
'Hmmm? Kenapa aku merasa gerah? Ini panas! Tapi tunggu, mulutku, aku tidak bisa bicara? Kenapa aku tidak bisa mengeluarkan suaraku?!' Ovin yang akhirnya sadar dari masa hibernasi nya, dia membuka matanya.
Langit kamar yang nampak berbeda dengan miliknya, tentu saja menjadi pemandangan utama untuk Ovin tatap.
Tapi apa jadinya jika yang menjadi permasalahannya adalah tubuhnya yang tidak bisa di gerakkan, dan mulut yang tidak bisa berbicara?
Ovin tentu saja jadi terbangun dari kantuknya itu setelah memang mendapati kalau tubuhnya di lilit dengan selimut!
"Hmphh!" Ovin berusaha untuk mengeluarkan lebih dulu saputangan yang menyumpal mulutnya.
Tapi bukannya keluar, itu membuat tenggorokannya merasa aneh dan ingin muntah.
"Hoekhmph ...... hoekmmph..!" Ovin merasakan itu berkali-kali sampai matanya berair. 'Apa yang Franz lakukan kepadaku? Kenapa mulutku di sumpal dan tubuhku di ikat? Apa dia sedang membalas dendam kepadaku?'
Dengan perasaan ingin muntah gara-gara saputangan yang di sumpal penuh di mulutnya, tubuh yang sedang meronta ingin terlepas dari gulungan itu, membawanya jatuh ke lantai.
BRUKK...
"Hoekmph...." Rasanya ingin sekali cepat-cepat mengeluarkan saputangan itu dari mulutnya, tapi tangannya tidak bisa lepas. 'Kemana sih anak itu?!'
"Kalau kau sembarangan masuk lagi kedalam kamarku, aku akan menambah hukumanmu!" Suara Franz yang terdengar kian jelas itu menjadi harapan Ovin.
"T-tidak! Aku janji aku tidak akan melakukannya lagi."
"Cih, hanya janji saja, siapa yang akan percaya? Kau buat saja sarapannya, setidaknya kau mengurangi sebutir kesalahanmu itu." Franz mempertegas ucapannya untuk memperingatkan Sean itu, lalu tangannya pun membuka pintu. 'Jadi memang ada yang menyusup ke rumahku? Tapi, jika memang penyusup itu lebih dulu masuk sebelum aku, bukankah berarti ada kesempatan untuk bertemu dengan Ovin?'
Tepat setelah memanggil nama dari perempuan yang kini jadi Istrinya itu, Franz mengerjapkan matanya, sebab ia melihat tubuh Ovin sudah terjatuh ke lantai.
"Hoekmph...! Mphh...!" Ronta Ovin.
Franz buru-buru menghampiri perempuan ini, dan ia melihat mata Ovin yang sudah berlinang dengan air mata. 'Aku tidak tahu dia bangun secepat ini.'' melepaskan saputangan yang menyumpal mulutnya Ovin.
"Hah...hah...hoekk...kau keterlaluan, kenapa menyumpalku dan mengikatku seperti ini?!" Marah Ovin terhadap Franz, karena satu-satunya orang yang bisa melakukannya adalah laki-laki ini tentunya.
Entah kenapa Franz refleks jadi sedikit membuat jarak, karena suara nyaring Ovin.
'Baru juga sebentar, kenapa dia jadi terlihat seperti orang yang sudah lama menderita?' Franz jadi merasa bersalah?
Tidak, dia tidak merasa bersalah, karena semua ini jika bukan karena tingkah Ovin yang sempat mencuri pipinya dengan mencium basah, serta menguasai tempat tidurnya dengan pose yang kurang menyenangkan, Franz pun tidak peduli lagi dengan apa yang sedang di rasakan oleh Ovin ini.
"Jika bukan karena kau tidur seperti itu, aku juga tidak akan melakukannya." Matanya terbuka lebar. 'Kenapa aku jadi mengatakan alasannya?'
"Memangnya aku tidur seperti apa? Aku kan tidur, jadi ya aku tidak tahu aku melakukan apa saja." Tanyanya lagi, Franz tampak jadi kebingungan mencari jawabannya.
Namun karena Ovin sudah bisa berbicara dengan bebas, ia jadi ngesot untuk mendekati Franz agar segera melepaskan ikatan dari selimut yang di gulung dan di ikat dengan menggunakan dasi itu.
"Kenapa aku harus mengatakannya kepadamu?"
"Kalau kau memberitahuku, aku mungkin saja jadi bisa memperbaiki posisi tidurku."
"Kau mana mungkin bisa memperbaikinya. Posisi tidurmu itu sama sekali tidak elegan." Pada akhirnya ia memberitahunya sedikit.
