dari awal sedikit pusing, ia memijat keningnya dan mengabaikan pandangan orang-orang disekitarnya.
Tiba-tiba ada sepasang kaki berhenti tepat di depannya.
"Nona, ini obat sakit kepalanya."
Rupanya adalah kepala pelayan rumah tangga keluarga Berniard lah yang datang. Dia membawa nampan berisi air putih dan obat khusus sakit kepala.
Untuk beberapa waktu Ovin melirik ke arah jam 2 dan menemukan kalau Rosly lah yang meminta pelayan tersebut membawakan obatnya.
"Terima kasih. " Mengambil obatnya dan langsung meminumnya.
" Sebaiknya nona beristirahat di kamar. " Kepala pelayan ini mencoba membujuknya.
" Tidak, aku ingin disini sampai acaranya selesai. "
" Tapi efek obatnya bisa membuat anda mengantuk. " Sela sang pelayan itu dengan cepat.
[Padahal baru saja menghindari jebakan tadi, apa aku benar-benar harus istirahat? ] Pikirnya, " Ah....baiklah " Akhirnya menuruti juga, toh bisa menghindari beberapa waktu dari kebisingan.
Di sisi lain....
" Kemana dia pergi? "
" Oho....tuan muda Franz, kepala Ovin sedikit berputar-putar, aku menyuruh paman pelayan untuk memberikan obat sakit kepala kepada Ovin dan mengantarnya ke kamar. " Jawab Rosly dengan pede nya, seolah-olah dia kenal dekat dengan Franz.
Tapi kenyataannya memang begitu, ia tahu hubungan kedua orang ini namun sengaja ikut merahasiakannya.
" Bagaimana kau bisa mengundangnya kesini? Aku kira- "
Rosly menyela dengan cepat. " Jangan salah sangka, aku memang baru kenal 6 bulan yang lalu, tapi dialah penyelamatku. Jika tidak ada dia sudah pasti aku tidak akan berdiri disini, makannya sekarang dia sudah seperti saudaraku juga. Jagalah dia atau kau akan menyesalinya. "
Jelas Rosly dimana di akhir kalimatnya ia sedikit berbisik di telinga Franz dengan satu tangan kanan menepuk pundak Franz.
"..............." Franz hanya terdiam dengan penjelasan bodoh dari Rosly.
" Aku kesana dulu dan kamu sebaiknya balik ke Bella dulu, tatapannya sangat mengganggu. " Rosly mencoba memperingatkan Franz yang sudah ditunggu oleh Bella.
Tentu saja tatapannya Bella juga sampai terasa di punggungnya dan itu sangat mengganggu untuk Rosly.
Alasannya mengundang Bella juga sebagai formalitas saja agar tidak terkesan memihak.
TRING .......TRING.........
__ADS_1
" Ada apa? Besok? Besok aku akan datang " Jawab Franz setelah mendapat telepon dari ibunya.
" Ada apa? Wajahmu terlihat tidak bersemangat? " Tanya Bella.
" Mungkin aku hanya kelelahan. " Menempatkan gelasnya di meja yang ada di sebelahnya.
" Apa kita pulang saja? " Bella mencoba memberikan ekspresi khawatir pada Franz agar dia bisa berpikir kalau dirinya benar-benar memperhatikan Franz dengan sepenuh hati.
Sedangkan di salah satu kamar hotel nomor 890 terdapat satu orang tengah duduk sembari menatap pemandangan kota dari balik jendela kamar tersebut. Ia sengaja mematikan lampu kamar agar kepalanya bisa terasa dingin, karena sedikit mengganggu jika lampunya menyala.
TRING......
' Besok jam 3 sore aku datang menjemputmu. '
Pesan singkat, sangat singkat tanpa ada penjelasan kenapa.
[ Franz mengirimku pesan. Berarti masih ada banyak waktu tersisa. ] Ovin mengeluarkan ponsel dari saku bajunya dan menekan nomor 2 sebagai panggilan cepat. " Halo......, aku akan menyelesaikannya malam ini juga. "
Tut....tut....tut......
" Tidak heran jika mereka sudah mulai bergerak, mereka sudah menaruh curiga. " Gumam Ovin.
Lalu Ovin mengirim pesan pada Rosly kalau dirinya tidak bisa berlama-lama disitu dan berniat untuk pergi.
_______________
Keesokan paginya pukul 8 pagi
' Berita kali ini, kami menerima informasi dari kepolisian bahwa sekelompok bandar narkoba yang sudah menjadi buronan selama 4 tahun akhirnya bisa tertangkap.
Dua pemimpin dari bandar narkoba terbesar kedua di asia. Dari penyelidikan kasus ini, ada sekelompok anggota yang bisa kita sebut sebagai kesatria bayangan.
Dari namanya saja sudah diketahui kalau ksatria adalah lambang keadilan dan bayangan itu sendiri adalah julukan khusus karena keberadaannya yang masih misterius. '
Satu tangan terangkat dan menggenggam remot tv, lalu salah satu jarinya menekan satu tombol berwarna merah.
TUT.........( Mematikan televisi )
Pagi hari yang cerah, namun wajah yang ia benamkan ke dalam bantal menjadi pemandangan asing.
Rambut hitam yang kusut dan baju yang berserakan di lantai, beberapa tisu yang tertampung di dalam tempat sampah menjadi pembuangan khusus karena berisi sampah akan tisu bernoda darah.
Perban juga masih tergeletak di atas meja serta alkohol yang sedikit tumpah di atas lantai, benar-benar pemandangan yang tidak enak dipandang di mata pemirsa sekalian.
Satu deretan 5 jahitan juga tertanam di kulit lengan kanannya, ada rasa nyeri yang masih dia rasakan namun masih dapat ia tahan.
Ovin merasa ingin mengutuk dirinya sendiri karena pagi itu ia benar-benar malas untuk bergerak. Lalu wajahnya yang tadinya ia benamkan ke dalam bantal, ia keluarkan dengan posisi menoleh ke samping kanan.
" Aku ingin makan. " Gerutu Ovin, perutnya lapar namun malas untuk turun dari sofa dan sayangnya sinar matahari yang menyilaukan itu lantas membuat dirinya harus terpaksa bangun dan pindah.
Lalu dibukanya kulkas kecil yang ada di asramanya, hanya ada satu telur tersisa.
[ A...apa? Aku hanya memiliki satu telur? ] Karena malas belanja, ia terpaksa untuk menggoreng satu-satunya bahan yang tersisa di kamarnya, yah...hanya bermodalkan nasi dan telur goreng, itu sudah cukup untuk menjadi santapan pagi.
__ADS_1