
Pukul tujuh malam.
Di saat malam hari tiba, maka malam itu akan menjadi waktu paling berharga bagi mereka semua.
Bagi siapa?
Orang-orang yang mencari kesenangan dunia. Tempat yang akan menjadi penghibur diri setelah melakukan banyak pekerjaan di siang hari.
Yaitu bar.
Tempat itu tidak pernah sepi pengunjung, karena selalu di buka selama dua puluh empat jam penuh.
Meskipun begitu, aktivitas yang dijalankan oleh bar tentu akan berbeda. Untuk pagi sampai sore, mereka membukanya sebagai restoran, namun sebaliknya, jika malam hari tiba, maka tempat itu akan menjadi tempat paling menyenangkan yang pernah ada.
Apa yang membuatnya menyenangkan adalah, mereka akan menyajikan banyak alkohol dari berbagai varian harga, dari yang murah sampai mahal, bahkan termasuk layanan untuk bermain dengan para wanita cantik, semuanya ada di sana untuk memanjakan para pengunjung.
Yah...
Entah itu pria atau wanita, selama mereka punya niat untuk bermain-main di dalam bar, dan punya cukup uang untuk membayar, mereka pastinya akan memberikannya pelayanan terbbaik kepada pelanggan, baik itu untuk pelanggan lama maupun baru.
Namun apa jadinya, jika yang datang ke dalam Bar adalah seorang gadis SMA yang belum genap delapan belas tahun?
Salah satu gadis yang dimaksud itu adalah Ovin.
Sesuai dengan pesan yang Ovin terima dari pamannya, yaitu Chade, maka Ovin mau tidak mau melakukan pertemuannya dengan pamannya yang tampan itu.
Untung saja Chade adalah salah satu orang dari dua orang yang wajahnya bisa Ovin lihat, jadi dengan mudah Ovin dapat menemukan pamannya itu, yang ternyata sudah menunggunya lebih dulu.
" Kenapa kamu menyuruhku datang ke tempat seperti ini? " Tanya Ovin penasaran, karena dia tidak menerima alasan dari Chade, apa yang membuat dirinya juga di ajak ke dalam Bar?
Ovin saat ini datang dengan pakaian biasa dengan lengan panjang, karena malam hari jadi ia juga memakai blezer. Tak lupa dengan MASKER!
'Hal paling aku benci adalah wanita-wanita penggoda ini. Make up tebal, tentu bagian dari make up yang tidak boleh ketinggalan adalah bedak dan lipstik, dan selain itu parfum, ahh...ngga banget.' Benci Ovin kepada para wanita-wanita penghibur yang blalu lalang di depan matanya.
Seluruh tempat itu, benar-benar diselimuti aroma tidak sedap yang paling Ovin tidak sukai.
Karena itu Ovin sungguh-sungguh tidak suka dengan kedua benda yaitu bedak dan lipstik, baunya yang tidak disukainya itu permasalahannya, sekalipun kedua benda tersebut adalah barang yang bermerk sekalipun dan memiliki harga selangit dimana dia bisa membeli dua hanphone sekaligus, Ovin tidak akan pernah menyukainya sedikitpun, dan Ovin berharap untuk tidak pernah menyentuhnya sama sekali.
Make up adalah barang tabu yang Ovin hindari. 'Itu menyebalkan. Aku benar-benar tidak suka dengan tempat ini.' Kutuk Ovin, terhadap dirinya sendiri yang mempunyai selra yang aneh.
Bagaimana tidak aneh, jika semua wanita akan berlomba-lomba mempercantik diri dengan barang-barang mahal demi menarik perhatian lawan jenisnya, maka Ovin adalah kebalikan dari mereka semua.
Dan saat ini perasaannya itu lebih ingin ke muntah.
Melihat Ovin menatap malas ke arahnya, Chade pun bertanya, " Kenapa malah pakai masker?"
"Kamu tahu sendiri, aku tidak menyukai tempat ini. Kenapa malah mengajakku ke tempat seperti ini?!" Tekan Ovin, dengan ketidaksukaannya itu secara langsung di depan pamannya itu. " Dan ini adalah privasiku sendiri."