"Apa aku ngiler? Tapi lepaskan ini dulu, aku sangat gerah." Ovin meminta Franz untuk melepas ikatan dasi yang ada di luar gulungan selimut itu, karena di dalamnya itu, tubuhnya merasa cukup gerah.
__ADS_1
Dengan merasa enggan, Franz menarik ujung dari dasi miliknya yang di ikat simpul seperti hendak menyentuh sesuatu yang menjijikan.
Franz memang seperti itu, karena mengingat akhir-akhir ini perempuan yang ada di dalam gulungan selimut itu selalu saja menerkamnya lebih dulu.
Setelah berhasil di tarik, seperti dugaan Ovin langsung bertindak lebih. Dia langsung berdiri dan merentangkan tangannya ke atas seolah mendapatkan kemenangan.
"Akhirnya!" Tekan Ovin, bisa menghirup udara segar? "Panas~"
Ovin jadi memegang kerah bajunya, dan mengibas--kibas kerah bajunya itu agar ada angin yang masuk dan menyejukkan tubuh bagian dalamnya.
'Akhirnya aku bisa bebas. Tapi aku seperti merasa ada yang kura-' Selagi mendinginkan dadanya yang terasa panas, dia pun mencoba berpikir apa yang kurang dari kegelisahan hatinya itu.
"Apa kau bisa menjelaskan apa yang terjadi kenapa kau bisa tidur di lantai, dan apa kau bertemu dengan dua orang penyusup?"
"Itu dia!"
Suara pekikan dari Ovin itu mengejutkan Franz yang sedang menunggu jawaban darinya.
Tapi karena Ovin langsung lari terbirit-birit pergi keluar dari kamarnya, Franz pun jadi semakin di landa kebingungan.
Dia juga beranjak dari kamarnya untuk mencari tahu apa yang akan di lakukan oleh Ovin, yang terlihat seperti baru saja melupakan sesuatu, sehingga saat ingat lagi, ianya langsung mencari sesuatu itu.
Sesampainya di lantai satu, Ovin berlari masuk kedalam kamar dengan cara sedikit kasar, karena memang terkesan seperti orang yang terburu-buru.
Dan ketikan sudah sampai di dalam kamar mandi, ia tidak melihat adanya dua orang yang berhasil Ovin ikat itu.
'I-ini?! Kenapa bisa? Apa paman Chade sudah memindahkannya? Tapi tali itu ada di sini.' Ovin yang tidak mau tahu apa reaksi wajah dari dua orang yang kini berada di ambang pintu kamarnya, Ovin segera keluar dari kamar.
"Ada apa? Kenapa dia terlihat terburu-buru seperti itu?" Sean bertanya, karena ia jadi di bangunkan gara-gara suara keras dari pintu yang di buka dengan sangat kasar tadi.
Ovin mencari-cari tas miliknya.
Di bawah penerangan yang cukup, sebab lampu darurat yang ada di semua ruangan sudah menyala, Ovin jadi leluasa untuk mencari handphone nya untuk menghubungi seseorang.
"Halo, kak! Apa kau yang sudah menjemput mereka berdua?"
-"Ha? Aku saja hampir sampai. Jangan-jangan kabur ya?"-
DEG.
"Kelihatannya, memang iya, jika kakak sendiri menjawab hendak sampai." Ovin jadi tersenyum tawar mendengar kecerobohannya sendiri, sebab ia terkena obat tidur, dan tidak bisa mempertahankan kesadarannya begitu lama setelah berhasil menangkap kedua orang buronannya itu.
-"Yah, kalau seperti itu kau mau ikut aku atau di sana saja? Aku sudah ada di depan gerbang."-
Ovin sempat melirik pada dua orang laki-laki yang sudah berjalan mendekat ke arahnya, atau lebih tepatnya, Franz yang sudah ada di belakangnya persis, langsung merebut handphone nya.
"Franz! Kembalikan itu. Ini pembicaraan penting," Ovin berusaha untuk meraih handphone yang masih terhubung dengan kakak Chade?
Tapi itu yang tertera layar handphone milik Ovin.
"Pembicaraan penting apa, jangan di telan sendiri, bagi!" Tegas Franz.
"Iya tuh, bagi, jangan di makan sendiri."
__ADS_1
Karena handphone milk Ovin sudah ada di tangannya, Franz pun menekan tombol speaker.
-"Waduh, ternyata ada laki-laki lain di rumahmu ya Franz?"-
'Hah~ tamat sudah. Kenapa jadi rumit seperti ini?' Ovin yang merasa percuma dengan usahanya untuk merebut kembali handphone nya, ia jadi bernafas kasar.
Entah ini kesalahannya siapa, dirinya yang teledor karena mendapatkan obat tidur oleh mereka berdua, atau karena Chade yang telat? Atau apa lagi?
