
Setelah melewati malam yang begitu panjang, siang itu akhirnya Ovin membuka sepasang matanya dan dia menoleh ke samping kanan.
Ovin duduk dengan wajah bengong dan mengerjapkan matanya beberapa kali secara cepat setelah menemukan satu orang tengah tertidur dalam posisi duduk, di sampingnya persis.
'Apa yang aku lakukan? Kenapa aku mencengkram tangannya?' melihat cengkraman tangannya tengah mencengkram pergelangan tangan orang disebelahnya dengan kuat sehingga membekas sampai berwarna memerah.
Dengan pelan Ovin pun melepaskan cengkramannya itu, tapi karena itu pula orang disebelahnya itu pun mulai terusik dan akhirnya membuka matanya juga.
" Sudah bangun? " tanya Franz dengan keadaan rambut serabai tak beraturan dan suara yang cukup serak.
" Iya." Tetapi tangan kanannya beralih dengan memegang kepalanya yang terasa sakit lagi dengan dalih merapikan rambut sendiri.
" Tidur lagi jika masih sakit kepala." ketus Franz, tahu maksud dari tindakan yang sedang Ovin lakukan itu.
Tidak biasanya orang dengan tempramen buruk ini bersikap baik dan apatah lagi menawarkannya untuk tidur lagi di depannya?
Ada angin apa pada orang ini? Itulah yang sempat terlintas di pikirannya.
Sebenarnya Franz terpaksa tidur dalam posisi duduk di sebelah Ovin karena kelakuan istrinya beberapa jam lau, akibat efek demam yang tinggi, secara otomatis istrinya itu mulai berhalusinasi dan salah satunya menggenggam tangannya dengan kuat untuk tidak pergi, sekalipun dia dalam posisi memejamkan matanya dan terbaring di tempat tidur.
Dan seperti itulah keadaan singkat dari dua orang pemuda yang mengalami segala drama dalam waktu satu malam saja.
Setelah istrinya melepaskan cengkraman tangannya, Franz mengelus pergelangan tangan kirinya, lalu ia memperhatikan pasien demam ini dengan lirikannya.
'Tapi aku haus.' Ovin berniat untuk mengambil air, maka dari itu dia hendak turun dari kasur namun ada satu tarikan dari lengan bajunya yang berasal dari jari tangan Franz.
" Tidak perlu turun, biar aku yang mengambilkannya." perintahnya dengan tegas, lalu tangan kanannya mengambil sebuah botol mineral yang ada di atas nakas dan memberikannya kepada Ovin.
Dia sudah menyiapkannya untuk berjaga-jaga jika pasien ini mendadak bangun dan ingin minum.
__ADS_1
Ovin menerima pemberiannya tanpa berkata apa pun, ia membuka tutup botolnya dan meminumnya secara langsung dari awal..
Gluk.......Gluk......Gluk..........Gluk.....
Secara intens Franz melirik ke arah dimana Ovin tengah minum.
Dia melihat gadis itu minum dengan cepat, tiap tegukan Franz perhatikan dan menemukan beberapa cercah air keluar dari sudut bibirnya, dia seperti orang yang tidak minum selama 3 hari penuh sehingga Franz sendiri menelan salivanya sebelum akhirnya ia kembali berjalan ke tempat duduknya lagi.
'Apa yang terjadi dengannya? Kenapa dia menatapku seperti itu? Apakah dia ingin minum juga?' Karena merasa suaminya itu terus menatap ke arahnya, maka Ovin pun menyodorkan air botolnya. "Nih."
"Apa?"
"Karena menatapku seperti itu, bukannya kau ingin minum juga?" Tanya Ovin.
Franz menutup matanya, bersandar ke sandaran kursi, lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada seraya menjawab. "Jangan salah paham, aku menatapmu bukan ingin mendapatkan ciuman secara tidak lang-"
".........." Ovin terus mendengarkannya. 'Ciuman tidak langsung?'
