
Di dalam kamar.
Dua orang perempuan itu saling mengunci pergerakan satu sama lain, setelah senjata mereka berdua sama-sama berhasil di lucuti oleh lawan merek sendiri.
“Akh..” Rintih perempuan berseragam pelayan ini, setelah punggungnya baru saja di tendang, dan sekarang dia saat ini dia dalam posisi tengkurap, dimana tubuhnya sedang di tindih oleh Ovin dan salah satu kakinya di tarik ke belakang, sehingga rasa sakit pun langsung di terimanya.
Tapi karena dia tidak kehilangan akal dengan posisinya yang sedang terpojok itu, wanita ini langsung melepaskan kalung miliknya yang memiliki bandul seperti bentuk cabai, tapi ketika di bagian atas dari bandul itu di tekan, sebuah logam panjang langsung keluar dari ujung bandul.
Dengan begitu, bandul itu pun dia gunakan sebagai senjaa untuk menusuk pinggangnya Ovin.
‘Rasakan ini!’
GREEP….
Ovin yang menyadari adanya serangan dadakan dengan menggunakan senjata tersembunyi itu, langsung menangkap pergelangan tangan perempuan tersebut dengan kuat.
‘Sebenarnya bagaimana bisa dia masih punya kekuatan di bawah kendali obat itu?’ Pikirnya.
Berdasarkan informasi yang ia dapat, obat perangsang yang memabukkan itu seharusnya membuat si pemakan mendapatkan efek yang luar biasa seperti tenaga menjadi lemah, tapi di satu sisi punya naf*su yang cukup kuat untuk mendapatkan pemuas.
Tapi berbeda dengan deskripsi yang dia dengar, Ovin justru seperti orang yang tiba-tiba memiliki super power layaknya seorang pria.
Dan karena itu pula, lawan yang seharusnya dapat dia kalahkan, sekarang menjadi imbas untuknya.
“Katakan, siapa yang menyuruhmu melakukan ini kepadaku.”
“Aku tidak akan menjawabnya.”
‘Hahh~ Aku ingin sesuatu yang sejuk. Tapi perempuan ini, aku harus menindakinya lebih dulu.’ Pikir Ovin.
Karena tidak mendapatkan jawaban yang cukup memuaskan, Ovin semakin mencengkram tangan dari musuh yang sudah dia duduki itu dengan lebih kuat, sampai kuku Ovin yang sudah mulai panjang itu perlahan menancap masuk kedalam kulit dari perempuan ini.
“Kau tidak mau mengatakannya ya?” Tanya Ovin dengan nada lebih rendah.
Dengan wajah yang memerah seperti kepiting rebus, dan ekspresi wajah yang begitu datar, padahal terlihat seperti orang yang sedang mabuk, Ovin pun berkata lagi.
“Baiklah, selama otakmu masih ada, itu sama sekali tidak masalah untuk kami.” Tekan Ovin.
“A-apa?” Terkejut dengan ucapan ovin yang terdengar lebih seram ketimbang sebuah pembunuhan.
“Apa?” Salah satu alisnya terangkat. Ovin sama sekali tidak begitu perduli dengan ekspresi takut dari perempuan yang ada di bawahnya itu. “Walaupun tubuhmu di mutilasi, selama kepalamu ada di tanganku, dan sekalipun mulutmu sudah bungkam selamanya, itu tidak masalah untuk orang sepertiku.” Kata Ovin, semakin menambah kesan horor di dalam kamar yang cukup remang itu.
‘Gadis ini, dia menakutkan dari yang aku kira! Apa ak-’ Dan suara rintihan itu pun keluar dari mulutnya. “Akhhh..! Tu-”
“Terlambat.” Sela Ovin. Dia langsung merebut bandul kalung itu dan melemparya dengan cukup kasar hingga bandul itu benar-benar menghantam dinding dan pecah. “Kau tahu, aku sangat benci jika ada orang yang tidak menjawab pertanyaanku, makannya jangan salahkan aku melakukan ini.”
__ADS_1
Dan Ovin yang memang dalam posisi memakai rok, langsung mengangkat roknya sampai ke pangkal paha, dan di situlah Ovin masih menyimpan cadangan dari pistol nya.
Dia mengambilnya dan mengarahkan moncong pistol itu ke belakang paha dari perempuan ini.
