Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
120 : PUM : Jujur


__ADS_3

Deri handphone milik Chade itu membuat Chade mau tidak mau harus meninggalkan sejolin yang rasanya memang akan dimabuk asmara panas.


"Hmm, ada apa?" Tanya Chade setelah mengangkat telepon yang masuk itu.


Sebuah telepon dari seseorang yang mengharuskan ia pergi dari rumah nya Franz saat itu juga, sekaligus meninggalkan keponakannya berdua dengan si anj*ng golden ratvier itu.


'Ovin, aku harap kau jangan di makan dulu oleh bocah kencur itu.' Rengek Chade dalam hati, dan akhirnya Chade separuh berlari untuk segera keluar dan pergi meninggalkan kediamannya Franz.


_______________


"Mphh...!"


Di dalam kamar yang begitu remang dengan pencahayaan, sebab hanya ada satu lampu nakas saja yang menyala, dua orang dari pemilik status suami Istri itu pun saling pandang satu sama lain.


'Padahal aku pikir dia sudah tidak lagi minum alkohol, kenapa dia minum lagi? Kadar alkoholnya ini pasti tinggi.' Ovin mengernyitkan matanya saat bibirnya di raup oleh Franz yang sudah kembali di mabukkan oleh alkohol yang kembali naik mengacaukan isi pikirannya untuk berpikir jernih lagi. 'Gila, ini lama sekali! Aku sudah merasa sesak!'


Ovin sejujurnya bisa mendorong kuat Franz saat itu juga. Tapi entah kenapa, karena dia memang merindukan apa yang namanya sentuhan seperti pasangan suami Istri lainnya, dia pun menerimanya.


Atau karena satu alasan, yaitu di mabuk cinta?


Jadi sekalipun sudah mendapatkan banyak siksaan di awal-awal pernikahannya, dia seperti tidak menghiraukannya sama sekali, karena ia sudah terlanjur untuk menyukainya.


Seperti yang di katakan oleh sebagian besar orang di muka bumi, bahwa cinta membuat orang yang pintar sekalipun jadi bodoh, apalagi yang sudah bodoh, akan jadi bertambah masuk kedalam jurang cinta bodoh itu sendiri.


Banyak yang mendapatkan perlakukan tidak adil, tapi pada akhirnya, karena cinta pula, ia akan menerima tindakan dari ketidakadilan itu sendiri, walaupun harga dirinya seperti di injak.


Cinta memang tidak memandang bulu. Semua orang bisa jadi korban dari perasaan yang sebenarnya sama sekali tidak selamanya akan terus ada.


Seiring waktu berlalu, pasti akan ada juga yang berubah, walaupun tidak terlihat secara signifikan.


Dan semua itu di alami oleh mereka berdua saat ini.

__ADS_1


Dua perasaan yang awalnya saling bertolak belakang seperti minyak dan air yang tidak akan pernah menyatu, entah mau menggunakan cara dan metode apapun, karena sudah menjadi sifat mereka masing-masing, sekarang terasa seperti sudah sirna dari tempatnya.


Dan itu cukup jelas perbedaannya, seperti Franz yang awalnya sangatlah membencinya sampai sering kali melakukan kekerasan kepadanya, perlahan menjadi lebih perhatian, walaupun masih dengan sifat gengsinya, dan Ovin yang awalnya memang ingin memberikan pembalasan kepada laki-laki di depannya ini, karena dialah penyebab dari kematian Ibunya, semua itu seperti angin lalu saja.


'Mungkin karena aku sendiri sudah lelah dalam hidup tidak bisa melihat wajah orang, makannya aku jadi membuang perasaan balas dendamku dulu. Maafkan aku Ibu, aku tidak bisa melanjutkan niat awalku untuk menemukan keadilan untuk Ibu, karena aku ternyata sudah terlanjur jatuh pada laki-laki seperti dia ini.' Pejam Ovin, merasakan dirinya kembali terhanyut dalam nuansa hangat yang perlahan kian akan memanas.


Meskipun di tekan dengan cukup kasar ke lemari oleh tubuh Franz, Ovin tetap mencoba untuk menyesuaikannya, walau perlahan hal itu cukup menyiksa, karena oksigennya mulai menipis.


"Phuahh...."


Tautan diantara mereka berdua berhenti juga, setelah Franz lebih dulu melepaskannya.


Sampai dua ludah dari masing-masing, mereka berdua telan satu sama lain.


"Franz~ Kau mabuk karena apa?" Tanya Ovin, dia penasaran apa alasan dari laki-laki ini kembali minum alkohol setelah berhenti beberapa minggu ini?


