Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
PUM : Tumbang


__ADS_3

'Apa yang sebenarnya aku harapkan dari anak ini? Kenapa kau tiba-tiba mengatakan untuk memperlakukan aku dengan baik?


Padahal melihat dari dia yang selama ini selalu membuatku sengsara, aku seharusnya tidak berkata seperti itu.'


Padahal selama dia selalu bertahan dalam menghadapi situasi apapun.


Bahkan ketika dia pernah mendapatkan kekerasan fisik, dia masih bisa bertahan.


Hanya saja, ketika itu menyangkut hati, dia seperti puding yang mudah hancur, apalagi ketika ingatannya tiba-tiba saja mengingat mendiang Ibu nya.


" Kenapa aku nangis?" Gumam Ovin. 'Ibu~' begitu dia tiba-tiba teringat lagi dengan ibunya, Ovin pun tiba-tiba saja berlari pergi keluar dari kantor polisi.


"Vin! Kau mau pergi kemana?!" Franz ikut menyusul, akan tetapi rupanya istri nya itu benar-benar kuat berlari kencang, sampai dia malah tertinggal jauh.


"Jangan ikuti aku!"


'Apa yang sebenarnya dia tangisi? Kenapa tiba-tiba mood nya berubah lagi?' Franz yang tidak mengerti lagi kenapa perempuan itu menangis, hanya mengacak rambutnya sendiri, dirinya sedikit frustasi mengurusi satu wanita yang sedikit-dikit kaya belut .


'Kemana lagi dia pergi?' Susah payah dirinya mencari-cari keberadaan perempuan ini, dan akhirnya setelah beberapa waktu, dia pun sampai di tempat dimana dia mendengar isak tangis seperti kuntilanak.


"Hiks... Hiiks... "


Mengikuti arah suara yang dia dengar, dia pun akhirnya sampai di sebuah taman kota.


" Huwaaa....... " Ovin jadi menangis tersedu-sedu. Karena tangisnya pecah, membuat Franz mengurungkan niatnya untuk mendekatinya.


Sampai 8 menit kemudian.


"Apa kau sudah selesai menangis? Sebenarnya apa yang sedang kau tangisi itu?" tanya Franz, tidak mengerti perasaan apa yang sebenarnya Ovin rasakan, adalah karena dia sangat kecewa, baik itu pada dirinya sendiri maupun dengan Franz.


"Tidak ada." ketusnya seraya menyeka pipinya dan sudut matanya yang masih sedikit basah karena air matanya sendiri.


" Kalau sudah puas nangis, ayo pulang. " mengajak Ovin untuk pulang karena lagi pula Ovin sudah meredakan tangis pilunya itu.


'Aku juga ngantuk, nangisin apa sih aku tadi?' tanya Ovin pada dirinya sendiri, seraya tangan kanannya di rentangkan ke samping sedikit ke atas, dengan maksud agar dia di bantu untuk di tarik oleh Franz, sebab dia kini tengah berjongkok.


Franz hanya mengendikkan bahu, dan menarik tangan yang sedikit kecil itu.


Menariknya dan karena sedikit kuat, membuat Ovin sedikit terhuyung ke depan dan hampir saja menabraknya.


" Uh.... "


Kakinya cukup lemas gara-gara kesemutan, dan Franz dengan pantas memeganginya sebelum terjatuh.


Merasa aneh Franz mau menurutinya drngan ' sikap baik ' Ovin buru-buru menepis tangannya Franz yang tadinya sedang memegangi bahunya.


" Ayo..pulang. " perintah Franz.


" Aku masih ingin tinggal di rumah pamanku. " jawab Ovin dengan singkat.


TUING......


Satu bintang memantul di kepalanya, Franz terbengong akan maksud dari gadis ini.

__ADS_1


" Paman?" tanya Franz pada Ovin, ini kali pertama gadis ini mengatakan kata paman. Namun siapa dan seperti apa paman dari perempuan ini?.


" Kenapa? Kau kan sudah bertemu dengannya. " Ucap Ovin seakan tidak merasa bersalah karena tidak pernah menceritakan apa pun tentang dirinya.


'Kalau dia menyelidikiku harusnya juga sudah tahu.' Pikir Ovin.


" Apa? Siapa dan yang mana?" lantas, Franz masih bertanya-tanya pada dirinya sendiri, sudah bertemu dengan pamannya Oktavin ini, tapi Franz masih belum menyadari siapa orangnya.


" Dua orang laki-laki yang sering bersamaku dan satu anak kecil itu, mereka kedua pamanku dan keponakanku. Kau cemburu tanpa sebab. "


"Apa? Siapa yang cemburu?" sangkal Franz atas ucapan dari Ovin itu.


"Lalu apa yang terjadi saat di dek kapal? " Tanya balik Ovin, begitu dia menemukan Franz sudah mulai terpojok dengan situasinya sendiri. "Kau jelas terlihat sedang cemburu, tapi kenapa aku selalu saja menyangkal ucapanku? Apakah kau merasa gengsi jika berkata jujur kepadaku?" Tanyanya lagi, lalu Ovin segera berbalik, agar tidak menunjukkan wajah sembabnya sekaligus mengatur kondisi kakinya yang masih lemas karena kesemutan.


'Kenapa dia jadi seperti ini? Gara-gara dia bicara seperti itu, aku tanpa sadar jadi kehilangan kata-kataku sendiri.' Batin Franz, dia pun jadinya terdiam begitu dia mendengar kicauan dari burung kecil yang belum lama dilempar batu oleh Franz sendiri.


