Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
PUM : Misi Bersama


__ADS_3

“Ini aneh, aku tidak bisa menghubungi Ovin.” Ucap Chade.


Chade merupakan paman kedua Ovin.


Meski begitu umur di antara mereka berdua tidak jauh berbeda, sebab Chade baru berumur 22 tahun, maka Ovin lebih memilih untuk memanggilnya kakak ketimbang paman, karena terlihat kurang pantas dari segi penampilannya.


Saat ini Chade sedang melihat pemandangan kota dari atas bukit.


Dia sebenarnya hanya menginginkan suasana baru ketimbang pergi ke klub, bar, ataupun mall. Karena itu, Chade memilih tempat sepi itu untuk dijadikan tempat singgahannya.


“Ovin... Apa dia masih bersedih karena anak bau kencur itu?” Yang dimaksud adalah Franz.


Chade langsung merebahkan tubuhnya di atas kap mobil sambil memandang pemandangan langit yang sedang bertabur bintang.


Meski tatapan matanya sedang menatap langit malam, tapi tidak dengan pikirannya.


Dia sedang merasa prihatin soal hubungan keponakannya dengan Franz itu.


Ya…


Chade sebenarnya memang sudah tahu apa hubungan yang sudah Ovin jalin dengan tuan muda dari keluarga Eshter itu.


Hubungan pernikahan yang terjalin lebih dini dari pada umumnya.


Chade sendiri saja belum punya kekasih, tapi keponakannya justru sudah memiliki hubungan lebih dari sekedar sepasang kekasih saja, tapi sebuah hubungan yang sudah memiliki julukan paling dalam dari segalanya, yaitu suami istri.


“Ha~” Chade tiba-tiba tersenyum mencibir.


Di satu sisi Chade merasa menyayangkan soal Ovin yang menerima usulan tentang menikah muda dengan Franz, dan hasilnya sekarang kedua anak muda yang masih duduk di bangku SMA itu sedang berada di posisi pertengkaran antara suami istri.


Membuat Chade merasa prihatin dengan keputusan Ovin yang menerima pernikahan itu, karena itu hubungan tu lebih berat ketimbang apapun.


Tapi di satu sisi, Chade sendiri terbesit rasa iri, karena keponakannya sudah menikah lebih dahulu ketimbang dirinya.


Sampai semua pikiran itu dia tarik kembali setelah menemukan ponselnya berdering.


DRRTT….


DRRTT…..


Merasakan Handphonenya berdering, Chade langsung mengangkatnya.


“Halo?” Karena mendapatkan nomor telepon yang tidak diketahui, jadi Chade hanya menjawabnya dengan nada malas.


-“Apa kita bisa bertemu?”- suara milik Jerry terdengar jelas, meminta sebuah pertemuan yang mendadak.


“Jika kau tidak mengatakan namamu, jangan bermimpi aku menurutimu.” Jawab Chade.


-“Aku Jerry. Ada sesuatu yang harus aku bicarakan denganmu. Ini terkait barang yang sedang kau cari juga,"-


“....!” Sadar posisinya sama, Chade langsung ambil posisi duduk setelah tahu siapa yang sedang menelponnya. “Dari mana kau tahu nomorku?” 


Chade tahu siapa Jerry, yaitu teman sekolah Ovin.


Tapi apa yang membuat Jerry tiba-tiba meneleponnya adalah hal yang patut dipertanyakan, karena antara Jerry dan dirinya, tidak pernah kenal satu sama lain.


-“Itu bisa aku jelaskan nanti saat kita bisa bertemu.”-


“Katakan saja dimana tempatnya, aku akan kesana sekarang.” Jawab Chade.


-“Aku akan memberimu alamatnya lewat pesan.”-


TUT…


Setelah sambungannya terputus, Chade masih menatap layar handphone nya terus.


Dia melihat satu notifikasi yang diberikan oleh Jerry.


Yah entah itu memang betulan Jerry atau bukan, Chade akan memastikannya sendiri.


“Tapi apa yang membuat dia menghubungiku? Soal apa yang sedang aku cari? Jangan-jangan--” Chade hanya penasaran soal tujuan dari orang yang mengaku Jerry itu.


---------


Sedangkan di sisi lain.


Di pulau terpencil namun sebenarnya itu adalah pulau pribadi yang memiliki spot tempat paling indah di antara pulau yang lainnya. 

__ADS_1


Kedua orang yang memiliki status hubungan yang lebih dalam dari siapapun, sedang tertidur di tempatnya masing-masing.


Hingga suara dari suara perut langsung membangunkan Franz.


KRUYUKK~


“Lapar~” Franz benar-benar sedang mengeluh dengan perutnya yang sedang lapar itu.


Dia bangun dari tempat tidurnya dan pergi menuju dapur.


