
"A-apa ..., apa yang kalian berdua lakukan Itu?!"
Sama seperti Franz dan Ovin yang sedang memasang wajah terkejutnya, maka laki-laki ini pun sama-sama mendapatkan perasaan sekaligus ekspresi terkejut juga.
‘Suara ini? S-Sean?!’ Ovin yang sama sekali tidak dapat melihat wajah dari penyusup itu, mengandalkan indera pendengarannya sekaligus otaknya untuk mengenali siapa orang yang baru masuk tanpa mengetuk pintu, dan sesuai dengan tebakannya, orang yang baru saja menerobos masuk itu adalah Sean!
‘Sean! Kenapa dia tiba-tiba datang kerumahku!’ Pekik Franz di dalam hatinya.
Padahal sedikit lagi, dia bisa menikmati apa yang namanya saling menikmati, tapi semua itu sudah hancur total setelah ada tamu tak di undang itu.
‘Apa yang sedang terjadi ini? Kenapa posisi mereka berdua justru seperti dua orang yang akan bercumbu? Franz, dan-’ Sean kemudian melirik pada satu perempuan yang sudah hampir telanjang itu, dan wajahnya sangat dia kenali. ‘M-mata empat?! I-ini benar-benar nyata kan? Mereka berdua sudah sama-sama hampir telanjang, dan-’ Ketika Sean tidak sengaja melihat tangan kanan Franz sudah mendarat di atas buah milik Ovin, hingga akhirnya wajah Sean seketika tersipu.
“SEAN! APA YANG KAU LAKUKAN DIRUMAHKU?! BALIK BADAN!” Teriak Franz saat itu juga.
“M-maaf! Aku tidak sengaja!” Kata Sean.
“Maaf apanya! Kau benar-benar menerobos masuk kerumahku!” Setelah meneriaki Sean dengan keras dan wajah penuh amarah, Franz kembali melihat ke bawah. ‘Dia melihatnya. Sean …, dia melihatnya!’ Pikirannya itu tertuju pada tubuh Ovin yang ada di bawahnya itu sudah separuh telanjang, dan Sean juga melihatnya?!
Hanya dengan memikirkan fakta itu saja, Franz entah kenapa bisa punya amarah yang besar atas kejadian ini.
Padahal Franz sudah akan melakukannya di tempat yang benar, tapi gangguan selalu saja terjadi dan benar-benar tidak terduga.
Karena sudah gagal total, dan sama sekali tidak punya keinginan apapun lagi untuk melanjutkannya, Franz pun menarik tangan Ovin agar segera beranjak dari posisi berbaringnya itu.
‘Yah, Sean! Kalau saja kau tidak datang, aku pasti bisa bersenang-senang. Tapi-’ Saat melihat wajah Franz, dia menemukan ekspresi kesal itu benar-benar terukir dengan jelas, baik itu itu di tatapan matanya maupun rahang miliki Franz yang begitu tegang. ‘Dia sungguhan marah. Dia marah karena apa? Apakah karena Sean yang tiba-tiba datang mengganggu, atau karena aku?’
Lebih tepatnya, adalah saat Franz terus saja menatap ke arah Ovin dengan wajah kesalnya, Ovin berpikir tatapan itu terus tertuju pada sepasang aset yang sedang Ovin tutupi dengan tangannya itu.
“Pakai ini, dan masuk ke kamar.” Perintah Franz setelah memungut blazer yang sempat Franz buang tadi untuk menutupi tubuhnya Ovin dan menyuruh Istri simpanan nya itu untuk diam di kamar saja, karena dia akan mengurus si pengganggu yang tidak lain adalah Sean itu.
Ovin menerima Blazer itu dan memakainya. Karena tubuh Franz jauh lebih besar juga tinggi, maka Blazer yang Ovin pakai itu membuat penampilannya di kira hanya memakai Blazer saja.
__ADS_1
‘Aku masuk di waktu yang tidak tepat! Bagaimana ini? Pasti Franz akan melumatku hidup-hidup. Tapi kenapa mereka berdua punya hubungan untuk melakukan itu? Katanya mereka berdua sepupu. Jika memang sepupu, tidak seharusnya mereka berdua melakukan itu kan? Tapi-tapi-’ Sean menundukkan kepalanya, dan memejamkan matanya.
Dia jadi terus terbayang dengan apa yang barusan dia lihat, yaitu melihat sesuatu yang lebih seksi ketimbang wanita yang selalu menemaninya di bar.
Itu sungguh berbeda dengan penampilan mereka semua yang memang sengaja berpenampilan seksi untuk menggoda lawan jenisnya.
Dan perbedaannya kali ini, tubuh yang hampir polos itu sungguh sedang di nikmati oleh Franz sendiri dengan ekspresi Ovin yang cukup menggoda juga.
‘Akh~ Kenapa kepalaku jadi terus membayangkannya?’ Sean yang seperti baru saja di kutuk itu, jadi meracau dalam diam.
