Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
PUM : Melepaskan Ikatan


__ADS_3

"Walaupun begitu, kenapa kau masih bisa setenang ini saat kita sedang diculik?" Franz terheran dengan sikap gadis disebelahnya yang masih saja bersikap tenang. "Lagian, kenapa juga mereka menginginkan aku juga?"


Padahal sebagian besar orang akan takut dan terbawa ke sebuah trauma karena diculik.


Terdiam sejenak, Ovin menoleh ke arah Franz dan menatapnya.


Meskipun kedua matanya saat ini sedang di tutup dengan kain, untuk menutup pandangannya, tetapi karena dia ingin merasakan sensasi menatap Franz dari tempat dia duduk, Ovin pun menjawab dengan jelas, "Apa kau sama sekali tidak ingat, kalau kau dan aku bahkan pernah di culik bersama?


Yah, untuk beberapa tahun kemudian aku pernah beberapa kali di culik lagi, maka dari itu aku sudah merasa terbiasa,"


Seketika perkataan dari perempuan ini membuat Franz tercekat.


'Apa? Dia pernah diculik? Atau dia hanya berusaha mengarang cerita agar aku bisa bersimpati?' Franz pun masih tidak percaya dengan Ovin.


"Di umur 7 tahun, aku pernah diculik karena mengikutimu pergi," dan kata yang diucapkannya pun sukses membuat Franz semakin tidak bisa menolak untuk mendengar ceritanya lebih dari itu.


"Kenapa diriku?"


"Siswa terpandai di sekolah, kenapa balik tanya? Kau benar-benar lupa dengan masa kecil kita?" tanyanya, membuat respon pasif dari Franz yang pada dasarnya memang lupa.


"Cepat jawab? Memangnya aku pernah diculik?" Franz akhirnya menuntut Ovin untuk menjawab pertanyaannya.


Alasannya jelas sederhana.


Karena Ibunya sama sekali tidak memberikan kejelasan pasti alasan dirinya bisa hilang ingatan, karena hanya di beritahu kalau dia hanya jatuh dari tangga, membuat perasaan dari rasa penasarannya meluap.


"Tanya saja pada ibumu," ketus Ovin.


Karena sifat judes di waktu kecil masih melekat di dalam dirinya, tak menyangka kalau hal itu tidak membuat dirinya di waktu kecil itu takut ketika ia diculik bersama dengan seseorang.


Prok....


Prok.....


Prok....


" Perbincangan kalian terlihat sangat seru. " Sela Aeon.


"Karena begini, aku akan melepaskan ikatan salah satu dari kalian. " tambahnya.


"Apa ada alasannya?" Ovin bertanya kenapa hanya salah satu dari dirinya atau Franz yang akan dilepaskan?


"Tidak ada,"


Ovin pun jadi terdiam karena tidak tahu maksud dan tujuan orang ini.


"Lepaskan dia." Dan Eon menunjuk ke Franz.


Salah satu anak buahnya berlari kecil menghampiri Franz, dan mulai melepaskan ikatan di kedua kaki Franz yang di borgol.


Namun berkat kedatangan Eon itu pula, Franz akhirnya bisa melihat wajah pira bernama Eon ini, lebih tinggi 5 cm, membuat Franz harus sedikit mendongak ke atas, walau dari sudut manapun tidak akan terlihat seperti itu.


Selesai memperhatikan Eon dari atas sampai bawah, Franz menoleh ke samping kanannya lagi.


Meskipun sudah melihatnya sedari tadi, aapi ada satu hal yang aneh kenapa dirinya ( Franz ) ketika melihat Ovin yang matanya di tutup dan memperlihatkan wajah bingung, membuat Franz merasakan takjub.


Tiba-tiba hatinya menggelitik melihat wajah itu.


Namun Franz segera menggeleng kepalanya dengan cepat, menyingkirkan hal aneh itu.


'Seperti yang sempat dia katakan kepadaku kalau aku bodoh, bisa-bisanya aku jadi terlena dengan wajah bingungnya?' wajah bingung Ovin terjadi karena sedang menyimak keadaan di sekitarnya, karena matanya tertutup oleh kain hitam, maka yang dijadikan prioritas saat ini adalah dengan menggunakan pendengarannya.


"Kenapa dia tidak dilepaskan?" Tanya Franz, melihat hanya dirinya saja yang ikatannya di lepas.


"Karena kaulah yang harus melepaskan ikatannya," Eon jadi ingin melihat bagaimana caranya anak muda itu melepaskan ikatan demi ikatan yang terikat di tiap tubuh sang gadis tersebut.


