Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
82 : PUM : Pikiran


__ADS_3

Lalu sore harinya Ovin akhirnya bangun dalam kondisi lebih segar dari sebelumnya, walau tidak ada niatan untuk mandi karena dirasa masih dingin.


" Sudah jam berapa sekarang? " gumamnya, karena dia sama sekali tidak melihat jam di dalam kamar inap miliknya itu. "Tapi siapa yang menganti bajuku lagi? Apakah suster? Tapi kenapa aku tidak sadar, jika pakaianku memang sedang di ganti?"


Ia tidak tahu harus marah atau berterima kasih, tapi di dalam dirinya itu ada timbul tidak suka jika ada orang yang menggantikannya baju, seperti sekarang ini, karena dia tidak mau memperlihatkan luka yang dimilikinya kepada orang lain.


"Oh, ya. Apakah aku melakukan sesuatu, malam tadi kepadamu?" Tanya Ovin.


Lantas membuat Franz yang saat ini sedang duduk santai sambil menonoton Tv, segera memicingkan matanya. "Apakah kau tidak mengingatnya sama sekali?"


Ovin hanya menggeleng sambil menggaruk belakang kepalanya yang memang gatal, sebab belum mencuci rambutnya.


"Kalau tidak mengingatnya, ya sudah." Franz mencoba mengabaikan peritiwa yang terjadi malam tadi.


Tapi tatapan mata penuh ingin tahu yang terus tertuju ke arah Franz, membuat Franz jadi merasa jengkel.


"Jangan menatapku seperti itu." tegas Franz.


"Padahal aku hanya melihatmu, apa sebegitu menjengkelkannya diriku ini?"


DEG.


"Padahal yang lebih menjengkelkan itu, jika kau tidak bisa melihat wajah dari lawan jenismu." Imbuhnya lagi.


Franz yang sedikit terusik dengan ucapannya itu, buru-buru duduk sambil memamngku kedua tangannya itu dan menatap serius Ovin yang masih berbaring di atas tempat tidur.


"Jika kamu memang penasaran, maka akan aku beritahu. Kau itu, malam tadi menjadi gila."


"Segila apa?"


"Kau mau membunuhku dengan gunting yang ada di tanganmu, gara-gara aku mencegahmu menggunting pakaian milik Jenifa. " Jelas Franz singkat namun padat.

__ADS_1


Ovin pun jadinya menatap tangannya sendiri, tangan yang tadinya hendak membunuh Franz?


'Aku tidak mungkin sampai membunuhnya kan?' Masih kurang percaya dengan apa yang Franz katakan tadi itu.


Tapi karena dirinya memang tidak punya ingatan saat itu, maka Ovin mencoba mempercayainya, dan segera mengalihkan topiknya dengan topik lain.


"Kenapa kau disini? Tidak sekolah?"


"Kenapa aku harus sekolah, di saat semua ujian sudah selesai?" Tanya balik Franz, tapi nadanya terdengar cukup ketus, seakan memang Franz tidak bisa menerima perlakuan yang di lakukan Ovin malam tadi.


"Iya juga sih." Lirihnya.


Sampai akhirnya bunyi auman itu mengisi keheningan yang terjadi diantara mereka berdua.


KRUYUKKK...


Tapi seolah tidak mendengar apapun, padahal suaranya dari perutnya sendiri, Ovin hanya diam sambil menatap langiit-langit di atasnya persis.


"Alergimu. Kau alergi pada aroma lavender, makannya kau di bawa kesini."


DEG.


Ovin tentu saja lnagsung bangun dari acara berbaringnya. Dia duduk dan langsung menoleh ke arah Farnz yang baru saja memberitahu alasan dirinya membawanya ke rumah sakit, adalah karena aroma Lavender?


'Aku, ini tidak benar. Kenapa aku pakai tidak ingat segala? Jadi aku bisa di bawa kesini karena alergiku pada bunga Lavender jadi kambuh karena baju itu?


Ya..aku memang sama-samar seperti merasakan aroma sisa Lavender, yang tidak bisa aku ingat kejadian rincinya, tapi aku hanya ingat bagian dari baju yang aku terima itu.


Kalau seperti ini, bukannya aku sudah memperlihatkan aku adanya satu kelemahan, kalau aku alregi pada Lavender. Mungkin saja si Jenifa itu diam-diam punya niat terselubung, sampai membuatku mendapatkan baju dengan aroma itu.


