
Di prancis ketiga orang ini benar-nenar megunjungi semua tempat yang sudah terkenal apa lagi di medsos.
"Dikit lagi, geser... " perintah sang fotografer pada satu pasangan.
Kali ini di salah satu taman memang ada spot foto yang unik karena banyaknya burung yang berlalu lalang baik di udara tengah terbang maupun tengah berjalan di atas jalan.
Dan siapa lagi kalau bukan Chade yang membuat perintah keras untuk berfoto bersama dengan Franz.
Ya hanya dua orang ini yang dipaksa Chade terus menerus, dan bahkan sang fotografer ingin menjadikan Franz sebagai model majalah minggu ini, cuma dia yang ditawari saja, sedangkan Chade sama sekali tidak, karena aura mengintimidasinya langsung keluar lebih dulu bahkan sebelum memberikan penawaran kepada Chade.
Sedangkan Ovin, karena sekarang laki-laki itu sedang dikerumuni para perempuan, jadi terpaksa Ovin pergi menjauh dan memutuskan untuk jongkok lalu memberikan makanan burung pada para merpati di depannya.
KURR....
KURR.....
KURR...
Banyak yang mendekat dan salah satunya malah ada yang bertengger di atas topi yang di kenakan oleh Ovin, sampai dua diantaranya ada yang mendarat di atas kedua bahunya. Suara merpati itu pun sangat membuat Ovin merasa senang, karena bisa mengelus bulu burung yang cukup lucu itu.
KURR....
Salah satunya karena Ovin mengelusnya di bagian bawah kepala merpati ini, merpati ini pun sampai memejamkan matanya dan membuat suara yang cukup menggelitik telinga.
"Coba kau bisa aku bawa pulang. Aku jadikan pajangan di dalam kamarku."
KURR...!
Akibatnya burung yang sedang di manja itu langsung kabur lebih dulu.
"Yah~ Padahal hanya bercanda, kenapa burung itu menganggapnya serius?" Gumam Ovin, melihat kepergian salah satu burungnya. Tapi karena masih ada yang lainnya, Ovin pun memilik burung yang lainnya untuk dia manja. "Kenapa rasanya aku ingin sekali mengigit kepalanya ya?"
Sekali lagi burung itu kabur, dan yang tersisa hanya ada di atas kepalanya, seolah di atas topinya itu adalah sarang untuk bertelur.
'Jadi dia orang perempuan yang menikahi Franz itu?' Di satu sisi, ada satu orang sedang memperhatikan Ovin yang sedang memberi makan para merpati.
TAP.........
TAP........
__ADS_1
TAP......
langkah kakinya berhenti tepat di depan perempuan yang sedang berjongkok itu.
Dan kedatangannya pun membuat si gadis tersebut mendongak ke atas.
Saat itu juga puluhan burung merpati mengepakkan sayap terbang bebas dan membuat suasana seperti pertemuan setelah perpisahan lama.
CKREK......
CKREK......
CKREK.....
Merasakan adanya kesempatan yang cukup bagus, fotografer ini sempat mengabadikan momen diantara kedua orang yang ada di depan sana dengan kamera digitalnya.
Dan setelah di lihat, hasil fotonya sangat bagus.
" Hei paman, hasil fotonya sangat bagus. Aku beli kartunya." lalu segepok duit di berikan pada paman Fotografer, jadi dengan setia paman ini memberikan kartu memorinya kepada pemuda si Chade.
"Terima kasih." menyimpan memori Card ke sakunya.
Karena pakaiannya yang begitu formal, banyak pasang mata yang bersedia meluangkan waktunya untuk melirik pria tersebut.
Gadis yang ditatap pria itu kemudian berdiri dan secara tiba-tiba, lepalanya di elus lembut oleh pria tersebut.
Sebab pria tersebut lebih tinggi dua puluh lima cm darinya, si gadis masih mendongak untuk melihat wajah dari pria itu.
'Siapa laki-laki ini?' Hatinya seketika jadi tertusuk. Rasanya ingin mengganti kedua bola matanya saat ini juga, karena ia sungguh ingin sekali melihat wajah dari laki-laki ini.
