Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
117 : PUM : Ratu Lebah


__ADS_3

"Mphh...!"


"Mphh..! Mphh..!"


Dua orang pria yang kini ada di dalam bathtub di dalam kamar mandi milik Ovin dan masih dalam kondisi terikat, saling berusaha memahami maksud dari deheman lawan bicara mereka masing-masing.


Mereka berdua ada di dalam bathtub, masing-masing duduk saling memunggungi.


"Kau kan ahli untuk melepaskan diri, cepat lepaskan ikatanmu dulu. Baru aku." Kata pria berjas biru ini, makna dari mulut yang terbungkam dan hanya bisa mengeluarkan suara yang tidak jelas itu.


"Mphh..mphh..!" anak buahnya ini pun menjawabnya. "Aku sedang mencobanya."


Dengan kekuatan yang ia miliki, seharusnya memang mudah untuk melepaskan ikatannya, tapi karena sempat mendapatkan tendangan id perut serta dadanya, sekarang ia masih saja merasakan efek sampingnya yang cukup sakit.


Tapi demi keluar dari situasi yang memojokkan mereka berdua, laki-laki ini pun terus mengerakkan tangan kekarnya itu agar terlepas dari ikatannya.


Pria berjas biru ini pun menunduk sambil menyeringai, 'Dia pikir dengan berhasil mengikatku seperti ini, kami benar-benar kalah?'


"Ah~ Sudah bos," Anak buah dari laki-laki berjas biru navy itu pun berhasil melepaskan diri. Setelah itu, ia mulai melepaskan ikatan yang mengikat tubuh dari majikannya itu. "Kenapa Tuan mau-mau saja ikut denganku? Kan jadinya seperti ini."


"Apa kau baru saja menuduhku, kalau aku yang salah?"


"B-bukan begitu ta-"


"Jangan berisik lagi, sebelum dia meminta bantuan, kita harus lebih dulu kabur dari sini. Setidaknya kita sudah tahu dia tinggal di sini, dan aku jadi merasakan sensasi dilawan gadis kecil." Sela pria ini dengan senyuman simpulnya.


'Tuan memang aneh.' Batin pria ini.


"Ayo keluar. Di sini itu hanya ada dua anak idiot saja, jadi kita harus cepat pergi dari sini." Perintahnya. Ia beranjak keluar dari bathtub lebih dulu, dan dengan santainya membuka pintu?


"Haduh Bos, sudah pasti pintu di kunci." Keluh laki-laki ini dengan ke idiotan dari majikannya itu?


"Aku hanya mengecek saja, mungkin tidak di kunci, ya kan?" Toleh pria ini ke arah belakang. Walaupun saat ini pencahayaannya cukup minim, tapi karena di bantu adanya kilatan petir yang berasal dari luar, laki-laki ini pun tiba-tiba tersenyum.


Sebab saat ia membuka resleting celananya, harta karun yang selalu di banggakan oleh laki-laki manapun yang punya daya tarik kuat seperti miliknya yang cukup lumayan, ternyata di dalamnya juga tersimpan harta karun lain.


Dia mengambil barang yang memang di sengaja di letakkan di dalam pakaian dala*am nya. Dan ketika di keluarkan, dia akhirnya menemukan kunci.


"I-itu. Anda menyimpan kunci dalam celana anda seperti itu?!" Tanya anak buahnya ini kepada majikannya yang cukup nyleneh.


Pria tersebut pun langsung menggunakan kunci ajaib itu sambil berkata : "KIta kan tidak tahu apa yang akan terjadi. Jika aku menyimpannya di saku, dia mungkin akan menyadarinya. Tahu sendiri kan, dia kemarin diam-diam mempermainkan murid dari sekolah lain sampai ditelanjangi seperti itu.


Jika dia menelanjangiku, memang bisa. Tapi apa iya, dia akan melepaskan pakaian da-lamku?"


KLEK.


Suara itu pun menandakan pintu berhasil di buka.


"Dia itu unik, aku tahu kelemahannya, jadi aku enjoy-enjoy saja. Menelanjangi orang yang menjadi targetnya, itu sudah jadi kebiasaannya, apa kau tidak tahu itu?" Beritahunya lagi.


Karena pintu kamar mandi sudah berhasil di buka, mereka berdua pun pergi keluar dari sana.


Pemandangan menakjubkan terjadi saat mereka berdua masuk kedalam area kamar.


"Pasti ini kamarnya. Aku bisa merasakan aroma miliknya." Wajahnya berseri melihat lukisan yang manghiasi seluruh dinding kamar milik Ovin sungguh bisa menyala, karena memang menggunakan cat khusus yang cara kerjanya hanya bisa di tempat gelap seperti itu.