Maka dari itu, Eon hanya memerintahkan untuk melepaskan borgol yang sempat mengikat di kaki dan tangannya juga, agar Franz hanya bisa membuka talinya saja.


'Hehe, dengan begini aku bisa membiarkan mereka berdua lebih lama.' batin Eon, lalu memberikan kode para anak buahnya untuk pergi dari situ.


'Pekerjaan konyol macam apa ini? Masa harus melepaskan tali-tali itu tanpa memberikanku pisau?' protes Franz.


Yah... Bagaimanapun karena Franz juga tidak bisa membuang waktu lagi dan tidak akan selesai jika cuma menatapnya saja.


Maka dari itu dia memulainya dengan melepaskannya dari kaki terlebih dahulu.


Franz pun harus berjongkok dengan sedikit membungkuk, untuk menemukan tali simpul.


'Mereka mengikatnya dengan sangat kencang.' dan sempat mendongak ke atas untuk melihat ekspresi itu lagi. 'Apa dia tidak merasa sakit?' lalu kembali membungkuk lagi.


"Kalau nggak bisa, ka-"


"Aku bisa," sela Franz dengan cepat.


"Tapi sudah 2 menit 25 detik,"


Franz menaaikkan salah satu alisnya, terheran. "Bagaimana kamu bisa tahu ini sudah 2 menit 25 detik?" tanya Franz selagi mulai mengendurkan ikatan di kakinya Ovin.


"Karena aku menghitungnya,"


"Bagaimana caramu menghitung waktu? Kau kurang kerjaan ya? Sampai sempat menghitungnya begitu?" cicit Franz.


Demi mencarikan suasana diantara mereka berdua yang kadang seperti karet di tarik, perlahan pembicaraan diantara mereka berdua pun lancar seperti jalan tol.


"Kau tahu gabut? Aku menghitungnya dengan mengetuk-ketuk jariku, dengan begitu aku bisa tahu, seberapa cepat kau bisa melepaskan ikatan tali dari tubuhku," beber Ovin, memancing emosi Franz seolah waktu yang kian berlalu itu menjadi titik nilai kalau Franz sama sekali tidak bisa melakukan hal yang berguna sedikitpun.


Lebih tepatnya, membuat istrinya bebas dari ikatan tali itu, adalah sesuatu yang terlihat cukup berat untuk ukuran Franz.

__ADS_1


"Masih sempat-sempatnya menghitung waktu. " decih Franz, memang gadis ini berbeda dengan perempuan lain.


Merasa apa yang di lakukan laki-laki ini lelet seperti siput, membuat Ovin berkata lagi : "A-ada gunting kuku di saku celanaku," bujuk Ovin pada Franz, agar waktu yang digunakan jadi bisa lebih singkat.


"..." daripada berdebat lagi, Franz mencari-ceari gunting kuku di saku celana yang dipakai gadis ini. "Apa kau selalu membawa gunting kuku?"


"Bukankah gunting kuku yang terlihat sepele itu bisa berguna saat keadaan darurat? Aku memang selalu membawanya untuk membuka tutup botol, menggunting kuku, atau tali, serta bisa aku jadikan untuk menusuk sesuatu, jadi itu memang cukup berguna untukku,"


'Sekarang dia mulai pandai menjawab ya? Tapi sebentar, kenapa dari cara dia berpikirnya seolah dia selalu memperhitungkan segala situasi?' Franz tidak mau tahu lagi, ia benar-benar ingin keluar dari situ dengan cepat.


Hanya saja, saat dia berpikir ingin keluar dari sana dengan cepat, apa yang menunggu di rumah juga menjadi suatu ancaman untuk dirinya sendiri.


Franz frustasi dengan keadaannya sekarang ini, di rumah sudah ada ibunya yang sedang menunggunya pulang.


Bukan pulang seorang diri, melainkan dengan gadis ini, maka dari itu sekarang dia pun sedang ada di posisi yang cukup sulit, karena Ovin sendiri tidak bisa pergi seenak hati.


Benar-benar, hari ini adalah hari yang sengat melelahkan.


'Memang benar, aku sudah cukup menduganya kalau Ovin ini memang punya segudang rahasia.


Gara-gara itu pula aku jadi dipermainkan oleh wanita bernama Calluella itu, sampai-sampai dengan entengnya memenggodaku.'


Lalu sekarang?


Yang dia lakukan sekarang adalah melepaskan ikatan tali dari tubuh istrinya.


