Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
132 : PUM : Perjalanan


__ADS_3

Sayangnya, di tengah-tengah Ovin sedang senang bisa berjalan berdampingan dengan Franz di muka umum, dia harus kembali ke kenyataan, bahwa di sebelahnya itu masih ada satu orang lagi, yaitu pamannya.


"Ayo jalan cepat, kamu yang memimpin barisan pria tampan sepertiku." perintah Chade mendorong pelan keponakannya ke depan, agar berjalan memimpin mereka berdua.


Sedangkan Ovin, ia rasanya ingin menangis, karena ia tidak tahu pamannya itu bisa dapat kepercayaan diri yang tinggi dari mana coba?


Dengan suara kecilnya, Chade sempat membisikkan sesuatu tepat di telinga keponakannya, "Ngomong-ngomong ukurannya pas dengan badanmu kan? "


PLAKK.......


" Aww...... , tanganmu tebal ya? " Rintih Chade, karena ia mendapatkan pukulan telak di kepalanya persis. 'Tangan kecilnya itu kalau memukul pasi keras.'


'Pas? Badan? Jadi kotak yang kemarin diterima oleh Ovin itu dari dia?' Hanya dengan mendengar bisikan kecil tai, Franz dengan kasar menarik tangan Ovin ke samping kirinya, sehingga sekarang posisi Franz ada di tengah. 'Dan dia tahu ukurannya? Kenapa jadi menyebalkan sekali sih, jalan-jalan tapi dia juga ikut?'


'Haduh, Franz pasti punya pikiran yang tidak-tidak. Padahal pakaian yang aku pakai bersama dengan da laman nya ini itu aku yang pesan sendiri. Kenapa paman selalu saja menjadikannya kesempatan?' Belum juga keluar dari hotel, tapi kesan yang Ovin dapatkan dia sudah merasa lelah lebih dulu.


Chade yang melihat Ovin pindah posisi gara-gara Franz, ekspresinya kembali datar. 'Jika bukan karena Ny. Jean, aku sama sekali tidak ingin membuat kedua anak ini dekat-dekat.


Kenapa hatiku melunak seperti ini? Ini juga, hanya karena wasiat dari ayah, aku di suruh agar bisa menjaga Ovin sampai Ovin bisa di jaga baik dengan laki-laki lain yang di cintainya? Franz sendiri masih belum bisa menjaga dirinya sendiri. Hahh~ pada akhirna aku juga yang kena, harus menjaga dua anak ini secara bersamaan.


Orang tua itu memang merepotkan.' Keluh Chade.


Dia ada dua permintaan yang sama mirip antara Ibunya Franz, juga mendiang dari ayah nya Chade, atau tepatnya adalah kakeknya Ovin juga. Agar dirinya menjadi penjaga untuk Ovin.


Walaupun Chade sadar kalau itu sungguh bertentangan dengan hatinya, tapi mau bagaimana lagi, jika wasiat itu harus di laksanakan. Karena jika tidak, Chade sendiri tidak akan mendapatkan semua warisan milik Ayahnya itu.


Dari sinilah perjalanan dari ketiga orang ini di mulai.


________________


Dari desiran laut menyapa satu rombongan yang berencana pergi tour ke salah satu pulau rekomendasi dari pemilik pulau tersebut.


Kapal pesiar itu membawa semua anak kelas Tiga berlibur, hanya saja memerlukan Tiga hari tiga malam agar sampai di lokasi.


Tapi karena adanya pelayanan yang memadai layaknya hotel berbintang, menjadikan mereka semua terbuai dengan fasilitas di dalam kapal pesiar tersebut.

__ADS_1


" Hahh........pemandangannya indah." ucap Sean sambil membaringkan diri di kursi santai.


Di meja sudah ada minuman segar untuk menyegarkan tenggorokannya.


Dia sesekali meminumnya, dan meletakkannya di atas dahinya agar kepala juga terasa dingin.


"Sepertinya aku tidak melihat dia dari tadi."


Sean tidak sendirian, karena di sampingnya ada teman sekelasnya juga. Dan ia kebingungan karena ia biasanya sering melihat Franz berkeliaran untuk menarik perhatian para ngengat, sekarang batang hidungnya pun sama sekali tidak terlihat semenjak ia naik ke kapal.


" Oh...si tuan muda manja itu sedang jalan-jalan keluar negeri. Tapi tenang, dia akan nyusul, atau mungkin dia sudah ada di pulau terlebih dulu." kacamata hitamnya ia naikkan ke atas kepala, lalu dia menoleh ke samping. "Apa kau sedang rindu dengan anak manja itu? " Imbuhnya.


" Bukan aku, tapi mereka," Laki-laki ini pun menunjuk ke samping kirinya, terlihat beberapa perempuan tengah berdiri sambil memandang mereka berdua. " Kalian sudah dengar kan?! Tuan muda kalian sedang berada di luar negeri. Tapi dia akan nyusul." Kata laki-laki ini memberitahu informasi yang sedang di perlukan oleh mereka semua.


Seketika raut wajah mereka langsung jadi muram, karena tidak mendapatkan yang segar-segar.


Bukan minuman atau makanan segar, tapi orang yang menjadi penyegar mata untuk mereka semua.


"Yah...., kita harus nunggu lagi."


