
"Untungnya kau sudah bisa pulang sekarang," ucap Pak Rouwis pada anaknya si Reno.
Setelah di rawat sehari semalam, Reno berangsur pulih. Setidaknya bisa pulang untuk istirahat di rumah, itulah yang di maksud oleh pak Rouwis kepada sang anak.
" Iya. " Reno mengusap wajahnya dengan kasar, lalu celingukan ke samping kanan dan kiri.
Ada pertanyaan yang ingin ditanyakan.
"Tapi, sebenarnya bagaimana ayah bisa membawaku kesini?" berusaha duduk, tapi di bantu tangannya ayahnya.
"Oh..., kami membawamu dengan helikopter." tukas sang Ayah, dia tengah mengupas kulit buah pir, karena Reno memang suka dengan buah tersebut.
'Helikopter?' transportasi yang tidak mungkin bisa dia naiki seumur hidupnya, kini sudah terdengar di telinganya.
Dan rupanya ada yang membawanya?
"Kenapa bisa? Memangnya Ayah menyuruh seseorang untuk membawaku ke rumah sakit dengan helikopter? Memangnya boleh? Helikopter yang ada kan, kendaraan khusus untuk anak manja itu," yang dimaksud adalah Franz.
" Tentu saja berkat si jenius gadis mata empat yang sering kalian bully itu. Berkat dia, kau berhasil di selamatkan. Kalau bertemu, ucapkan permintaan terima kasih padanya, dan kalau bisa ajak dia untuk makan bersama dengan kita." Ucap sang Ayah, memberikan buah pir yang sudah di kupas untuk anaknya itu.
Namun, tidak seperti ayah nya yang tampak biasa saja, Reno langsung diam membisu untuk beberapa saat.
"Apa? Mak-maksudnya, bagaimana bisa ayah menyebut gadis mata empat itu si jenius? Ulangan saja hanya sampai 50 tidak kurang dan tidak lebih." Reno masih tidak percaya dengan ucapannya ayahnya sendiri itu.
Pak Rouwis tersenyum miring, "Itulah, kalau kau tidak pingsan, kau pasti bisa melihat seorang gadis membawa helikopter dari tengah laut ke kota.
Dia jadi pilot sendirian, jadi bukannya dia termasuk jenius? Lagi pula ulangan hanyalah ulangan yang dinilai dengan angka. Meskipun kau bisa meraih nilai sempurna sekalipun, apa itu akan berguna di nilai kehidupan yang sebenarnya?
Dia terlihat punya pengalaman berbeda dan lebih dari pada yang kalian lihat, paham?" kata Rouwis sambil kedua tangannya memperagakan apa yang biasanya pilot lakukan.
"Apa begitu?"
" Tidak percaya juga tidak masalah, tapi-" satu tangannya langsung mendarat di kepala Reno dan menepuknya dengan sedikit keras.
"Awhhh.....! " rintih Reno, merasakan sakit di kepalanya gara-gara ayahnya menjambak rambutnya.
Melihat anaknya benar-benar sadar, pak Rouwis pun memarahi Reno, "Apa kamu anak bodoh?! Kenapa mau saja minum wine pemberian Siren?! Kau membuat ayah cemas dan terpaksa harus mengeluarkan uang. Sudah tahu alergi masih saja memaksa minum. " ujar Rouwis sambil mengerutkan keningnya, jumlah uang yang cukup digunakan untuk makan satu bulan langsung lenyap dalam semalam.
" Aku...,- "
" Sudahlah, kalau sudah baikan, kita pulang sekarang. " ucap pak Rouwis kepada anaknya lagi, dan mereka berdua pun segera pergi dari sana setelah Reno memang sudah benar-benar baikan.
__ADS_1
'Ovin, dia yang menyelamatkanku?' pikir Reno. 'Padahal kita tidak kenal begitu dekat, tapi dia bahkan mau menyelamatkan aku?'
Reno sebenarnya tinggal satu kelas dengan Ovin.
Tapi karena Reno tidak begitu memperdulikan semua masalah yang menimpa pada anak itu, Reno pun sama sekali tidak tahu menahu soal latar belakang ataupun kehidupan pribadi dari anak itu, karena tidak ada yang begitu dekat dengan Ovin, sekalipun sekarang mereka diberitahu kalau Ovin adalah sepupu jauh nya Franz.
"Ayah, tapi apa Ayah benar-benar mau aku untuk mengucapkan terima kasih dengan mengundang dia makan di rumah kita?" Tanya Reno, dia ingin mengkonfirmasi apa yang ia dengar dari mulut sang Ayah.
"Iya, itu jika dia mau. Tapi karena kau bahkan kelihatannya tidak dekat dengannya, setidaknya beri dia hadiah." jawabnya. "Dan soal hubunganmu dengan Siren, sebaiknya kau putus saja dengannya."
"Apa? Aku tidak mau!" menolak saran Ayahnya.
"Dia sama sekali tidak cocok denganmu. Coba saja, kalau dia tahu kau punya alergi alkohol, kau tidak mungkin masuk ke rumah sakit." Ucapnya lagi.