Maka dari itu, sekarang ia benar-benar penasaran siapa orang ini, dan kenapa tiba-tiba mengusap kepalanya?
" Pfft.......merpatinya suka sama dia " Chade tergelak sendiri melihat hasil jepretannya sendiri, ada tiga merpati yang bertengger di bahu dan satu ada di atas kepala.
Hanya saja, ketika Chade melihat foto berikutnya, Chade langsung mengalihkan pandangannya dari handphone nya ke arah depan. Sekarang di depan keponakannya itu ada orang lain yang terlihat cukup familiar.
"Siapa lagi pria di depannya itu?" Gumam Chade.
Kembali ke tempat di mana Ovin berada, saat ini keberadaan mereka berdua yang sedang saling menatap satu sama lain, membuat mereka berdua jadi penarik perhatian banyak orang di jalan.
__ADS_1
Akan tetapi tidak ada satu pun diantara mereka semua yang mendengar percakapan mereka berdua.
"Jadi selama ini kakakku, maksudku ibumu sudah meninggal? " Tanya pria ini.
" Iya, dan setelah itu ayahku menikah dengan perempuan lain. " Jawab Ovin. Entah kenapa, ia mau menjawab pertanyaan dari orang yang bahkan tidak ia kenal.
Ya, Ovin tidak bisa mengenalnya sebab ia tidak bisa melihat wajahnya seperti apa dan ekspresi macam apa yang sedang di perlihatkan oleh laki-laki ini kepadanya.
"Siapa namamu?"
"Namaku sama sekali tidak terlalu bagus." Ovin mengalihkan pandangannya ke arah lain, karena ia ragu untuk mengatakan namanya, sebab namanya sama sekali tidak menarik untuk di katakan. Bahkan ia membenci namanya sendiri, sebab orang yang memberinya nama adalah sang ayah.
Sebuah senyuman lembut tersungging di bibirnya.
Laki-laki ini menunjukkan rasa simpatinya terhadap gadis yang terlihat kesepian ini, makannya, saat melihat gadis ini sedikit muram karena namanya, katanya tidak terlalu bagus, laki-laki ini tiba-tiba saja langsung menarik pinggang Ovin dan membuat gadis ini masuk kedalam pelukannya.
BRUK.
"A-apa? Kenapa t-tiba-tiba memelukku?" Tanya Ovin dengan gugup, wajahnya tersipu, bahkan matanya sebenarnya sudah mulai menggenang di matanya, karena ia sama sekali tidak memiliki insting kalau pria ini memiliki niat jahat.
Yang ada adalah, Ovin merasa nyaman.
"Karena kau kelihatannya butuh pelukan dariku."
"Kenapa seperti itu?" Ingin memberontak agar bisa lepas dari pelukannya, namun orang ini justru semakin mengeratkan pelukannya, hingga Ovin merasakan aroma yang cukup menenangkan.
Entah itu pelukan maupun aromanya, itu memang membuatnya merasakan nyaman.
Tapi kenapa?
Pelukannya bahkan seperti orang yang memiliki perasaan rindu kasih yang sudah lama di nantikan.
Ovin sama sekali tidak tahu, dia benar-benar tidak tahu siapa pria ini. Tapi pelukannya membuat Ovin jadi seperti mengingat mendiang sang Ibu.
'Kenapa terasa nyaman seperti ini?' Batin Ovin, akhirnya dia semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik laki-laki ini dan perlahan sempat menitiskan air matanya ke dalam sana.
"Karena aku merindukanmu. Maaf, baru menemuimu sekarang, Ovin." Suaranya cukup lirih dan nadanya pun bergetar, dia sama sekali tidak menyangka kalau gadis ini sudah melewati masa panjang yang cukup keras, sedangkan dirinya sama sekali tidak bisa membantunya, karena masalah pekerjaan yang harus ia tangani .
Makannya, baru kali ini, ia bisa menemui gadis ini.
__ADS_1