Satu per satu ikatan yang ada di berbagai sisi di tiap tubuh kurus kering milik gadis ini Franz kendurkan, alias memotongnya sedikit demi sedikit dengan sebuah gunting kuku?


Pengalaman pertama yang sangat konyol ini benar akan selalu membekas dalam ingatannya Franz.


Dari kaki, kedua pergelangan tangan, butuh 5 menit untuk membukanya. Setelah itu, bagian depan yang merupakan dada.


Franz terdiam mematung, memperhatikan kalau tali itu juga mengikat bagian badannya Ovin, namun yang lebih ia kutuki itu adalah ketika dia melihat kalau Ikatannya benar-benar membuat buah dadanya itu terlihat lebih menonjol?


'Apakah mereka sengaja mengikatnya dengan cara seperti ini?' tatap Franz.


"Apa kau tidak bisa membukakan penutup mataku?" pinta Ovin dengan tiba-tiba.


Matanya memang sudah terkontaminasi dengan pemandangan gadis ini, bisa-bisanya di ikat sampai sedemikian menggoda seperti ini?


"Tidak, atau kau lagi-lagi menatapku dengan tatapan masum,"


"Bukankah kau juga sedang menatap aku dengan mata mesummu?" timpal Ovin, lagi-lagi berkilah lidah dengannya.


"Kau pikir aku ini pria macam apa?"


"Penggoda, perusuh, pemarah, dan penuh ego di luar akal sehat," jawab Ovin dengan terus terang, sampai Franz tidak bisa menyangkalnya.


"Diamlah. Memang benar, kalau aku membuka penutup matamu, kau akan memiliki segudang pikiran di luar akal sehat juga, ya kan?"


"Lebih baik kau diam, atau aku ini tidak akan pernah selesai-selesai," pungkas Franz.


SLURPP...


Terkejut dengan jilatan lidahnya Ovin, Franz seketika langsung mundur.


"K-kau, apa yang barusan kau lakukan?! Menjijikan,"


"Mana yang lebih menjijikan saat tubuhmu di selimuti parfum dari wanita tadi? Kau pikir aku ini suka ya?" balas Ovin dengan cukup berani.


Bahkan jika penutup matanya di buka, Franz sudah pasti akan melihat mata Ovin yang tidak berperasaan.


 


_______________


Selagi menunggu dua insan muda yang sudah menjalin kasih itu, Eon kini duduk diam sambil memperhatikan anak muda yang ada di hadapannya ini.


"Kelihatannya kau rekan dia ya?" tanya pria ini.


Layaknya seorang yang berasal dari kalangan atas, dari cara Eon duduk dan menggerakkan tubuhnya pun cukup berkharisma.


Jerry yang melihat pria itu pun sempat terpesona dan memutuskan untuk diam saja.


Melihat anak ini terdiam, Eon pun mengajak bicara lagi. "Kelihatannya kau terus mencurigaiku ya? Aku tidak berniat untuk membuat kalian seperti di culik seperti ini. Ini gara-gara aku sempat mengurus masalah perusahaan, jadi aku menyerahkannya pada Calluella.


Apa kau bisa memaafkan cara dia membawa kalian kesini?"


Mengatur hatinya yang sempat gundah karena pria di hadapannya itu tahu identitas mereka bertiga, Jerry pun menjawab dengan bahasa formal, "Yah... Saya tidak akan begitu mempermasalahkannya, tapi apa anda bisa mengatakan apa alasan kami di bawa kesini hanya untuk bertemu dengan anda?"


Wajah Eon memperlihatkan wajah letih nya, minum kopi untuk satu sruputan pertamanya, tangan kirinya kemudian masuk ke dalam saku jas-nya, merogoh sesuatu.


"Terima kasih. Jika bukan gara-gara tunanganku, urusannya tidak akan sepanjang ini,"


Setelah berkata seperti itu, tangan kirinya akhirnya ia keluarkan, namun tidak kosong. KIni di telapak tangannya ada satu benda berwarna merah, namun berkilau?


Tidak, memang berkilau, tapi itu semua berasal dari layar ponsel yang sudah di hidupkan, dan Eon meletakkannya ke atas meja, menyodorkannya kepada Jerry.


"Ini milik keluargaku. lebih tepatnya milik nenek ku," Eon mulai menjelaskan apa yang dia tunjukkan kepada Jerry.


Jerry yang tertarik dengan gambar di dalam layar ponsel itu, kemudian mengambil ponsel tersebut, dan melihatnya dengan lebih dekat lagi.


