Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
129 : PUM : Pergi kencan?


__ADS_3

Ciuman itu berlangsung cukup lama, sampai tepat di detik pertama saja, ketika kedua bibir mereka baru menyatu, Franz yang awalnya hendak mendorong bahu Ovin pun Franz urungkan, ketika tautan mereka berdua ternyata sungguh memabukkan, hingga Franz sendiri akhirnya meraih pinggang ramping Ovin dan memeluknya perempuan ini duduk di atas pangkuannya.


'Kenapa? Ah~ Aku tidak tahu harus apa lagi. Dia sudah menang, aku jadi tidak bisa menolaknya.' Franz pun pada akhirnya tidak mampu untuk berpikir lagi selain menikmatinya, ******* lembut yang di mainkan oleh mereka berdua.


Entah seperti apa cara mereka berdua melakukannya, pengalaman bukanlah hal yang penting, karena perasaan di dalam hati mereka justru yang akan menuntun mereka untuk saling memenuhi akan kesenangan yang mereka berdua ciptakan.


Makannya, mau seburuk apapun itu saat mereka berdua melakukannya, itu tidak berarti lagi untuk mereka.


'Aku akhirnya bisa mendengarnya, entah dia memang tulus atau tidak saat mengatakannya, aku tidak peduli, karena itu memang yang aku nantikan selama ini.' Benak hati Ovin. Dia pun jadi merasa senang sendiri, walaupun terkadang ucapan itu hanyalah kalimat yang banyak menipu orang, tapi Ovin tidak begitu memperdulikannya, karena bagian yang terpentingnya adalah dia bisa membawa hati anak ini bersaanya.


________________


Berada di dalam pesawat selama 7 jam penuh rasanya benar-benar membosankan bukan main, bahkan sampai bosannya Franz dibuat tertidur di kasur. Yah dia sekarang berada di kamar setelah mandi, kepergiannya ke negara lain secara mendadak membuat dirinya belum mandi sama sekali dan di tambah lagi sarapan pagi juga tidak mengenyangkan.


Masih tersisa 3 jam sebelum sampai di Perancis, apa yang akan dilakukannya adalah bermalasan di situ.


Sekalipun, dia tidak bisa menghilangkan rasa yang sempat Franz rasakan siang tadi.


Ketika dia mampu mendapatkan rasa manis dari sesuatu yang lembut dan juga hangat.


'Aku masih saja memikirkannya. Dia memang berubah jadi perempuan yang cukup bar-bar. Main mencuri ciumanku begitu saja. Tapi akunya?' Franz langsung menunduk, ujung dari jari tangan kanannya pun terangkat dan menyentuh bibir yang sempat ia gunakan untuk aktivitas sen*sual selain sekedar di gunakan untuk berbicara dan makan saja.


BRUKK.....


Franz merebahkan tubuhnya yang lelah ke atas tempat tidur. Cukup empuk, dan kenyatannya memang, kalau semua fasilitas yang ada di dalam pesawat ini sangat lengkap.


Setelah sedikit puas untuk memandangi plafon kamar, Franz pun memejamkan matanya.


Tapi belum juga sampai lima menit, handphone nya berdering.


DRTTT.......DRRTTT........

__ADS_1


Dengan mata masih terpejam, Franz mengeluh. "Mau tidur saja susah."


Tangannya meraba ke sekitarnya, beberapa waktu dia mencari ponsel dan ketemu juga.


" Ha..siapa? "


" Kau dimana? " Sean lah yang menelponnya.


"Aku sedang kencan di pesawat," Ketus Franz, dia ingin bisa tidur, tapi pikirannya terus melayang dengan apa yang terjadi tadi siang dengan Istrinya, dan sekarang Sean sudah berhasil mengganggu waktu istirahatnya.


Tapi Franz sendiri menjawab tanpa ia sadari kalau ia baru saja mengatakan kencan.


"Pantesan aku mencarimu di rumah, kau tidak ada dan kau sedang ken...jap, kau pergi kencan tapi sekarang di dalam pesawat? " Masih percaya dan tidak percaya, tapi mengingat siapa si Franz ini maka tidak heran juga bisa melakukan kencan sampai ke luar negeri di jam seperti ini. "Siapa yang sedang kau kencani?"


