
"Ini sudah lebih dari tiga jam." Gumam Chade melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul empat sore, dan hari perlahan menjadi gelap, karena pesawat yang mereka naiki melewati batas bumi antara siang dan malam. Sehingga saat di sebelah kiri adalah suasana yang masih terang maka di sisi kanan suasana nya malam hari.
Tidak ada lagi keributan yang terjadi, sebab Kelvin sudah tertidur dengan Ayah nya, yaitu Ethan, Franz sedang di dalam kamar mandi untuk melakukan ritualnya, sedangkan Chade yang sudah lebih dulu mandi, bahkan makan serta Istirahat sudah bersiap untuk menggantikan Ovin yang kini sedang menjadi pilot mereka semua.
KLEK...
"Ini sudah lebih dari cukup, sini gantian, kau mandi, makan dan Istirahat, biar sisanya aku lakukan sampai mendarat." Tawar Chade kepada keponakannya yan masih serius untuk menjadi pilot sungguhan.
"Dia saja yang Istirahat dulu, aku nanti masih belum lelah." Jawab Ovin sambil menunjuk pada satu orang yang merupakan pilot asli. Karena asli menggunakan seragam pilot.
"Hahh~" Chade menghela nafas dengan sifat Ovin yang sungguh keras kepala. "Kau lakukan saja dulu keperluanmu, aku akan menggantikanmu dulu."
Dengan terpaksa Chade pun menggantikan posisi dari laki-laki tadi.
"Saya akan segera kembali." Jawabnya.
Setelah kepergian dari pilot tadi, Chade dan Ovin pun akhirnya bisa duduk berduaan di tempat yang sama dan memandang langit yang sama.
"Soal yang tadi siang, sebenarnya ada apa?" Akhirnya Ovin pun berani menyinggung permasalahan yang terjadi siang tadi kepada pamannya, karena pamannya ini lah yang lebih tahu, sebab dari tadi Ovin tidak memiliki waktu luang untuk mencari informasi, gara-gara dia yang menjadi pilot.
Tapi apa yang Chade jawab? Itu adalah ucapan tanpa suara.
Dia hanya tidak mau kalau saat ini sekarang ada yang sedang menguping.
Dan apa yang di harapkan oleh Chade, sebenarnya di luar sudah ada orang yang ingin sekali mendengar pembicaraan mereka berdua.
Dan itu adalah seorang pramugari.
"Apa yang sedang kau lakukan di depan pintu?"
Dan suara milik Franz berhasil mengejutkan sang pramugari tersebut.
"Saya hanya ingin mengantarkan sedikit camilan untuk Tuan dan Nona." Jawabnya.
Tapi Franz yang merasa enggan bahwa pramugari ini membawakan makanan itu untuk mereka berdua, tiba-tiba memberikan perintah, "Biar aku saja, sini."
"Baik. Ini Tuan," Pramugari ini pun terlihat ramah untuk ukuran orang yang barusan seperti orang yang sedang ingin sekali menguping.
Setelah pramugari itu pergi, Franz lah yang mengantarkan nampan berisi camilan itu masuk kedalam ruang kokpit.
"Wah..., apakah kita baru saja kedatangan seorang pahlawan?" Antara pujian namun di bumbui dengan ejekan, pertanyaan itu keluar dari mulut Chade dan di tunjukkan pada sang Tuan muda manja.
"Ovin, aku ingin bicara denganmu." Tanpa memperdulikan apa yang barusan di katakan oleh Chade barusan, Franz lebih memilih untuk membuat Istrinya itu keluar dari dalam kokpit, dan setidaknya agar tidak berduaan dengan kekasih lamanya?
Entah, karena Franz masih belum mendapatkan soal itu, maka dari itu, Franz beranggapan kalau Cahde adalah saingan cinta, padahal yang sebenarnya terjadi bukanlah saingan cinta, melainkan saingan sisi. Sama-sama ingin berada di sisi Oviin.
"Ok, kak aku tinggal dulu ya. Nanti aku kembali lagi." Kata Ovin.
"Ok, tidak apa." Terpaksa melepaskan ovin dari sisinya, karena dia tidak ingin melihat keponakannya terus berada di ruang kecil yang melelahkan ini.