"Lah~ Padahal ini tempat yang menyenangkan. Kamu bisa bersenang-senang disini. Dan lagi pula, jika bukan kamu, siapa lagi yang bisa menemaniku? Aturan standar disini kan harus membawa kekasih mereka."
"Jadi aku adalah kelinci percobaan itu?" Tanya Ovin dengan nada ketus.
Melihat Ovin benar-benar terlihat seperti sedang marah kepadanya, Chade pun menpuk ujung kepala Ovin dengan cukup manja. "Nanti kita pulang, kamu mau apa, aku akan membayarnya untukmu."
".................." Masih marah dengan pamannya yang keterlaluan pada keponakannya sendiri sebab mengajaknya pergi ke tempat yang haram itu, membuat Ovin tetap tutup mulut dengan tawaran yang diucapkan oleh pamannya itu.
'Anak ini, kenapa jadi sulit di bujuk?' Chade jadi merasa bersalah sendiri, karena Ovin yang biasanya enjoy-enjoy saja dengan tawaran yang diberikan, untuk kali ini Ovin justru marah kepadanya.
Tak berapa lama, Chade tercetus sebuah ide yang tiba-tiba saja muncul. Dia menyuruh bartender untuk mendekat.
"Ada apa Tuan?" Tanya Bartender itu kepada Chade yang baru saja memberikannya sebuah kode untuk membungkuk kepadanya.
Dari situlah, Chade pun memberikan perintah kepada Bartender itu untuk melakukan sesuatu.
Setelah di bisikkan sesuatu oleh Chade, Bartender itu mengangguk paham.
"Erna, gantikan aku sebentar," Ucap pria ini, merupakan Bartender yang barusan mendapatkan utusan dari Chade untuk melakukan sesuatu. Karena itulah, dia menyuruh temannya untuk menggantikan posisinya untuk sementara waktu.
"Ok," Jawab Erna singkat.
Setelah pria itu pergi, Chade melakukan pembiacaraan lagi kepada keponakannya yang terlihat merajuk itu, hanya karean salah tempat?
Ya...Ovin tidak menyukai Bar, karena aroma yang ada di dalamnya cukup menyengat, dan untuk orang yang tidak terbiasa dengan itu, kadang akan membuat orang mual, atupun pusing.
Sekalipun Ovin tidak akan mendapatkan efek tersebut, tapi tetap saja tidak suka adalah kata yang sudah menjadi acuan agar tidak memancingnya pergi ke tempat seperti itu.
'Jika saja paman tidak membuatku pergi, aku pasti masih berduaan di dalam kamarnya Franz. Tapi gara-gara dia, akujadi harus berpisah...Hasihh.....kenapa di saat aku punya kesempatan berdua dengan suamiku sendiri, harus ada halangan seperti ini sih?' Keluh Ovin terhadap nasibnya sendiri.
Padahal sebelumnya, dia sedang ada di dalam suasana yang cukup mendebarkan jantungnya.
Sangat benar, ketika tadi dirinya tidak sengaja terpeleset karena menginjak buku, dan memuat tubuhnya menabrak serta menimpa tubuh Franz, sebenarnya jantungnya cukup berdebar. Di situasi seperti itu, sejujurnya Ovin ingin sekali mencium bibir itu lagi, setelah kejadian salah cium yang terjadi pada waktu itu.
'Ah! Padahal tadi saja, Franz baru saja mandi. Aku sampai mencium aromanya yang wangi itu. Hahhh....padahal sedang asik-asiknya menikmati momen itu, tapi semuanya jadi hancur.' Rutuk Ovin sekali lagi. Dia benar-benar masih tidak puas hati karena Chade, yaitu pamannya ini benar-benar sudah mengganggu kesempatannya untuk bisa berduaan lebih dengan Franz. "Jadi...apa alasan kita datang kesini?" Tanya Ovin langusng kepada intinya.
" Aku sudah mendapatkan informasinya tentang kalung yang hilang itu. Mungkin seminggu lalu lah....barangnya sempat ada di sini " bisik Chade tepat di telinga keponakannya itu.
