Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
126 : PUM : Rebutan


__ADS_3

KLANG....


"Pergi sana!" Mengusir Chade dengan sebuah teriakan yang cukup tegas.


Chade melambaikan tangannya ke arah Franz, lalu tangan kirinya mencengkram pergelangan tangan kanan Ovin.


"Dengar itu, dia mengusirku, jadi kau ikut denganku, jangan bersama dengan laki-laki seperti dia," Kata Chade.


Ucapannya pun semakin memprovokasi Franz.


" Mau bayar aku berapa? " Tanya Ovin, menawarkan harga untuk meninggalkan Franz yang sudah di selimuti amarah.


"1 jam 1 juta, diriku bisa membuatmu lebih bisa cepat kaya. Coba kau pikir, dua puluh empat jam dua puluh empat juta, dikalikan sebulan, atau setahun?"


Menarik tangan Ovin dan yang di tarik ikutan melangkahkan kakinya, dalam diam Ovin tersenyum senang karena didunia ini dirinya beruntung bisa berada di keluarga berada walau sudah tidak memiliki orang tua bahkan kakek maupun nenek, paman Chade lah yang selalu berada di sisinya.


Kedua orang ini pun berjalan melewati pintu dan menuruni beberapa anak tangga sebelum akhirnya sekarang mereka berada di depan mobil berwarna biru tua, biru yang sama dengan warna kotak yang diberikan kepada Ovin.


" Atap-atap." pinta Ovin kepada paman agar membukakan atap mobil.


" Oh..tentu." Dengan kunci berpadukan remot yang berada di genggamannya, atap mobil perlahan terbuka.


" Kita sejolin kan? "


Mengingat warnanya sama dengan milik mobil yang beberapa hari lalu dibeli dan ia berikan kepada keponakannya.


"Janji, beri aku 1 juta untuk satu jam nya ya?" Ovin mengkonfirmasi ucapannya Chade barusan.


"Kalau kencan buta, akan aku tambah 500 ribu deh." Memberikan tawaran yang lebih tinggi lagi untuk setiap kencan buta.

__ADS_1


"Kata-katamu itu, sangat membuat orang jadi salah paham." Ovin sengaja menegurnya dengan berbisik, kata-katanya sangat tidak bagus jika di dengar orang lain ter...


Sampai tiba-tiba saja, satu tangan merangkul pundaknya. Ovin menoleh siapa orang yang tangannya seenaknya saja bertengger di bahunya, dan siapa lagi kalau bukan Franz.


" Aku beri 2 juta jangan ikut orang ini. " tutur Franz dengan berbisik di sebelah telinga Ovin.


" Bocah, aku bisa mendengarnya." Pungkas Chade.


"Berhentilah memanggilku bocah, aku sudah dewasa." protes Franz.


" Aku lebih tua darimu, masih SMA juga berarti masih bocah. " Hina Chade lagi.


"Yakin dua juta? Padahal selama hampir tiga bulan ini, kau sama sekali tidak memberiku uang,"


DEG.


'Kenapa harus di bahas sekarang sih?' Rutuk Franz. 'Aku tahu aku sama sekali belum memberimu uang, tapi kan-'


Entah mau berapa lama lagi Chade memancing amarah tuan muda ini, tapi dari ekspresi amarah yang ditahan pastinya sedikit lagi sudah tidak bisa lagi mengontrol tangannya.


" 4 juta, kita jalan-jalan."


Chade memberikan tawarannya lagi kepada gadis kecilnya yang sudah ia rawat selama 6 tahun belakang ini.


" 6 juta." Franz ikut menawar harga. 'Aku tidak akan membiarkan dia ikut denganmu'


" 9 juta." dan chade terus menaikkan jumlah nominalnya.


" 15 juta." Tidak mau kalah juga, Franz masih terpancing dengan ajakan Chade.

__ADS_1


" 20 juta."


" 25 juta." Franz masih tidak mau kalah, sampai tidak ingat posisinya sendiri kalau biaya hidupnya saja sebenarnya masih di tanggung oleh keuangan milik dari kedua orang tuanya.


'Apa-apaan mereka? Tapi Franz, dia sampai tidak mau aku pergi dengannya, dia sampai bertaruh seperti itu dengan pamanku. Tapi ada untungnya juga kedua orang ini beri aku duit 1 jam sampai 25 juta, jika dua orang sama-sama aku ajak jalan bersama-' Dan pada di detik itu juga Ovin membuat keputusan.


Sembari menyunggingkan senyuman geli namun dialiri niat licik, Ovin pun menjawab. "Kita bertiga pergi bareng." keputusan akhir berada di tangannya.


" Tidak! " All secara serentak Franz dan Chade menjawab.


'Kenapa mereka berdua jadi kompak seperti itu?' Ovin jadi tersenyum tawar melihat dua orang laki-laki yang sedang memasang taruhan, bisa berteriak bersama seperti itu.


"Berdua saja." Pungkas Chade.


" Kalau begitu kalian berdua saja yang berkencan," Sela Ovin bergantian memandang wajah Franz dan Chade, dimana hanya dua orang ini saja yang wajahnya bisa Ovin lihat dengan normal.


" Apa?! Dengan dia?! " Dan lagi-lagi Chade dan Franz bereaksi sama dan saling menunjuk satu sama lain.


Dengan wajah jijik, Franz berniat menolaknya tapi..


" Baiklah! "


Chade tidak sungkan untuk menjawab iya, seperti kakak beradik yang sudah akrab lama, Chade berani merangkul Franz seperti tidak terjadi apa-apa, padahal beberapa saat tadi mereka berdua berdebat.


" Tapi kau tetap ikut." Tunjuk Chade pada wajah Ovin yang terlihat kebingungan itu.


"Kalau begitu uangnya?"


"Karena kau tadi menyuruh pergi bertiga, berarti tawaranku sudah hangus." beritahu Chade.

__ADS_1


"Yah~" Wajah Ovin berubah menjadi masam, keputusannya untuk memperoleh uang dari dua orang akhirnya tidak jadi.


__ADS_2