“A-aku akan me-”
DOORR…
Lalu semua kalimatnya itu langsung berubah menjadi teriakan yang keras.
“Akhhh….!” Teriakan yang begitu memilukan itu sukses mengisi kamar redup tersebut.
Dan rok putih serta pakaian yang Ovin pakai langsung terkena cipratan darah akibat perbuatannya sendiri.
“Akhh….berhenti! Jangan lak-”
Tidak hanya satu saja, satu tembakan lagi pun kembali mengisi ketegangan di dalam kamar tersebut.
‘Ini sangat panas,” Ovin yang semakin tidak kuat dengan hawa panas yang menyerang tubuhnya, langsung menggertakkan giginya. ‘Franz, aku butuh dia. Ah~ Tidak, apa yang harus aku lakukan sekalipun ada dia?’
Saking panasnya, Ovin yang sudah selesai memberikan pelajaran kepada penyusup itu dengan menembak bagian kakinya, langsung melepas dua kancing bagian atas, yang mengaitkan kedua sisi baju dari kemeja pendek yang ia pakai, sehingga dia pun sempat memperlihatkan belahan dadanya.
“Akhh! Sakit!”
“Tahu sakit, tapi seenaknya…melawanku. Hah~” Ovin tanpa sadar jadi melenguh sendiri. “Kau, tidak akan mati, kecuali kau kehilangan ….., banyak darah. Akhh!” Ucap Ovin di bawah tekanan yang membuat pikirannya semakin tidak karuan. ‘Aku harus mengunci kamar ini dan pindah ke kamar lain.’
‘Ini panas…, kenapa efek obatnya bisa sekuat ini?’ Dengan penampilan kacau, Ovin dengan langkah kaki sempoyongan, dia berusaha pergi ke kamar lain. ‘Siapa yang melakukannya? Apa Ibu nya Franz ada kaitannya? Pasti dia, biasanya orang itu selalu berbuat seenaknya agar aku bisa lebih dekat dengan Franz.'
Mendapatkan kamar yang tidak jauh dari kamar tadi, Ovin langsung menempelkan kartu yang ia punya untuk membuka kamar tersebut.
KLEK.
Memiliki dekorasi kamar seperti yang pertama, Ovin buru-buru masuk kedalam kamar itu dan langsung menanggalkan semua pakaiannya. Setelah itu Ovin pergi kedalam kamar mandi dan langsung masuk kedalam bathtub dengan keran air dingin langsung di nyalakan.
"Ahh...ini masih belum cukup. Aku ingin sesuatu yang ..., lebih dingin." Suara yang semakin parau, Ovin benar-benar tersiksa dengan tubuhnya yang tiba-tiba saja menginginkan lebih.
Sesuatu yang berkedut di dalam dirinya membuat kepalanya semakin menunduk dan tubuh semakin meringkuk. Meskipun air dalam bathtub perlahan naik, semua itu sama sekali belum membuat tubuhnya merasa puas untuk menurunkan suhu tubuhnya yang terasa panas, seperti orang yang sedang demam.
'Apa aku..., bisa menahan ini? Tapi akan tahan berapa lama?' Pikir Ovin. Dan pikirannya pun semain di penuhi dengan gambaran tubuh Franz.
Ya, dia ingin mendapatkan tubuhnya, tapi semuanya tidak bisa ia lakukan karena kendalanya hari ini ia memang sedang dalam masa haid.
Lantas apa yang bisa ia lakukan saat ini?
______________
__ADS_1
"Tuan muda, apa yang membawa anda kemari?" Tanya sang nahkoda dari kapal kepada Franz yang baru saja naik ke dek kapal, setelah mengarungi laut dengan menggunakan Speedboat.
Franz sesaat celingukan untuk mencari-cari batang hidung Ovin yang kali saja langsung mencebur masuk kedalam kolam yang kebetulan memang ada di depannya saat ini.
Tapi keberadaan dari perempuan itu sama sekali tidak kelihatan.
"Apa kau melihat is-" Langsung tersadar dengan mulutnya yang hampir mengatakan kalimat tabu untuk diberitahukan kepada orang lain, Franz langsung meralatnya. "Apa kau melihat perempuan membawa koper, dia belum lama turun dari helikopter."
