Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
54 : PUM : Pikiran Dan Perasaan


__ADS_3

BRAK…


Ovin pun melakukan perngobatan pada lukanya sendiri. 


Selagi membalutnya lagi dengan perban, Ovin kembali di buat termenung atas peristiwa yang baru saja terjadi. 


‘Padahal aku tadi sudah sempat senang, karena dia akhirnya mengatakan aku ini istrinya. Tapi dia yang marah dan mengusirku kelar, kenapa aku jadi merasa tidak terima ya? Aku tahu aku memang salah, gara-gara aku masuk keam kamarnya. Tapi siapa yang membuatku tidur dengannya itu bukannya dia? Kenapa jadi aku yang disalahin?’ 


Setelah tangan kanannya sudah selesai di perban, Ovin pun memandangi  telapak tangannya sendiri. Dia mencoba mengulas memori semalam, dimana tangannya itu dia gunakan untuk melakukan pekerjaan aneh yang cukup menyenangkan. 


‘Bahkan orang yang menarik tanganku untuk memijat miliknya itu, bukannya Frans sendiri? Tapi lagi-lagi kenapa aku yang kena?’ Pikirnya lagi. 


Ovin pun membuka dan menutup tngannya. Bagaimana dan seperti apa rasa dari harta berharga yang di miliki oleh Franz itu, Ovin benar-benar masih bisa merasakannya dengan jelas. 


Namun wajah kecewa itu perlahan pudar, ketika dirinya mengingat apa yang dilakukannya malam tadi. ‘Ternyata dia laki-laki yang mesum juga. Bagaimana bisa dia bereaksi seperti itu ketika sedang tidur? Kenapa aku jadi kesal? Kenapa aku jadi iri dengan apa yang Franz mimpikan, lalu siapa yang dia mimpikan itu?’


Seluruh perasaan kesal, iri dan sedih pun jaid bercampur menjadi satu layaknya es campur. 


Ovin kesal, sebab dirinya hampir saja mati karena Franz. Dia itri karena melihat Franz tidur dan memimpikan sedang bercumbu dengan seorang wanita di dalam mimpinya itu, dan yang terakhir adalah dsedih, karena dirinya terlihat menyedihkan sebab masih saja belum bisa mengambil hati Franz yang saat ini sudah menjadi suaminya itu. 


Semuanya karena Franz, lagi dan lagi. 


“Hahh~” Ovin yang baru saja menghela nafas kasar, langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia meletakkan tangan kirinya ke atas dahinya, lalu bergumam lembut, “Kenapa aku punya nasib seperti ini? Padahal jika bukan karena Franz, aku pasti masih punya keluarga yang utuh. Tapi…kenapa aku tidak bisa membencinya? Walaupun aku selalu dibuat kesal dengan tingkahnya, tapi aku benar-benar tidak bisa membuat dendam kepadanya. Apa aku sungguh-sungguh mencintainya? Apa karena aku orang yang lemah dengan wajahnya itu? Ataukah gara-gara hanya dia orang yang wajahnya bisa aku lihat, makannya aku tidak bisa membencinya? Hahh…kenapa aku jadi repot dengan perasaanku sendiri ya?” Lalu seluruh perkataannya pun berpindah ke dalam pikirannya. ‘Aku…sepertinya memang mencintainya.’


Terjerat dalam perasaannya sendiri, Ovin pun memejamkan matanya. Dia mencoba mengoreksi hati dan pikirannya lagi. 

__ADS_1


Dan hasilnya berakhir sama dengan hasil awal. 


‘Cinta memang membuat orang jadi bodoh. Dan aku salah satu dari orang itu.’ Ovin akhirnya menarik sudut bibirnya, dan membuat senyuman miring. 


Sebagai orang yang punya ingatan yang bagus, Ovin tentu masih ingat dengan masa kecilnya, dimana saat kecil dirinya pernah bertemu dengan Franz beberapa kali. 


‘Apakah semuanya bermula dari situ?’ Pikirnya lagi. Hingga akhirnya posisi Ovin itu membawanya masuk kedalam mimpinya lagi. 


____________


Dan Farnz yang saat ini sedang melakukan ritual paginya, memandang dinding marmer yang ada di depannya itu dengan ekspresi datar. 


ZRASSHH….


Air shower yang mengguyur tubuh Franz yang sudah tanpa busana itupun akhirnya membasahi tubuhnya dari ujung kepala sampai ujung kaki.


