
Sean masih menatap lekat perempuan di depannya itu.
"Hai," sapa Ovin pada Sean yang masih mematung karena masih tidak menyangka kalau sekarang yang ada di depan matanya itu adalah perempuan yang biasanya di bully saat di sekolah, dan sekarang dia berada di Bar.
Tempat orang-orang untuk mengeluarkan sifat asli mereka. Karena banyak diantara mereka yang datang ke Bar untuk bersenang-senang.
"Kenapa kamu bisa ada disini?" Akhirnya setelah keterdiaman di antara mereka berdua, Sean angkat bicara untuk menemukan alasan di balik Ovin datang ke tempat yang penuh dengan maksiat.
"Kamu sendiri kenapa ada disini?" Tanya Ovin balik sambil menyantap makanannya sendiri.
"Jawab pertanyaanku dulu." Kata Sean menuntut.
"'Ada yang mengajakku."
"Dan kamu pergi ke sini begitu saja?" Sean benar-benar masih tidak percaya, perempuan yang ketika ada di sekolah, terlihat seperti orang yang membutuhkan simpati banyak orang, saat ini Ovin seperti benar-benar memiliki keberanian untuk melakukan hal lain, di luar perkiraannya.
"Iya lah...lalu aku harus apa lagi? Aku sendiri tidak tahu, ternyata aku diajak kesini." Jawab Ovin dengan nada selamba. "Jadi jawab pertanyaanku tadi," Ovin menuntuk jawaban balik dari Sean.
"Aku.....tentu saja bermain." Tukas Sean dengan jawaban yang super singkat jelas dan padat.
"Bermain apa? Apakah itu diantara perempuan dan pria?"
BLUSHH.....
"Hei! Kenapa cara bicaramu seperti tu?" Tuntut Sean, terpegun dengan jawaban Ovin yang begitu blak-blakan, sangat berbanding terbalik dengan penampilannya yang terlihat polos.
"Cwara bwicwaraku gwimana?" Tanya Ovin lagi dengan mulut sudha penuh dengan daging lobster.
Sean langsung sedikit menghindar saat tahu-tahu ketika wajah Ovin menoleh kearahnya, Ovin sedang makan dengan mulut penuh.
'Dia perempuan aneh! Cara bicaranya yang super berani itu, benar-benar membuatku kehilangan kesan kasihan!' Pekik Sean saat harus menghadapi kenyataan yang ada di balik Ovin. "Tidak jadi," ketus Sean, langsung memalingkan wajahnya dari pada bertatap muka dengan gadis itu.
"Oh ya....apakah Franz juga sering datang kesini?" Tanya Ovin dengan tiba-tiba.
Salah satu alis Sean terangkat, dan bertanya balik, "Kenapa tiba-tiba membahas anak itu?"
SLURP..
Ovin menjilat ke lima jarinya yang dipenuhi oleh bumbu dari seafood yang sedang dia makan itu.
'Cara makannya saja berantakan.' Pikir Sean, ketika dia benar-benar di perlihatkan cara makan Ovin yang cukup membuat orang yang melihatnya akan jijik juga, karena menjilati jarinya sendiri.
"Aku hanya ingin tahu." Jawab singkat Ovin. Setelah mebereskan semua cangkang dari lobster, kepiting, dan udang, dia membersihkan tangannya dengan tisu, lalu dia pun memakannya kembali, namun kini menggunakan garpu. "Nyam~"
'Ngomong-ngomong dia suka makanan laut ya?' Sean jadi melirik kearah piring yang sduah tertata rapi lagi dengan daging yang sudah di bersihkan dari cangkangnya itu.
Melihat hal terebut, Ovin langsung menarik piringnya jauh-jauh dari mata Sean. "............"
__ADS_1
'Dia waspada sekali. Dia pikir aku akan merebutnya?' Detik hati Sean, lalu menjawab pertanyaan dari rasa penasaran Ovin itu. "Ya...dia sering datang kesini."
"Ok, ini." Tiba-tiba Ovin memberikan Sean satu udang berukuran jumbo itu kepada Sean.