__ADS_1


"Berarti apakah ini juga hasil lukisannya?" Masih menatap ke langit-langit kamar.


"Bisa jadi, dia kan bukan perempuan biasa. Bukan sekedar perempuan yang hanya duduk di depan meja pelajar. Kau tahu kan? Apa alasan dari teman-temanmu di penjara? Semuanya juga karena dia."


Hanya dengan mendengar kata teman yang sedang di penjara, laki-laki ini jadi kembali teringat dengan semua sahabatnya. Karena teledor dengan seorang gadis kecil manis, sahabatnya ada yang meregang nyawa, dan ada yang di penjara.


"Ayo pergi." Ajaknya.


Dan kedua orang yang sempat berhasil di tangkap oleh Ovin serta di ikat itu pun keluar dari kamar.


KLEK.


"Paman siapa?" Tapi tanpa di duga, mereka berdua di hadapi oleh Sean yang sedang berdiri di tengah ruang tamu.


'Kenapa dia menyebutku paman? Aku belum setua itu untuk di panggil paman. Umurku ini baru dua puluh tiga, ah .... kalau saja ini bukan sarang milik ratu lebah itu, aku mungkin akan berbicara lebih lebar dengan anak itu.' Karena sudah ketahuan seperti itu, tapi karena terlihat Sean menatap mereka berdua dengan wajah penasaran serta bingung, ia pun menjawab : "Kami teknisi."


Jawaban singkat itu di susul dengan mereka berdua yang berjalan keluar dengan begitu santainya.


'Teknisi? Kenapa Franz memanggil teknisi malam-malam? Ini kan hujan lebat, dan saat aku masuk, aku juga tidak melihat ada mobil lain. Lalu mereka berdua juga keluar dari kamarnya si mata empat.' Sean yang di buat berpikir keras itu merasakan keanehan.


JDERRR......


Kilatan dari petir yang cukup menggelegar itu sukses menutup pintu utama rumah Franz, setelah berhasil mengeluarkan dua orang yang di katakan sebagai seorang teknisi itu.


Dan keterlambatan Sean dalam berpikir langsung terungkap setelah satu menit berlalu.


'Akhh! Tidak mungkin, Franz itu bukannya tipe kalau sudah malam biarkan saja? Semuanya harus di kerjakan saat hari sudah terang. Jangan-jangan tadi itu mereka berdua adalah pencuri!' Sean yang kelabakan langsung berlari keluar menuju teras depan rumah.


Sean celingukan dengan lampu senter yang ia pegang, di arahkan ke segala penjuru.


'Aku harus menemui dan memberitahu ini kepadanya!' Sean tanpa babibu lagi berlari masuk menuju lantai dua dan langsung menggedor-gedor pintu kamar nya Franz.


"Apalagi sebenarnya yang anak ini lakukan? Apa dia mau protes karena jadi budakku dua minggu kedepan?" Gerutu Franz, saat sedang mencoba untuk tidur di sofa.


"Franz!" Panggil Sean dengan sedikit keras.


Karena kepalanya pusing gara-gara minum bir, dia jadi malas pergi untuk membuka pintu, sekaligus malas untuk menyahut panggilan itu. Makannya Franz pun menutup telinganya dengan bantal .


"Franz!" Gedoran pintu masih belum usai, Franz yang sudah mendapatkan telinganya sudah tidak berisik, karena ia tidak sengaja menemukan alat penyumpal telinga di bawah bantal sofa, Franz pun jadi diam dan tidak akan pernah menanggapi apapun yang di teriakan oleh Sean itu.


Sean yang sudah tidak sabar untuk memberikan informasi penting kepada Franz, selaku Tuan rumah ini, Sean langsung masuk begitu saja.


KLEK.


Ya, dan lagi-lagi Sean jadi menerobos masuk tanpa Izin lagi.


Berjalan dengan langkah cepat, senter yang di bawa langsung di arahkan ke wajah Franz, Sean jadi berteriak kembali, "Franz kenapa kau malah tidur, ini ada keadaan darurat!"


"Uhummm...."


Sampai suara lenguhan dari Ovin, berhasil menghentikan langkah Sean.


Ia baru sadar kalau ternyata di kamarnya sang Tuan muda Franz itu ada satu orang lainnya, yaitu Ovin yang biasa ia panggil si mata empat?


Tapi ketika Sean mengalihkan sorotan cahaya senternya ke arah Ovin, ia sama sekali tidak melihat kalau Ovin memakai kacamata lagi.