Bagaimana ini? Aku kenapa jadi takut kalau kelemahan yang pastinya sudah di ketahui oleh Jenifa dan dokter Ainz pastinya, bisa mereka berdua gunakan untuk megancamku, apalagi kelihatannya Dokter Ainz itu tahu aku itu berasal dari keluarga mana. Bisa saja kan, kalau merkea akan memanfaatkan kelemahanku ini sebagai ancaman untkukku, agar aku melakukan sesuatu untuk mereka?'

__ADS_1


'Apa yang terjadi kepadanya? Kenapa dia jadi terlihat khawatir? Apakah ada sesuatu yang mengancamnya? Ah...jangan-jangan dia memikirkan soal Alergi itu akan menjadi sebuah ancaman, karena akhirnya ada orang lainn yang tahu kelemahannya ya?


Memangnya siapa yang akan mengancam perempuan seperti dia ini? Ainz memang tahu hubunganku dengannya adalah sumai istri, hanya saja dia tidak akan memberitahu siapapun tentangku ataupun dia.


Fardan juga tidak mungkin kan. Kecuali si Chade itu?' Seketika raut wajah Franz juga jadi memburuk, gara-gara apa yang di pikirkan Ovin terasa sama dengan diri Franz.


Padahal jalan pikiran mereka beruda cukuplah menyimpang, sebab yang di jadikan bahan pikiran untuk Ovin sendiri adalah ancaman untuk dirinya sendiri, bukan untuk Franz karena Ovin punya suami orang kaya, tapi..


Karena Ovin berasal dari keluarga berpengaruh juga, makannya dia mencemaskan kondisinya, karena kelemahn dari Alergi miliknya itu bisa menjadi peluang untuk orang lain yang mengincar keluarganya, meskipun saat ini keluarganya hanya tinggal kedua pamannya dan dirinya saja.


"Sudahlah, dari pada memikirkan hal yang tidak perlu, ayo makan." Franz yang memang sudah panas kepala, karena tidak bisa tidur nyenyak gara-gara ulah dari istrinya yang selalu membawa keonaran, langsung beridiri dan menarik tanagn Ovin agar turun dari tempat tidurnya.


"Aku ini masih harus istirahat disini, kenapa tiba-tiba menarikku? Kita mau kemana? " Berbagai pertanyaan langsung keluar dari mulutnya setelah hampir seharian penuh itu Ovin terdiam saja, karena mendapatkan pengaruh dari obat-obatan yang di berikan oleh Ainz kepada Ovin selagi menjalani perawatan intensif malam tadi.


" Makan, dari semalam kau belum makan. Walau masih sedikit demam tapi kamu juga harus makan. " Jawab Franz. "Dan mengajakmu turun, agar tidak terus tiduran." Imbuhnya.


'Apa yang terjadi dengannya? Tahu aku masih sedikit demam, tapi mengajakku turun dan keluar dari kamar.' Ovin sedikit terheran dengan sikap Franz yang sering berubah-ubah. Kadang baik, kadang menjengkelkan jika marah dengan mengingat hal sepele, lalu bagian menjengkelkannya yang lain itu jika Ovin tidak melihat wajah orang ini hampir seharian.


" Kenapa bawa-bawa selimut segala? " sadar jika Ovin keluar kamar namun membawa selimutnya juga.


"Abaikan saja." Ketus Ovin.


'Mana bisa aku abaikan, dan kenapa mataku bermasalah lagi? Kenapa aku jadi melihat dia yang hanya memakai pakaian pasien jadinya imut ha?! Ini pengaruh apa?' Batin Franz.


Dia kemudian membawa Ovin keluar kamar, dan hanya dalam beberapa langkah setelah keluar kamar, di depan kamar inap yang di gunakan oleh Ovin itu, mereka berdua pun masuk ke dalam sana.


" Duduk " perintah Franz.


Ovin celingukan, siapa orang yang memasak ini selain dirinya?


'Lalu kenapa disini ada ruang makan?! Apa-apaan ini? Aku pikir ini adalah kamar seperti punyaku. Tapi ini seperti sebuah pesta?!' Pekik Ovin di benak hatinya.

__ADS_1


__ADS_2