Sebuah gambar yang memperlihatkan sebuah kalung berlian berwarna ruby.


Hanya dengan mengamati dari layar ponsel saja, Jerry sudah mengetahui nilai dari kalung itu sangatlah tinggi.


Meskipun di dunia ini pasti ada yang namanya perhiasan palsu, tapi Jerry yakin kalau perhiasan itu cukuplah terkenal.

__ADS_1


Jerry mengembbalikan ponsel tersebut ke atas meja lagi, dan menyodorkan balik ke sang pemilik dari ponsel tersebut.


"Bantu kami menemukan kalung itu," pada akhirnya Eon pun mengatakan alasannya kepada Jerry.


"Berapa banyak orang yang mengetahui ini?" tanya Jerry, pandangannya tidak bisa dia alihkan dari kalung yang ada di dalam gambar tersebut.


"Kau, aku dan asisten pribadiku. Sisanya ada dua orang lagi, tapi Ovin sepertinya masih belum mengetahui apa yang sedang dia cari juga, karena orang itu belum memberitahu rinciannya kepada Ovin,"


Tahu alasan akhir dari keberadaannya yang tiba-tiba di culik, membuat Jerry berpikir lagi. Kalau pria ini-- memang bukan pria biasa, dia orang yang sangat berpengaruh.


"Niatnya aku akan menyuruh gadis itu, tapi karena kau rekan kerjanya, jadi mungkin lebih baik jika kalian mencarinya dengan bekerja sama,"


'A-apa? Bekerja sama dengan Ovin?'


Sontak Jerry terkejut, karena dia tidak akan menyangka kalau misi kali ini bisa di lakukan dengan bekerja sama dengan Ovin.


Jerry belum pernah sampai terpikirkan untuk menjaalani kasus ini bersama dengan perempuan itu, bisa dibilang ini mungkin akan menjadi pertama kalinya?


Tapi hatinya, ada perdebatan dari rasa senang bercampur sedih.


Senang jika bisa bekerja sama, dan bisa lebih dekat dengannya. namun... Di satu sisi lain, Ovin adalah gadis yang Jerry inginkan untuk ia dekati.


Sayangnya, hubungan itu sudah lebih dulu kandas setelah dia di tolak mentah-mentah oleh Ovin.


Di tambah dengan fakta kalau Ovin dan Franz sudah memiliki hubungan khusus, hal itu pun membuat Jerry merasa sedikit risih.


Eon yang memperhatikakn wajah serius anak muda inii, tiba-tiba tersenyum miring dan berkata.


"He~ Melihatmu melamun seperti itu, jangan-jangan kau menyukai Ovin ya?" Kata Eon, memecah segala pemikiran yang sedang dii lamunkan oleh Jerry.


Jerry langsung memalingkan wajahnya ke tempat di mana dua orang itu masih berdebat.


"Ya. Tapi sayangnya saya sudah di tolak lebih dulu sebelum saya tahu kalau ternyata dia sudah punya orang yang akan ada di sisinya selamanya, " karena berbohong itu tidak ada gunanya, Jerry pun lebih memilih untuk jujur.


"Hahaha, maaf, aku jadi tertawa karena kau mengatakannya dengan wajah aneh. Tapi aku akui kalau kau sudah cukup berani untuk mengutarakan rasa sukamu padanya, meskipun kau terlambat.


Tidak apa, kau hanya tinggal pilih diantara dua pilihan." siindir Eon secara terang-terangan pada Jerry yang rupanya punya pengalaman cinta bertepuk sebelah tangan.


"Maksudnya?"


"Yah, Franz itu, kau tahu sifat dia kan? Jika kau bisa memperlihatkan kebaikanmu kalau lebih baik ketimbang Franz, kau bisa memikat hati Ovin.


Tapi ada resikonya juga sih, tahu sendiri resikonya kan?


Kalau orang sudah jatuh cinta, dia akan buta dengan segalanya, bahkan ketika dirinya sendiri harus tersakiti.


Dan pilihan yang ke dua, di dunia ini masih ada banyak perempuan, jadi kau tidak perlu terlalu terburu-buru.


Antara menunggu sampai Ovin lelah dengan Franz, atau melepaskannya, sebagian besar punya tipe pemikiran yang seperti itu, sedangkan sisanya, mereka akan melakukan di luar akal sehatnya,"


'Apa yang di katakan oleh orang ini memang benar. Tapi menunggu-- aku sudah cukup lama menunggu, apakah aku juga harus menunggu lagi demi dia?