" Lalu? " Tanya Ovin lagi dengan nada selamba.
__ADS_1
" Itulah...., kita harus menemukan pemilik bar ini dan menemukan informasi siapa yang membawanya pergi. Aku dengar di sekitar ini ada tempat pelelangan, tapi tempatnya tersembunyi dan sampai saat ini masih belum tahu dimana." beritahu Chade lagi kepada Ovin.
" Lalu apa urusannya denganku? Kan kamu lebih tahu hal ini dibanding aku. Padahal aku sudah bilang tidak ingin berada di tempat seperti ini. " Cetus Ovin lagi, dan lagi.
"Ayolah....jangan seperti itu kepadaku. Hanya sekali ini saja, temani aku disini...kamu hanya perlu duduk diam disini." Tawar Chade kepada Ovin.
"Tapi ya.... membawa keponakanmu kesini?
Paman benar-benar tidak patut menjadi panutan." Ejek Ovin, masih dengan nada berbisik. Hingga di mata semua orang pun tahu, jarak dari mereka berdua sudah seperti dua orang yang akan berciuman satu sama lain.
" Hanya sebentar saja, setelah ini aku sebagai kakak yang tampan ini, aku akan menemanimu belanja bagaimana sepuasmu. " pujuk Chade.
" Gajianmu masih banyak ya, kakak? " Tanya Ovin, kini dia sedang bertanya sambil menyangga dagunya dan menatap kearah wajah pamannya secara terang-terangan.
" Kakak? Panggilan yang imut. Hei tampan, apa dia pacarmu? " goda salah seorang wanita pada Chade yang tiba-tiba muncul dari belakang Ovin.
Chade sendiri sudah berusia 22 tahun, cukup dewasa untuk seumurannya itu. Karena itu, selalu banyak yang salah mengira kalau Ovin dan Chade adalah sepasang kekasih.
Meskipun sebenarnya hal itu sangat di harapkan, karena bisa mengecoh orang lain, tapi di hati Ovin kadang terbesit, bagaimana jika hubungan yang dimiliki Ovin dan Chade terlihat benar-benar seperti sepasang kekasih di mata Franz?
Kira-kira apa yang akan terjadi?
" Iya, dia adalah pacarku. Jadi jangan dekat-dekat dengannya, " Jawab Ovin tanpa perlu pikir panjang lagi, sambil memeluk lengan Chade dan lalu menyandarkan kepalanya di bahu pamannya itu.
" Pacarmu sangat bersemangat sekali, apa kalian ingin kamar VIP untuk bersenang-senang?" tawar wanita ini kepada dua orang yang terliihat sangat serasi, juga bersemangat, karena secara terang-terangan mengatakan pacar dan mengumbar kemesraan dengan memeluk tangannya Chade.
" Tentu, tapi bawakan aku satu orang lagi " Timpal Chade dengan satu kedipan mata, untuk memberikan kode kepada wanita di depannya itu.
" Siapa? Gadis lagi nanti dia cemburu loh. " jawab wanita itu seraya tangannya mengacak rambut Ovin, karena merasa gemas dengan kepolosannya.
Dengan tangan kiri masih di peluk oleh Ovin, tangan kanan Chade yang masih bebas itu langsung menyambar tangan wanita di depannya itu agar membungkuk.
Karena perbuatan Chade itulah, wanita tersebut yang kebetulan sedang meakai pakaian yang cukup seksi, membuat belahan dadanya pun benar-benar terlihat jelas di mata Chade.
Tapi bukan Chade namanya, jika hanya karena itu, dia langsung melirik dan tergoda begitu saja. Dia memang tertarik karena melihat wanita seksi di depannya itu benar-benar memperlihatkan body tubuh yang cukup berisi, apalagi dua gunungan kembar yang terlihat ingin meloncat dari tempatnya, tetapi tujuan utamanya pergi ke tempat dunia malam itu bukan untuk bermain, melainkan, " Bukan, aku mau bertemu sekalian dengan pemilik bar ini." Bisk Chade tepat di telinga wanita tersebut.
