
" Bagaimana? Sudah kau antarkan makanannya? "
" Sudah nyonya " jawab si pelayan berpakaian maid pada nyonya besar yaitu Ny.Jean.
" Heh.. " tetibe Ny.Jean merekahkan senyuman jahat, sembari memandang lautan luas dari balkon kamarnya, ia memikirkan beberapa imajinasi mengenai anaknya. 'Bersenang-senanglah Franz.'
'Te..ternyata nyonya licik juga pada anaknya.' Pikir si pelayan yang beberapa saat lalu mengantarkan makanan kepada tuan muda kedua yaitu Franz.
'Maaf tuan muda, aku tidak bisa mengabaikan perintah nyonya!' ianya hanya bisa berdoa dan meminta maaf di dalam hatinya, tidak akan ada yang mendengarnya tapi benar-benar merasa bersalah juga.
____________
Di lantai teratas hotel HDN, Hotel yang dimiliki oleh keluarga milik Franz.
Sayang sekali, diantara banyak temannya yang sedang menikmati liburan, dirinya malah hanya bisa bersantai di dalam kamarnya untuk istirahat sejenak sambil menenangkan pikirannya yang serabut akibat berita yang menyangkut perempuan itu.
Sama halnya penikmat waktu sendirian, Franz memandangi pemandangan dari lantai balkon miliknya.
" Apa dia tidak bisa sehari saja tidak membuatku pusing? " tutur Franz pada dirinya sendiri, kepalanya ia tundukkan ke bawah melihat manusia-manusia berukuran mini berlalu lalang kesana kemari. " Beritanya sama saja membuatku malu walau secara tidak langsung, kenapa dia bertemu dengan Jerry? Dia lebih banyak memiliki hubungan tidak jelas dengan pria lain, tunggu.......kenapa aku jadi kepikiran dia terus! "
Tangannya mengacak-acak rambutnya, hari-harinya dipenuhi dengan rasa frustasi dan memghela nafas terus.
'Ovin, sebenarnya apa yang sering kau pikirkan? Bisa-bisanya, perempuan yang aku pikir hanyalah perempuan matre, padahal dulunya sering di bully, kenapa anak itu banyak laki-laki di sekitarnya?' Pikirnya lagi.
Sampai akhirnya, karena terlalu keras berpikir, Franz pun merasakan adanya sesuatu yang mulai mengaum.
KRUYUK~
'Hahhh........memikirkan hal seperti ini saja sampai bisa buat perutku bunyi' Franz memutar tubuhnya lalu berjalan masuk lagi ke dalam ruangannya, terlihat di arah jam 11 tepat di atas meja makan sudah ada makanan yang tadi pelayan antar.
Hanya saja tidak ada selera makan jika makan sendirian, jadi ia berniat makan di restoran saja.
'Kenapa makanannya itu? Mending aku makan di restoran.' Gumam hati Franz, karena dia sedang ingin makan yang berkuah dan rasa yang cukup pedas.
Franz pun pergi meninggalkan ruangannya lalu turun ke lantai 1, setelah makan ia hanya berniat jalan-jalan sebentar menghirup udara segar dan niatnya ingin bermain voli juga.
_____________
Setelah kepergian Franz selama 10 menit itu dimana ruangannya sekarang kosong, datang lagi satu orang dengan wajah penatnya.
Rambutnya yang agak berantakan sedikit menempel di pipinya karena keringatnya yang ia dapat setelah berada di bawah terik matahari selama beberapa jam.
Ovin datang ke lantai itu untuk mendapatkan beberapa bajunya.
" Kenapa harus disini? " ruangan serba putih bagaikan kamar yang sudah dipersiapkan khusus untuk bulan madu. 'Bul...bulan madu? Tidak...walau sudah begini aku tidak mau memikirkan sampai itu. Jangan membuatku melakuan hal ganas lagi, lagi pula aku sedang haid.' Ovin menggeleng kuat dengan pendapatnya sendiri.