"Aku tidak memintanya," Matanya mengernyit, tidak paham dengan tindakan Ovin yang selalu berubah-ubah dan tidak bisa Sean prediksi. Padahal tadi terlihat seperti sedang melindungi makanannya dari pencuri, tapi sekarang Ovin memberikan makanannya kepadanya.
"Aku ingin menghaidahimu ini, kamu sudah menjawab pertanyaanku tadi." Jawab Ovin.
"TIdak," Sean menolaknya dengan tegas.
Seketika kepala Ovin menunduk, dan berkata : "Apa kamu baru saja menolak pemberianku?"
"...........?" Sean sedikit merinding saat mendengar ucapan Ovin yang terdengar dingin, dan dia melihat udang yang di tusuk garpu itu masih terarah kearahnya.
"Makan, jangan menolak. Setidaknya jangan menolak ini," Pinta Ovin.
Karena selama ini Ovin seringkali mengalami penolakan dari Franz dan orang lian yang tidak menyukai dirinya, membuat dirinya merasa sakit hati, padahal udang itu adalah makanan kesukaannya, dia dengan baik hati sedikit memberikannya kepada Sean karena sudah mau menjawab pertanyaannya, tapi kenapa hanya makanan, Sean menolaknya?
Bagi Ovin, itu sudah seperti bahwa..
'Apa yang aku miliki akan di tolak oleh mereka.' Pikir Ovin kala itu juga.
Sampai Sean yang masih terbengong itu, tiba-tiba di hampiri satu tepukan di bahunya, yang lantas membuat Sean menoleh ke belakang, untuk menemukan siapa gerangan orang yang berhasil membuyarkan lamunannya terhadap tindakannya Ovin ini.
Dan orang yang baru saja menepuk bahunya itu adalah Chade.
Karena itulah, Chade pun membisikkan sesuatu kepada Sean.
"Dia dengan baik hati memberimu udang kesukannya, dan kamu menolaknya?" Bisikan kecil itu langsung di bumbui hal lain, dimana tangan Chade yang masih berada di bahunya Sean, langsung Chade cengkram dengan kuat, dan berkata lagi. "Jangan sekali-kali menolak pemberiannya. Kalau tidak...kamu akan menerima hal yang lebih sakit dari bahu ini."
'Akhh...siapa laki-laki ini?' Sean sudah mengernyitkan matanya karena bahuya benar-benar di remas oleh Chade dengan cukup kuat. " Sebaiknya kamu jangan menyentuhku " memperingatkan Chade sambil berusaha menepis tangan Chade dari bahunya.
"Makan itu dulu," Tunjuk Chade pada udang yang masih tersodor kearah mereka berdua.
Dengan terpaksa, Sean pun memakannya. "Nyam~"
Setelah udangnya di makan, Ovin pun akhirnya dapat menurunkan tangannya, dan melihat garpunya sudah tidak ada udangnya lagi. Dia jadi tersenyum puas melihat hal tersebut.
Membuat Sean benar-benar semakin memiliki kesan aneh pada gadis itu.
"Jadi lepaskan tanganmu dari bahuku," Perintah Sean kepada Chade.
"Kalau begitu apakah kamu mau lepaskan perempuan yang disitu?" pinta Chade menunjuk pada Ovin.
'Jangan-jangan dia mau melakukan hal buruk kepada Ovin.' Pikir Sean, merasa kalau pria di depannya itu akan melakukan sesuatu kepada Ovin yang sedang sibuk makan. Oleh karena itu, Sean dengan keberaninanya, akan melindungi Ovin. "Tapi aku dulu yang menemukannya, jadi tidak akan aku serahkan ke kamu." Sean benar-benar menepis tangan Chade dari pundaknya.
Tangan Chade langsung terangkat ke atas sambil berkata : " Tapi akulah yang datang bersamanya, jadi secara harfiah di adalah milikku." Chade berjalan kearah Ovin yang sedang makan itu, dan mencengkram tangannya.