" Kau tahu itu??. " tanya Franz dengan nada lirih.


" Tapi setidaknya aku mau jujur padamu, bagaimana caraku mengatakannya ya?..... " Ovin terlihat seperti orang lebingungan karena tidak tahu mau mengucapkan kalimat yang tepat pada Franz.


"..............? "


" Sejujurnya......aku...senang bisa memilikimu karena orang tuamu. Wa...walau begitu, awalnya aku memang membencimu. "


" Oh...jadi kamu membenciku karena apa?. "


" Karena....ibuku menyelamatkanmu, dialah yang meninggalkanku. Aku membencimu karena itu, dan....aku ingin.....membuatmu....... menjadi milikku dengan balas jasa.....yang sudah ibu dan...aku berikan. "


" Maksudmu, keterlibatanmu menyelamatkan orang tuaku adalah agar mereka bisa membalas jasamu dengan menikahkanku denganmu?, dan itu semua dipicu karena kebencianmu yang pertama itu?. "


Franz seketika termenung, menatap punggung gadis di depannya dengan tajam, dan bibirnya mulai berkata lagi.


" Kalau begitu, kenapa hari ini kau mau jujur padaku dengan semua hubungan ini?. Bukannya kau membenciku?. "


" Aku...tidak bisa memendam kebencian itu lama-lama, kau tahu........aku...lemah pada wajah tampan, termasuk kau.. " detik itu juga Ovin langsung menutup wajahnya karena perasaan malu.


" Aku menderita penyakit aneh ini juga karena kebencian itu, dan wajah laki-laki yang bisa aku lihat cuma kau dan paman Chade, makannya.....aku.....dekat dengan paman Chade. "


[ Apa dia berusaha supaya aku tidak salah paham lagi pada dia dengan pria itu?. ]


" Yah....kau sudah berhasil mempermainkanku kan?. " Aaron merasa kesal, meski Ovin sudah mau jujur tapi kenapa tidak dari awal saja.


"................." Ovin tidak tahu mau menjawab apa, jadi ia terdiam membisu.


" Ya sudah, kita pulang. Ibuku sedang menunggumu, dia memojokkanku terus agar bisa menemukanmu secepat mungkin, dan semuanya....sudah termasuk dengan penjelasan itu, dimana aku diselamatkan oleh ibumu. "


ucap Aaron, nadanya begitu datar karena sedang menahan amarahnya sendiri.


" Jadi...bagaimana caraku menebus kesalahan atas sepeninggalnya ibumu?. "


"..............! " Ovin yang mendengar perkataan Franz ingin menebus kesalahan karena ibunya ( Ovin ) yang meninggal, merasa sedih. Harusnya senang Franz mau menebus jasa ibunya, tapi Ovin merasa kalau Franz memang sengaja alias berkata dengan terpaksa.


" Tid- "

__ADS_1


" Kau mau aku menjadi suami yang baik kan?. " kata Aaron lagi.


Ovin segera berbalik menghadap Franz lagi.


" Tidak...bukan be- " namun perkataannya selalu disela oleh pria ini.


" Aku akan melakukan semua sesuai permintaanmu.. "


" Tidak!, kau...tidak ha- "


" Atau mau melakukan itu juga?. "


BLUSHH.....


Seketika wajah gadis ini memerah lagi.


Tapi Ovin ingin menyangkalnya terus, karena bukan itu yang di inginkannya saat ini.


Franz tidak mempedulikan Ovin yang gelagapan ingin menyela ucapannya juga, dia segera memutar tubuhnya ke belakang, sehingga sekarang dia memunggungi gadis itu, lalu Franz berkata lagi sambil berjalan pelan.


" Kalau begitu cepat pulang, kita bisa lakukan itu di rumah. "


Ovin langsung mengambil langkah lebar, dan merentangkan tangannya ke depan untuk menggapai Franz yang hendak pergi menjauh.


" Diam!, bukan itu ya- .....ah. ? " namun ketika ujung jarinya hendak menyentuh punggung Franz, tiba-tiba ada rasa sakit di punggungnya seperti tertusuk jarum.


" A...ku...lengah. " ucap Ovin di detik terakhir sebelum akhirnya matanya terpejam dan...


BRUKH.....


"..............? " mendengar suara keras orang yang terjatuh, Franz segera menoleh ke belakang sambil berkata.


" Kau terjatuh?, ingin aku gend- " namun seketika kalimatnya menggantung diudara kaetika melihat gadis ini terbaring tidak sadarkan diri?.


Buru-buru Franz menghampiri Ovin yang terbaring itu.


" Hei....vin, kau jangan menakutiku. "


Tapi tidak ada jawaban, dan justru matanya melihat ada jarum yang menusuk ke punggungnya Ovin.


"............! "


[ Siapa yang melakukan ini?!. ] batin Franz, saat hendak mencabutnya...


SYUTT......


Jleb......


" Ukh...! " Franz mengernyitkan matanya saat mendapatkan tengkuknya terasa nyeri, dia langsung mencabut benda yang menyakitkan itu meski akhirnya pandangannya jadi berbayang.


" Apa...ini...bius?. "


BRUK.......

__ADS_1


Dua orang itu terbaring tak sadarkan diri akibat bius yang sudah tertanam masuk ke dalam tubuh mereka berdua.


__ADS_2