
Setelah selesai berurusan dengan perasaannya, Ovin pun berniat untuk menutup tirai dari jendela, namun yang terjadi saat itu juga, sebuah kilatan bersamaan dengan dentuman yang cukup keras berhasil membuat kacau.
JDERRRR..............
Tidak berteriak namun berjongkok dengan menutup telinganya serta kedua matanya.
"................" Franz membuka selimut dari tubuhnya dengan kasar dan duduk sambil menatap Ovin yang masih berjongko adi dekat jendela. " Menjauhlah dari jendela. " sebuah sepatah dua patah kata ddari mulutnya untuk Ovin? 'Ha? Kenapa aku jadi berbicara penuh khawatir seperti itu?! Mulutku lagi-lagi tidak bisa aku kontrol!'
" Aku tahu.. " langsung berdiri dan menyambung menutup tirai lagi agar kilatannya tidak benar-benar ia lihat.
Ovin kemudian mengambil satu boneka bentuk kepiting yang terpajang di atas meja kemudian ia letakkan di atas karpet dan berbaringlah dirinya di atas karpet tersebut dengan boneka kepiting tadi ia gunakan sebagai bantalan kepalanya.
"................." Franz menilik Ovin yang tertidur di bawah dan justru menghadap jendela.
" Berhentilah menatapku." Cetus Ovin, merasa punggungnya di tatap.
" tidak dingin? "
" Berkata seperti itu setelah mengusir dari kasurku sendiri? Aku sama sekali tidak kedinginan." Ovin langsung menjawab dengan serta merta.
Tut...tut...tut...tut.......
Tanpa membuang banyak waku lagi, Ovin mengambil handphone nya, dan jari-jari Ovin yang lincah pun memainkan keyboard dari handphone nya pun tiba-tiba membuat suhu ruangan yang tadinya dingin menjadi hangat.
" Huah....." Franz langsung menyibak selimutnya karena rasanya menjadi semakin panas jika tidur menggunakan selimut. "Ini gerah, turunkan suhunya!" Tuntut Franz.
" Tidak mau." Ketus Ovin.
Franz kemudian mengambil remot AC dan mulai mengatur suhunya lagi menjadi empat belas derajat.
Ovin kembali menaikkan suhunya dan itu menggunakan handphone nya sendiri, jadi sekarang Franz mulai terprovokasi untuk menurunkan suhunya balik.
TLING........
Dan di akhir pertarungan itu, akhirnya listriknya padam dan menjadi gelap.....tidak..
'Justru disini terang?!' Franz langsung melongo, ada pemandangan indah yang tidak pernah dilihatnya mewarnai kamar yang digunakan oleh Ovin ini. 'Apa ini? Kenapa dinding kamarnya bisa bercahaya sendiri, tidak dinding saja tapi langit-langit nya juga lalu lemari apa lagi meja dan pintu?'
Pemandangan eksotis seperti berada di tepi danau dengan pemandangan lagit penuh bintang Galaxy.
Dari tatapan kagumnya pada kamar, sekarang tatapannya teralihkan pada satu orang yang sudah...
'Dia sudah tidur? Dia tidak mau menjelaskan apa yang sudah dilakukannya dengan hunianku secara diam-diam ini?' pikir FRanz, masih tidak mengerti kenapa perempuan yang ada di bawah sana melakukan hal yang membuang waktu untuk melukis dinding kamarnya sendiri dengan cat glow n the dark seperti itu.
Suara dentuman ataupun kilatan diluar itu sudah seperti menghilang saja sebab dirinya terfokus dengan apa yang dilihatnya sekarang ini. Tempat yang terlihat sangat berbeda dengan yang lain, padahal tidak ada seorang pun yang keluar masuk dari villa nya kecuali mereka berdua dan artinya..
" Dia yang mengerjakan ini semua? " bisiknya, kedua alisnya semakin bertautan. 'Bagaimana pun juga, plafon yang tinggi itu dia harus menggunakan tangga untuk mencapainya.' pikirnya lagi ketika dia mencoba mendongak ke atas.
Dari menit, menjadi jam.
Franz mulai terbuai dengan pemandangan ini, padahal beberapa waktu lalu ia sangat yakin tidak ada yang berubah dari kamar ini, namun sekarang seperti sudah berada di tempat lain saja.
" Apa aku terlalu meremehkannya? " gumam Franz. 'Butuh waktu lama untuk mengerjakan lukisan kamar sebesar ini. Sejak kapan dia memulainya?' Banyak pertanyaan yang terlintas di pikirannya, akan tetapi tidak ada satu pun yang akan dia tanyakan kepada perempuan yang ada di bawah sana itu.
Barulah setelah beberapa saat berpikir, Franz teringat dengan satu setengah bulan lalu, ia melihat Ovin membawa pulain 1 kaleng cat, dan semenjak itu ia juga tidak pernah mengunjungi kamarnya.