"Oh, Nona Ovin? Beliau pergi masuk ke lantai empat, kalau kamar saya memberikan kartu VVIP, jadi untuk kamarnya sendiri saya kurang tahu." Jawab pria paruh baya ini, "Mem-"
Belum juga ingin menanyakan hal yang ingin di tanyakan kepada Tuan muda nya itu, Franz sudah berlari kabur dari sana dan masuk kedalam lift.
"Apakah Nona Ovin itu kekasih nya Tuan muda?" Tanya pria ini pada dirinya sendiri.
Tapi karena ada salah satu anak buahnya yang tiba-tiba saja datang, pertanyaan itu pun di jawab atas pendapatnya sendiri. "Kelihatannya seperti itu. Apalagi melihat ekspresi wajah Tuan muda yang begitu cemas seperti itu, rasanya sepertinya memang ada sesuatu yang buruk sedang terjadi oleh Nona Ovin."
"Yah~ Anak zaman sekarang, mungkin saja Tuan muda dan Nona Ovin sedang bertengkar, semoga saja Tuan muda dapat menyelesaikan masalahnya, ya paman."
"Hm...., Nona Ovin itu gadis yang baik, juga hebat. Aku sangat senang karena bisa bertemu kembali dengannya." Ucapnya.
Terpancing dengan ucapan dari kapten kapal, laki-laki ini pun membuat wajah penasarannya. "Memang ada apa paman? Apakah saat saya ambil cuti, ada sesuatu yang terjadi?"
Kapten kapal ini tersenyum ramah sambil menatap langit yang sedang cerah. Tapi karena ia memakai kacamata hitam, maka terik matahari yang mengganggu itu tidak akan menghalangi keinginannya untuk melihat burung camar yang terbang ke sana kemari untuk mencari makanannya.
"Ya, sebenarnya tepat di tiga bulan yang lalu, saat kapal pesiar ini baru saja selesai dibuat dan kita merayakannya dengan berlabuh ke pulau ini untuk pertama kalinya, saat itu Nyonya membawa seorang gadis ke kapal ini untuk sama-sama berlibur, tapi siapa yang akan menduga, ternyata ada sekelompok penjahat yang menyusup dan ingin menenggelamkan kapal ini tepat di tengah perjalanan.
Kau tahu, betapa sulitnya untuk mencari sekelompok penyusup itu, sekaligus menemukan bom dan menjinakkannya? Jika bukan karena Nona, kapal ini pasti sudah menjadi rongsokan di dalam laut." Jelasnya.
"A-apa? Berarti kabar burung yang sempat saya dengar itu, adalah benar?" Tanyanya lagi, karena ia sama sekali tidak tahu dengan gosip itu apakah bisa di percaya atau tidak.
Tapi karena yang memberitahunya adalah kapten nya, ia perlahan mendapatkan separuh percaya dan separuh tidak.
"Memangnya orang tua ini pernah berbohong kepadamu?" Ledek kapten kapal ini kepada anak buahnya itu.
Laki-laki itu pun menggelengkan kepalanya, kalau kapten nya itu memang sama sekali tidak pernah berbohong kepadanya.
"Dan baru-baru ini, aku juga mendapatkan sedikit informasi dari seseorang, kalau kapal ini juga kembali di susupi. Entah siapa, karena mereka dapat menyamar dengan baik, jadi orang tua ini yang tidak tahu apa-apa hanya bisa menunggu dan menerima pemberitahuan selanjutnya.
Maka dari itu, alasan kenapa kita bisa sampai dengan cepat dari pada biasanya, karena di tengah perjalanan aku baru saja mendapatkan informasi soal penyusup itu.
Jadi untuk sementara, aku minta kepadamu jika ada murid yang ingin kembali ke kapal, dari pada mencegatnya tidak boleh naik dan membuat curiga, lebih baik di awasi. Paham?" jelasnya dengan panjang lebar.
"Saya paham kapten."
Setelah perbincangan yang sedikit panjang itu, mereka berdua sama-sama melihat ke arah pulau. Sang kapten yang kebetulan selalu membawa teropongnya, dia memakainya dan mencoba melihat apa yang sedang di lakukan oleh anak-anak di pantai.
__ADS_1
'Huh? Tuan muda Ethan dan Tuan muda Chade? Kenapa mereka ada di sana?' pikirnya.