Disana memang ada kulkas, namun apakah kulkas itu berfungsi dan menyimpan makanan?


Franz mencoba melihatnya..


“.....................” Franz menatap kulkas yang bahkan tidak tersambung dengan listrik, sehingga di dalamnya benar-benar kosong. [Eon, apa dia melemparku ke tempat seperti ini untuk membuatku mati kelaparan?] Pikir Franz, tidak puas hati dengan maksud misi yang Aeon berikan kepada mereka berdua.


_________


Misi apa?


Flashback 4 jam yang lalu.


“Misi apa?” Tanya Ovin kepada pria bernama Eon itu.


“Misi ini harus kalian lakukan berdua.”


“Apa maksudmu?” Franz mulai menatap curiga pria di depannya itu.


Tidak memperdulikan Franz yang sedang menatapnya dengan tatapan curiga, Aeon langsung berekspresi dingin sambil menjawab pertanyaan dari mereka berdua.


“Misi kalian adalah untuk pergi ke sebuah pulau bernama pulau Elhinz.”


“Memangnya ada apa di pulau yang kau maksud itu?” Franz semakin tidak sabar dengan apa yang dimaksud oleh Eon itu, karena menjawabnya terlalu membuang-buang waktunya.


TAP….


TAP….


TAP….


Tiba-tiba di belakang Franz dan Ovin sudah ada orang yang berdua.


Dalam jentikan jari, kedua orang yang ada di belakang Franz dan Ovin tiba-tiba langsung menyerang mereka berdua dengan cara menembaknya dengan peluru bius.


BRUK…


BRUK…..


“K-kau..” Franz yang merasa kesal dengan apa yang dilakukan oleh Eon kepadanya, akhirnya hanya berakhir dengan matanya yang langsung tertutup, akibat rasa kantuk dari obat yang Franz dapatkan.


Sedangkan Ovin, dia menatap lemah tuan Eon sambil bertanya, “Kenapa anda melakukan ini?”


“Ovin….” Tiba-tiba pria itu berjongkok, dan kemudian membisikkan sesuatu di telinganya persis.


“Aku..tidak ingin lebih dibenci lagi.” Ucap Ovin atas ucapan yang tuan Eon bisikkan ke telinganya tadi.


“Tidak. Kau tidur saja, karena kau akan tahu nanti.” Setelah berkata seperti itu, tuan Eon menutup sepasang mata Ovin dengan telapak tangannya itu, agar gadis yang sudah terbaring dengan masih memaksakan kesadarannya, untuk cepat tidur.


“................”


“Tuan…, apa selanjutnya?” Tanya salah satu anak buah Aeon.


“Letakkan mereka berdua di peti mati.”


“K-kenapa peti mati?” Tanya pria ini kepada sang majikan.


“Dalam hidup, harus memiliki satu kesan yang mendalam di setiap waktu yang cepat berlalu. Coba kau pikir, melihat kedua anak ini masuk ke dalam peti mati yang indah, apa kau tahu seperti apa jadinya?”


Tidak lama kemudian, empat orang lainnya sudah datang dengan membawa sebuah peti mati berwarna putih.


Aeon langsung memberikan kode perintah untuk mereka semua agar tubuh Ovin dan Franz untuk dimasukkan ke dalam peti mati.


“Dua remaja dengan wajah tenang mereka yang sedang tertidur, bukankah memberikan pemandangan yang cantik seperti mereka sudah lama menantikan kebersamaan mereka berdua sampai akhir hayat mereka?” Jelas Aeon.


Wajah kedua remaja yang terlihat tenang, memberikan kesan mendalam di mata Aeon sendiri.


Kenapa?

__ADS_1


Karena di matanya, Franz dan Ovin terlihat seperti dua orang serasi yang tidak terikat dengan macam masalah.


“Lalu setelah ini?”


“Seperti yang aku katakan tadi, kita bawa mereka ke pulau. Mereka akan menjalani hidupnya di sana selama seminggu. Itu akan mempererat hubungan kedua anak ini. Kalau hidup sendirian adalah hal yang mustahil dilakukan, ketika mereka berdua sendiri sudah menjalani kehidupan sebagai pasangan selama sebulan lebih.” 


“.....................” Franz yang masih mampu mendengar ucapannya, hanya bisa terdiam, karena obat biusnya benar-benar bekerja untuk melelapkan mata dari raganya. 


_______________


Flashback off


[Hah..mempererat hubungan? Dia ternyata memang sudah  merencanakan ini dari awal. Tapi kira-kira siapa yang memerintahnya? Apakah Ovin yang memerintah orang itu?] Franz kemudian menjeling ke belakang.


Dimana tepat di samping ranjangnya, terdapat dua peti mati yang sudah dijadikan satu, dan sekarang sudah dijadikan tempat untuk Ovin tidur.


