Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
PUM : Kepergian


__ADS_3

Sebuah candaan kecil, justru jadi sebuah masalah yang sedikit makin rumit.


Yah, terdengar seperti candaan?


Franz yang tidak mampu membuat alasan, sukses menerima karmanya sendiri.


Dari lorong terlihat banyak pasang mata menatap heran dirinya. Pastinya, karena melihat Ovin itu pergi dengan langkah lebar dan terburu-buru dan pintu kamar saja di tutup dengan cukup kasar.


Sudah pasti bisa di tebak oleh mereka semua kalau kedua orang ini sedang ada masalah serius, salah satu diantaranya adalah sedang marah besar.


Sangat jarang, atau bahkan bisa di bilang ekspresi dari wajah Ovin yang nampak dingin itu adalah kemarahan yang pertama kali Ovin perlihatkan kepada mereka semua.


Franz yang mengejar Ovin, sudah terlambat karena pintu Lift sudah tertutup dengan rapat, dan hanya menyisakan momen terakhir bagi Franz ini yang sempat melihat sorotan mata dari Istrinya itu.


'Tatapan benar-benar sangat dingin. Dia sampai marah sebesar itu, pasti bukan sesuatu yang bisa di selesaikan dengan mudah nih. Lagi-lagi aku juga yang salah.' seakan mata itu berasal dari beberapa rasa kebencian, amarah, sedih, dan muak akan sesuatu hal yang sedang di hadapinya karena tertahan oleh hal lain.


Tak ingin kehilangan lebih jauh lagi, Franz menekan tombol lift yang kedua. Dengan menunggu serta dihantui rasa cemas, kakinya tak berhenti bergerak untuk membuat suara yang terjadi antara telapak sepatu dengan lantai marmer itu.


TING...


Setelah pintu lift pun terbuka, Franz bergegas masuk ke dalam.


'Kenapa juga aku memprovokasi dia, bagaimana jika ibu tahu? Lalu, semua-' kepalanya menggeleng kuat, ia tidak mau memikirkan jikalau semua tunjangan hidupnya yang sudah dimilikinya di ambil oleh ibu nya.


Bahkan yang lebih parahnya lagi adalah jika karena pertikaian ini, akan membuatnya tidak mendapatkan bagian dari harta warisan milik Ayah nya yang sudah di bagi secara rata.


Apalagi syarat utama untuk mendapatkan warisannya itu, ia harus mempertahankan pernikahannya dengan gadis itu dalam kurun waktu lima tahun ke depan.


Dan jika gagal, tentu saja ia tidak akan mendapatkan apapun, selain angin lalu saja.


"Arghh..." tangannya mengacak rambutnya sendiri, ia frustasi karena bisa berhadapan kucing buas yang memang tidak bisa dikendalikan.


Karena selama ini gadis itu polos dan menuruti kemauannya, jadi tanpa sadar Franz tidak tahu bagaimana caranya mengendalikan seseorang yang berubah buas itu.


Kembali dimana lift pertama itu di isi oleh seorang gadis yang sedang menunduk, lalu secara tiba-tiba gadis itu mengangkat kakinya, sampai tidak lama kemudian suara keras langsung datang.


BRAKK....


Tendangan ia lancarkan ke pintu lift yang tidak bersalah itu.


"Orang yang tidak bisa menghargai orang lain, kenapa mulutnya itu sama sekali tidak bisa dia jaga?


Ok, karena kau bahkan menganggap aku seorang ja*ang kecil, aku akan pergi dari sisinya. Aku akan memberikan dia pelajaran terbesar sepanjang hidupnya itu." gumamnya, dimana tatapan matanya itu seperti masuk ke dalam kegelapan. 'Kaya, miskin, tindas, hina, perintah, bully- kira-kira aku kurang pengalaman apa lagi ya?' Pikir Ovin, karena semua yang ia barusan pikirkan adalah kalimat yang sudah masuk dalam daftar pengalamannya.


TING.....

__ADS_1


Ketika lift berdenting dan menunjukkan tujuannya sudah sampai, Ovin akhirnya langsung keluar dan lagi-lagi mengambil langkah yang begitu cepat dan juga lebar.


Orang-orang yang berlalu lalang menatap heran lagi , karena hanya Ovin saja yang sedang berjalan seorang diri sambil membawa koper.


"Dia, mau pergi kemana ya?"


"Kenapa dia terlihat buru-buru?"


"Wah, dia mau ngapain ya? Jangan-jangan dia mau pergi lebih dulu dari sini."


Ovin mengabaikan tatapan dari puluhan pasang mata itu.


Bahkan ketika Merli berpapasan dengan gadis si mata empat itu, Merli hanya menatapnya saja dan pandangannya mengikuti kemana arah Ovin pergi dengan kopernya itu.


"Ada apa dengannya?" tanya salah satu temannya pada Merli.


"Mana aku tahu? Kenapa tidak tanya saja sendiri saja sana?" ketusnya.


"Sepertinya memang ada yang mau pergi dari sini nih. Yah, kebetulan juga, jika ada satu orang yang bisa pergi, setidaknya orang itu adalah perempuan udik yang mengganggu pemandangan dan kedamaian di kapal ini." ucap salah satu orang disana.


"Weh, kau tidak takut? Dia itu kerabatnya Franz, kalau Franz dengan perkataanmu, kau bisa saja kena imbasnya," tegur salah satu temannya itu.


"Giliran tahu dia siapa, kenapa kau jadi begitu peduli seperti itu?" tukasnya.


