Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
108 : PUM : Kenyamanan


__ADS_3

Mengubur kembali apa yang pernah mereka berdua alami, Franz dan Ovin pun menjalani ritual mereka berdua.


Franz terus menatap wajah Ovin yang cukup polos. Tidak seperti yang terlihat, jika memakai kacamata maka tampangnya jadi terlihat seperti orang yang culun, Ovin yang kini tidak memakai kacamata, benar-benar memperlihatkan iris mata nya yang berwarna hitam sedikit kecoklatan.


Dan wajah polos tanpa make up ini, benar-benar mengundang sesuatu pada diri Franz.


Aroma khas dari make up sering Franz jumpai, yang mana aroma nya cukuplah mengusik, maka aroma mengganggu itu tidak ada sama sekali pada diri Ovin ini.


'Hanya dengan melihatnya saja, dia memang punya wajah yang bisa memanipulasi mata orang. Apa yang sebenarnya selama ini aku lihat?' Franz masih menatap mata Ovin. 'Biarlah, apa yang sudah berlalu aku akan mengabaikannya lebih dulu. Biarkan aku bermain dulu dengannya.


Dari pada nganggur tidak melakukan apapun? Ah ..., jelas aku sudah kalah dengan benteng yang coba aku buat. Apa kau puas ha? Dasar.' Franz memejamkan matanya sesaat, lalu kembali terbuka dan mengalihkan arah pandangannya pada seragam Ovin yang tidak di kancing dengan benar, karena salah tempat.


Tidak membiarkan waktu terus terbuang dengan percuma, Franz segera menarik dasi yang mengikat lehernya itu, dan melemparnya ke sembarang tempat.


"Kau menang, apa kau puas?" Tanya Franz dengan tatapan mata yang cukup dingin, sambil melepaskan blazer miliknya, membuangnya dengan kasar, lalu setelah itu dia pun membuka satu per satu kancing baju nya.


Hingga terlihatlah, tubuh bagian atas Franz yang sudah separuh telanjang itu, memperlihatkan deretan otot yang ternyata memang benar-benar berhasil terbentuk dan membuat roti sobek.


"Entahlah." Meski ekspresi yang Ovin perlihatkan terlihat seperti ekspresi yang datar, maka tidak dengan isi hatinya.


BRUKK...


Tanpa melepaskan pakaian terakhir nya dari tubuhnya, Franz kembali memposisikan tubuhnya di atas Ovin.


"Tanggung sendiri akibatnya." Pesan terakhir Franz. Lalu tanpa aba-aba, Franz segera mendaratkan mulutnya di leher Ovin.


"I-iya." Dan rasa geli itu akhirnya membuat bulu kuduknya semakin meremang.


Satu jilatan mendarat dengan sempurna, membasahi kulit tipis dengan aroma keringat milik Ovin yang terasa harum?


'Kenapa keringat orang, bisa seharum ini? Apakah ini yang namanya feromon? Feromon untuk menarik perhatianku ya? Jadi apakah aku termasuk sudah akan jadi hewan?' Dalam diam dia tersenyum miring.


Franz sebenarnya sama sekali belum melakukan rangsangan seperti itu, tapi hasil belajar mengajarkan untuk melakukan itu, maka dari itu, Franz pun paham betul daerah mana saja yang perlu di jamah?


Ya ..., Franz akan menjamah semuanya?

__ADS_1


Di tengah-tengah langkah pertamanya, dia sedang memikirkannya. Jadi dia pun memerlukan waktu lebih, apakah malam ini dirinya akan makan malam dengan menu paling spesial atau tidak, itulah yang menjadi bahan pertimbangannya.


'Punyaku memang sudah tegang. Tapi jika aku melakukannya ..., aku sama sekali tidak mau dia hamil. Dan kado yang di berikan oleh Ibu ku untuk Ovin, juga sudah di buang.


Tapi aku sangat penasaran dengan mimpi yang waktu itu sempat aku dapatkan. Apalagi yang saat ada di dalam mobil, itu memang sudah hampir, tapi karena belum masuk saja rasanya sempit, aku jadi tidak melanjutkannya.


Apalagi karena petir, itu sama saja seperti peringatan agar aku tidak melakukannya lebih dulu.


Ha ..., mungkin karena memang salah tempat.


Tapi ini sudah di tempat yang tepat, jadi tidak mungkin ada halangan lagi, kan?'


Franz kemudian melepaskan tempelan antara bibir nya dengan kulit leher milik Ovin itu, dam bertanya : "Kapan kau terakhir haid?"


Satu pertanyaan singkat itu membuat Ovin diam sesaat, lalu melirik ke arah samping kirinya, dimana kepala Franz berada di sana. "Dua puluh satu hari yang lalu."


Franz memejamkan matanya sesaat dan membuka matanya dengan tatapan penuh perhitungan.


