Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
49 : PUM : Gairah bersama


__ADS_3

"Hm? Kenapa aku tiba-tiba saja ada di sini? Bukankah tadi aku sedang ada di dalam kamar?" Franz celingukan melihat suasana kamar yang sedang dia masuki itu bukanlah kamar miliknya, melainkan kamar milik Istrinya.


Lantas kenapa dirinya bisa berada di kamar milik sang Istri?


"Hah...aku lelah sekali. Ingin tidur, tapi aku belum mandi." keluh Ovin. Istrinya itu tiba-tiba saja masuk kedalam kamarnya sendiri, dan Franz yang hendak pergi dari sana, justru si empu itu malah berdiri bersandar di pintu. Sambil menutup mata, kedua tangannya itu membuka seragam sekolahnya yang sudah tidak memiliki pengait seperti kancing lagi.


'Eh? Tunggu-tunggu...kenapa aku tiba-tiba diberikan pemandangan seperti ini? Ini pasti hanya mimpi saja kan? Dia yang seperti itu pasti hanyalah salah satu mimpiku kan?' pikir Franz, langsung kalut dengan posisi miliknya yang tiba-tiba saja ada di dalam kamarnya Ovin, dan Ovin sendiri saat ini sedang bersandar sambil melepas semua pakaian basahnya.


"Hmm?" Ovin tiba-tiba saja membuka matanya dan akhirnya melihat sang suami sedang berdiri menatap kearahnya? "..........."


'Kenapa dia menatap kearahku?' pikir Franz. Namun pikiran itu langsung sirna, saat Ovin saat ini justru sedang pergi kearahnya!


"Franz? Kenapa kenapa kamu ada di sini?" Tanya Ovin dengan ekspresi polosnya. Dia terus berjalan untuk mendekati si Tuan muda itu.


"Aku tidak sengaja tidur berjalan." Jawabnya. 'Apalagi yang aku katakan ini?! Mana mungkin aku tidur berjalan!' Teriak hati kecilnya, karena baru saja mengungkapkan hal kebohongan miliknya kepada Ovin.


Franz yang hendak kabur itu, tiba-tiba saja tubuhnya terbujur diam di tempatnya.


'Kenapa kakiku tidak bisa bergerak?! Mimpi macam apa ini?! Aku harus bangun!' Franz berusaha memejamkan matanya, ingin meraih wajahnya untuk mencubit dirinya sendiri, tapi apa yang Franz dapat adalah, tubuhnya saat ini tiba-tiba bergerak sendiri?


PUK..


Tangan kanannya tiba-tiba saja mendarat di atas bahunya Ovin.


'T-tanganku! Kenapa tanganku bergerak!' Teriaknya. Tapi apapun yang ada di pikirannya itu, benar-benar tidak bisa dia ucapkan dengan mulutnya itu. "Apa kamu perlu bantuan?" Matanya tentu saja langsung membulat sempurna. Itu adalah kalimat yang tidak mungkin keluar begitu saja dari mulutnya yang berharga itu.


Tapi apa yang mau kata lagi?


Ketika Franz saat ini berhadapan persis dengan Ovin yang terlihat bingung dengan tindakannya yang tiba-tiba memegang bahu dan mengatakan hal aneh itu, tiba-tiba saja senyuman dari Ovin kembali merekah.


"Bantuan? Ya...aku perlu bantuanmu untuk mepelaskan ini." Ovin segera berbalik, sehingga sekarang posisinya adalah memunggungi Franz.


'Apalagi yang dilakukan anak ini? Kenapa dia berbalik segala?! Apa dia mau-' Hanya saja, sekarang Ovin justru kembali menyuguhkan tubuhnya yang sudah separuh telanjang. Bahkan saat ini saja, Ovin berbalik memunggunginya, untuk meminta bantuan kepada Franz itu agar membantunya melepaskan pengait bra milik Ovin?!


Franz langsung meringis, karena saat ini seperti ada adegan untuk melanjutkan hal yang tertunda di dalam mobil tadi?


"Franz? Kenapa lama?" Tanya Ovin.

__ADS_1


Sungguh sebuah godaan, karena saat ini dirinya harus di berikan ujian batin yang sungguh berat?!


Ingin menolak, tapi.. 'Hei~ Yang benar saja! Kenapa tanganku jadi bergerak sendiri untuk melepaskan itu?' Protes Franz terhadap kedua tangannya saat ini yang sedang melakukan pekerjaannya untuk melepaskan pengait bra itu.


TUK..


Selesai sudah, apa yang terbungkus di sana, saat ini sudah jatuh kelantai.


Franz awalnya ingin mengekspresikan tatapan mata sengit, tapi yang terjadi adalah tatapan matanya berubah menjadi sendu.


Franz menatap tubuh Istrinya yang saat ini sudah mulai telanjang, sebab kini rok yang melingkar di pinggang Istrinya saja sudah terlepas, dan yang terakhir tentu saja melepaskan hal yang melindungi aset milik Istrinya itu, aset yang sore tadi hendak Franz jamah, tami tidak jadi karena ada satu insiden.


Tapi saat ini?


Kenapa dirinya mendapatkan mimpi hal semacam ini?


"Franz? Kenapa kamu disini terus?" Tanya Ovin, seraya menutupi kedua buah dadanya itu dengan telapak tangannya.


Mata Franz tidak teralihkan dari sana. "Apa kamu mau melanjutkan yang tadi sore tertunda?" tanya Franz?