Dia sama sekali tidak akan menduga kedatangannya akan membawanya masuk kedalam jurang kematian.
‘Itu sudah pasti kan? Lihat saja tadi ekspresi si Franz itu, dia seperti mau membunuhku, karena aku mengacaukan rencana mereka berdua yang hendak bersenang-senang itu. Bagaimana ini, bagaimana? Ahhh~ Aku sama sekali tidak bisa berpikir jernih lagi.’ Sean yang sudah di landa frustasi itu menjambak rambutnya sendiri dan menggeleng-gelengkan kepalanya seperti orang yang menolak?
Tentu saja Sean menolak semua pemikiran yang sempat terlintas tadi.
‘Kurang ajar sekali Sean, dia sama sekali tidak memberitahuku akan datang. Waktu itu petir, tadi Fardan, sekarang anak ini, nanti apalagi?
Di saat aku sudah mau, pasti ada saja yang mengganggu.’ Franz yang sedang kesal itu langsung menyisir rambutnya dengan jari-jari tangannya ke belakang.
“Akkhww…!” Rintih Sean sambil melirik ke arah samping kirinya dan melihat Franz benar-benar sudah ada di sebelahnya dengan raut wajah yang kurang baik.
“Kenapa kau tiba-tiba datang kerumahku?” Sebuah pertanyaan yang terdengar seperti satu pertanyaan untuk mengawali interogasi untuk sean pun di mulia.
Memang, terdengar seperti pertanyaan biasa dan cukup sepele, tapi jangan menyepelekan aura dingin yang keluar dari tubuh Franz ini.
“Apakah kau sama sekali tidak tahu aturan untuk mengetuk pintu?” Pertanyaan itu kembali keluar dari mulut maut yang bisa saja sebagai kalimat penghakiman.
‘K-kenapa aku jadi sangat takut seperti ini?’ Jantungnya berdegup cukup kencang, tidak bisa di kontrol dan seolah akan meledak saat itu juga.
Franz kemudian mengambil langkah ke depannya Sean, tapi sama sekali tidak melepaskan cengkraman tangan di bahunya Sean itu.
__ADS_1
Dan yang ada, saat Franz berada di depannya, dia merasakan bahunya semakin sakit.
Saking geroginya, kedua kakinya jadi gemetar dan terasa lemas.
“F-franz, b-bisa lepaskan dulu ini?” Menahan rasa sakitnya itu, ujung jari telunjuknya menunjuk pada tangan kanan Franz yang ada di bahu sebelah kiri Sean.
“Kan aku tidak mau kau kabur dariku.” Franz melangkahkan satu langkah lagi ke depan, sampai secara otomatis Sean yang ketakutan itu melangkah mundur.
“Aku tidak akan kabur kok, dan a-aku janji tidak akan memberitahu siapapun. Percayalah padaku. Kan aku satu-satunnya yang dekat denganmu ketimbang yang lain. Ok …,Ok…?” Bujuk Sean dengan segala alasan yang tidak sengaja di temukan di dalam kepalanya itu.
Tapi raut wajah Franz semakin tidak bagus. “Untuk apa aku percaya padamu? Kan yang hanya bisa menyimpan rahasia dengan baik, hanya orang yang mati.” Senyuman tipisnya pun mengisyaratkan hal yang lebih buruk dari sekedar kata-kata saja.
DEG..
Sean semakin tersenyum tawar mendengar perkataan Franz yang cukup mengancam itu.
“A-apa kau mau me-”
Ucapannya Sean pun langsung menggantung begitu saja saat bahunya Sean semakin di tekan dan akhirnya …
BRUKK..
Sean jatuh terduduk dilantai dengan wajah terbengong.
Melihat hal itu, Franz pun mengikuti ketinggian Sean dengan berjongkok dan berkata : “Sean, kau hanya perlu menjawab pertanyaanku yang tadi, kenapa kau begitu takut seperti itu?”
Dan saat Franz bertanya seperti itu, ekspresinya justru berubah di wajah polos seperti orang yang tidak tahu apapun.
Lantas kemana ekspresi seram penuh dengan intimdasi itu?
Sean terus bertanya-tanya, yang manakah sifat Franz saat ini?
__ADS_1
‘Dia …, dia pandai berakting.’ Sean semakin tercengang, karena senyuman yang terlihat seperti senyuman manis itu sejujurnya adalah senyuman yang secara tidak langsung adalah sebuah ancaman untuk Sean sendiri.
‘Sean, awas kau. Aku harus memberimu pelajaran sampai kau memilih untuk tutup mulut. ‘ Pikir Franz. Setelah itu, sudut mata Franz sempat melihat satu kepala yang keluar dari celah pintu kamar nya Ovin, dan kepala itu sendiri adalah kepala Istrinya yang sedang penasaran dengan apa yang sedang dirinya bicarakan dengan Sean ini. ‘Kenapa dia malah disana terus? Apa dia mau aku mengusir anak ini lebih dulu dan melanjutkan urusan yang tertunda tadi?’