Franz kembali menilik orang yang sudah tertidur itu dengan seksama.
" Di lantai pun bisa tidur senyenyak ini? Dia sungguh perempuan berandalan." gumamnya.
__ADS_1
Lalu beberapa jam pun berlalu, Franz sudah tertidur dengan nyenyaknya. Di luar hujan lebat tapi sebab itu suasana dingin itu bisa hangat karena selimut.
Ovin yang awalnya masih tidur cukup nyenyak di bawah tiba-tiba saja membuka matanya. Dia bangkit dan berjalan menuju toilet, sebalik dari toilet Ovin kembali melanjutkan tidurnya.
" Hoamhhh....... " ovin menguap untuk ke sekian kalinya.
PLOPP......
Ovin tidur balik namun justru sekarang tanpa sadar pindah ke atas kasur dan menimpa orang lain yang ada di bawahnya.
" Ehmm? " Franz yang tiba-tiba merasakan beban hanya membatin. ' Rasanya tambah berat?'
Meskipun begitu, Franz dengan santainya melanjutkan tidur juga.
_________________
Ke esokan harinya....
Cuit...cuit....Cuit.....
Kicauan burung itu perlahan berhasil mengusik kedua insan yang sedang tertidur dalam perasaan paling nyenyak yang pernah ada, karena kehangatan yang di berikan oleh masing-masing pihak itu.
'Ehmmm......baunya tidak asing' Dan Franz mulai nyadari sesuatu pada dirinya. Dia merasakan sesuatu selain berat juga aroma yang tidak asing untuk indera penciumannya. 'Tanganku juga rasanya kebas, tapi kulit apa ini?'
Dan ketika membuka sepasang matanya barulah sadar......
Dari sudut manapun, Franz tengah memeluk wanita di pelukannya dam posisi tiduran sehingga tangannya pun kebas sebab tertindih oleh tubuh Ovin.
Yah...tangan kirinya sempat menyentuh pinggang Ovin dan itulah penyebab kenapa tangannya merasakan kulit yang hangat juga punya aroma khas milik dari seseorang yang cukup familiar.
Dan tentu saja orang itu adalah si Ovin sendiri.
"..............! " Franz segera mendorong Ovin jauh-jauh darinya sambil berterak, "Kenapa kau bisa tidur di sebelahku?! Kau kan semalam tidur di lantai!" Pekik Frans antara terkejut juga tidak tahu alasan apa yang harus dia buat untuk meredakan segala pertanyaan yang membuak di dalam pikirannya itu.
Sampai tangan kanannya kebas karena tangannya di tindih tubuh kurus itu?
Aroma tubuh yang selalu membuat otaknya berhasil menyebut dengan benar kalau si pemilik dari aroma ini adalah sang istri?!
Banyak sekali hal tidak terduga itu dalam waktu semalam, dan pagi ini menjadi awal baru untuk perdebatan mereka berdua, tentunya.
" Aku tidak sengaja. " jawab Ovin dengan singkat seraya mengucek-ucek matanya lalu menguap lebar dengan santainya.
" Tidak sengaja apaan? Tadi malam jelas-jelas ada di bawah." Tuntut Franz kepada Ovin untuk membuat jawaban yang memuaskan.
" Aku tidak sengaja pindah tanpa sadar." jelasnya lagi tapi wajah Franz tetap saja tidak percaya.
"Tidak sadar apa! Kau kan selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan orang." Tuduh Franz kepada sang Istri.
"............!" Ovin tentu saja langsung menghentikan semua kegiatan untuk mengumpulkan nyawanya setelah diberikan kalimat itu oleh sang suami. "Kalau tidak seperti itu kan rugi." Jawabnya, dan jawabannya sungguh enteng sekali sampai Franz terbungkam dengan kata-katanya sendiri.
Yeha...
Ovin menang lagi dalam perdebatan kata. Membuat Franz hanya melotot kearahnya sampai terlihat mata itu hendak keluar dari tempatnya, karena tidak menerima sebuah kekalahan.
Hingga satu suara milik seseorang, datang juga. " Jika kalian sudah bangun, sekarang waktunya sarapan."
Ovin dan Franz jadi saling pandang satu sama lain, tapi akhirnya Franz bergerak ke arah pintu lebih dulu lalu membukanya.
Tentu saja Franz segera menyadari kalau pintunya, 'Sudah tidak dikunci lagi. Berarti Ibu sudah membebaskanku dari neraka ini.'
__ADS_1
Memutar knop pintu, Franz pun langsung menarik pintu tersebut sampai Franz bisa melihat adanya sosok seorang pria yang cukup Franz kenal itu.
"Kenapa kau disini? Ibuku dimana?" Tanya Franz langsung kepada orang di depannya itu.
" Ibumu sudah pulang tengah malam tadi. " jawabnya dengan singkat.