__ADS_1
Tangannya harus cepat mengambil semua bajunya, yah...seseorang meletakkannya di kamar ini, padahal sesuai kesepakatan disituasi seperti ini pun tidak boleh ada yang tahu akan hubungannya dengan tuan muda itu sampai.
Untungnya kopernya ada di bagian bawah lemari jadi Ovin memasukkan bajunya ke dalam koper.
Ovin celingukan ke segala arah, dan tak sengaja menemukan makanan yang sudah tersedia di atas meja.
" Sushi? " guman Ovin, di atas piring putih itu ada 10 gulungan sushi, karena tidak ada orang disitu kecuali dirinya sendiri maka Ovin memutuskan untuk memakannya satu, karena didalam gulungan sushi juga ada ikan salmon maka dari itu ia sengaja memisahkannya dan hanya memakan nasi berisi beberapa sayur yang digulung dengan nori.
Hanya untuk mengganjal perutnya saja, ikan salmonnya ia buang ke tempat sampah untuk menghilangkan curiga jika di piring tersebut sudah ada satu sushi yang berkurang.
" Oh.... " ternyata oh ternyata, di balkon ada kolam juga, tapi Ovin tidak tertarik. Ia mengabaikan apa pun yang membuat dirinya terlalu lama di lantai tersebut.
DRRTT........
DRRTTT......
Terdengar suara getar dari ponsel, tapi setelah dicek ternyata bukan dari ponselnya, ia mencari dimana suara itu berasal, Ovin berhenti di depan televisi, ada satu ponsel tengah di charge.
" Siapa yang telepon? " ketika di tengok, panggilan tak terjawab tadi berasal dari nomor asing.
DRRTT.....
DRRTT......
Dari nomor yang sama lagi, Ovin awalnya hanya mengabaikannya saja, tapi orang itu tidak kunjung berhenti menelepon handphone tersebut.
" Hallo Franz, malam ini kamu jadi datang ke acara ultah ku kan? " Dan suara perempuan lah di balik puluhan panggilan tadi. " Aku tidak membutuhkan kado, asal kamu datang aku sudah senang kok. " Imbuhnya lagi.
"......" Ovin hanya diam membisu dengan raut wajah yang cukup datar, gara-gara suara perempuan itu adalah salah satu orang yang punya hubungan dengan Franz.
Setidaknya kini ia tahu alasan kenapa Franz memiliki dua handphone, yang satu hanya di gunakan untuk urusan pribadinya, sedangkan yang satu lagi untuk sekedar memainkan peran Franz yang katanya~
Bukan katanya lagi, tapi dulu Franz memang sering bergonta ganti perempuan, makannya handphone itu khusus untuk menerima panggilan dari perempuan lain.
" Hallo? Kenapa tidak jawab? Tidak bisa ya?" Tanya nya lagi, karena si penjawab tidak kunjung angkat suara.
"Nanti akan aku tanyakan pada orangnya."
Jawab Ovin dengan nada paling dingin. 'Padahal dia punyaku, dan aku tahu kalau Franz punya kebiasaan nakal di luar sana. Tapi kenapa rasanya semakin tidak rela saja ya?'
" Ini siapa? Kenapa kau yang jawab? Dimana Franz ? "
"Saya temannya, Hp ini sedang di Charge, lalu dia sedang jalan-jalan." Jawab Ovin lagi.
" O..oh, kalau gitu nanti saya telepon lagi deh." Setelah mengatakan itu, perempuan ini langsung memutuskan panggilannya.
__ADS_1
TUT.....
Sambungannya langsung terputus begitu saja, sangat jelas kalau si perempuan tadi jadi terganggu karena bukan si Franz lah yang menjawab telfonnya melainkan orang lain.