Ya..Franz memang bertanya demikian kepada Istrinya itu, tetapi itu adalah kalimat yang keluar dari mulutnya secara begitu saja tanpa adanya persetujuan dari Franz yang saat ini punya kesadaran sendiri.


"Bella ya Bella, kamu ya kamu. Sekarang kamu ada di depanku, kenapa aku harus memikirkan orang lain, di saat penampilanmu saat ini saja seperti sedang menggodaku?" Ujar Franz.


Sedangkan di kesadaran aslinya itu, Franz merutuki dirinya sendiri. 'Kenapa aku jadi berbicara seperti itu? Aku kan menyukai Bella, jadi wajar saja kan? Jika sekalipun aku memang melakukannya dengan mu, yang aku bayangkan adalah bersama dengan Bella?'


"Ha? Yang seperti ini menggoda?" Ovin tersenyum mencibir. "Memangnya apa yang bisa aku goda dari tubuh seperti ini?" Ovin menilai tubuhnya sendiri tidak sebagus milik perempuan lain, makannya saat ini Ovin pun berkata demikian kepada Franz.


Dalam kesadaran Franz yang asli, Franz terdiam sambil memperhatikan tubuh Ovin dari atas sampai bawah. 'Tidak ada yang spesial dari tubuhnya itu.' Penilaiannya hanya itu saja.


"Kamu tanya apa yang bisa kamu goda? Buktinya saja ini." Tunjuk tangan Franz terhadap juniornya. 'Kenapa anak ini nakal sekali? Tiba-tiba sudah bangun. Kenapa dia terlalu ambisius jika sudah ada di dekat Ovin sih?' Pikirnya. Menyalakan adiknya yang langsung bersiaga jika sudah ada di dekat Istrinya?!


"Jadi kamu mau?"


'Kenapa dia tanya?! Aku menolak!' Teriak Franz dalam hati. Tapi apa yang dikatakan oleh mulutnya saat ini adalah, "Kenapa aku tidak mau?"


'Apa yang barusan mulutku katakan?!' Terkejut Franz, saat dirinya dengan mudah mengatakan hal itu kepada Ovin!

__ADS_1


Ovin awalnya menatap kearah wajah Franz, saat itulah, kedua telapak tangan yang awalnya digunakan untuk menutupi kedua asetnya, langsung dilepaskan begitu saja, sampai teriakan batin Franz kembali berseru.


'Ovin! Tutup itu lagi!' Perintahnya. Tapi siapa yang akan mendengarnya? Franz tidak bisa menjadi kesadaran utama untuk membuat mulut dan tubuhnya itu bisa dia kendalikan.


"Ya sudah...terserahmu. Aku mau-mau saja." Jawab Ovin dengan serta merta, sambil memperlihatkan tubuhnya sendiri yang sudah tidak memakai apapun itu di depan Franz.


'Dia sudah gila! Dia menyesatkan!' Pikik Franz.


Dan dari situlah, sekalipun Franz berusaha untuk mengendalikan tubuhnya agar tidak melakukan sesuatu di luar kehendaknya, tapi yang terjadi justru adalah kebalikannya.


Franz yang saat ini masih memakai seragam yang basah, satu persatu dia tanggalkan.


SRUK..


Kemeja putih miliknya sudah Franz lepas dan dia letakkan di lantai begitu saja. Sehingga saat ini Franz pun benar-benar menampilkan tubuhnya yang ternyata punya segudang otot yang cukup kekar, sampai tubuhnya saja membentuk, seperti adanya roti sobek yang berjejer rata di atas perutnya.


Setelah menanggalkan pakaian atasnya, Franz yang melihat tatapan mata Istrinya itu terlihat sangat menginginkannya dengan cepat, maka tanpa basa-basi lagi, tubuh Franz langsung sedikit membungkuk ke depan untuk menyamai tingginya dengan tinggi Istrinya itu.


Kedua wajah yang saling bertatapan itu berhasil memicu satu gejolak ingin saling merasakan.


Karena itu, tanpa perlu menatapnya terlalu lama, Franz langsung mendaratkan bibirnya di atas bibir Ovin.


CUP..


Saat itulah, kesadaran utama milik Franz akhirnya merasuki tubuh yang ternyata sudah cukup terangsang.


'Ehmm...!' Franz tentu saja mengernyitkan matanya saat nafasnya terasa sedikit sesak. Tapi meskipun begitu, tangannya saat ini perlahan mulai mendorong pelan tubuh Ovin.


Ovin yang merasa terdorong ke belakang, sebelum dirinya terjatuh, dia memilih untuk berjalan mundur, sampai dimana dia langsung jatuh keatas kasur selepas kedua kakinya berpapasan dengan tepi tempat tidurya. '


BRUKK...


Tanpa membuat kelonggaran apapun, Franz langsung menindih tubuh Ovin. Dan dirasakannya kulit mereka berdua saling bersentuhan satu sama lain.


Dan itu menjadi stimulan sendiri untuk Franz yang akhirnya terbakar oleh gairah juga, sebab dua aset yang kenyal itu benar-benar menekan ke dadanya secara langsung tanpa adanya penghalang.


"Aku membenci niatmu, tapi aku tidak membenci tubuhmu." Bisik Franz tepat di telinga Ovin, sontak Ovin membelalakkan matanya.

__ADS_1


Ovin sempat melirik kearah wajah Franz yang ada di sampingnya, namun di saat itulah sentuhan yang terasa dingin langsung mendatangi area sensitifnya, sehingga Ovin pun merasakan sensasi geli yang amat mendalam dan..


"Aeuh~"


__ADS_2