" Memangnya kamu mau apa ingin bertemu dengan beliau? " Liriknya. Dia mengatakan beliau, sebab pemilk Bar yang ingin di temui oleh Chade adalah Bos nya juga.
" Hanya masalah bisnis kecil." Jawab Chade singkat.
" Bisnis ya? Aku jadi sangat tertarik dengan apa yang ingin pria sepertimu bahas denganku." Ucap wanita ini lagi, memberitahu kebenaran bahwa orang yang ingin Chade temui adalah dirinya. "Oh...kita belum berkenalan, aku Angel mereka biasanya menyebutku mami Angel, tapi kalian bisa menyebutku kakak seperti gadis imut ini menyebut sang tampan kakak juga. Akulah pemilik tempat ini, kita bisa berbincang di dalam kantorku tapi hanya si tampan saja yang bisa aku bawa." Tutur Angel, akhirnya dia pun memberitahu identitasnya kepada Chade.
" Jangan mengacak rambutku lagi. " Ovin yang sudah lelah itu, langsung menepis tangan Angel dari kepalanya.
" Bagaimana? " tanyanya lagi pada Chade.
Karena itu, sebelum Chade pergi meninggalkan Ovin sendirian, dia pun menunggu Bartender tadi datang.
"Tuan, ini pesanan anda," Bartender tadi sudah datang dengan membawakan sebuah nampan yang di isi oleh dua piring makanan.
"Kamu pandai menyuap ya," Sinir Ovin setelah di sajikan dua piring seafood untuk dirinya seorang.
"Makan ini," Chade menyuapi satu udang besar itu kedalam mulut Ovin.
Ovin yang saat itu sedang memakai masker, terpaksa membukanya, lalu menerima suapan dari pamannya itu.
"Anyam...." Ovin mengunyahnya dengan mulut penuh, gara-gara udangnya benar-benar besar. Tapi itulah yang diharapkannya, dari pada menunggu seorang diri dengan minum-minum, Ovin lebih memilih untuk mengisi perutnya dengan makanan kesukaannya, yaitu lobster, udang, kepiting, itulah yang disukainya.
Dan Chade akhirnya berhasil membujuk keponkannya itu agar tidak marah lagi kepadanya.
Setelah selesai memberikan suapan kepada sang keponakan, kedua orang itu yaitu Angel dan Chade pun pergi bersama. " Aku akan segera kembali, tetaplah disini " pinta Chade.
Setelah kepergian kakek dan nenek, sekarang hanya tinggal paman pertama dan paman kedua lah yang Ovin miliki, ayah kandungnya?
Sudah lama Ovin tidak pernah berpikir untuk menemuinya lagi, menemuinya lagi sama saja bertemu dengan masa lalu yang menyakitkan itu.
Paman pertama karena sudah menikah, jadi dia hidup bersama dengan istrinya di negara lain, sedangkan paman kedua ini yaitu Chade menetap di kota yang sama sejak pertama kali ia di lahirkan, dan secara spontan juga mewarisi warisan dari kaķeknya itu.
Itulah yang Ovin rasakan setelah mendapatkan keluarga baru selepas dulu dia sudah merasa puts asa, karena sudah mengira kalau dirinya tidak memiliki keluarga lain.
Tapi, ternyata keluarga dari pihak Ibu, adalah orang dari keluarga yang ternama.
Namun karena identitasnya disembunyikan dengan cukup rapat, maka marga keluarga Albeson itu hanyalah seperti sebuah bayangan, karena tidak ada yang tahu siapa saja daftar keluarga itu.
Dan Ovin saat ini memang memiliki gelar dari marga itu, tapi sayang sekarang dirinya juga memiliki nama keluarga lain yang dimiliki oleh Franz. Maka dari itu, kata miskin yang dikatakan oleh semua siswa di sekolah itu, hanyalah sebuah tipuan.
Karena Ovin tidak mau berada dalam posisi yang mencolok dan menarik banyak perhatian orang lain.
"Nyam~" Setiap satu suapan, Ovin langsung menutup kembali maskernya, sampai hal tersebut ternyata berhasil untuk menarik perhatian seseorang.
" Yo....kenapa sendirian? " datang lagi satu penggombal.
