Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
102 : PUM : Tautan perasaan


__ADS_3

'Apa yang mau dia katakan itu?' Sepasang mata Franz pun memperhatikan Ovin yang terlihat sedang berpikir.


Ovin memejamkan matanya. Apapun yang ingin dia katakan dan keluar dari mulutnya itu tiba-tiba saja tertelan kembali.


Dia sebenarnya ingin sekali kalau hubungan antara dirinya dengan Franz tidak ada lagi yang namanya perselisihan.


Maka dari itu, sesaat tadi dia sempat tercetus sebuah pikiran.


Dari pada melihat Franz menganggapnya musuh karena status mereka berdua sebenarnya sudah jadi sepasang suami Istri, Ovin sejujurnya ingin memberitahu kepada Franz agar menganggapnya teman.


Itu terasa lebih baik, agar Franz tidak terus menerus berpikir dirinya Istri, tapi terus di musuhi seperti itu.


'Hanya saja, jika aku mengatakan itu kepadanya, pasti tidak akan ada bedanya. Jadi dari pada aku dan dia kembali berdebat lagi karena pikiranku soal jadi teman dari pada Istrinya, lebih baik aku diam saja.


Tapi-' Semakin di pikirkan, hatinya pun jadi merasa terjerat.


Dia ingin sekali tidak ada perdebatan diantara mereka berdua. Tapi hatinya juga tidak rela jika menganggapnya sebagai teman ketimbang Istri.


Karena Ovin benar-benar ingin sekali menempatkan dirinya pada posisinya yang sebenarnya itu di sisi Franz, maka apa yang hendak Ovin katakan tadi pun benar-benar Ovin telan lagi, karena hatinya memang benar-benar tidak merelakan dirinya di anggap teman.


"Tidak jadi." Ucap Ovin setelah keterdiaman nya dalam waktu yang lama.

__ADS_1


"Apa? Kau ini sang-" Sama hal nya dengan kalimat dari Ovin yang tadi sempat menggantung, maka Franz pun mengalami hal yang sama juga.


Tapi perbedaannya kali ini, ucapannya Franz langsung sirna sebab tangan kanan Franz yang sesaat tadi di gunakan untuk mengusap wajah dari Ovin, justru langsung di tarik dan membuat kedua bibir mereka berdua langsung menyatu.


CUP...


Franz langsung membulatkan matanya dengan lebar, ketika posisi dari mereka berdua benar-benar layak untuk memberikan sebuah kesan, mereka berdua sedang melakukan pengenalan perasaan lewat sentuhan dengan mulut milik mereka.


'Aku memang sempat memikirkan agar aku  lebih baik di anggap sebagai teman agar hubungan kita tidak terpaku pada status sebenarnya dan agar kita tidak terus saja bertengkar, tapi karena hati ini tidak rela, aku harap kau lebih mengerti. Ah ..., entahlah aku sama sekali tidak bisa berpikir lagi. Apalagi-' Mata Ovin yang awalnya terpejam untuk menikmati sentuhan yang sedang dia lakukan, perlahan terbuka dan menemukan sepasang mata Franz yang terlihat sangat dekat itu, ternyata juga sama-sama sedang menatapnya?


'Dia, kenapa dia selalu saja membuatku penasaran? Apa yang sebenarnya ingin dia katakan tadi? Ovin-' Karena semuanya sudah terlanjur dalam balutan emosi serta nuansa gairah yang sedang Ovin ciptakan lebih dulu untuk mengundang Franz dalam permainannya, Franz yang akhirnya tergoda itu mengulurkan tangan kirinya. 


BRUKK….


‘Apalagi karena ini sangat menyenangkan, aku jadi tidak bisa menghentikan perbuatanku.’ pikir Ovin. 


Dia yang memulai semua itu, tidak bisa menghentikan perbuatannya untuk me lu mat bibir Franz yang ternyata bagi Ovin sendiri terasa lembut dan kian panas. 


Sedangkan Franz sendiri, dia pada akhirnya sudah tidak peduli lagi dengan rasa gengsi nya, karena dia benar-benar terhanyut dalam gairah yang sedang mereka buat itu. 


‘Apa dia baru saja memakan Opium? karena ini aku jadi sama sekali tidak bisa menghentikan bibirku. Kenapa? Kenapa tubuhku jadi tiba-tiba menginginkannya?’ Benak hati Franz.

__ADS_1


Dan hal itu membuat mereka berdua akhirnya menyadari kalau mereka berdua bisa melakukan apapun tanpa mengkhawatirkan hal yang biasanya di khawatirkan oleh remaja seusia mereka yang ingin bisa bermain lebih, dengan kata lain untuk saling memuaskan, tapi karena status dan usia, serta hal lain, maka hal itu biasanya menjadi penghalang untuk mereka semua. 


Maka dari itu,  berbeda dengan Ovin dan Franz, sebab hubungan mereka berdua sudah resmi dan tercatat dalam hukum, maka mereka bisa melakukannya dengan sangat bebas serta sesuka hati mereka. 


“Aumphh..” Ovin mengernyitkan matanya, sebab dalam pergulatan adu mulut untuk saling me lu mat satu sama lain, lidah mereka berdua akhirnya bertemu. 


‘Sepertinya baru kali ini, aku merasakan lebih dari sekedar bisa berciuman saja.’ Dan pikiran milik Franz pun terasa semakin gila saat dia merasakan aroma tubuh dari Ovin yang ternyata kian memabukkan, membuat Franz perlahan jadi keluar dari akal sehatnya. 


‘Franz …, tangannya dia-’ Ovin yang merasakan adanya tangan yang kian menyusuri ke dalam pakaiannya, membuat Ovin jadi semakin di selimuti has*rat yang semula terpendam itu, jadi kian mencuat.


Dan membuat mulut yang sedang dia bungkam dengan mulutnya Franz, di sela degan sebuah des*ahan.


"Ahm~" Ovin pun jadinya mengernyitkan matanya, karena kali ini dia benar-benar tidak tahan dengan sentuhan dari tangannya Franz yang semula dingin berubah jadi hangat dan karena terus bersentuhan dengan kulitnya, maka telapak tangan itu jadi terasa panas.


Apakah kali ini mereka bisa melakukannya?


Tidak terhalang oleh apapun lagi?


Serta drama lain yang mengganggu pergulatan diantara mereka berdua?


Sayangnya mereka berdua sedang tidak memperdulikan untuk memikirkan apun soal halangan yang akan mereka berdua dapatkan, karena yang terpenting di sini adalah ...

__ADS_1


__ADS_2