" Berani pulang setelah mengurung anaknya sendiri? Dia itu Ibuku atau bukan sih? " gerutu Franz lalu melewati laki-laki ini, yaitu Fardan.
" Jadi dia kekasihmu? " Tanya Fardan selepas melihat ada satu perempuan di atas tempat tidur dan Tuan muda nya juga keluar dari kamar itu. " Dan hubungan kalian sudah sampai sejauh ini? " Fardan dengan terang-terangan memperagakan jari jemari tangannya, dimana jari dari tangan kirinya mecoba membuat huruf O dan telunjuk dari jari kanannya masuk kedalam huruf O itu tepat di depan sang Tuan muda Franz ini.
"Jangan banyak mengkhayal, aku tidak akan melakukan itu dengannya." Tekan Franz.
"Kenapa? Enak loh. Tidak penasaran? Biasanya di umurmu itu, banyak rasa penasarannya loh, apalagi yang ada sangkut pautnya dengan orang dewasa." Jelas Fardan.
"Berisik." Protes Franz atas banyak kalimat yang cukup menghasut jati dirinya untuk membangunkan sekor serigala yang lapar.
Fardan, dia adalah kepala pengurus rumah tangga milik Franz.
Bisa di bilang dia adalah pamannya Franz, dan Fardan lah yang mengurus semua keperluan pribadi yang berhubungan dengan Franz itu sendiri, perbandingan usianya juga hanya terpaut 5 tahun dan kebetulan untuk beberapa bulan ini Fardan berada di luar negeri dan sekarang dia akhirnya kembali lagi.
"Hei, aku baru menyadarinya. Enak loh, aku yakin kau pasti pernah mempraktekannya di suatu tempat, dengan diam-diam, ya kan? Mumpung ada perempuan disana, coba saja." Bisikan maut pun menyeruak masuk kedalam telinga Franz.
CTASS...
Akal sehat Franz pun seakan sudah terputus berkat ucapan sembrono dari sang paman yang benar-benar mencoba sedang menghasutnya.
"Kau, benar-benar paman yang tidak berguna."
"Franz, itu adalah perkataan yang sangat terbalik dengan posisiku yang sangat berguna dalam hal. Jika mau, aku bisa memberikanmu obat perangsang paling hebat agar bisa mendapatkan kepuasan dari jati diri seorang pria untuk bersenang-senang dengan seorang wanita.
Dan asal kau tahu, wanita yang masih perawan itu sungguh masih sempit, ketat, dan punya daya tarik yang luar biasa.
Kebetulan aku punya dua, masing-masing bisa memakannya. Karena, lagi pula punyamu sendiri saja sudah sangar begitu, pasti sudah sangat ingin minta jatah kesejahteraan kan? Nah, aku akan memberimu ini." Dan Fardan dengan sunggu berani menyodorkan dua pil ke depan wajah Franz yang antara merah karena malu juga marah.
PLAK!
Franz langsung menepis tangan Fardan, sehingga obat yang di sodorkannya itu terlempar dan jatuh ke lantai.
'Tidak Ibu, Ayah, Paman, semuanya memang sama saja.' Kata hati Franz. "Ternyata kau sama saja dengan ibuku." Kata Franz, dan segera pergi dari sana, meninggalkan laki-laki ini di depan kamar Ovin.
Fardan hanya memperhatikan dari belakang dan tetibe perhatiannya teralihkan dengan satu robot yang menabrak sepatunya.
Layar LCD nya menunjukkan emot wajah masam seperti.....
" Kenapa dia juga berwajah masam? " membanding-bandingkan antara robot pembersih debu dengan majikan baru yaitu nona Ovin.
_________
30 setelah itu akhirnya mereka berdua berangkat sekolah secara.....
" Pisah? Kalian tidak berangkat bersama? " tanya Fradan melihat keponakannya itu tidak berangkat bersama, padahal sekolah di tempat yang sama.
" Ini demi kepentingan bersama. Kalau paman merasa kasihan antar dia saja, jangan membuatku harus mengatakan lebih banyak kalimat untuk membuang waktuku. Dan pilihan mobilnya yang biasa saja." Ucap Franz, ia menurunkan kacamata hitam yang tadinya bertengger di atas kepala dan sekarang kakinya langsung menancap gas tuk melajukan mobil mewahnya.
BRUMMMM............
Berangkat sudah Franz ke sekolah dengan mobil mewahnya, lalu Yuje melihat Ovin masih berdiri di belakangnya.
"Biarkan saja apa kata dia, dan jangan pedulikan aku." Ketus Ovin, berangkat melewati Fardan dengan serta merta.
__ADS_1
Dan kedua pemuda itu pun berangkat dengan cara yang berbeda.
"Mereka berdua, kenapa sama-sama keras kepala?" Gumam Fardan.