"..............? " Ovin hanya meliriknya sekilas.
" Sakit? Kalau sakit sampai pakai masker harusnya istirahat dirumah atau mau kakak temani? "
' Gombalan klasik.' Detik hati Ovin terhadap pria itu. " Tidak usah, temani saja yang lain " sahutnya.
__ADS_1
" Tapi kalau aku kesana berarti kamu sendirian lagi dong." Kini pria ini duduk bersebelahan dengan Ovin.
" Apa urusanmu aku sendirian disini? " tanyanya. 'Jika saja sedang ada di tempat sepi, aku pasti sudah memukulnya. Berani sekali dia mendenkatiku, dan sok kenal juga sok dekat. Inilah yang aku tidak suka. Benar-benar menyebalkan.' Batin Ovin.
" Kasihan dong." Senyuman sok ganteng itu sebenarnya sudah membuat Ovin muak.
Memang benar kalau dirinya tidak mampu untuk melihat wajah laki-laki lain, tapi jika hanya sekedar bibir, dia masih bis amelihat apa reaksi yang sedang di perlihatkan oleh orang itu kepadanya.
" Dimananya aku bisa terlihat kasihan? " Ovin bertanya lagi.
" Sudahlah, kakak disini akan menjagamu dari mana-mana pria yang akan mengganggumu." jawabnya dengan percaya diri, tangan kanannya juga sempat direntangkan untuk menunjukkan kalau semua orang itu adalah mereka semua yang sempat melihat kerarah mereka berdua.
Sedangkan Ovin yang malas sekaligus sebal, langsung memijat tengkuknya sendiri karena pegal dan bertambah pegal ketika melayani pertanyaan atau gombalan dari laki-laki ini.
" Sudahlah, jangan menggombaliku dengan rayuan klasik. SEAN!" jawab Ovin dengan sedikit penekanan di kalimat paling akhir.
Sebenarnya Ovin hanya menebak siapa orang di depannya itu, karena ia hanya mengandalkan beberapa hal yang ada pada diri Sean, jadi secara logikanya sendiri tebakannya itu betul.
" Lho....kenapa ka...kamu tahu namaku? " Sean terkejut bukan main, padahal dirinya merasa baru pertama kali bertemu dengan Ovin dalam jarak yang dekat itu.
Ovin memutar bola matanya karena merasa malas untuk menajwab lagi semua pertanyaan itu, tapi apa boleh buat, karena Sean adalah temannya Franz, maka mau tidak mau harus di kasih jawabannya.
" Kan kamu teman sekelas tuan muda itu." Jawab Ovin sambil menunjukkan ujung jari telunjukknya tepat di depan hidung Sean, dimana hal tersebut membuat beola mata Sean jadi juling.
'Jadi dia kita satu sekolah? Aku jadi kenasaran siapa perempuan ini. Aku harus membuka maskernya?' dengan sigap, Sean berencana membuka masker yang dipakai perempuan di depannya.
Di saat Ovin memesan air biasa pada bartender, ada satu tangan mendekati wajahnya, lantas spontan Ovin mundur ke belakang sambil berbicara
" Mendekat lagi, awas. " peringat Ovin pada Sean.
" Aku mau tahu siapa kamu. " Sean sekali lagi sedikit maju satu langkah.
" Jika sudah tahu aku siapa memang mau apa? " Mungkin karena saat inin Ovin sedang tidak memakai kacamata, karena itulah Sean tidak menyadari kalau yang ada di depan matanya itu adalah perempuan, murid baru yang sering di bully saat di sekolah.
" Apa berkenalan juga harus butuh alasan? " Tanya Sean, jadi semakin tertarik dengan sifat gadis di depannya itu.
" I.Y.A " Jawab Ovin dengan penekanan yang penuh arti.
Memiliki seorang teman memang bagus, tapi diri kita juga harus bisa banyak belajar untuk memlih teman yang patut kita perjuangkan.
" Hei nak, apa kamu di ganggu dia? " Satu elusan mendarat di kepala Ovin lagi.
