
"Apa yang kau lakukan pada mereka berdua?!" Teriak pria ini kepada seseorang yang ada di dalam mobil, persis di belakang Linda.
Tapi tidak sesuai dengan harapan, bahwa Ovin akan menyahut pertanyaannya, yang menjawabnya justru adalah Lina sendiri.
"Memangnya kenapa?" Linda dengan berani mulai berjalan ke arah depan sambil melewati tubuh Eldo yang masih terkapar di aspal keras itu.
"Kau- aku melihatmu bisa melepaskan diri dari ikatan tali kursi itu." Satu pria lainnya pun keluar juga dari mobilnya.
"Siapa kau? Tidak.. Tapi siapa kalian?"
BRAK...
Satu orang lagi akhirnya keluar dari mobilnya, dan memperhatikan Linda yang ternyata memang sudah bebas dari jeratan dari ikatan tali di kursi.
"Siapa kami?" Tanya balik Linda seraya melihat satu-persatu ke empat laki-laki di depannya yang sama sekali tidak mendapatkan hasil apapun karena tidak ada yang menang dan kalah, karena mereka berempat masuk finish secara bersamaan.
Dan menjadi daya tarik tersendiri bagi Ovin dan Linda karena hanya dengan pancingan kecil seperti itu berhasil membuat mereka berempat bisa keluar dari mobil.
"Kalau tidak mau jawab, ya sudahlah, yang penting kau harus ikut aku." Tiba-tiba mencoba meraih tangan Linda.
"Kenapa juga aku harus ikut denganmu? Kan tidak ada yang menang juga kan?" Linda mengambil langkah mundur untuk menghindari tangannya di raih oleh laki-laki ini.
Tapi respon yang di berikan oleh laki-laki remaja itu justru adalah seringaian tipis. Dengan kata lain ada yang tidak benar dengan tebakannya Lina, kalau mereka berempat berlomba-lomba menang untuk mendapatkannya.
"Memangnya siapa yang mengatakan salah satu dari kita berempat harus menang? Kan sebenarnya dari awal mereka hanya ikut-ikutan saja tanpa memperdulikanmu. Yang hanya ikut dan membayarmu dengan harga mahal hanya aku saja. Kau pasti sudah salah mengartikannya, kan? Kasian." Tanpa memberikan penjelasan lebih panjang kepada Linda, laki-laki ini kembali berjalan untuk menangkap Linda dan membawanya pergi bersamanya.
__ADS_1
Tapi dengan cekatan, Linda kembali lolos dari tangan pria di depannya itu.
"Ikut aku." Seketika pria ini berlari dan langsung memeluk Linda yang hendak kabur.
GREP..
"Tidak mau!" Pekik Linda sambil mencoba memberontak dari pelukan yang di lakukan oleh laki-laki yang berhasil memeluknya dari belakang.
"Tidak mau apa, kau harus tetap ikut bersamaku. Ayo," Dia berusaha untuk menyeret Linda bersamanya.
Dan mereka bertiga hanya memandangi pekerjaan yang di lakukan oleh sahabatnya yang benar-benar menginginkan Linda jadi miliknya hari ini dan detik ini juga.
Ketika Linda mencoba menginjak salah satu kakinya, kaki yang jadi sasarannya itu lebih dulu berhasil untuk menghindar.
"Aku tahu cara pertahanan dari wanita itu seperti apa. Jadi jangan berharap aku bisa melepaskanmu dengan caramu tadi." Balas pria ini, masih memeluk Linda dari belakang dan berusaha untuk terus menyeret wanita yang dia bayar dengan harga mahal itu masuk kedalam mobilnya.
"Terus saja berteriak, karena setelah ini aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi dariku. Apa kau mengerti?" Dengan akhir kata sebuah bisikan kecil tepat di telinga Linda.
