
Hidup memang selalu tidak sesuai dengan ekspetasi.
Dan mau siap atau ngga siap, harus siap menghadapi apapun halangan yang mendatanginya.
Dan cobaan itu terjadi untuk dua anak pemuda ini.
BRAKKKK........
TETT........TETT.......TETT..........TETT...........
Suara keras tadi mengagetkan penghuni rumah yaitu Fardan dan Ovin. Mereka berdua buru-buru keluar dari rumah setelah mendengar suara barusan.
Suara akibat Franz datang dan sengaja langsung menabrakkan mobil biru milik Ovin yang terparkir tepat di depan rumah itu dengan mobilnya sendiri.
" Ke...napa? " Ovin hanya tercengang melihat bumper bagian belakang sudah penyok hanya dalam dua detik tadi pastinya.
" Sorry, kelepasan." kata Franz mengangkat kedua tangannya seakan kalau apa yang barusan di lakukannya itu adalah ketidaksengajaan.
Setelah Franz turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah tanpa memberikan penjelasan apapun lagi kepada si pemilik mobil. Franz sengaja menabrakkan mobilnya sendiri ke mobilnya Ovin..
'Salahkan sendiri, menerima mobil dari orang lain. Aku benar-benar tidak sudi ada mobil itu disini, apalagi itu pemberian dari laki-laki itu, dan sekarang mobilnya justru di parkirkan di depan rumahku? Yang benar saja, aku akan segera memanggil orang lain agar membawa mobil rongsokan ini ke tempat pembuangan mobil.' Franz pun tetap masuk, tanpa memperhatikan ovin yang masih mematung di teras rumah karena mobil pemberian dari Chade sudah penyok.
" Sengaja kan? " tanya Ovin.
Sejenak Franz berhenti, ia memutar tubuhnya menghadap Ovin walau jarak kedua orang ini 7 m.
" Kalau iya kenapa? Aku tidak mau ada barang apa lagi kendaraan pemberian orang lain parkir di depan rumahku " Jawab Franz dengan jelas.
"..........!" Gadis ini sedikit kaget namun hanya sesaat.
" Orang lain apa? Itu hadiah dari kakak ku, Chade" Jawab Ovin.
"Yang dimaksud itu kakak dari mantan pacar? Ya kan?" Salah satu alisnya terangkat.
'Franz ini, dia ini orang yang gampang salah paham, tapi.....mobil baruku-' Ovin melirik ke belakang dan langsung berwajah masam saat melihat mobil baru nya penyok, padahal baru selesai di modifikasi. "Pasti ini biayanya mahal " bisik Ovin sambil mencoba memperhitungkan kerugiannya itu.
'Dia berani juga dibelakangku bermain-main dengan laki-laki lain.' Franz berbalik dan meninggalkan Ovin yang masih diam berdiri menatap mobil penyok.
"Padahal baru saja mendapatkannya." Ringih Ovin, melihat nasib dari mobilnya yang berakhir dengan cukup malang.
" Kenapa tidak pakai mobilnya Franz? Toh kau memiliki hak untuk memakainya." Sela Fardan, mencoba menghilangkan kesedihan dari Istri sang keponakannya itu.
" Tidak, jika bukan dari mulutnya sendiri aku tidak akan pernah menggunakannya." Jawab Ovin.
Alasan dari dirinya enggan menggunakan mobil nya Franz karena Franz sendiri tidak menawarinya, maka dari itu Ovin pun tidak akan akan pernah menyentuh mobilnya itu.
Melihat hal itu, Fardan jadi menggelengkan kepalanya sendiri dengan pelan, karena Fardan benar-benar menghela nafas sebab Ovin memang sama sekali tidak menyadari kalau Franz lah yang sebenarnya sedang berharap kalau Ovin bisa mengatakan keinginannya untuk memakai mobilnya.
__ADS_1
Tapi karena respon Ovin sendiri sudah seperti itu, maka Fardan pun tidak akan mengatakan apapun lagi.
_____________
'Ovin..Ovin...Ovin.' Panggil Franz di dalam hatinya seraya membuat langkah lebar dan akhirnya mengakhiri aktivitasnya itu dengan langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.
BRUKK....
'Sialan. Kenapa hatiku merasa berat melihat dia dekat dengan pria itu?' Apa yang membuat Franz berkata demikian di dalam pikirannya itu, karena dia melihat dengan mata kepalanya sendiri Ovin terlihat begitu senang di depan Chade, pria yang mengaku-ngaku dirinya sendiri adalah kekasihnya Ovin sebelum Ovin menikah dengan Franz.
