
'A-apa yang sedang aku lihat ini? Jelas, aku pasti salah masuk kamar kan?' Sean sedikit mundur ke belakang, dan dia mencoba menilik angkat yang terdapat di depan pintu. '126. Sama dengan kunci yang aku dapat. Tapi kenapa mereka berdua bisa ada di sini? Bukannya seharusnya pintu kamarnya di kunci? Tapi mereka-'
BLUSSH....
Wajahnya seketika merona saat melihat ada dua insan sedang tertidur bersama dengan posisi si laki-laki sedang memeluk seorang gadis dari belakang.
'Apa-apaan ini? Aku jadi sangat iri.' Pikir Sean lagi. 'Tapi sebaiknya aku membangunkan mereka sebelum ada orang lain yang tahu kalau mereka berdua justru sedang tidur bersama. Walaupun kau mau gebukin aku, tidak masalah, karena sebagai teman baik rahasia kalian berdua juga harus aku jaga, kan?'
Dengan senyuman paksa, Sean segera masuk kembali ke dalam rumah pondok itu dan menutup pintunya, agar tidak ada orang lain yang melihatnya.
'T-tapi, tapi ini bukannya terlalu mesra ya? Aku pikir Franz ini membenci si mata empat, jangan-jangan memang sudah mulai ada perubahan di dalam hatinya. Ah~ Sudahlah, aku harus membangunkn mereka berdua, dari pada aku membuat alasan untuk dua orang yang akan masuk kedalam rumah ini.' Pikirnya lagi.
Dan dengan keberanian tinggi, Sean terus berjalan lebih mendekat.
Sebuah pose dua insan yang sedang tidur itu sungguh membuat Sean sangat iri, pose tidur yang begitu cukup intim.
Itulah yang Sean lihat saat melihat dua orang lawan jenis ini sedang tidur dan di peluk.
"Hei Franz, bangun." Sean mencolek-colek punggung Franz yang kenyataanya tidak memakai baju. 'Ngomong-ngomong, tubuh anak ini kuat juga, lihatlah itu, kenapa dia sudah punya tubuh berotot seperti itu? Padahal aku sama sekali tidak pernah melihatnya berolahraga dengan serius.'
Dan wajahnya semakin memerah karena yang di peluk oleh Franz dari belakang adalah si mata empat, Ovin.
"Franz, bangun. Hei, sebelum ada orang lain yang datang kesini, sebaiknya kau bangun." Sean sedikit mengguncang tubuh Franz.
" Ehm....apa sih?! " sahut Franz namun masih belum kunjung membuka mata.
" Franz! Bangun! Kalau tidak kalian berdua akan kepergok loh." masih meminta Franz untuk bangun, tapi si empu nya tidak menggubris panggilannya.
CUITT...
"Ahww...! " ide terakhir yang digunakan Sean malah mencubitnya.
PLAKK...
" Aduh....tanganku jadi sasaran juga." rutuk Sean, punggung tangannya di tampar kuat jadi sekarang lumayan cenat-cenut.
"Apa sih, berisik. Kau menggangu tidurku." Kesal Franz. Tapi Franz sendiri masih tetap dalam posisinya, yaitu tidur untuk memeluk bantal peluknya.
Ya, Franz tetap berpikir kalau yang sedang dia peluk itu adalah bantal guling.
'Kenapa aromanya wangi? Apa ini permen? AKu ingin menjilatnya. ' pikiran Franz yang masih mengira kalau ia di dalam mimpi, tiba-tiba lidahnya menjulur keluar dan saat itulah Franz menyentuh permukaan kulit yang terasa manis.
".......!" Sean sontak terkejut melihat pemandangan itu. Tiba-tiba saja Franz menjilat tengkuk milik Ovin. "Hee~ Franz, jika tidak bangun, Bryn dan Jerry akan menemukan kalian di sini sedang memadu mesra loh. Mau?" Kata Sean, akhirnya dia memberikan sebuah ancaman untuk Franz.
'Apa? Memadu mesra?!' Dan seketika itu, Franz akhirnya langsung membuka matanya lebar-lebar. 'Jadi perasaan hangat dan manis tadi-'
Baru menyadari kalau yang dia peluk adalah Ovin, Franz buru-buru mendorong kuat tubuh Ovin sampai Ovin yang masih terlelap tidur itu terjatuh ke lantai.
BRUKK...
" Ahh.... " Ovin makin meringkuk di atas lantai kaca tersebut, keningnya mengkerut karena rasa sakit di kepalanya serta tubuhnya.
'Kenapa aku bisa ada di kamar dan memeluk Ovin?' Rassa berat di kepalanya pun datang juga, seperti di timpa dengan batu seberat sepuluh kilo.