Setelah itu, Franz pun mengangkat tangan kanannya, dan menyibak poni dari rambut miliknya sampai dia pun memperlihatkan dahinya itu. 


Terlihatlah di atas pelipis sebelah kanannya, terdapat bekas luka. Itu adalah bekas luka lama yang dia dapatkan dari kecil, tatapi sayangnya dia sendiri juga tidak ingat kapan dia bisa mendapatkan bekas luka itu. 


Oleh sebab itu, demi terus mengingat apa yang seharusnya dia ingat, Franz pun tidak pernah memakai salep atau obat apapun untuk menghilangkan bekas luka itu. 


‘Tapi ngomong-ngomong, dia juga…’ Franz tanpa sadar jadi mengingat Ovin lagi. Tapi yang Franz pikirkan saat ini bukanlah apa yang sudah Franz perbuat kepada istrinya itu, melainkan sewaktu Franz pernah tertidur di dalam kamar Ovin waktu itu. Dimana waktu itu, Franz pernah sekali melihat Ovin membuka seluruh pakaiannya. 


Dia tidak memikirkan tubuh telanjangnya itu, akan tetapi apa yang Ovin miliki juga, yaitu bekas luka panjang yang ada di salah satu bahunya itulah yang berhasil menarik perhatiannya Franz untuk mengulas memori yang belum lama terjadi itu. 

__ADS_1


‘Darimana dia mendapatkan bekas luka sebesar itu di bahunya?’ Franz jadi penasaran juga. Tapi karena gengsi, maka Franz pun tidak akan menanyai hal itu secara langsung kepada Ovin. 


ZRASSHH….


Tidak mau memikirkan hal itu lama-lama, Franz kembali fokus kepada ritual paginya sambil dimanjakan dengan air hangat yang mengguyur seluruh tubuhnya. 


‘Tapi dia itu benar-benar- di balik tampangnya yang terlihat bodoh itu, ternyata dia punya keberanian sampai seperti itu. Kira-kira sudah berapa kali dia…memegang milikku?’ Sambil mendongak ke atas, untuk menikmati air shower yang langsung menerjang ke wajahnya, tangan kanan Franz jadi memijat miliknya yang menegang itu. ‘Sebenarnya apa tujuan dia sebenarnya? Pola pikirnya tidak bisa aku tebak. Dia perempuan yang aneh, dan jauh dari Bella. Tapi…walaupun begitu, kenapa yang aku mimpikan justru dia? Bukannya Bella, aku justru memimpikan bersetubuh dengan Ovin. Apakah karena ikatan pernikahan ini, secara otomatis dialah yang akan selalu mengantuiku apapun yang aku lakukan?’


Untuk beberapa waktu, Franz pun jadi sedikit mengerang, karena dia mendapatkan puncaknya. Dan sayangnya, hal itu pun dipicu saat Franz memikirkan Ovin lagi, dan lagi.


Dua orang pemuda yang sudah terikat dengan janji dalam pernikahan pun saling dilema dalam perasaannya masing-masing.


Awalnya mereka berdua adalah dua orang asing yang tiba-tiba di ikat untuk masuk kedalam perahu yang sama, tapi pada akhirnya, waktu yang terus kian berlalu itu pun secara tidak langsung memberikan dua orang itu kesempatan untuk saling memahami?


Sekalipun mereka berdua selalu di pertemukan dalam suasana yang cukup ekstrim, tapi pada akhirnya mereka memang perlahan saling lebih mengenal lebih dalam.


Sampai-sampai mereka berdua punya pikiran yang sama terhadap lawan posisi mereka berdua untuk menghadapi situasi, kalau sebenarnya…


‘Kami sudah menikah?’ ucap (Ovin dan Franz )


Di tempat yang berbeda sekalipun, Ovin dan Franz pun mengatakan hal yang sama.


Sambil memperhatikan kalung dengan bandul cincin yang sama-sama mereka berdua pakai, mereka pun secara bersamaan menyentuh bibir mereka berdua. 


‘Padahal sudah berlalu, tapi kenapa aku masih mengingat bibirnya yang terasa manis itu?’ Franz menyentuh bibirnya. 

__ADS_1


_________


Di saat yang sama, Ovin pun menyentuh bibirnya itu. ‘Aku jadi menginginkannya lagi. Tapi karena dia sedang marah, aku tidak mungkin melakukan ataupun mendapatkan itu lagi.’ Pikir Ovin.


__ADS_2