Tapi-- aku benar-benar masih tidak bisa mengalihkan hatiku padanya.' Jerry pun mulai terpengaruh dengan hasutan dari Eon.


Melihat hal tersebut, Eon sempat tersenyum tipis, sebelum dia akhirnya berkata lagi : "Oktavin, sebenarnya bukan kau yang terlambat, tapi karena gadis itu sendiri... Dia sendiri yang sudah memiliki takdir untuk terus berdebat dalam perasaan kacaunya dengan si Franz.


Mereka memiliki hubungan yang rumit dari pada yang terlihat.


Maksudku, dari pada apa yang kau lihat sekarang, di dalam hubungan yang tampak terlihat seperti dua orang yang sedang bermain, sebetulnya mereka berdua ada cerita sendiri yang tidak banyak orang ketahui,"


"Kenapa anda mengatakan itu kepada saya?" tatap Jerry, dia sama sekali tidak mengerti, padahal mereka berdua juga baru kenal satu sama lain, tapi kenapa Eon malah menjelaskan salah satu rincian yang seharusnya tidak di beritahu kepada Jerry yang notabene nya adalah orang luar?


"Ha~ Kau pasti jadi penasaran kan? Aku hanya ingin melihat bagaimana kau akan menangani antara masalah pribadimu dengan pekerjaanmu, itu saja sih.


Tapi-- kalau kau ingin tahu rinciannya, apakah kau mau setelah lulus SMA nanti kau jadi salah satu anak buahku?"


Jerry seketika diam, pada akhirnya jelas sudah alasan di balik Jerry di bebaskan dan berbicara secara terpisah dengan dua orang di luar sana, itu karena Tuan Eon ini rupanya memiliki tujuan lain.


Bari kali ini ada orang yang mau menawari pekerjaan kepadanya.


Namun, bekerja di bawah kendali pria ini? Pria yang dari luar tampak seperti pria naif yang suka tersenyum konyol?


Seperti yang tadi barusan Eon katakan, kalau ada hal rumit di balik hubungan antara Franz dan Ovin, maka Jerry sudah tahu pasti kalau pria di hadapannya itu juga memilki segudang hal rumit yang sedang di tutupi.


Dari luar memang tampak seperti orang baik, tapi siapa yang akan tahu seperti apakah wajah asli dari Tuan Eon ini?


"Terima kasih atas tawarannya, tapi saya sendiri masih nyaman dengan posisi saya, meskipun saya hanya ada di kelompok paling rendah dari orang lainnya.


Lagi pula, bukannya ini aneh, kenapa saya yang berasal dari unit terakhir, tiba-tiba mau di rekrut oleh anda?"


"Kau punya pikiran yang cukup tajam ya?" Meskipun agak kecewa karena tawarannya langsung di tolak, namun Eon cukup puas dengan cara Jerry menanggap tawarannya.


Jerry tampak seperti orang yang akan patuh dengan semua perintah yang dia dapat, tapi rupanya di balik itu semua Jerry punya sisi untuk menganalisis situasi dengan cepat.


Itulah yang Eon sukai dari anak di hadapannya ini.


"Mungkin saja kau ingin suasana yang baru, kalau kau tidak mau ya sudah, aku tidak mempermasalahkannya.


Tapi tawaran ini masih akan terus berlaku untukmu. Jadi saat kau berubah pikiran, kau bisa hubungi aku," tidak mau menjelaskan alasan pastinya, Eon hanya bisa membuat alasan lain yang justru membuat Jerry semakin penasaran.


Setelah menyelesaikan ucapannya, Eon pun berdiri dan kembali berkta sebelum pergi.


"Oh ya, tentang kalung itu, aku serahkan padamu, dan aku baru mendapatkan kabar kalau ternyata pemuda bernama Chade sudah pergi mencarinya selama ini, kau pasti tahu dia, cari dia dan bantu pencariannya." tutur Eon, sekaligus perintah untuk Jerry. "Jadi kau tidak akan kesulitan saat kau sendiri memang masih kurang nyaman bertugas dengan Ovin. Ini nomorku, hubungi aku jika kau butuh sesuatu,"


Begitu Eon memberikan kartu nama yang berisi alamat lengkap beserta nomor teleponnya, pria ini pun memutuskan pergi untuk memberikan waktu kepada Jerry.


"Chade?" panggil Jerry dengan nada lembut. Jerry tahu siapa itu orang yang benama Chade.

__ADS_1


__ADS_2