
Dari pagi hingga siang, tidak ada kegiatan yang menyenangkan kecuali berkumpul sambil bergosip, itulah yang sering dilakukan para gadis muda ketika berada di sekolah.
Hari ini langit tidak begitu mendukung, itu hanyalah ekspetasi dari sebagian besar orang karena kali ini langit terlihat tidak cerah alias berawan, sekalipun terlihat mendung tapi nyatanya sampai sore pun tidak hujan.
Maka dari itu suhunya sedikit dingin, dan banyak angin berhembus, membuat daun-daun di ranting terpaksa memisahkan diri dan mengikuti arah angin itu berhembus, lalu angin itu juga membuat rambut panjang yang Ovin miliki berkibar.
Dia tengah memandangi satu mobil terpakir tepat di belakang mobil Chade yang sama-sama terpakir di pinggir jalan tepat di depan sekolahnya.
" Mobil siapa ini? " Tanya Ovin pada Chade sambil menyelipkan helaian rambutnya ke belakang telinga.
Dia yang penasaran pun mencoba memperhatikan mobil itu dengan sangat teliti.
Chade turun dari mobil, lalu sambil berjalan, Chade melempar satu kunci ke arah Ovin dan Ovin yang langsung menyadari adanya barang yang di lempar ke arahnya, membuat Ovin dengan refleks langsung menangkapnya.
" Mobil ini untukmu, dia lebih cepat sampai dan waktumu tidak akan terbuang sia-sia untuk berjalan kaki." Beritahu Chade kepada keponakannya yang terlihat lebih sehat ketimbang sebelumnya.
Karena itu, mobil yang Chade berikan itu pun juga sebagai tanda untuk hadiah kesembuhan Ovin.
" Tapi kelihatannya ini mahal. Karena dilihat dari radius 100 meter juga sudah ketahuan kalau harganya mahal." Gumam Ovin, tidak percaya kalau mobil yang sedang Ovin perhatikan itu adalah untuknya?
" Mahal atau bukan, bukan itu masalahnya....masalahnya ada di waktu. Aku tidak mau melihatmu jalan kaki kesana kemari, padahal digarasinya banyak mobil. Apa aku tabrakin semua tuh mobil bocah ingusan? Kaya tapi pelit, aku sangat ingin sekali membuat semua mobilnya remuk dengan buldozer." Ungkap Chade.
Chade tidak menerima jika keponakannya alias adiknya mengurusi urusannya sendiri pulang pergi dengan taxi atau kereta, memang itu kemauan awal Ovin, namun dirinya sebagai kakak merasa tidak tega saja melihat Ovin tidak diperlakukan dengan sesuai.
"Tapi, bukannya aku dilarang menggunakan mobil olehmu ya?" Tanya Ovin, sambil mengusap body mobil yang masih mulus.
Apalagi saat melihat ke bagian speedometer, angka dari kecepatan yang bisa di tempuh oleh mobil itu mampu menacapai 320 kilometer per jam?
__ADS_1
Itu sudah cukup lumayan untuk melakukan sebuah balapan!
" Yakin memberiku mobil ini? " Imbuhnya lagi.
Ovin sungguh benar-benar masih belum percaya kalau Chade tiba-tiba saja memberikannya mobil semudah membalikkan telapak tangannya.
Padahal alasan Ovin tidak di perbolehkan menyetir mobil adalah karena terakhir kali yang Ovin lakukan adalah dia sempat menggila dengan menggunakan mobil milik pamannya, sampai ke jalan raya, dan hasilnya Chade pula lah yang kena tilang dan juga hampir membuat kekacauan di jalan raya dengan sederet kecelakaan yang memang pada akhirnya tidak ada kejadian kecelakaan lalu lintas apapun.
Dan satu hal lagi, mobil yang di berikan oleh pamannya ini sangat berharga karena punya harga yang mahal. Tapi dengan begitu mudahnya mau memberikannya kepadanya?
Dan jawaban dari Chade adalah sebuah anggukan yang di susul dengan jawaban verbal nya.
" Uhmm....Ya, tapi sebagai kakakmu, aku tidak bodoh juga atau mau dibodohi olehmu. Biarpun mobil ini sampai kecepatan tinggi, tapi kau tidak akan bisa melakukannya. Mobilnya hanya bisa kamu kendarai sampai dengan kecepatan 100 Km/jam saja." Beritahu Chade kepada Ovin.
"Ya." Ovin mengangguk paham.