Dan ucapannya itu, berhasil membuat sebagian orang di sana, tersinggung juga.


Di sisi lain, beberapa pria yang sama-sama melihat gadis itu melewati mereka, mereka diam-diam berbisik satu sama lain lagi.


"Penampilannya rasanya ada yang beda."


"Iya yah-" sambil mengelus dagunya sendiri, matanya melirik ke arah dimana sekarang hanya terlihat punggungnya gadis itu.


"Tapi apa yah?" tanyanya lagi, mengira-ngira apa yang berbeda dari penampilan yang diperlihatkan gadis yang sering di panggil Ovin itu.


"Entahlah." mengendikkan bahunya tidak tahu, sebab tidak menemukan apa yang terasa berbeda dari kepergian gadis itu.


"Masa kalian tidak sadar sih? Dia tidak memakai kacamata, bodoh." Sela salah satu orang lagi yang berhasil membuat ketiga orang tadi akhirnya sadar dengan perbedaan dari penampilan luar milik gadis yang biasanya di sebuh sebagai mata empat itu.


Ke tiga orang itu pun hanya memandang sosok wanita tadi yang sudah menghilang di ujung pintu keluar.


"K-kau benar bre~"


"Oh iya, kau benar, dia tidak menggunakan kacamata!"


Baru sadar dengan penampilan Ovin yang berbeda, mereka hanya diam sambil melamun saja, karena tidak menyangka kalau detik itu, menjadi titik dimana mereka pertama kali tidak melihat Ovin yang sering di katai sebagai mata empat, tidak menggunakan kacamatanya lagi.

__ADS_1


______________


Sedangkan di luar yaitu geladak kapal, halaman yang luas itu di jadikan tempat pesta.


Karena cuacanya memang sangat mendukung untuk mengadakan pesta di luar, maka hal tersebut pun di jadikan sebagai pesta minum.


Tentu saja ada yang berdansa karena ada musik keras yang memimpin acara itu, agar pesta mereka lebih meriah.


Tidak hanya itu, ada juga pesta kolam, yang mana ada banyak juga perempuan yang memakai pakaian minim untuk bermain di kolam yang mana airnya memang hangat.


Intinya, kegiatan di malam itu, semuanya juga cuma bersantai menikmati liburan mereka, seraya ditemani oleh pemandangan lautan yang dihiasi air yang berwarna biru karena bercahaya, cahaya efek dari adanya plankton kecil.


Dengan begitu, keindahan alam dari langit malam serta laut gelap itu, menjadi semakin cantik.


DRAP....


DRAP....


DRAP....


Tapi, tidak semua orang menyukai pesta seperti itu, dan salah satu orang yang cukup mengabaikan keberadaan dari pesta yang membuat berisik itu adalah Ovin sendiri.


'Untung saja ada helikopter cadangan yang baru saja datang. Siapa sih yang merusak tangki bahan bakar helikopternya?


Apa jangan-jangan ada hubungannya dengan perempuan yang tadi siang menyerangku?' Ovin pun semakin membuat raut wajah yang cukup serius.


Sampai hal tersebut berhasil menarik perhatian dari serang guru.


"Vin! kau mau pergi kemana?" tanya pak Rouwis melihat nak Ovin sudah keluar dengan pakaian rapi, meski rambut setengah panjangnya itu masih kusut, tapi yang dijadikan pusat perhatian adalah kopernya. 'Kenapa dia membawa koper? Apa dia mau pergi lebih dulu dari sini?' pikirnya.


Karena penasaran, pak Rouwis pun menghampiri gadis tersebut untuk dimintai keterangan, sebab dari sekian banyak orang yang sedang menikmati pesta serta liburan mereka di kapal yang besar dan mewah ini, tapi dari kemarin tidak terlihat Ovin pergi untuk menikmati tour kali ini.


Dan bahkan sampai menganggap kalau Ovin menghilang, gara-gara saat keberangkatan saja, Ovin dan Franz sama-sama absen dari jadwal perjalanan pertama mereka di hari pertama.


'Menarik sekali ya? Giliran ada yang mau pergi, baru bisa mendapatkan banyak perhatian seperti ini.' pikir Ovin, dia melihat guru olahraga itu, tengah memasang wajah penasaran kepadanya. 'Aku pikir bisa masuk sekolah adalah hal yang paling menyenangkan.


Rupanya tidak jauh berbeda dari medan perang. Sebaiknya aku pulang ke rumah paman saja lah.


Lagi pula aku juga rindu dengan kak Ethan, dan kak Chade, dan..., anak setan yang suka bercanda memanggilku Ibu.'


Terbesit rasa rindu yang tinggi, rasa kecewa yang di akibatkan oleh Franz beberapa saat tadi, sesaat sempat menghilang dengan sebuah rasa rindu yang mencuat di dalam dadanya.


Namun, semuanya harus sirna, karena di balik lift transparan itu, tampak kalau Franz tengah turun juga, untuk kembali mengejarnya.


'Dia pria bodoh. Dan aku malah suka dengan pria bodoh seperti itu. Bagaimana bisa aku jadi seperti ini?

__ADS_1


Apakah otakku jadi tumpul gara-gara ada jembatan antara perasaan ini ke otakku yang pintar?' kata hati Ovin, agak terheran pada dirinya sendiri yang begitu bodohnya, memang menyukai anak yang tampak lebih kekanakan dari diri Ovin sendiri.


__ADS_2