Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
71 : PUM : Perempuan ini


__ADS_3

Pada hagi hari itu, Franz akhirnya memutuskan untuk mengajak Sean pergi keluar untuk menghilangkan segala pikirannya tentang Ovin, ovin, dan Istrinya lagi.


Lalu bagaimana dengan Ovin jika Franz sendiri sudah meninggalkannya pergi?


Maka Ainz adalah orang yang akan menjaganya.


Terlepas dari apa yang Franz lihat beberapa waktu lalu saat Ainz memberikan suntikan di area p*an*tat sang Istri milik Franz, Frans benar-benar berusaha mencoba untuk tidak memperdulikannya.


Oleh karena itulah, alasan Franz saat ini keluar dan meninggalkan merkea berdua di rumah.


Begitulah saat ini, kenapa Ainz masih di dalam kamarnya Ovin dan memberi tahu satu hal besar yang Ainz ketahui kepada si empu nya langsung, karena perempuan yang saat ini terbaring sebagai pasiennya, adalah orang yang punya hubungan langsung dengan masa depan sang Tuan muda Franz yang manja itu.


"Dari tatapan matamu, pasti bertanya-tanya aku tahu dari mana. Tenang saja, aku akan jaga rahasia kalian berdua kok," Kata Ainz sambil memberikan kode satu jari di depan bibirnya persis, kalau dia akan tutup mulut soal hubungan paling serius yang sudah di miliki oleh paseiannya itu dengan Franz.


"Padahal yang bisa menjaga rahasia paling baik adalah orang yang sudah mati." Gumam Ovin, sambil kembali menghadap kedepan, yaitu berbaring dalam posisi miring ke arah kanan.


"Apa?"


"Ya...yang bisa menjaga rahasia milik seseorang dengan sangat baik adalah orang mati." Jelasnya lagi.


"K-kau, ternyata punya pemikiran yang seperti itu." Tiba-tiba Ainz merasa merinding sendiri saat Ovin mengatakan itu, karena apa? 'Dia...suaranya jelas sama dengan apa yang dua bulan lalu aku dengar dengan waktu itu.'


________


Flashback On.


"Gila, kenapa kau menyeretku dalam mabukmu?" Gerutu Ainz saat dia terpaksa menggendong seorang wanita di belakang punggungnya.


"Ahww..lagian...dia yang salah. Dia meninggalkanku...dia pergi...apa kau tahu? Calon suamiku pergi, laki-laki memang kejam. Hiks..hiks.." Wanita yang merupakan seorang pekerja kantoran ini pun menangis di atas bahunya Ainz. "Aku kehilangan banyak cuan..cuanku, cuan yang aku kumpulkan lima tahun ini..hiks,"


"Berisik, aku tidak mau mendengar keluhanmu." Tukas Ainz dengan tatapan jijik, sebab air mata dan make up yang dimiliki wanita yang sedang dia gendong itu mendarat di bajunya. Baginya itu adalah hal paling menjijikan yang pernah ada.


"Ah..-maaf Ain..Ain.."


Berkerut-kerut dahi Ainz mendengar namanya di panggil dengan nada aneh seperti itu. "Tapi kau sungguh berat. Kalau tahu mabuk seperti ini, jangan pernah memanggilku lagi." ketus Ainz, dia tidak mau waktunya terbuang hanya dengan mengurus orang mabuk.


"Iya..iya."


Entah sadar jawabannya itu memang serius atau tidak, Ains kembali melangkahkan kakinya menyusuri gang sempit.

__ADS_1


Karena tempat dari acara mabuk-mabukannya di salah satu bar terkenal yang letaknya memang ada di dalam gang sempit, sedangkan Ainz tidak mau membuat mobilnya masuk ke dalam sana, dia untuk berjalan kaki untuk bisa keluar.


Sampai dia tidak sengaja mendengar suara.


PHYUU....


"..........!" Ainz memberhentikan langkah kakinya saat mendengar suara tembakan kecil, terdengar tidak jauh dari tempatnya. 'Ini memang tempat banyaknya orang bar-bar berkeliaran tidak mengenal waktu, sebaiknya aku harus pergi dari sini sebelum ikut terlibat dalam kasus lain.'


Karena sedikit tekut dengan banyaknya kemungkinan yang bisa terjadi di pemukiman kumuh, apalagi di gang-gang sempit yang ada di pelosok kota, Ainz buru-buru pergi dari sana.


Awalnya memang seperti itu, akan tetapi langkah kakinya berhenti saat dia tidak sengaja lagi mendengar suara milik seseorang.


"A-aku mohon, biarkan aku hidup. Aku bersumpah untuk tidak melakukannya lagi." Mohon seorang pria dewasa ini pada seeseorang yang saat ini sedang berdiri di depannya persis.