"Aku jadi penasaran, apakah kau benar-benar melakukan hal hebat tadi" sorotan matanya turun ke bawah, memang tidak salah lihat, sekarang temannya sedang bertelanjang dada walau entah apakah bertelanjang kaki juga atau tidak sebab selimutnya masih menutupi bagian pinggang hingga lututnya Franz.
__ADS_1
"Bajuku kotor " faktanya memang begitu. "Dan apa-apaan pertanyaanmu tadi?" Sudut matanya menjeling ke arah Sean yang terlihat penasaran dengan apa yang sudah terjadi kepadanya?
"Ya, habis lihat kalian berdua tidur mesra seperti itu, bisa saja ada sesuatu yang barusan di lakukan kan?" Senyuman Iblisnya menyiratkan bahwa Sean benar-benar tertarik dengan apa yang sebenarnya sudah terjadi antara Franz dan Ovin, tentunya.
"Ya, barusan yang dia lakukan itu dia muntah di bajuku." Franz balik menyorot tatapannya ke satu orang yang ada di lantai.
Franz sedikit mengingat kalau 2 jam yang lalu saat di pesawat Ovin tiba-tiba terbatuk tanpa sebab sehingga langsung menyambar gelas berisi air bening yang ada di atas meja.
Hanya saja Ovin sama sekali tidak tahu kalau yang diminumnya itu adalah wine putih, kadar alkoholnya lebih tinggi ketimbang anggur merah jadi dalam satu gelas langsung habis dan membuat si peminum pun mabuk.
Franz mengernyitkan matanya lagi ketika mengingat kalau gadis itu langsung mabuk dan bertingkah lumayan ganas, baru hendak menjauhkan botol yang masih berisi wine, malah botol itu direbut duluan oleh Ovin. Ovin yang sudah mabuk membuat perkara dengan Franz untuk minum bersama, dikatakan untuk minum juga tapi nyatanya Ovin memaksa Franz dengan kekuatan penuh yang dimiliki tubuh kecilnya itu untuk mengunci pergerakan Franz dan memaksa mulutnya( Franz ) dibuka untuk meminum wine langsung dari botolnya.
'Alhasil aku ikut mabuk juga.' maka dari itu sekarang kepalanya pusing.
Dan tentu saja ingat, sebelum Ovin tidak sadarkan diri, gadis tersebut muntah tepat di bajunya sebelum akhirnya ikut pingsan bersama karena kadar alkohol yang tinggi langsung membumbung sampai kepalanya.
Momen paling tidak mengenakkan dalam hidupnya Franz. 'Untung saja aku tidak bukan tipe pemabuk yang akan melakukan hal aneh.'
Setelah memikirkan hal itu, alkoholnya pun kembali naik, ada rasa panas juga perut yang tidak mengenakkan.
Ovin perlahan matanya terbuka namun pandangannya masih samar.
'Hi. hitam, bayangan hitam apa ini?' beberapa saat Ovin mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retinanya.
Beberapa kali matanya sengaja di kelap kelipkan untuk memaksimalkan pandangannya, dari situ pula dia sangat yakin dengan pikirannya.
'B-bintang laut!' matanya terbelak sambil berteriak. " Aaaaahh..! "
Buru-buru Ovin berusaha menjauh dari lantai kaca itu dan langsung melompat ke atas kasur dalam posisi jongkok dan tidak berani sampai melihat hewan yang sangat dihindarinya itu lagi.
'Apa yang membuat dia terkejut?!' pikir Sean, penasaran alasan Ovin terkejut tadi.
Namun keingintahuan apa penyebab si mata empat ( Ovin ) terkejut itu tertunda dengan pemandangan tak biasa ini.
Baju coat yang terpakai oleh Ovin ternyata hanya menutupi tubuh bagian atas, sebab sekarang ia nya berjongkok di atas kasur sambil menahan geli dan jijik apa yang tadi ia lihat, membuat si Ovin tidak sadar kalau ia saat ini jadi memperlihatkan kaki kanan yang polos nan menawan pada kedua pria di sampingnya.
'Apa dia tidak sadar, sekarang hanya memakai ****** *****?!' matanya Franz mengernyit pada gadis bodoh di depannya, lalu pandangannya berpindah pada Sean.
PLAK.......
Franz melempar buku majalah yang di dapati nya di sebelahnya tepat ke wajah Sean.
'Dia! Jangan-jangan mereka menghabiskan waktu semalam berduaan! Ya kan? Tidak salah lagi kan?'
" Hei bodoh! Kondisikan kakimu!" kata Franz dengan sedikit membentak.
Ovin menunduk ke bawah, barulah sadar kalau dari ujung kaki hingga paha terlihat oleh dua orang di sampingnya.