Ovin pun keluar dari ruang kokpit dan terus berjalan mengekori Franz dari belakang.
'Dia ingin bicara soal apa? Apakah dia juga mendengar soal apa yang ingin aku tanyakan kepada paman Chade?' Tanpa sepatah kata, Ovin terus berjalan membuntuti Franz dari belakang, sampai akhirnya mereka berdua sampai di dalam kamar.
"Duduk." Perintah Franz, agar Ovin duduk di tepi kasur.
Tapi setelah Ovin duduk, Franz pun duduk di sampingnya .
__ADS_1
'K-kenapa dia duduk di sampingku? Dia kelihatannya perlahan mulai berbeda. Aku senang sih, tapi tingkahnya yang tidak biasa itu justru membuatku memang merasa aneh sendiri. Tapi-'
"Suasana macam apa ini?"
Batin mereka berdua.
___________
Lautan biru nan luas, dimandikan cahaya mentari yang bersinar menjadikan lautan itu bagaikan permata.
" Permata biru yang indah " gumam Bella. 'Tapi saat datang badai, kau akan tenggelam seketika.'
SYUHHHH........
Angin itu berhembus kencang.
" Ayo, mereka semua sudah menaiki skoci " pinta salah satu guru pembimbing acara tour.
Untuk sampai ke tepi pantai maka Kapal pesiar harus menurunkan skoci.
Dengan body kapal pesiar yang besar tidak mungkin untuk sampai ke pinggiran pulau, jadi sang kapten terpaksa menurunkan jangkar 1,5 km dari bibir pantai.
Meski sedikit merepotkan tapi tidak menghentikan antusias para siswa untuk menyunggingkan senyuman lebar.
" Ini..! ini hebat! " puji salah satu siswa ketika sudah mendaratkan sepasang kakinya ke atas pasir putih bersih.
" Bagus banget "
'Hehe...bagus. Saking bagusnya aku bisa nonton para gadis-gadis yang sedang masa pertumbuhan ini pakai bikini' Pikir Sean.
Sean senyum-senyum sendiri sampai tidak sadar beberapa teman lainnya memperhatikan tingkah sean sedang berimajinasi tinggi.
Bryn menggeleng tidak pasti apa yang sedang di imajinasikan Sean saat ini, dia berjalan menghampiri Sean dan memberikan kunci kamar padanya.
" Kamu kebagian gubuk disana. " Bryn menunjuk ke satu gubuk tepat berada di atas air laut, seperti pondok rumah jaman kuno.
" Eh...? Kau yang sekamar denganku? " Sean langsung tersadar dan mulai mencerna ayat yang dikeluarkan Bryn.
" Dan aku juga " Kali ini Jerry lah yang datang menghampiri Sean.
" Kita bertiga sekamar? " tanya Sean lagi.
" Yaa....kenyataannya begitu " Jawab Jerry dengan simpel, tangan kirinya Jerry ia gunakan untuk mengangkat tas nya yang berisi barang bawaan. Karena termasuk laki-laki berkehidupan simpel jadi tidak ada banyak yang dibawa seperti yang lainnya.
" Aduh.....koperku kotor " sebab sedikit berat jadinya mendarat ke pasir pantai dan membuat bagian bawah kopernya kotor.
Lalu sempat melihat di depannya ada 3 orang pria, maka ..
"Hei...tolongin aku angkat dong " pintanya
"Maaf, tapi aku juga punya bawaan sendiri." tutur Jerry bersikap cuek.
" Sini...sini, aku saja yang bantu kamu." Tapi Sean justru menawarkan dirinya sendiri untuk menolong perempuan yang kesusahan tersebut.
" Tapi bayar dengan senyumanmu."
Beberapa waktu perempuan ini membatu, tapi akhirnya menerima syarat itu.
__ADS_1
" Erkhmm....terima kasih " diakhiri senyuman manis bagai gula.
'Wahhh....ha, aku suka ini. Tenagaku jadi semangat kembali.' Diberi baterai oleh gadis cantik dari kelas sebelah, Sean mampu mengangkat koper gadis itu seperti tak merasakan beratnya beban yang sedang dirasakan.