Franz yang merasa ada yang janggal, memutuskan untuk pergi mendekatinya dan kemudian menatap perempuan yang sedang tidur lelap di dalam kotak itu.


“.....................” Franz benar-benar menatap perempuan ini dengan begitu lekat. [Dia ini-]


Franz benar-benar menatap Ovin dengan begitu lekat, karena tanpa sadar sudut pandanganya saat melihat perempuan itu tidur terlihat cukup menarik, tepatnya menarik minatnya.


“Dia ini-” Franz kemudian berjongkok sambil melihat wajah Ovin yang sudah tertutup oleh rambutnya sendiri. [Kenapa otakku berpikir dia tidur dengan pose yang menarik? Apa aku sudah mulai dibodohi dengan penampilannya ini?] pikir Franz.


Di mata Franz, Ovin tertidur layaknya seorang boneka yang dipajang di dalam kotak kaca.


Membuat Franz menaruh perhatian, kalau wanita ini benar-benar seperti seseorang yang dijaga dengan penuh perhatian di dalam rumah kaca.


[Keluarga?] Franz baru menyadari kalau Ovin yang ada di depan matanya ini adalah orang yang sudah tidak memiliki ibu. [Ah, kepalaku ini, kenapa tiba-tiba jadi terus memikirkannya? Apa karena rasa bersalahku?] Franz menatap tangan kanannya sendiri.


Apa yang pernah dia lakukan dengan tangannya terhadap perempuan di depannya itu?


Sebenarnya sudah cukup banyak, yang pernah Franz lakukan terhadap Ovin. Namun, dari banyaknya hari yang sudah dia lewati bersama dengan perempuan ini, banyak sekali yang sudah Franz perbuat, melakukan tindakan kasar kepadanya dari pada berbuat baik.


Dari mencengkram tangannya, mencekiknya, mendorongnya, dan yang terakhir suka membentaknya.


Tapi semua itu, tetap membuat perempuan di depannya itu berada di sisinya sampai saat ini.


[Dasar bodoh! Kenapa kau mau bertahan dengan pria sepertiku?] Franz akhirnya menyadari semua kesalahannya selama ini. 


Yah...jika bukan karena ibunya yang memberitahu rahasia besar alasan kenapa Franz dinikahkan dengan Ovin, dia pasti akan berbuat lebih seenaknya daripada ini.


Meskipun di hati nya Franz hanya ada Bella yang dia cintai, setidaknya sekarang ini dia sudah tahu apa yang bisa dia lakukan dalam hubungan ini.


Meskipun Ovin sejatinya sekarang adalah istrinya, namun karena pada dasarnya tidak memiliki perasaan cinta terhadapnya, maka dia akan menganggap hubungan ini sebagai penebusannya. 


Karena asal mula dari traged ini, adalah karena waktu kecil, Franz diselamatkan oleh ibunya Ovin dari sebuah pembunuhan berencana, yang mengakibatkan ibunya meninggal.


Dan jika bukan karena itu, tidak mungkin Franz akan memiliki hubungan paksa dari sebuah pernikahan yang masih muda ini dengan perempuan yang tidak Franz cintai.


Dan juga, jika bukan karena hal tersebut maka Ovin pasti masih memiliki keluarga yang utuh.


Dan satu hal lagi, jika bukan karena Oktavin…


[Kedua orang tuaku pasti saat ini sudah tidak ada.] Batin Franz.


Benar.


Jika bukan karena Ovin yang menyelamatkan ayah dan ibunya dari sebuah kecelakaan yang terjadi dua bulan lalu, sekarang Franz pasti tidak berada di posisi ini.


Posisi dimana Franz sekarang masih memiliki peluang untuk melihat ibunya hidup, dan menyisakan waktu bersama ayahnya, meskipun sekarang ini ayahnya pada akhirnya sudah pergi lebih dahulu karena penyakit jantung.


Franz mengernyit.


[Berapa banyak yang sudah dia lakukan untukku?] Franz sendiri sebenarnya tidak tahu seberapa banyak Ovin membantunya. “Sudahlah.” 


Franz akhirnya beranjak dari sana.


Karena sudah tidak bisa tidur lagi, dia memutuskan pergi keluar rumah.


KLEK….


WUSHHH…..


JEDERR…….


Angin kencang bersamaan dengan kilatan petir yang tiba-tiba menyambar, membuat Franz langsung kembali masuk ke dalam.

__ADS_1


[ Apa aku harus menahan rasa lapar? Dasar orang sialan itu!] Franz mengutuk Eon, yang menjadi dalang atas dirinya yang sekarang harus tinggal berdua di tempat entah berantah dan harus menahan laparnya sampai hari esok datang. “Cih…” 


Franz mendesis kesal karena tidak bisa berbuat apa-apa.


__ADS_2