"Entahlah," mengucek matanya dan mencoba merubah posisinya ke suasana yang lebih nyaman. "Sebenarnya aku di ajak liburan oleh pria gila ini, aku tidak tahu jalan pikirannya kemana. Ya.....jadi apa alasanmu mengganggu tidurku? "


" Ya sudahlah, tidak heran tidak bisa menyangkal kalau sedang liburan sama mata empat kan?" Sean malah menggerutu dari sebuah tebakan yang cukup jelas.


"Apa kau lupa? Pekan ini kita tour untuk acara kelulusan kita? " Sean mengingatkan kalau jadwal hari ini adalah jadwal yang sudah di tentukan 1 minggu yang lalu.


" Iya, aku lupa. " jawab Franz singkat lagi.


" Cih, aku awalnya mau menjemputmu tapi karena sudah di pesawat ya sudahlah. Bisa nyusul kan? "


" Kalau masih ada waktu " jawab Franz dengan selamba, waktu bukanlah masalah, bisa ke sana dan kesini dengan cepat adalah keahliannya.


" Oh ya....ngomong-ngomong- " Hendak memberitahu sesuatu tapi terhalang oleh suara yang terdengar suara lain dari pihak Franz.


"Franz, aku butuh bantuanmu u-"


Tut.....tut......tut....

__ADS_1


"Lah....malah mati," rutuk Sean.Dengan berat hati Sean pergi sendirian setelah jauh-jauh mendatangi Villa Franz tapi nyatanya tidak ada orangnya. "Tapi tadi suaranya si mata empat kan? Dia butuh bantuan apa?"


Senyuman yang begitu lebar pun tersungging di bibirnya karena dia kemarin malam sempat mendengar kegaduhan di dalam kamarnya Franz.


"Ternyata, Franz. Kau itu ternyata! Sudah mencicipinya ya? Pasti enak tuh. Tapi- Bisa ya? Bukannya dulu Franz itu suka sama Bella? Tapi sekarang?"


Sean menoleh ke belakang, dia melihat rumah besar dengan banyak drama itu sudah kosong.


'Dia rupanya memang sudah menjalin hubungan seperti itu dengan perempuan lain. Memang ya, takdir tidak bisa di tebak,' Sean tesenyum simpul, lalu pergi meninggalkan kediamannya Franz dengan mobilnya.


______________________


3 jam kemudian.


Samar-samar melihat langit-langit plafon bernuansa kental dengan sebuah lukisan.


Dari samping kanan terasa dingin hembusan angin lembut yang menerpa kulit tipisnya.


'Dimana aku? Sepertinya ini bukan di pesawat lagi.' Kepalanya terasa berat yaitu perasaan pusing.


Sayup-sayup tirai putih tipis itu bergerak menyesuaikan arah angin yang datang dan masuk kedalam kamar yang ia tempati.


" Pemandangannya indah, memangnya punya uang sampai memesan kamar ini seminggu sebelumnya? " suara lembut, khas milik seorang perempuan tiba-tiba saja terdengar.


" Uang mah gampang, tinggal gesek sudah keluar uang " Ucap pria tinggi yang sedang berdiri di sampai perempuan tersebut, lalu secangkir kopi di seruput dan sepasang matanya masih setia menatap sayu perempuan di depannya. "Oh ya, bagaimana perjalananmu tadi? "


" Menyenangkan walau lelah sampai tanganku sedikit kebas." sahut perempuan ini lagi.


"Tapi kemampuanmu sudah meningkat, bagus...pulang nanti giliran kau yang melakukannya ya," Kata laki-laki ini, memberikan pujian sekaligus permintaan kepada perempuan di sampingnya, tidak lain adalah sang keponakannya, Ovin.


"Lima jam saja." ucap Ovin kepada paman Chade. Dialah laki-laki yang saat ini sedang berdiri di sampingnya, menemani dinginnya sore hari untuk saling bertukar kata di balkon kamar.

__ADS_1


'Uhm.....apa yang mereka bicarakan? Kenapa mesra sekali?!' Kepalanya benar-benar berat tidak karuan, perasaan kantuk juga menghampirinya dan berfikir dengan tertidur pasti bisa menghilangkan sakit kepala. Dan sepasang matanya pun dia pejamkan hingga pada akhirnya tertidur kembali.


__ADS_2