'Kenapa aku benar-benar benci melihat dia menerima barang dari orang lain. Padahal sangat jelas kan, kalau pernikahanku ini hanyalah pernikahan paksa tanpa ada cinta sama sekali.
Dia bisa bebas melakukan apa yang dia inginkan. Itulah yang seharusnya aku pikirkan. Dia bebas mau apa dan melakukan apa, dan aku pun juga bebas melakukan apapun yang aku inginkan.
Tapi aku? Justru malah merasa cemburu? Sebenarnya apa-apaan dengan hatiku ini?!' Franz yang merasa frustasi itu langsung mengepalkan tangannya lalu memukulnya ke permukaan kasur dengan sekuat tenaga.
Franz sebenarnya merasakan perasaan yang sama dengan apa yang dia rasakan ketika dia pertama kali jatuh pada pandangan pertama dan berakhir dengan menyukai Bella.
Tapi sayangnya ada satu hati yang menyatakan adanya perbedaan antara dirinya yang menyukai Bella dengan satu kedatangan perasaan yang sedikit sama tapi membuahkan efek yang lebih besar kepada Ovin.
Saat Bella banyak di sukai oleh laki-laki lain, tentu Franz merasa memang ada rasa cemburu. Tapi karena Franz cukup percaya diri dengan perasaan dan hatinya yang mengatakan kalau Bella bukanlah perempuan yang cocok dengan laki-laki lain selain diri Franz, maka Franz bisa untuk tidak mempermasalahkan hal itu.
Tapi ini berbeda.
Ovin.
Padahal hanya di dekati oleh dua pria yang menyatakan perasaan yang sama kepada Ovin. Tapi hal itu justru menjadi satu masalah yang cukup besar untuk diri Franz, sebab perasaan dari mereka itu berhasil membuat hati Franz jadi merasa buruk, lebih buruk daripada tidak mendapatkan sepertiga warisan dari Ayahnya.
Benar..
Alasan Franz mau menerima pernikahannya ini juga sebenarnya karena ada satu alasan besar yang sudah pasti, dimana dia akan mendapatkan sepertiga warisan milik Ayahnya.
Dan jika dalam kurun waktu lima tahun pernikahannya dengan Ovin baik-baik saja, maka Franz akan memperoleh warisan dari sang Ibu juga.
Itulah, mengapa Franz mau-mau saja menikah dengan Ovin. Meskipun tanpa dasar dari sebuah cinta, maka Franz pun mau melakukannya juga.
"Tapi semua pikiran itu, justru membuatku terjebak dalam perasaanku sendiri." Gumam Franz.
"Franz!"
Dan di tegah-tengah lamunannya itu, Ovin pun tiba-tiba saja berteriak.
Franz melirik ke arah pintu itu, dan benar saja tidak lama kemudian Ovin membuka pintunya.
"Padahal waktu itu aku sampai pernah memperingatkannya dengan keras, apa karena sempat demam, dia tidak ingat dengan apa yang terjadi beberapa haru yang lalu?" Gerutu Franz, lalu di saat dia hendak mengabaikan keberadaan dari gadis itu yang terlihat akan mengatakan banyak hal dengan mulut mungilnya, semua itu langsung menghilang dalam sesaat.
"Franz! Kau tidak tuli kan?" Tanya Ovin dengan nada yang cukup tegas.
__ADS_1
"Ya..aku tidak tuli." Sahut Franz dengan nada yang cukup malas. Karena dia sudah lebih dulu di landa rasa kesal sebab sepulang sekolah, Ovin bisa bersenang-senang dengan mobil pemberian dari Chade itu.
"Franz..Franz..franz...oh Franz.." Panggil Ovin, sengaja memanggilnya secara berulang kali, karena dia senang jika melihat Franz kembali salah tingkah lagi dengan tindakannya itu.
"Berisik." Franz yang sungguh malas untuk meladeni Ovin yang serba di perhatikan oleh laki-laki lain, yaitu Jerry, Chade dan Jordy tentunya, karena Franz sadar dirinya saat ini sedang merasakan rasa cemburu dan tidak mau membuat Ovin mengetahui perasaannya itu, langsung meletakkan lengan tangannya itu untuk menutupi sepasang matanya.
