Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
65 : PUM : Rumah sakit


__ADS_3

Flashback Off


Setelah mengingat segala hal yang menyangkut Ovin barusan, Chade pun pergi menatap kembali sosok perempuan yang saat ini ada di dalam kamar rawat inap sendirian itu.


'Kamu terlalu cepat melebihi posisiku untuk menikah.' Tatap Chade terhadap Ovin, dimana gadis itu tengah menatap tangan kirinya sendiri sudah ada jarum infus yang tertanam di balik kulit tipisnya.


Chade pun melihat Ovin hendak mencabutnya dengan serta merta, hanya saja, Chade dengan buru-buru masuk ke dalam, sehingga Ovin yang mau mencabut jarum infus itu, jadi langsung mengurungkan niatnya.


"Apa yang kamu kau lakukan? Mencabutnya?"


".............!" Ovin segera menurunkan tangan kirinya di samping tubuhnya dan mengalihkan pembicaraan itu dengan menyebut, "Kakak...aku tidak perlu menginap disini kan?"


"Siapa yang bilang begitu?" Salah satu alis Chade terangkat mendengar pernyataan Ovin yang ingin cepat-cepat pulang?


"Aku sendiri." Jawab Ovin dengan singkat.


"................" Chade pun terdiam. Dia baru menyadari satu hal, dimana sebenarnya di satu sisi Ovin tidak mau berada di rumah sakit samapi menginap, karena kejadian masa lalu yang dimilikinya. Tapi mau bagaimanapun, Ovin mau tidak mau harus berada di rumah sakit lebih dulu agar bisa istirahat sejenak, dari segala urusan yang sebenarnya dimiliki oleh keponakannya itu dari kehidupan menjadi istri seseorang.


Iya...Ovin harus Istirahat dari rutinitas mnejadi istri, karena itu, Ovin harus berada disini lebih dulu, atau setidaknya untuk mengetahui pria yang sudah merenggut keponakannya darinya itu akan pergi mencarinya atau tidak, maka kali ini akan menjadi hal penuh penentuan.


"Istirahatlah dulu, aku pergi beli makanan " Tanpa menjawab atas pertanyaan dari Ovin tadi, Chade pun mengelus kepala Ovin dan berlalu pergi meninggalkan pasien itu sendirian di kamar.


"................" Melihat pamannya kembali meninggalkan dirinya seorang di dalam kamar rawat inap sendirian lagi, Ovin pun menghela nafas.


Dia meletakkan lengan tangan kanannya untuk dia gunakan sebagai penutup matanya.


Dari luar, Ovin terlihat seperti orang yang hanya ingin tidur, namun terganggu dengan cahaya lampu, makannya dia meletakkan tangannya di atas wajahnya.


Akan tetapi hal itu tidak sepenuhnya benar. Ovin meletakkan tangan kanannya di atas kedua matanya, adalah karena dia ingin mencoba mengulas kembali kejadian tadi.


Insiden yang lagi-lagi hampir merenggut nyawanya setelah kemarin malam.


'Padahal hampir selama ini, tapi ternyata tidak bisa berubah y?' Pikir Ovin, sampai akhirnya mulut yang sedari tadi diam itu tiba-tiba saja dia gunakan untuk menggertakkan giginya dengan kuat. Ovin tersenyum mencibir, sampai dimana sudut matanya pun sudah berlinangan dengan air matanya, dan akhirnya air mata yang terbendung itu pecah juga. 'Hah...kenapa aku bisa menyukai pria bodoh sepertinya? Ini kadang menjengkelkan, dan karena dia...aku jadi sering sakit hati. Tapi kenapa sudah seperti ini pun, aku masih saja menyukai pria sepertinya ya?'


Sekarang sendirian sudah, hari demi hari selalu sendirian.

__ADS_1


Ia membaringkan tubuhnya lagi ke kasur dan mencoba memejamkan matanya, mungkin dengan begitu ia bisa tertidur.


Di luar kamar tak sengaja ada sepasang mata memperhatikan Ovin dari celah kaca pintu kamar, dia memakai jas putih dan ditangan kanannya membawa kopi yang masih panas.


'Siapa orang yang barusan keluar dari kamar ini?' Pikir Ainz, ketika sepasang matanya menemukan seorang perempuan berseragam sekolah ternyata adalah pasien yang baru saja datang.


" Dokter? " Sapa salah satu suster pada Dr.Ainz sebab berdiri di pintu kamar orang lain.


" Siapa pasien yang ada disitu? " telunjuknya mengarah pada satu orang yang ada di dalam kamar tengah terbaring lelap.


" Oh....pasien itu nona Oktavin, baru 4 jam dia disini " jawabnya.


" Apa yang terjadi dengannya? " tanya lagi.


" Eh....itu saya kurang tahu, tapi saya melihat saat awal dia datang, kondisinya sudah pingsan dan basah kuyup. Walaupun sedikit membuat kehebohan sih." Suster ini pun sama-sama melihat Ovin dari balik pintu.


" Heboh? " Tanya lagi Ainz, penasaran.