Franz yang memiliki postur tubuh lebih tinggi itu, balas menatap Istrinya yang sudah tersengal-sengal kana mendapatkan pautan yang cukup lama.


Kembali membungkuk, agar wajah diantara mereka berdua sejajar, Franz pun meraih kembali wajah itu dan berbisik, "Apalagi kalau bukan karena kau. Kau pergi dengan Kucing itu kan? Belum lagi Sean, terus Chade, padahal kau sudah punya aku, tapi kenapa kau suka sekali berhubungan dengan laki-laki lain? Apa karena selama ini aku selalu melakukan hal kasar kepadamu, jadi kau mencari laki-laki lain kiranya cukup sesuai?"


Dari banyaknya penjelasan yang ada, Ovin hanya menangkap satu makna yang cukup penting, bahwa Franz saat ini memang cemburu kepadanya. Sesuai dengan apa yang di katakan Sean beberapa waktu lalu, Franz memang sudah di mabuk cemburu, hanya karena Ovin dekat dengan laki-laki lain?


"Jerry? Jadi kau menguntitku?"


"Apa masalahnya jika aku mengikutimu?" Tidak seperti biasanya, Franz menjawabnya dengan cukup jujur!


'Dia kan mabuk, sampai menjawabnya dengan jujur seperti itu, berarti kelemahannya memang ini?' Walaupun pencahayaannya cukup remang, Ovin masih sedikit mampu untuk melihat ekspresi wajah dari Franz ini.


Seperti sebuah kesempatan dalam kesempitan, karena Franz ternyata memang mabuk dan karena itulah dia jadi bisa menjawab jujur, Ovin pun jadinya sengaja memberikan pertanyaan lain.


"Kalau begitu, apa kau menyukaiku?" Sebagai balasan, Ovin jadi sama-sama meraih wajah Franz.

__ADS_1


Tapi karena di saat itu posisinya terlihat kurang nyaman, karena harus melihat Franz berdiri dalam posisi membungkuk, Ovin menautkan kembali ciumannya, dan mendorong tubuh Franz itu untuk terus mundur ke belakang.


Franz yang memang entahnya cukup mendambakan nuansa lembut itu, menerima aksi yang di berikan oleh Ovin, sampai langkah kaki mereka berdua saling teratur, Ovin melangkah maju dan Franz sendiri mundur.


Tapi akhir dari siapa yang jatuh ke atas kasur, adalah Ovin sendiri.


BRUKK....


"Phuah..."


Setelah berhasil kembali mengambil nafas, karena ciuman mereka berdua berakhir, Franz kembali menatap Ovin, dan kembali menjawab. : "Aku me ...-...-...-....-" Kalimat yang terus di ucapkan oleh mulut itu langsung tidak terdengar saat adanya kejutan yang cukup mengganggu.


JDERR.....


Kilatan yang di susul dengan dentuman petir itu membuat kedua wajah milik mereka berdua pun terlihat cukup jelas. Wajah Franz yang terlihat dingin, dipadukan dengan wajah milik Ovin yang terlihat terkejut.


'Apa yang baru saja dia jawab tadi? Aku sama sekali tidak mendengarnya.' Ovin jadi bingung, dan ingin agar Franz mengulangi jawabannya, karena yang Ovin inginkan adalah bisa mendengar jawabannya Franz secara langsung. "Franz apmph.."


Hanya saja, keinginan Ovin untuk meminta kembali Franz untuk menjawabnya lagi, mulutnya lebih dulu di bungkam dengan mulutnya Franz.


'Tapi jika dia sampai seperti ini, artinya dia memang menyukaiku balik kan?' Sebab keduanya kembali termakan oleh alkohol yang kembali naik ke kepala, dan sekalipun Ovin tidak minum alkohol, tapi karena ia tertular alkohol dari air liurnya Franz, Ovin pun jadinya seperti sama-sama di buat mabuk.


Meskipun di luar hujan kian menjadi lebat dan di sertai kilatan petir lalu dentuman yang cukup keras, tidak membuat keduanya lolos dari yang namanya saling bersaing untuk mendapatkan has*at dari diri mereka masing-masing.


'Ovin, kau itu hanya untuk aku seorang. Tidak boleh ada yang membawamu pergi lagi selain aku.' Hanya itulah yang sempat terlintas di kepalanya Franz, saat dia sedikit sadar, tapi hanya untuk beberapa detik saja, sebelum ia lebih mendalami permainan yang akan di kerjakan oleh mereka berdua.


JDERR.......


"Ah~ Lebih kuat lagi." Pinta Ovin terhadap Franz.


Dan suasana dari malam yang kian menjadi panas itu pun semakin membawa mereka berdua semakin menjadi-jadi.

__ADS_1



__ADS_2