"Franz..franz..!" Ovin yang tidak mau kalah dengan ketidakpedulian Franz yang berani mengabaikan panggilannya itu, segera meraih tangan kanan Franz untuk segera mendengarkannya.
PLAK!
Tapi apa yang Ovin dapatkan, tangannya langsung tepis dengan kasar.
Tangan kanan yang akhirnya di pakai untuk menepis tangan Ovin yang hendak mengusiknya itu pun membuat mereka berdua jadi saling pandang satu sama lain. "Aku kan sudah bilang, aku tidak tuli, jadi jangan memanggil namaku terus. Jadi kenapa memanggilku terus?"
Ovin yang mendapatkan tepisan kasar dari suaminya sendiri itu pun terdiam sambil mengusap punggung tangan kanannya yang cukup sakit itu.
Tapi tidak lama kemudian, Ovin pun angkat bicara juga. "Karena kau harus tanggung jawab dengan mobilku."
"Kenapa aku harus tanggung jawab pada sampah yang sudah jadi rongsokan itu? Kan aku sudah pernah memperingatkan kau agar kau tidak membawa sampah dari luar rumah ke wilayahku. Jadi tidak ada yang harus aku dipertanggungjawabkan." Kata terakhir berakhir Franz, memberikan serangan telak kepada Ovin yang sudah mematung.
Tapi itu tidak berlangsung lama, karena Ovin tiba-tiba memberikan ekspresi yang begitu dingin, dan apalagi sambil mengucapkan lagi namanya, "Franz."
"Apa?" Tiba-tiba bulu kuduknya merinding, jika mengingat perempuan yang ada adi di depannya itu, kemarin sempat membuat insiden yang cukup mencengangkan, dimana tangan yang terlihat ramping juga kecil, sampai Franz pernah berpikir kalau tangan itu bisa Franz remukkan dengan begitu mudah seperti kerupuk, ternyata di dalamnya itu memiliki tenaga yang cukup besar untuk mengguncang meja kayu yang tebal itu.
"Tanggung jawab." Tekan Ovin.
Franz pun bnagkit dari acara berbaringnya dan duduk menghadap Ovin. “Aku sudah bilang, aku tidak akan tanggung jawab.” Menolak untuk menuruti permintaan Ovin.
“Tapi-”
“Tidak ada tapi-tapian. Aku sudah bilang jangan bawa barang apa pun dari luar kedalam wilayahku ini.” Sela Franz detik itu juga.
“Tapi itu kan hadiah mobil pertamaku. Dan kau menabraknya seperti begitu saja sampai seperti itu?”
Dan Franz pun menolaknya dengan segala alasan. “Bukankah waktu itu kau bilang kau tidak bisa menyetir mobil? Jadi apa gunanya mobil itu ada padamu? Atau kau berbohong kepad-”
“Kan aku memang sengaja berbohong karena aku tidak mau kau berurusan dengan berdebat terus dengan ibumu. jadi apa salahnya jika aku berbohong demimu?”
‘Mulutnya itu, dia ternyata pintar berbicara ya?’ Tatap Franz. Franz tidak begitu peduli dengan hal yang sudah berlalu itu.
Lagi pula berdebat dengan Ibunya?
‘Kali ini yang anehnya adalah aku merasa lebih suka berdebat dengan Ibuku yang menyebalkan itu ketimbang aku melihatmu langsung menerima pemberian dari laki-laki lain.’ Tidak akan ada yang percaya, bahwa Franz pada akhirnya punya pikiran untuk memihak musuh bebuyutannya yaitu ibu yang menyebalkan itu ketimbang dengan Ovin yang mampu menarik perhatian dua laki-laki lain.
Itulah yang Franz pikirkan saat ini. Dia benar-benar tidak menerima bahwa orang yang ada di depan matanya ini menerima pemberian barang dari orang lain.
Tapi karena Franz cukup gengsi untuk mengungkapkan perasaannya itu, makannya Franz mengatakan hal lain di luar keinginan hatinya, agar dia tidak di pandang remeh oleh Ovin karena apa yang Franz lakukan selama ini kepada Ovin ternyata berujung dari perasaannya yang awalnya tidak suka berakhir dengan suka?
__ADS_1
‘Yang benar saja, aku suka dengan dia? Semoga saja tidak. Tidak…tidak...tidak’ Benak hati Franz, agar tidak terpengaruh dengan apa yang namanya peralihan cinta. Rasa suka yang berujung dengan cabang, layaknya ranting pohon.