Buru-buru ia berdiri dan turun dari kasur, tapi berusaha tidak mendekati sisi samping kasur.
lalu giliran Franz mengatai Sean yang Franz sudah sembarangan..
" Sean, kayanya aku perlu bicara padamu. Jadi......" tatapannya menatap tajam ke arah sean.
"Sepertinya tidak ada waktu bicara, aku akan pergi keluar, sebelum Bryn dan Jerry datang kesini. Jadi jangan sampai tertangkap basah oleh mereka ya?" Dengan sebuah alasan untuk menghindari pembicaraan dengan Franz yang lebih serius, Sean langsung pergi keluar meninggalkan dua orang itu di dalam sana.
__ADS_1
Akhirnya sekarang hanya ada keheningan di dalam kamar tersebut.
Ovin menutup mulutnya dengan telapak tangan kiri dan menggerutu.
" Uh...."
'Kenapa harus di laut!' pikirnya, langkah kakinya sebisa mungkin menghindari lantai kaca yang terbentang tepat di bawah ranjang itu.
Memang air lautnya jadi terlihat dan saking jernihnya juga bisa melihat beberapa terumbu karang kecil yang tumbuh di dalam laut, tapi rasa jijiknya timbul karena ada bintang laut yang menempel tepat di bawah atau di balik lantai kaca tersebut.
Franz menurunkan kedua kakinya ke lantai, tapi ia sempat menoleh dan mendapati gadis itu mundur ke belakang.
WHUSHH.........
Angin laut sempat berhembus melewati jendela yang sedikit terbuka.
'Ada apa dengannya?' Franz maju satu langkah sambil berkata. "Dengar apa yang di katakan oleh Sean tadi, kan? Atau kau mau disini terus? "
" Ti...tidak " sambil menelan salivanya. sendiri. 'K-kenapa aku jadi mengimajinasikan, dia benar-benar menginjak bintang laut itu.'
Ovin pun jadinya mundur satu langkah ke belakang, dan meskipun takut tapi pandangannya tidak teralihkan dengan pemandangan yang di lihatnya, tepat di bawah telapak kaki Franz ada satu bintang laut berwarna hitam menempel di permukaan kaca, dan itu adalah salah satu bintang laut beracun.
'Bagaimana bisa mereka menempel disitu! Apa tidak ada yang takut selain aku! Itu menjijikan! Dan Franz kenapa bisa sesantai seperti itu?' Pikir Ovin, benar-benar sedang takut dengan kaca yang dia injak.
Bukan karena takut pecah, tapi karena dia takut dengan makhluk laut yang menempel di balik kaca transparan itu!
"Lalu kenapa tidak pergi? " tanyanya lagi dengan tatapan mengintimidasi, hanya saja yang di tatap tidak menghiraukan tatapan yang sedang diberikannya melainkan melihat ke arah lain.
KLEK.....
Pintu terbuka kembali dengan sosok si Kelvin kecil dengan membawa satu set pakaian yang ada di kedua tangan kecilnya itu.
"Mama! Aku bawa pakaianmu! " teriak Kelvin sambil berlari ke arah mama alias kakak sepupunya dan langsung menyodorkan ke arah Ovin.
"................." Ovin tidak menjawabnya dan masih mematung dengan wajah terpegun sekaligus jijik.
Kelvin yang sadar arah tatapan tantenya ke mana, jadi ia sendiri ikutan menatap ke bawah juga, dan reaksinya seketika itu sama-sama terkejut seperti Ovin. 'D-dia! menginjak bin-'
" Kenapa wajah kalian berdua setegang itu?" Alasan Franz untuk marah karena kelvin lagi-lagi muncul dengan menyebut ovin sebagai mama pun menghilang.
langkah kakinya pun terhenti, heran dengan dua orang di depannya seperti orang sedang sakit sebab wajah terkejut dan tidak mengenakan itu.
BRUKK....
Dua orang itu secara bersamaan melangkah ke belakang hingga menubruk lemari.
" K-kau! Tidak takut dengan itu?! " Kelvin menunjuk ke bawah kakinya Franz.
Ovin segera mengambil pakaian yang masih di pegang Kelvin, ia hanya memakai rok nya saja agar lebih cepat keluar dari situasi tidak mendukung itu.
"Kelvin! Aku sudah tidak tahan lagi, kita pergi dari sini!" Dan dalam sekejap mata, Ovin langsung membopong tubuh mungil kelvin di bawah ketiaknya dan pergi keluar dari sana dengan perasan takut.
'Kenapa dia ketakutan seperti itu?' Dengan ekspresi wajah penasaran, Franz pun akhirnya menunduk ke arah bawah, dan sama hal nya dengan mereka berdua yang terkejut, Franz yang terkejut pun langsung berlari dan naik ke atas kasur lagi. 'K-kenapa bintang laut itu menempel!'
__ADS_1