" Wahh.......Sean hebat "
" Iya "
lalu datang dua gadis lain memuji Sean akan ketangguhan tubuhnya, ya itu dijadikan kesempatan oleh mereka berdua.
" Karena Sean kuat, pasti bisa membawakan koper kita berdua dong~ " tutur gadis ini dengan menggoda.
" Ehehe " Sean jadi tertawa garing.
" Ayolah sayang, ada aku disini kenapa minta tolong pada bocah tengil ini? " datang lagi satu orang tepat di belakang kedua perempuan barusan.
" Yuran! Aku kira kamu tidak ada, kamu yang bawain deh. " Menyerahkan koper berwarna pink kepada Yuran.
" Aku masih kuat, sini aku bawain punyamu juga." menawarkan bantuannya lagi kepada teman dari pacarnya.
Maka dari itu sekarang ketiga gadis ini berjalan memimpin kedua pria di belakangnya ke satu tempat yang akan di jadikan kamar untuk menginap mereka bertiga.
Bisa di pilih mau kamar seperti apa yang akan digunakan, dari yang sederhana namun tidak meninggalkan fasilitas modern, ianya kamar yang terapung di atas air laut.
Atau yang ingin menikmati santainya namun masih ingin melihat panorama pantai maka ada hotel bintang 5, atau ada yang ingin memiliki kesan sedikit romantis ada kamar yang berada di dalam laut sehingga bisa menikmati panorama keindahan bawah laut ditemani ikan, hanya saja tempat yang satu ini agak sedikit jauh.
Setelah Sean mengantarkan koper gadis tadi, Sean berencana untuk pergi ke tempat istirahatnya.
" Hahh! Untung aku ngga mabuk laut. " Beberapa orang berpeluang mabuk laut tapi Sean tidak termasuk ke kelompok itu.
'Hahh....hawa dan tempat yang indah' Semilir angin panas karena matahari sudah mulai terik.
Selagi menunggu langkah kakinya sampai ke kamar, mulutnya mencoba bersenandung dengan siulan lembut.
'Apa dia benar-benar nyusul kesini?' Kepalanya menoleh ke kanan lalu ke kiri, hanya ada air laut yang jernih sampai terumbu karang yang ada di dalamnya pun bisa terlihat jelas.
" Kalau gitu aku co- " langkahnya terhenti dan menggantung di udara, ketika sadar kalau di bawah kakinya yang hampir ia injak itu ada satu anak kecil tergeletak.
Anak kecil ini memakai kaos putih bergaris hitam putih, itu sudah seperti penjahat yang kabur dari penjara itu dan pingsan di tengah jalan akibat kelelahan.
'Tapi dia bukan penjahat kecil itu kan?' Pikirnya. " Dia tertidur? " gumam Sean dan berjongkok lalu mendekatkan wajahnya untuk memastikan kalau anak kecil itu tidak apa-apa.
" Zzzzzzz........"
'Dia tidak tidur mati kan?' Tidurnya seperti orang mati sampai tidak berkutik sama sekali saat Sean menyentuh pipi tembem Kelvin.
Mungkin karena anginnya kencang di saat cuacanya panas, Kelvin jadi tertidur di tengah jalan.
" Tapi ini anak siapa? " gerutu Sean. 'Ah...sudahlah, aku ingin taruh tas dan berenang.' Tanpa sopan santun, Sean sengaja melangkahi Kelvin.
Kunci sudah di tangan ( sambil melempar lempar kunci ), pintu sudah berada di depan, knop pintu ada di samping sebelah kanan, waktunya memasukkan kunci pintu.
" Eh?...kenapa ngga bisa masuk? "
dicoba terus tapi gagal lagi, karena gagal terus jadi terpaksa di cabut, tapi saat kenop pintunya di putar ternyata..
"Ngga dikunci?Jadi apa Bryn salah kasih aku kunci? " karena pintunya bisa terbuka, jadi Sean pun membuka pintunya sambil sumringah dengan senyuman lebih lebar.
__ADS_1
Namun...
Seketika raut wajahnya Sean langsung tertahan disitu, tanpa tahu sebab apa yang sudah terjadi hari ini di jam ini dan di detik ini.