'Ah ..., apa dia mau melakukannya tanpa menggunakan itu? Karena takut aku hamil, makannya menanyakan haid ku?' Lirik Ovin.


'D-dia yakin mau melakukannya?!' Ovin tercengang, karena dia entahnya bisa-bisanya merasakan senang ketika pria di atasnya ini selalu membuat perkara dengannya.


Karena saking senangnya, Ovin pun langsung melingkarkan kedua tangannya ke belakang leher Franz, membuat mereka berdua berpelukan.


Mendapatkan kode bahwa dianya sudah siap, Franz pun melancarkan aksinya.


Dia menarik kerah dari seragam yang di pakai oleh Ovin, dan mencium bahu yang sudah polos itu, karena rupanya Ovin memang mengancing seragamnya dengan buru-buru karena ingin menangkap basah perbuatan dari Fardan barusan.


CUP.


"Ahh~"


Mendengar de*sa*han itu, Franz langsung mengernyitkan matanya. Sebab suara aneh yang keluar dari mulut Ovin itu sukses membuat diri Franz semakin ingin mendengarnya lebih banyak dan lebih lama.


'Ini sungguh di luar rencana pertamaku.' Karena dirinya sudah terjerat dalam situasi yang dia buat sendiri karena keputusannya yang sudah melenceng dari niat awal, Franz pun hanya bisa pasrah, atau mencoba membiarkannya saja, layaknya air yang mengalir.

__ADS_1


Menarik lebih sisi seragam itu setelah berhasil membuka semua kancingnya, wajahnya dia daratkan di atas buah.


CUP.


'Ini-' Franz membelalakkan matanya, saat dia akhirnya menjadi orang yang me*sum juga. Tapi karena Franz mencoba untuk tidak memperdulikan soal julukannya nanti, dia tetap melanjutkan pekerjaannya untuk membuat Istrinya itu lebih terpancing.


"Anghh~ F-franz, d-disana geli." Racau Ovin dengan pikiran sudah mulai kosong dengan segala sentuhan yang dilakukan oleh Franz itu.


Franz berusaha tidak mendengarnya. 'Ya, teruskan. Biarkan suaramu terus berteriak seperti itu.' Ledek Franz, perlahan jadi menganggap Ovin sebagai perempuan rendahan, karena mau mengiyakan untuk melakukan itu dengannya. 'Ini kenyal, seperti jelly. Tapi tidak bisa di makan. Hanya saja, kenapa otakku jadi mencerna satu pertanyaan ya? Seperti apa rasa Asi? Sebenarnya apa yang terjadi dengan isi kepalaku? Padahal sebelum bertemu dengannya, aku bahkan sama sekali tidak pernah memikirkan hal seperti ini.'


Memejamkan matanya, Franz memindahkan posisinya dari kiri ke kanan, dan melakukan segala sentuhan agar Ovin bisa bersuara nakal.


"Ahh~" Ovin sedikit menjerit karena di gigit. "Itu sakit."


"Tapi ini menggemaskan, aku jadi sangat ingin sekali mengunyahnya." Sahut Franz.


Karena merasa sakit, Ovin jadinya menjambak rambut nya Franz dengan lebih kuat. Dua sensasi bersatu menjadi kesatuan yang cukup berkontradiksi.


"Tapi itu sakit, j-jangan di gigit." Sambil menahan sakit, tubuh Ovin pun sampai melengkung karena di bawah sana juga ada sesuatu yang sedang saling menyapa.


"Kalau begitu bagaimana dengan ini?" Melanjutkan perbuatannya untuk mengigit, tangan kanannya berulah di sebelah kiri milik Ovin dan merem as nya.


"Anghh~ Jangan kuat-kuat, itu sakit, apa kau tidak mengerti?" Protes Ovin, dia benar-benar disiksa dengan perbuatan Franz, karena melakukannya tanpa perasaan.


"Ya, aku memang tidak mengerti. Yang aku mengerti adalah memuaskan has*rat kita berdua kan? Sini, seperti yang di lakukan oleh Erin, mungkin ini bisa jadi lebih besar jika aku terus memijatnya."


"K-kau ..., ah~ hahahaha.... Itu geli Franz, ah~" Lenguhan tak jelas itu terus saja keluar dari mulutnya tanpa bisa Ovin kontrol lagi.


Sampai tiba-tiba saja ada sesuatu yang mengejutkan,


PRANKK...!


Dua wajah dari sepasang suami istri yang sedang menikmati kebersamaan mereka berdua berubah menjadi wajah terkejut.


Kedua mata saling melotot sampai seperti mau keluar dari tempatnya, dan masing-masing pun punya pertanyaan yang sama, gara-gara ada seseorang yang berhasil mengganggunya.

__ADS_1


"A-apa ..., apa yang kalian berdua lakukan Itu?!"


__ADS_2