Rupanya tebakannya memang benar, bahwa tidak mungkin Chade memberikannya mobil dengan cuma-cuma seperti itu, padahal selain harganya mahal, juga punya daya kecepatan yang cukup baik, karena Ovin tahu, dalah kurun waktu lima detik, mobil itu bisa langsung berada di kecepatan tinggi.
Karena kesalahannya itu, Chade mendapatkan surat tilangan oleh polisi untuk yang kedua kalinya, padahal selama ini dirinya tidak pernah membuat kesalahan jika dalam hal berkendara.
" Jadi bagaimana jika aku menginjak gas sampai 100 lebih? " Tanya ovin. Dia cukup penasaran dengan batasan yang di ucapkan oleh Chade tadi.
" Mesinnya akan mati, jika ingin melebihi kecepatan 100 kilometer lebih, harusada izin dariku. Jika tidak aku tidak akan melepaskan sistem batasan yang sudah aku tanamkan pada mobilmu." Jelas Chade.
"Kalau begitu sharusnya tidak usah beli yang ini, membuang uang juga." Cetus Ovin, merasa tidak puas hati, karena mobil mahal tapi tidak bisa di gunakan untuk mengebut. Apa gunanya itu?
Memang masuk akal, jika hanya diperbolehkan sampai 100 doang, maka lebih baik beli mobil biasa bukan mobil sport.
__ADS_1
" Tapi dari dulu kamu juga inginnya mobil dengan atap terbuka seperti ini kan?"
Yang dikatakan Ovin memang benar, seharusnya beli yang biasa saja, tapi saat kecil tidak.....tapi saat umur 13 tahunnya Ovin, Chade pernah melihat keponakannya itu terpegun dengan mobil yang dibawa temannya Chade. Selain bisa memuat 4 orang, mobil itu pun atapnya bisa terbuka. Itulah kenapa dirinya lebih memilih untuk membeli mobil idaman untuk gadis yang satu ini.
"Dan aku akan tahu jika kamu ingin menginjak gas sampai 100 lebih. Aku akan memperhitungkannya, jika memamng kamu dalam bahaya, ya..aku akan lepas, tapi jika tidak, lakukan saja apa yang ada." Beber Chade.
" Tenang, aku tidak akan melakukannya. 70 saja sudah cepat." Mencoba memberikan kepercayaan kepada pamannya itu.
" Tapi tetap saja tidak percaya, tapi kenapa nangis begitu? " Terlihat kalau ada air mata menetes membasahi pipi ovin.
" I..ini....namanya nangis bahagia, aku baru pertama kali mendapatkan hadiah mahal seperti ini tahu!" Racau Ovin secara tiba-tiba.
Dan mulailah muncul sifat asli akan kekaguman pada mobil barunya, ia memeluk kap mobil dengan hagianya lalu mengelus - elusnya dengan bahagia.
'Akhirnya muncul juga sifat kekanakannya itu.' Chade tertawa geli dalam hati melihat Ovin bahagia seperti anak kecil yang baru saja memenangkan lotre.
" Terima kasih." kata Ovin sambil bangkit dan berdiri menatap wajah Chade.
Padahal kemarin ekspresi wajah yang diperlihatkan oleh keponakannya itu sungguhlah suram, sampai berani membanting tubuh Chade. Tapi saat ini, tidak terlihat adanya rasa bersalah sama sekali di wajah keponakannya itu.
" Pff.......... " melihat tatapan bahagian nan tersedu itu, Chade merentangkan tangannya dan seketika satu pelukan pun Chade dapatkan.
BRUKKK......
Ovin memeluk Chade dengan erat, ia merasa sangat bersnyukur masih ada orang yang perhatian pada dirinya. Siapa lagi kalau bukan Chade, sekarang hanya dialah orang yang paling dekat dengannya setelah kakek dan nenek meninggal. Dialah satu-satu nya orang yang merawat ketika dirinya sakit, dan dialah sosok pertama yang akan berusaha datang tepat waktu jika dirinya membutuhkan pertolongan.
Maka dari itu, Chade yang sudah seperti kakaknya sendiri sekalipun hubungan dari mereka berdua sebenarnya adalah paman dan keponakan, tidak membuat Ovin merasa sendirian lagi.
__ADS_1
Sebab, pamannya itu sudah pasti selalu mengawasinya dari kejauhan.
Itulah yang dilakukan oleh pria di pelukannya itu.