"Ya...heboh karena Nona yang ada di sana itu datang dengan seorang pria tampan dan satu hal lagi, mereka berdua datang kesini dengan menggunakan helikopter. Jadi bagaimana tidak heboh, jika merea datang dengan cukup mencolok seperti itu? " Suster ini kemudian mulai berangan-angan dengan fantasinya, mengingat saat Chade datang dengan menggendong Ovin ala bridal stayle itu mnejadi momen paling menarik yang pernah ada.


Dr.ainz berjalan lagi melanjutkan pekerjaannya di kantor dan mengabaikan suster barusan yang sudah terbuai dengan imajinasi.


'Ternyata hubungan anak muda lebih rumit.' Sekalipun dirinya masih muda juga, dia sebenarnya sudah tahu hubungan antara perempuan yang ada di dalam kamar itu dengan Franz itu masih saja belum dikatakan baik-baik saja, dan justru terkesan seperti air dan minyak yang terus sengaja digabungkan agar bisa di campur, tetapi akhirnya mereka berdua pada dirinya masing-masing.


Ainz pun mengeluarkan handphone nya dari saku jas putih miliknya, mencari nomor dari satu orang Tuan muda yang dia layani, dia pun mencoba menghubunginya.


Tetapi apa yang dia dapatkan, Ainz tidak bisa menghubunginya sama sekali. 'Ini kenapa lagi? Kenapa dia tidak bisa aku hubungi? Padahal ini keadaan yang cukup penting, karena Istrinya ada disini bersama denan pria lain, tapi dia-'


Tidak kunjung mendapatkan respon atas panggilannya itu, Ainz pun memilih membiarkan Franz kelabakan sendiri, istrinya tidak pulang kerumah.


____________


Esok paginya.


Karena efek obat tidurnya sudah habis, jam 4 paginya dia pun terbangun namun rasa pusing datang itu pun menjadi penyiksanya.

__ADS_1


Tangannya sengaja memijit dahinya sambil memejamkan kedua matanya, yahh.....karena bermimpi buruk maka, efeknya dia pun mendapatkan rasa sakit kepala yang cukup menyiksa.


Rasa sakit kepalanya ini berhubungan dengan mimpi yang merupakan ingatan yang benar-benar tidak ingin di ingatnya. Sebuah ingatan dari masa lalu.


" Apa nona baik-baik saja? "


" Apa aku terlihat baik-baik saja?! Kepalaku sakit." Marah Ovin pada perawat yang kebetulan baru masuk.


Sebenarnya saat sakit kepala, hal pantang saat ada di sekitarnya adalah bertanya atau pun berbicara. Maka dari itu terkadang Ovin akan sedikit kesal jika ada seseorang berbicara di dekatnya, apalagi di tengah-tengah rasa sakit yang sedang mendera di kepalanya, rasanya dia ingin menjahit mulut perawat itu.


Karena tidak sengaja mendengar suster sedikit di marahi oleh pasiennya sendiri, Chade secara perlahan masuk ke kamar dan berbisik pada suster sebelum akhirnya suster itu pergi meninggalkan Chade dan Ovin berdua. Chade memberikan penyumbat telinga pada Ovin agar tidak mendengar percakapan orang luar yang sangat mengganggu sakit kepalanya itu.


"Aku ingin pulang." Pinta Ovin, seraya tangannya menarik ujung lengan dari baju Chade.


"Untuk apa pulang, kepalamu saja sedang sakit. Dari pada di rumah rasa sakitmu bertambah parah, sebaiknya disini saja dulu." jawab Chade.


Karena kedua telinganya sudah di sumbat, dia pun jadi tidak mendengar apapun lagi. Tapi karena itulah, dia merasa itu lebih baik, kaena dengan begitu, dirinya jadi tidak mendengar ocehan dari suaranya yang pastinya akan sengat mengganggunya.


Dan dengan kemampuan yang dimiliki oleh mereka berdua, tentu saja Ovin dan Chade terus berbicara tanpa suara sedikitpun, alias berbicara berdasarkan gerak bibir yang mereka lihat dari lawan bicara merek. Itulah cara berkomunikasi unik dari mereka berdua saat ini.


" Tinggal pulang lalu minum obat kan? Lagian, aku sudah tidak betah disini lagi. Biarkan aku pulang ya? " pujuknya lagi. Alasan Ovin memang tidak ingin berada di rumah sakit terus adalah karena dirinya harus menghindari kenangan lamanya yang cukup menyakitkan ketika berada disini.


Hanya karena semalam dirinya mendapatkan obat tidur kuat, makannya sampai sekarang dia pun masih di rumah sakit.


Tapi karena dia sadar kalau ia masih berada di rumah sakit, Ovin pun akan terus melakukan protes kepada Chade, agar benar-benar bisa dipulangkan saja.


Chade mengalah, pasalnya satu orang ini benar-benar tidak suka rumah sakit walau semua orang juga pasti tidak menyukainya.


Tapi untuk Ovin kasusnya sedikit berbeda, dia tidak mau terlalu lama di rumah sakit sebab mengingatkannya pada ibunya yang meninggal di rumah sakit.


"Baiklah, tapi tunggu dulu, aku akan meminta beberapa resep obat untukmu." Kata Chade memberi tahu.


"..............."


Hanya mendapatkan tatapan mata penuh harap agar bisa cepat pulang, Chade pun kembali pergi meninggalkan keponakannya itu di dalam kamar.

__ADS_1


__ADS_2