__ADS_1


Lebih tepatnya, saat di luar area sekolah, ia sama sekali tidak pernah melihatnya memakai kacamata.


"I-itu-" Sean yang tercengang dengan pemandangan si penghuni kasur yang kini pose tidurnya cukup menggoda, dan apalagi di tambah dengan pakaian seragam yang semuanya tersingkap ke atas, hingga memperlihatkan perut, serta pangkal paha itu, Sean langsung menundukkan kepalanya, sebelum Sean mendapatkan serangan dari seseorang.


BHUAK...


"Akhw..." Rintih Sean saat kepalanya di lempar sebuah buku yang cukup tebal. Dan itu lumayan sakit, sehingga ia refleks jadi merintih sakit.


"Matamu jelalatan kemana?" Tanya Franz dengan tatapan mata tidak suka, karena Sean lagi-lagi mendapatkan keuntungan lain, tinggal di rumahnya.


"Lagian, kenapa tubuhnya tidak di selimuti?" Sean tanpa sadar jadi menjawal ucapannya Franz.


Franz kembali melemparkan bukunya, dan itu pun kena juga, tapi ke arah bahunya Sean.


"Kau yang kenapa masuk kedalam kamar orang." peringat Franz dengan wajah kesal, karena pusingnya jadi kembali mendera kepalanya, gara-gara alkoholnya yang sudah ada di dalam tubuhnya kembali naik.


'Tapi mereka berdua tidur berpisah, lalu kenapa kemarin?'


BLUSH.


Tidak sabar dengan tujuan apa Sean masuk kedalam kamarnya, Franz kembali melemparkannya buku tebal ke arah Sean.


BHUAK...


"Aduhhh...!" Itu benar-benar mendarat di perutnya Sean, jadi Sean secara otomatis langsung berjongkok menahan sakit yang ada.


'Dia lagi-lagi punya pikiran lain soal dia-' Dan Franz sendiri pun melirik ke arah Ovin yang mana pose tidur dari perempuan tersebut sungguh cukup liar. 'Ah, dasar. Mau tidur saja susah seperti ini.' Kutuk Franz, terpaksa melepaskan penutup telinganya, dan beranjak dari sofa.


Ia pergi menuju tempat tidur yang sudah di kuasai penuh oleh Istrinya itu, sampai tidur terlentang dengan keadaan yang cukup membuatnya semain menarik has*r*atnya.


GLUK....


Sean yangs edang kesakitan di kepala, bahu dan perut, tidak tahu kalau Franz baru saja menelan saliva, tepat ketika dianya memperhatikan Ovin yang sedang tidur itu.


SYUHT.


Franz akhirnya dengan serta merta menutup tubuh itu dengan sisi selimut yang masih tersisa lebar itu.


"Anggh~" Tapi Ovin justru menepis selimut itu dari atas tubuhnya.


Tapi Franz yang masih punya niat untuk menutupi tubuhnya Ovin, kembali di selimuti.


"Gerah~" Tangannya dengan sigap membuang sisi selimut tersebut.


'Perempuan ini-' Semakin kesal dengan penolakan Ovin untuk menutupi tubuh itu dengan selimut, Franz yang tidak peduli dengan Ovin mau gerah atau tidak, agar tidak di pandang lagi oleh orang lain, Franz segera menggulung seluruh tubuh Ovin layaknya kepompong.


"Emh..., mhhh...! Ah..! Gerah." Protes Ovin dengan mata masih tertutup.


'Apa dia tidak bisa diam jangan mengeluarkan suara anehnya itu?' Kembali terpancing dengan tingkahnya itu, Franz pun mengeluarkan saputangan dari saku seragam yang masih ia pakai, dan menyumpal mulut Ovin dengan bola saputangan itu.


Barulah akhirnya dia bisa mendiamkan Istrinya itu dari melakukan godaan lainnya, karena di sini ada dua pria yang biasa saja menerkamnya.


'Sekarang tinggal anak ini.' Franz pun beralih melihat ke arah Sean yang sudah berdiri, diam mematung di tempat karena baru saja melihat apa yang sedang di lakukannya kepada Ovin. "Apa kau tidak bisa jaga mata darinya?" Tegur Franz dan beranjak dari atas tempat tidur untuk menghampiri Sean. Sean hanya tersenyum tawar karena ia kembali membuat serigala ini bangun.


"Itu kan tidak di sengaja~" Sahut Sean sambil memalingkan wajahnya ke tempat lain.

__ADS_1


__ADS_2