"Franz, ternyata dia masih belum membuang kebiasaan lamanya? Sebenarnya apa gunanya? Ya~ Memang ada gunanya, dia bisa jadi pion untuk mencari informasi, tapi sayangnya aku sendiri malas untuk melakukan itu.' Pikirnya.
Untuk seorang Ovin yang punya pekerjaan sambilan, punya banyak teman seperti yang di lakukan oleh Franz, sebenarnya ada untungnya, tapi di satu sisi sebagai seorang Istri, dia tetap merasa ada yang di rugikan, karena Franz berbagi waktu dengan mereka.
'Berapa banyak lagi yang dia miliki? Lebih dari hitungan jari-' Pastinya, Ovin hanya menerka apa yang dipikirkannya saat ini mengenai Franz jenis orang yang memiliki pergaulan lebih bebas.
Ovin meletakkan ponsel nya Franz tuk di charge lagi, lalu dia pun keluar dengan membawa kopernya.
Beberapa saat Ovin berhenti untuk melihat lagi kamar yang mewah itu tapi tak bisa ia tempati karena bukan haknya juga.
" Ah...buat apa dipikirin, yang penting bisa tidur dan kerja." kata Ovin, langkahnya ia lanjutkan melewati lorong panjang di lantai tersebut, ada satu penjaga menjaga pintu Lift itu, pasalnya tidak boleh ada siapapun yang bisa menginjakkan kaki dilantai tersebut selain pemilik hotel itu sendiri.
Ovin bukanlah pemilik gedung itu, ia hanya beruntung memiliki hubungan dengan si anak dari pemiliki itu.
Jarinya menekan tombol untuk naik ke atap hotel, beberapa detik kemudian Lift pun datang.
TING....... ( Tanda Lift sudah sampai )
Pintu lift terbuka, Ovin menarik kopernya dan masuk ke dalam ruang kecil itu.
" Mau pergi kemana? " tanya Franz.
Nyatanya ada satu orang lain di dalam Lift, niatnya tujuannya sudah ada di lantai itu, tapi melihat perempuan yang barusan masuk ini pergi dengan membawa koper, maka Franz pun di buat penasaran jadi dia masih berdiam di dalam lift.
" Kapal " Jawab Ovin dengan ketus. Ovin sengaja menjawab singkat karena tiba-tiba ada perasaan aneh pada dirinya.
" Hahhh.... " menghela nafas dengan kasar.
Ovin melonggarkan pita yang mengikat kerahnya, lalu wajahnya sengaja dia senderkan ke dinding lift yang cukup dirasa dingin.
" Mau apa kesana? " tanya lagi, walau pandangannya masih serius memperhatikan ponsel yang sedang dimainkannya, salah satu ponsel dari beberapa yang dimilikinya.
" Karena disana lebih sepi " Fakta yang nyata, kebetulan di kapal memang tidak ada banyak orang selain para pegawai, jadi tidak ada salahnya melakukan liburan yang bertolak belakang.
Tetapi yang dipikiran orang ini adalah dikira berduaan di satu tempat yang indah selagi menghabiskan masa liburan dimana semua orang ada di pulau ini.
'Ukhh...' Franz dibuat tercengang dengan jawaban Ovin untuk yang satu ini. "Jangan mengatakan hal ambigu, katakan dengan jelas, kenapa ingin kesana, memilih tempat yang sepi?"
" ........? " Ovin tidak menjawabnya dan hanya meliriknya sekilas saja. Ovin kembali meñempelkan wajahnya lagi ke dinding Lift, ada rasa panas yang dirasakannya. 'Kenapa rasanya sesak? Apa suhunya semakin tinggi?'
Perlahan Ovin mulai merasakan sesuatu yang cukup aneh di tubuhnya, panas dan ada sesuatu yang cukup menggelitik di bawah sana.
__ADS_1
'Apa yang terjadi dengannya?' Franz menyadari kegelisahan di wajah Ovin, tapi karena itu bukan urusannya, Franz hanya diam.