'Ada seseorang yang memohon? Apakah dia baru saja mendapatkan ancaman?' Pikir Ainz, jiwa penasarannya muncul juga. Sesaat dia melirik ke belakang, dan temannya yang ada di gendongannya sudah tertidur.


Oleh karena itu, Ainz pun sedikit menilik ke satu gang lain yang tadi tidak sengaja dia lewati. Dia bersembunyi di belaknag tong sampah yang cukup besar, sehingga dia tidak akan bisa ketahuan.


Disan, Ainz melihat ada beberapa laki-laki berpakaian seperti preman sedang mengelilingi tiga orang pria yang sudah di ikat menjadi satu, seolah mereka bertiga adalah penjahat yang berhasil di tangkap.


Tapi dari pada itu..


"Tidak ada mulut yang bisa dipercaya. Semuanya hanyalah dalih dari sebuah kebohongan baru untuk membuat kejahatan yang baru. Kau pikir?" Perempuan ini membungkuk sambil menodongkan pistol berwarna silver ke bahu dari pria berkepala botak itu. "Aku akan mempercayai mulut dari seorang penjahat sepertimu? Mau kamu memohon dengan caa apapun, orang sepertimu itu harus disingkirkan dari kota ini."


"Tapi ini buk-"


"Shhtt...." Mendesis agar lawan bicaranya itu diam. "Walaupun sepenuhnya bukan kau yang bersalah, yang sudah masuk dunia kegelapan seperti ini tetap saja harus dibereskan. Walaupun hanya satu, itu lebih baik daripada tidak sama sekali kan?" Imbuhnya.


"Ha..tapi apa kau yakin bocah? Kami punya rahasiamu loh." Satu pria di sebelah kanan berkepala botak itu akhirnya bersuara.


"Rahasia? Memangnya kenapa jika rahasiaku ternyata ada padamu? Kira-kira-" Perempuan ini beralih tempat untuk berdiri di depan laki-laki berjaket biru, dan menatap ketiga orang itu secara bergantian. "Sekalipun rahasiaku ada padamu, memangnya bisa apa? Jika kau sendiri?-"


CKLEK...


PHIUU...


Pistol berwarna silver itu langsung di todongkan kearah orang yang hendak membeberkan rahasianya, dan tidak lama kemudian setelah perempuan itu menarik pemicunya, laki-laki tersebut langsung tumbang.


"Mati. Kau harus tahu, yang bisa menjaga rahasiaku dengan sangat baik itu hanyalah orang mati." Tegas Perempuan ini sambil menodongkan pistolnya lagi ke arah kedua pria yang tersisa, dan secara tidak segan, dia langsung menembaknya.

__ADS_1


'A-apa itu? Apa aku baru saja melihat dia menembak orang sampai mati?' Pikir Ains. Karena Ainz terkejut dengan pemandangan apa yang dia lihat itu, dia pun tidak sengaja salah satu kakinya menyenggol kaleng minuman.


KRAK.


'Gawat!' Pekik Ainz, merasa panik karena dia baru saja mengundang perhatian dari mereka semua.


"Ada yang melihat kita," Ucap perempuan ini.


"Meow..."


"Itu hanya kucing," Salah satu dari pria berpakaian seperti preman itu memberitahu.


"Yah...dialah yang baru saja kita melakukan ini ya?"


"Ya."


"Sudahlah, kalian bawa mereka bertiga ke mobil," Ucap perempuan ini, sambil menyerahkan pistol tadi ke anak buahnya.


"Baik."


___________


Flashback Off.


'Aku pikir suaranya sama. Tidak mungkin aku salah dengar, antara suara dari Ovin ini dan suara milik perempuan itu sama persis.' Pikir Ainz, memiliki dugaan besar kalau apa yang dia lihat dan dengar, merasa tertuju pada perempuan polos yang terbaring lemah di atas tempat tidur ini.


"Mau sampai kapan menatapku?" Satu pertanyaan dari Ovin itu berhasil menarik semua pikiran Ainz untuk tidak berlebihan dalam berpikir.


"Sampai kau tidur." Jawab Ainz detik itu juga.


"Aku tidak akan bisa tidur jika terus di tatap olehmu."


"Tapi apakah kau bisa tidur di tatap jika itu suamimu sendiri?" Goda Ainz.


Ovin yang terdiam itu pun tidak mampu mengkondisikan telingannya yang tiba-tiba memerah.


Melihat hal itu, Ainz tersenyum miring, karena Ainz berpikir kalau pasiennya ini benar-benar lucu. 'Sebegitu jatuh cintanya dengan anak itu? Dasar, anak zaman sekarang, masih muda tapi sudah menikah. Franz itu, kenapa bisa-bisanya melangkahiku dulu. Apa dia sudah tidak sabar bisa olahraga ranjang sesuka hati tanpa ada yang melarangmu? Ah...kenapa aku jadi iri seperti ini.'


Ainz pun jadi menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal itu.

__ADS_1


__ADS_2