"Tapi Ayah, aku menyukai dia. Dan disini, disini akulah yang bersalah, karena aku memang tidak pernah memberitahukan kelemahanku soal aku yang alergi alkohol kepadanya." Kata Reno, membujuk agar sang Ayah tidak membuat keputusan atas namanya.
"Tidak, Ayah bilang tidak tetap saja tidak. Mending kau fokus belajar, bukan adu cari pacar. Sekolah itu mahal, kau seharusnya belajar baik-baik, agar bisa jadi seperti Ovin." bebel sang Ayah, membuat Reno kalah debat dengannya dan memilih untuk terdiam.
"Sudah, jangan bahas itu lagi. Cepat turun, atau kau mau Ayah gendong?" tanya pria ini terhadap anaknya.
Reno yang malu jika harus di gendong oleh Ayah nya, hanya menjawab, "Kan ada kursi roda, kenapa harus di gendong?"
____________
"Kelvin!"
SPLASH~
Air dari kolam, langsung menyembur keluar, di susul oleh Ovin dan Chade, Ethan sudah lebih dulu keluar dari kolam renang.
"Phuah~ Malam-malam begini, kenapa harus kecebur segala?" racau Chade, menyisir rambut miliknya ke belakang dengan jari tangannya yang lentik.
"Itu kan salah kakak," timpal Ovin detik itu juga.
Chade pun tidak bisa menyangkalnya, selain membuat alasan lain. "Lagian, yang dipeluk kenapa hanya Ethan? Aku juga bagian dari keluargamu, seharusnya aku juga di peluk, bukan dia,"
'Cemburu?' aneh karena Chade cemburu padanya, Ovin pun menyentuh dahi paman kedua.
"A-apa?" gugup Chade terhadap wajah keponakannya yang begitu dekat, sampai nafas mereka berdua pun saling bertukar satu sama lain.
Wajah putih pucat yang begitu polos tanpa make up, bibir merah ranum yang tampak lembut, serta mata sendu yang menyiratkan kekhawatiran yang cukup mendalam, semua kekhawatiran itu tiba-tiba ada pada satu pandangan.
__ADS_1
"Vin?" panggil Ethan singkat.
"Hm?"
"Kenapa kau menyentuh dahiku?"
"Mungkin saja paman demam? Siapapun juga akan mengira wajah merah milik paman ini, seperti orang yang sedang demam," padahal dia melakukan itu untuk mengerjai paman Chade saja.
Karena dalam beberapa waktu ini, dia sering kali mendapatkan kesan dari pamannya yang tampak tidak biasa.
Tepatnya, 'Dari matanya, paman sedang memperhatikanku?'
"Hentikan, siapa yang demam sih?" menepis tangannya Ovin dari dahinya.
"Paman,"
"Aku nggak demam tuh," sahut Chade seraya menatap manik mata keponakannya yang begitu hitam, jernih, namun tampak ada sedikit kekosongan.
"Jika seperti itu, berarti--" membalas tatapan dari pamannya, Ovin tiba-tiba saa meraih wajah dari pamannya itu, dan berkata lagi, "Apakah paman sedang malu? Apa yang membuat paman malu sampai semerah ini?"
Pertanyaan serta sentuhan yang cukup menggoda, Ovin benar-benar berhasil menarik imajinasi pamannya itu pada imajinasi yang perlahan jadi liar, apalagi saat wajah mereka berdua saling berhadapan satu sama lain seperi itu.
'Jika saja dia bukan keponkanku, mungkin saja akal sehatku yang mulai hilang, langsung membuatku buta dan langsung menyambar mulutnya ini.' takut dengan bahaya yang sedang terpampang di depan matanya sendiri, Chade langsung mendorong bahunya Ovin, dan teriakan yang begitu melengking pun, langsung terdengar.
"Huahh! Tikusnya ngikutin! Ayah!" jerit Kelvin.
"Kelvin, itu hanya tikus putih, kenapa kau takut seperti itu?" tegur Ethan, sambil mengejar anaknya itu yang sudah berkeliaran tanpa tujuan.
"Maknanya, ularnya lepas!" jawabnya,
Mendengar hal itu, Chade dan Ovin serentak diam membisu, lalu sudut mata mereka sama-sama melihat seekor ular berwarna hitam, mulai masuk kedalam kolam.
"Hah?! U-ularnya!" panik dengan ular yang tampak menyeramkan itu, Ovin buru-buru pergi keluar dari kolam. "Hii!"
Takut dengan wujud ular yang bergerak di permukaan air, Ovin jadi ketakutan dan berusaha pergi dari dalam kolam.
"Ovin, anak ini jinak," kata Chade, dialah pemilik ular berwarna hitam, sampai tiku yang seharusnya jadi makan malamnya, ikut kabur juga.
"Tetap saja menjijikan! Jangan dekati aku!" begitu sudah pergi dari kolam, Ovin pun berlari ngibrit ke kamarnya.
BRAK ...!
__ADS_1