__ADS_1
Ovin yang hendak menyuapi mulutnya dengan daging lobester terakhir itu, tiba-tiba Ovin urungkan sebab tangannya keburu di tarik oleh pamannya.
" Lepaskan," Menarik kedua lengannya dari cengkraman kedua orang di sebelahnya, dan kedua orang ini pun melepaskannya.
'Perdebatan macam apa ini? Mata empat bisa jadi rebutan orang, dan siapa laki-laki yang ngaku datang bersama mata empat?' Sean pun dibuat penasaran dengan orang yang akan emmbawa Ovin pergi.
" Dia gadis kecilku, aku harus membawanya pulang. " Chade kembali mencoba untuk meraih tangan Ovin, tapi ada satu tangan lain yang menghalangi Chade untuk mendekati Ovin.
Di dalam benak hati Ovin merasa ingin muntah, ketika mendengar pamannya menyebut gadis kecilku. 'Aku sudah bukan anak kecil lagi, dasar.'
" Tapi sekarang dia sudah berada di tanganku, tuh." Satu laki-laki lain tiba-tiba muncul dan mengaku kalau Ovin sudah berada di tangannya?
"Siapa kamu?" Lirik Ovin saat melihat tangannya saat ini justru sudah di cengkram oleh orang lain lagi.
"Siapa aku, kamu akan tahu nanti. Ayo pergi dari sini." Ajak pria ini pada Ovin.
'Siapa dia? Apakah dia baru saja membuatku untuk pergi bersamanya?' Kernyit ovin.
"Hei...hei, dia punyaku. Jangan bawa seenaknya seperti itu." Chade mulai mencegat pria asing yang akan membawa keponakannya itu dari hadapannya.
'Loh....suasana macam apa ini?' Sean sekarang jadi bingung dengan situasi yang ada di depannya itu.
Padahal beberapa waktu tadi, dirinya sedang berebut Ovin dengan Chade, tapi saat ini, Chade sedang memulai aksinya lagi untuk merebut Ovin lagi dari tangan pria asing itu.
"Tapi selama dia ada di genggamanku, berarti dia sudah jadi milikku." Sinis pria ini kepada Chade.
Sebab Chade memiliki tubuh yang tidak begitu besar juga berotot, membuat pria itu pun memandang Chade dengan tatapan merendahkan.
Jika ada pertarungan dengan adu fisik, pria itu akan mengira dirinya akan menang dari Chade, padahal...
'Jika kamu memprovokasi pamanku, yang nahas pasti kamu sendiri.' Pikir Ovin, tatkala sekarang kedua tangannya sedang di cengkram oleh dua orang yang berbeda. 'Aneh, kenapa aku yang seperti ini bisa jadi rebutan banyak laki-laki?' Tatap Ovin kepada Sean yang terlihat tidak berani untuk ikut campur, sebab kedua orang yang ada di sisi Ovin, adalah dua orang yang lebih dewasa dari Sean dan Ovin sendiri.
"Lepaskan tanganmu," pria ini berjalan mendekati Chade, sehingga dia pun seperti sedang pamer dengan tubuhnya yang lebih tinggi dari Chade juga lebih atletis ketimbang Chade lagi.
"Bagaimana jika aku tidak mau melepaskannya? Apa yang mau kamu lakukan?" Chade yang tidak memiliki ketakutan akan perbedaan fisik itu, sama-sama berjalan lebih dekat pada pria tersebut.
'Pusing,' Keluh Ovin dengan dua orang yang akan melakukan pertengkaran itu.
"Hahaha....jangan salahkan aku, jika aku berbuat kasar pada wajahmu itu!" Tepat setelah berkata seperti itu, sebuah layangan dari tinjunya mengarah kepada Chade.
"................" Chade yang bersiap untuk serangan pertama yang dilancarkan oleh pria itu, hanya memandangnya dengan tatapan dingin.
Sean yang tidak berani melihat pertengkaran itu, segera menutup matanya.
SYUHHTT....
Bogem mentah itu pun terus mendekat ke wajah Chade, dan ..
__ADS_1
BUKHHH...!