"Ah~ Bukannya kau terlalu berisik untuk membawa dia?" Setelah terdiam begitu lama untuk melihat aksi apa lagi yang dilakukan oleh remaja itu kepada Linda, akhirnya Ovin angkat suara.
"Wah..wah..akhirnya kau yang ada di sana mau bicara juga?" Ledek laki-laki ini, karena akhirnya bisa mendengar suara dari orang yang dari tadi tidak mau menunjukkan diri itu.
"Ya..aku akhirnya bicara karena baru saja memang lagi ada mood untuk bicara padamu." Ucap Ovin dengan serta merta.
"Hahaha...jawaban macam apa itu, sana pergi, wanita ini akan jadi milikku."
__ADS_1
"Apa hak mu mengusirku?" Dan jendela mobil milik Ovin yang dari tadi terbuka sedikit, tetap pada posisinya. Tapi tidak dengan posisi Ovin sekarang ini, karena dia saat ini seperti orang yang sedang mengintip dua orang yang sedang bersenang-senang itu, dimana Ovin hanya memperlihatkan kedua matanya di sela jendela yang terbuka itu sambil menyiagakan senjata miliknya di samping wajahnya juga. "Dan siapa yang mengizinkanmu membawa dia?" Imbuhnya lagi.
"Tentu saja aku bodoh, aku yang mengizinkan diriku untuk membawa dia." Sahutnya.
"Dari pada menonton mereka bertiga, bagaimana jika kita balapan lagi," Salah satu teman dari pria yang sedang membawa Linda mencoba mengusulkan sesuatu pada kedua temannya itu agar kembali mengadakan balapan lagi.
"Boleh juga. Dari pada taruhannya wanita, mending uang bisa buat jajan." Jawab laki-laki ini.
"Aku hanya ikutan saja, tanpa taruhan." Sahut temannya yang satu lagi.
Dan di saat mereka bertiga hendak berbalik untuk masuk kedalam mobil, tiba-tiba saja satu persatu dari mereka bertiga langsung ambruk.
Lalu melihat ketiga temannya itu tiba-tiba jatuh di samping mobil, pria yang sedang memeluk Linda ini sontak saja langsung panik dengan melototi satu orang yang tetap di dalam mobilnya itu, yaitu Ovin.
"Karena mereka tidak peduli dengan apa yang sedang kau lakukan, maka kau sekarang sendirian." Ungkap Ovin, dimana Ovin mampu menyesuaikan suaranya layaknya laki-laki.
"Jangan-jangan dia ini kekasihmu?" Tanya pria ini sambil mengecup ringan leher Linda dengan posisi masih memeluk Linda dari belakang, tapi mereka berdua tetap menghadap ke arah Ovin, untuk menghindari dirinya kena tembak seperti yang terjadi pada ketiga temannya itu.
"Jika kau berpikiran seperti itu, maka aku akan mengiyakannya saja." Balas Ovin. Karena melihat pria itu kian berjalan mundur dengan membawa Linda di pelukannya, maka Ovin pun kembali menancap gas mobil miliknya itu untuk berjalan mengikuti mereka berdua yang terus berjalan mundur.
Dua orang berjalan mundur dan satu orang mengajak mobil yang dinaikinya itu untuk terus melaju kedepan.
"Ok, aku juga akan anggap begitu. Tapi asal kau tahu saja, kau tidak akan bisa menembakku seperti yang kau lakukan pada mereka berlima." Kata pria ini, masih keras kepala dengan tekadnya itu untuk membawa Linda bersamanya.
Tentu saja tidak akan bisa menenmbaknya, karena sekarang Linda sedang di jadikan tameng oleh pria yang ada di belakang Linda itu.
__ADS_1
Tapi memangnya akan seperti itu?
'Jika kau berpikiran Vino tidak bisa menembak karena menjadikanku tameng, maka kau salah besar.' Pikir linda, di saat tubuhnya memang masih saja di peluk oleh pria di belakangnya dan terus berjalan mundur untuk menuju ke mobilnya.