'Kenapa hari ini banyak yang menyentuh kepalaku sih?' Ovin lagi-lagi kepalanya mendapatkan elusan manja dari seseorang.
Ovin menepis tangan itu, lalu menoleh ke belakang.
" Wah...dia galak juga, sepertinya cantik sampai di tutupi masker segala, ya ngga? " orang ini matanya menjeling ke beberapa temannya yang ada di belakang.
'Tidak aman.' Deti hati Ovin. Status siaga, Ovin merasakan perasaan tidak enak, pastinya dong.
Sebab di Bar itu adalah suasana yang tidak ada yang tidak baik di tempat itu.
" Ini untukmu, jangan menolak kebaikanku " menyerahkan satu cairan berwarnalayaknya emas yang merupakan bir.
" Tidak. " Menolaknya secara langsung, tapi ketika hendak melangkah pergi, tangan Ovin ditahan mereka. " Lepaskan." Pinta Ovin, sudah mulai naik darah.
" Lepaskan dia. " Sean mencoba melindungi perempuan itu.
" Kamu minggirlah," dia memberontak menepis Sean dan di jaga kedua teman si pengacau ini.
" Aku bukan milik siapa-siapa, diriku tentu hanya milikku, jadi lepaskan tanganmu ini. " sela Ovin, kembail memperingatkan.
" Jangan memberontak, aku hanya ingin melihat wajah yang kamu sembunyikan di balik maskermu " tutur orang ini, dia mencoba mendekati Ovin lagi selagi satu langkah demi satu langkah Ovin mudur kebelakang. " Jangan lari dariku." secepat yang ia bisa, tangannya mencoba meraih masker yang digunakan Ovin.
Ovin menghindar dengan bergeser ke kanan, namun dengan segera tangannya di tangkap satu orang lain lagi.
Jadi dengan senyuman kemenangan, akhirnya tangannya sampai ke masker yang dikenakan Ovin kemudian dia pun membukanya.
" Baiklah, ayo kita lihat wajah yang disembunyikan di balik masker ini."
SRETT...
Setelah berhasil melepaskan masker yang dikenakan oleh Ovin, Sean tentu saja langsung terkejut dengan sosok wajah yang tadinya disembunyikan dengan masker itu adalah.
'Mata empat!' karena di kelasnya juga banyak yang memanggil Ovin si mata empat sebab menggunakan kacamata, jadi Sean pun ikutan juga.
"Hoh~ Aku kira cantik." Ejek pria ini, langsung melepaskan cengkraman tangannya, karena melihat sesuatu yang jelek di balik masker yang dipakai oleh Ovin itu.
'Hahh...tuh kan? Mereka hanya menyukai sesuatu yang cantik,' Pikir Ovin ketika mendengan suara dari rasa kecewa dari pria yang sempat memaksanya tadi untuk membuka maskernya.
'K-kenapa bisa? Perempuan seperti dia datang kesini?!' Pekik Sean tidak percaya kalau Ovin yang Sean kenal sebagai perempuan paling menyedihkan karena selalu mendapatkan Bully di sekola, setiap harinya, saat ini perempuan itu justru ada di tempat haram~ Seperti ini. 'Dia kesini dengan siapa? Apakah dia sendirian? Benar-benar sendirian?' Racau Sean, masih tidak mengerti dengan situasi yang dibuat oleh Ovin si gadis pemilik julukan mata empat.
Karena sudah terbongkar dirinya siapa, Ovin pun terpaksa untuk terus membuka maskernya, sebab ada yang harus dia makan, dan itu adalah makanan yang di pesankan oleh pamannya.
"Nyam~" Sepeti tidak pernah terjadi apapun, Ovin kembali duduk dan menyantap makanannya sendiri. Karena dia suka dengan makanannya itu, dia pun tidak berbagi pada Sean yang terlihat masih terkejut?
Ovin tidak tahu karena dia benar-benar tidak bisa melihat ekspresi dari wajahnya Sean, karena Sean adalah laki-laki. Dimana semua wajah laki-laki yang Ovin temui itu, tidak akan bisa Ovin lihat, karena suatu insiden yang terjadi saat dirinya masih kecil dulu.
__ADS_1