Ovin yang sudah terbiasa dengan tingkah Franz yang kadang tidak bisa menyangkal ucapannya, hanya mengabaikannya, selain Ovin yang sedang di buat berpikir keras dengan apa yang terjadi malam tadi.
'Tapi apa semalam aku melakukan sesuatu?' Tat kala Ovin akhirnya memutuskan untuk meneguk minumannya sampai habis kosong melompong. Setelah habis, gadis ini meremas botol kosong itu dan kembali menutupnya sebelum akhirnya ia melempar sampah itu ke tong sampah dengan sangat tepat, sekalipun jaraknya sebenarnya lima meter jauhnya.
'Apa dia memang punya refleks sebagus itu sampai bisa melempar botolnya tepat ke tempat sampah?' Pikirnya.
Setelahnya, Franz melihat gerak-gerik yang di lakukan oleh istrinya itu.
Ovin memeriksa dahinya sendiri, ada satu plester penurun panas, dirinya juga masih demam walau tidak setinggi saat tadi malam.
Lalu sekali lagi ada satu jarum tertanam di balik kulit tipisnya, jarum itu menyalurkan cairan infus kedalam tubuhnya.
__ADS_1
"Aku baru ingat, aku melupakan sesuatu. Aku pergi dulu." Tiba-tiba Franz beranjak dari kasur dan berlalu pergi begitu saja.
"Kemana?"
"Kemana saja." Ketusnya.
'Ngomong-ngomong apa aku melakukan sesuatu kepada Franz? Dia tingkahnya jadi sedikit aneh. Tapi-, aku benar-benar tidak mengingatnya sama sekali. Paman kan pernah memberitahuku, agar aku mengurung diri di dalam kamar tepat di hari kematian Ibuku, tapi aku-, apa aku melakukan sesuatu yang membuat otak anak itu jadi bergeser? Kenapa tadi jadi perhatian sekali? Itu seperti bukan diri Franz saja!' Tentu saja Ovin jadinya di buat meracau dalam diam.
Ovin pun menatap kedua telapak tangannya sendiri. Mencoba mengingat-ingat apa yang ia perbuat ketika dalam keadaan demam, namun tidak mengingatnya juga jika tidak ada yang memberitahunya.
*
*
*
Sedangkan di luar pintu masuh berdirilah orang bernama Franz ini sambil menutup separuh wajahnya bagian bawah dengan telapak tangan kanannya.
'Ternyata di saat demam pun perempuan itu malah bertingkah aneh. Tapi-, apakah otakku memang sedang bermasalah, kenapa aku jadi menganggapnya imut?' Pikirnya, dengan telinga sudah merah merona.
Hanya saja, di tengah-tengah Franz sedang terbuai dengan pikirannya sendiri di depan pintu kamar inap milik Ovin, maka Chade yang baru saja pulang itu, kini sudah berdiri di ujung lorong rumah sakit sampai menangkap pemandangan dari seorang Franz yang baru saja keluar dari kamar inap milik ovin itu, saat ini sedang bertingkah aneh, sampai memperlihatkan salah satu telinga Fraz yang memerah.
'Dia- Apa hatinya sudah mulai terpengaruh?' Pikir Chade. 'Kalau saja aku bukan pamannya, mending Ovin aku jadikan istriku saja. Tapi karena sudah seperti ini, aku tidak ada pilihan lain selain mengawasi anak itu.
Jika dia membuat Ovinku menangis, aku yakin tidak ada kata hari besok.'
Saat melihat Franz pergi ke lorong sebaliknya, Chade memilih pergi ke kamar inap yang ada di depan kamarnya Ovin persis.
Chade pergi ke sana karena ada sesuatu yang harus dia kerjakan agar keponakannya itu setidaknya tidak akan mengalami hal buruk lagi, karena setiap kali tahu dirinya ada di rumah sakit, sebenarnya Ovin sangat ingin pulang.
__ADS_1
Ada trauma yang tertinggal ketika Ovin berada di rumah sakit, dan trauma itu adalah karena Ibu nya meninggal di rumah sakit, tepat di depan matanya.