Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
PUM : Si Misterius


__ADS_3

"Tuan, kenapa anda memanggil anak itu? Bukannya lebih baik untuk bergerak sendiri?" Tanya anak buah dari pria misterius tadi, dia saat ini sedang menjadi supir pribadinya.


"Apakah ada masalah dengan keputusanku?" lirik pria ini, sudut mulutnya yang tadinya hendak tersenyum, langsung ia urungkan niatnya itu.


"Tidak Tuan. Tapi ini seperti bukan diri anda, karena mau meminta anak sekolahan seperti dia untuk menjalin hubungan kerja sama dengan anda." kata pria ini lagi.


"Ayolah, apa kau pikir dia hanya anak sekolahan saja? Dia bukanlah anak yang masih sekolah saja. Hanya berdasarkan tampang dan tempramen nya, bukan berarti dia anak biasa." Imbuhnya lagi.


"Maaf Tuan, saya hanya memandang anak itu sebelah mata. Jadi apa saya boleh tahu, maksud dari anak tadi bukan anak biasa?"


"Dia anak dari orang itu, tapi dia juga yang akan mewarisi organisasi itu juga."


"Yah~ Itu apa Tuan?" tanyanya, masih penasaran karena majikannya belum kunjung menjawabnya, padahal hanya tinggal menjawabnya, tapi dengan sengaja di ulur-ulur.


"Hmm.., kenapa tidak pikirkan sendiri saja? Dia juga punya organisasi dengan nama yang aneh, tapi meskipun begitu tidak bole di remehkan."


"Tuan, kalau memang seperti itu, lebih baik jangan memancing rasa penasaran saya." Ucap laki-laki ini, merasa di permainkan oleh majikannya sendiri.


"Pfft, itulah yang aku suka, memancing rasa penasaran setiap orang. Baik wajahmu maupun wajah anak tadi, ekspresi wajah kalian yang penasaran itu cukup menyenangkan.


Tapi, apapun itu, tujuanku dan tujuan dari anak itu ujung-ujungnya pasti sama juga." ungkap laki-laki ini, lalu tanpa membuang waktu lagi, pria ini pun melepaskan topengnya serta rambut palsunya.


Tidak hanya itu, dia juga melepaskan softlens yang dia gunakan untuk menyamar itu, sehingga dia pun akhirnya memperlihatkan wajah aslinya itu di depan anak buahnya sendiri.

__ADS_1


Sebuah wajah blasteran antara ras eropa dan asia, dengan rambut coklat dan iris mata berwarna biru, pria ini memakai kacamata dengan bingkai berwarna hitam.


"Apa ada pertanyaan yang ingin kau tanyakan lagi?" Tanya pria ini lagi.


"Apa yang akan anda lakukan dengan gadis yang anda sebutkan tadi?"


"Apa kau tahu keluarga Abelson?"


Begitu mendengar nama Abelson, ekspresi dari anak buahnya itu pun langsung tercengang.


"Ada kemungkinan besar kalau Ovin ini ada hubungannya dengan keluarga Abelson yang terkenal ini. Walaupun hanya masih sekedar praduga saja, tapi setidaknya aku harus mulai menyelidiki gadis ini lebih dulu, ya kan?" Ucap pria ini sekali lagi, sembari melihat tab yang baru saja dia buka dan kali ini ia baru saja menerima dokumen yang di kirim oleh anak buahnya, dan memperlihatkan beberapa foto nya Ovin yang sedang duduk di atas mobil barunya, ada juga di saat Ovin sedang memeluk lengannya Chade, serta foto milik Ovin saat gadis itu tengah bermain ice skating dengan Chade juga, lalu ada beberapa foto lainnya yang memperlihatkan kedekatan Ovin bersama dengan Chade secara terus menerus, sehingga terlihat seperti seorang sepasang kekasih. "Atau, gadis ini adalah kekasihnya Chade ya?" Gumamnya.


"Sekarang kan sudah banyak anak kampus suka dengan anak SMA, jadi itu mungkin saja Tuan."


"Anda iri karena orang itu sudah punya kekasih, tapi anda belum ya?"


"Kenapa kau malah tanya seperti itu? Aku hanya berpikir kalau aku rasa, ada bagusnya dia jadi milikku saja. Apa hebatnya anak ini ketimbang aku." Dengan ekspresi wajah sedikit geram, pria ini menyentuh dengan kesal layar tab nya, tepat menunjuk ke arah wajahnya Chade.


"Karena anak itu lebih muda dari anda, Tuan."


Begitu mendengar pernyataan dari anak buahnya itu, pria ini langsung berwajah masam. "Kau terlalu jujur. Tapi dibandingkan dia, aku lebih tampan."


"Ayolah Tuan, jangan tertarik pada anak kecil, atau anda bisa kena sanksi dan akan di kira pedofil oleh orang lain." Ucap anak buah dari pria tersebut.

__ADS_1


"Apa kau bisa mampir ke butik?" Perintah pria ini dengan tatapan matanya yang cukup tajam.


"Hm? Memangnya kita mau apa?" tanyanya balik, dan kebetulan memang ada salah satu butik terdekat, sehingga mobil yang ia kendarai pun berhenti tepat di depan butik tersebut.


"Aku ingin meminjam benang dan jarum, agar mulutmu itu di jahit." Setelah mengatakan sebuah kalimat ancaman, anak buahnya tersebut tiba-tiba langsung tancap gas lagi.


"Tidak Tuan, jangan lakukan itu."


"Aku bilang berhenti." perintahnya lagi.


"Tidak Tuan,"


"Kau ini ngeyel ya?" tanyanya, dahinya mengerut karena ia harus terpaksa berhadapan dengan anak buahnya yang cukup berani dan cukup cerewet pula.


"Saya tidak mau mulut saya di jahit. Kalau di jahit, saya bisa apa untuk melayani Tuan?"


"Kau kan hanya tinggal menuruti perintahku tanpa menuntut apapun dan protes lagi kepadaku." ucapnya seraya menyunggingkan senyuman licik.


"Iya, saya tahu, tapi bagaimana saya bisa menyatakan perasaan saya padahal saya mau melamar calon tunangan saya?"


"Kan itu jadi masalahmu sendiri, karena kau terlalu cerewet." tuturnya lagi, dan tidak dalam kemudian, dia mendapatkan beberapa foto lagi yang memperlihatkan Ovin saat ini sedang berpelukan dengan Chade? 'Kenapa anak ini terus saja menempel pada laki-laki ini? Aku jadi heran, apa anak muda yang jatuh cinta akan seperti ini?' Pikirnya.


__ADS_1


__ADS_2