Memikirkannya saja jadi pusing. Dia sudah terlalu memikirkan hubungannya dengan Franz, tapi sekarang ia mendapatkan masalah dengan buronannya sendiri.
-"Apa karena ingin bergilir, jadinya kau menerima orang lain mas-"-
BRAK....
Franz yang tidak tahu harus mau mengatakan apa lagi mendengar ucapannya Chade yang cukup memancing emosinya, langsung membanting handphone mahal milik Ovin.
"Apa yang kau lakukan! Itu Handphone mahalku!" Sentak Ovin, berlari menghampiri handphone nya yang baru saja di banting dengan kasar oleh Franz.
-"Oh~ Ovin, jadi anak itu barusan membanting handphone pemberianku?"-
"Iya, dia membantingnya. Untung saja handphone ini kuat," Jawab Ovin, dia sangat bersyukur karena hadiah pemberian dari paman Chade itu cukuplah bagus, sampai handphone yang barusan di banting dengan tenaga yang lumayan, mengingat wajah Franz terlihat sudah marah seperti itu, masih bisa bertahan, dan bahkan tidak ada layar yang pecah.
-"Untung aku memberimu hadiah yang bagus. Tidak seperti satu anak di situ, dia pasti tidak pernah sekalipun memberimu barang kan? Oh ya, aku tahu kalau bumper mobilmu rusak, sebaiknya aku bawa sekarang saja ya, biar aku perbaiki khusus untukmu. Besok jadi bisa langsung kau pakai."-
'Ada apa ini? Kenapa si mata empat bisa di kelilingi banyak laki-laki? Siapa kakak yang sedang mata empat itu maksud? Apakah itu adalah-' Dan Sean pun menatap ke langit-langit, dia hanya tahu kalau ada satu orang yang cukup dekat dengan Ovin, dan itu adalah pria kaya raya dengan sejuta hadiah mewah. 'Berarti mobil biru yang ada di depan rumah dengan bumper rusak itu milik Ovin? He? Laki-laki itu memberinya mobil mahal itu kepada mata empat?! Padahal dia sudah punya Franz, tapi mata empat dengan terang-terangan menelepon laki-laki lain di depannya langsung seperti ini?!'
Ketika Sean melihat ke arah Franz lagi, terlihat wajah dengan rahang Franz yang kian menegang.
"Benarkah? Terima kasih. Aku jadi bisa naik mo-"
TUT.
Ovin menoleh ke belakang setelah melihat Franz kembali mengambil handphone nya, dan memutuskan panggilan itu secara sepihak.
"Jika kau kamu pergi ke sekolah naik mobil, pakai saja yang ada di garasi." Tekan Franz dan menyita handphone nya Ovin.
"Eh...! Jangan ambil itu." Ovin langsung menarik bajunya Franz, sehingga pria itu pun menghentikan langkah kakinya.
"Jangan sita itu, itu punyaku."
"Punyamu? Ini kan sudah jadi sampah. Yang kau bawa dari luar adalah sampah, jadi aku akan membuangnya." Kata Franz, menggoyang-goyangkan handphone harga sejagad milik Ovin.
Ovin mendelik kesal ke arah Franz. Ingin sekali menghajar anak di depannya itu, tapi jika seperti itu, maka sama saja durhaka. 'Tapi itu bukan handphone sembarang handphone untuk ini dan itu saja.' Ovin yang tidak ingin kehilangan barang berharganya itu pun langsung melompat untuk merebut barang miliknya.
Tapi seperti yang di perkirakan pria setinggi tiang listrik ini pun terus saja mempermainkannya, dengan mengangkat tangannya lebih tinggi.
Dan Franz yang tidak ingin mendapatkan hal seperti yang terjadi kemarin malam, dia mendorong kepala Ovin agar menjauh dan menjaga jarak dengannya.
"Kembalikan itu, itu sangat penting,"
'Dia lebih mementingkan handphone pemberian laki-laki itu?' Franz mengernyitkan matanya memindai tingkah Ovin yang sagat bersikeras untuk mendapatkan handphone nya. "Aku akan membelimu handphone, jadi jangan bersikeras ingin mendapatkan sampah ini lagi."
"Aku tidak butuh pengganti, aku hanya butuh satu itu saja. Tidak ada yang lain. Sini, jangan buat aku lebih marah dari ini." Ovin jadi lebih mempertegas ucapannya.
__ADS_1
Sean menepuk jidatnya sendiri, dia tahu apa yang sedang diperbuat oleh Franz sekarang kepada gadis itu. "Mata empat, dia sedang cemburu, apa yang mau kau lakukan pada laki-laki yang cem-"
Belum juga bicara penuh, Sean langsung di tatap sengit oleh Franz. Lagi-lagi dia jadi melakukan kesalahan besar, karena baru saja menggali lubang kuburannya sendiri.