"Ide mu bagus juga,"


Perlahan mereka semua membubarkan diri dari area kawasan kolam tapi tidak dengan kegaduhan yang mereka buat, yaitu bisik gosip ala emak-emak masih ada.


"Apa yang dilakukan anak itu? " Tanya lagi kepada Sean.


"Dia bilang sendiri ada orang gila yang sengaja membawanya untuk ber kencan," Jawab Sean, lalu meminum lagi air jus nya, sebelum es yang ada di dalam gelas sepenuhnya mencair.


"Uhukk...huk..uhuk, kencan? Orang gila? Dia di paksa kencan sama orang gila atau apa?"


"Aku tidak tahu itu, teleponnya langsung mati tapi sebelumnya aku juga dengan suara wanita, suaranya sih....kaya suaranya si mata empat," jelas Sean, tapi dengan akhir kalimat sebuah bisikan kecil, agar tidak ada yang mendengarnya kecuali temannya itu.


" Si mata empat yang sering jadi bahan gosip itu? Tapi...betulan si mata empat itu sepupunya dia?" tanyanya pada Sean dan sedikit berbisik. Dia pun merasa curiga dengan hubungan yang terdengar serba mendadak itu. 'Kalau benar si mata empat itu adalah sepupunya Franz, tapi kenapa Franz setega itu, membiarkan sepupunya sendiri di bully?'


" Hahh......kenapa tidak tanya dia langsung, aku tidak tahu aku hanya tahu dia benar-benar tinggal di rumahnya."

__ADS_1


"Wahh.....kok tahu?"


"Aku pernah menginap dirumahnya, tentu saja tahu, bahkan saat itu aku sempat melihat dia memakan sisa makanan dan minumannya Franz , eh bukan memakan sisa, itu seperti meneruskan makanan yang belum dimakan Franz. Kenapa tanya terus?" Akhirnya Sean jadi bertanya balik kepada temannya ini.


" Kenapa? Kan menarik nggosipin dia." laki-laki ini tersenyum senang dengan jawabannya sendiri.


"Kau lama-lama bisa jadi anak perempuan loh, hobinya gosip terus. Info lengkapnya ada pada dia, tanya saja sendiri." Ucap Sean agar temannya ini untuk bertanya langsung pada yang bersangkutan, walaupun Sean sendiri tidak yakin kalau bertanya langsung akan di jawab atau tidak.


'Padahal kalau dilihat baik-baik apa lagi tanpa kacamata pasti cantik juga tuh cewe. Sayangnya banyak yang nggosippin dia, reputasinya betul-betul buruk.' pikirnya, tapi dalam sekejap Sean langsung menggeleng kuat.


Di dek kapal lantai dua, Jordy sedang mengamati kedua orang itu, siapa lagi kalau bukan si Sean dan temannya itu.


'Apa yang sedang dipikirannya? Ekspresinya lebih cepat berubah dari pada membalikkan halaman buku " gumam Jordy dari kejauhan tepatnya di atas yaitu lantai dua.


" Ada apa? " Teba-tiba datang pak Deny dari belakang.


"Oh iya, orang yang absen tidak berangkat ada berapa? " Tanya Jordy.


"Ada dua, tapi besok mereka nyusul kita."


'Mereka berdua? Lagi? Mereka beberapa kali tidak masuk bersama.' Mengingat kilas balik beberapa jam lalu saat di daftar absen hanya ada dua orang yaitu dua orang yang dirumorkan tinggal bersama dan siapa lagi kalau bukan Franz dan Oktavin.


Sudah 5 jam kapal berlabuh dari dermaga, tinggal menunggu lagi kapal pesiar mengarungi lautan luas agar sampai di pulau yang dimaksud.


Memang ada banyak rute yang digunakan, seperti salah satunya pesawat kecil dan helikopter, namun tujuannya menggunakan kapal pesiar adalah agar para semua orang bisa menikmati perjalanannya dimana yang tiap malam jika lautnya bersahabat akan menampakkan pemandangan langit yang indah, selain itu juga untuk mempromosikan kapal dengan biaya mahal namun mencakup fasilitas layaknya hotel ternama jadi semua penumpang akan di manjakan layaknya tamu kehormatan.


'Aku tetap saja masih merasa ragu dengan dua orang itu. Tiba-tiba hubungannya jadi sepupu? Oh ya, kapan aku bisa mengembalikan kelereng ini? Aku saking sibuknya, jadi tidak bisa pergi menemuinya.' Jordy pun menghela nafas pelan.


Dia sebenarnya agak lelah, karena jabatan untuk menjadi ketua Osis itu tidak semudah yang terlihat, karena dia harus mengatur banyak hal, apalagi setelah tour ini, tidak selang beberapa hari, akan ada acara perpisahan.


Itulah yang membuat diri Jordy seperti orang kantoran yang harus lembur.


"Dari pada duduk diam seperti ini, kenapa tidak coba untuk di pijat dan di spa?" Saran Pak Deny, gara-gara melihat wajah lelah milik Jordy ini.


"Ha?" Jordy justru meresponnya dengan wajah horor. Karena dia sama sekali tidak mau tubuhnya di sentuh oleh orang lain.

__ADS_1


"T-tidak, lupakan saja." Sela Pak Deny, akhirnya mengurungkan niatnya untuk membawa anak ini setidaknya untuk mendapatkan rileksasi, gara-gara wajah enggan milik Jordy begitu menyeramkan.


__ADS_2