
Renungan yang berlangsung sedikit lama itu berakhir dengan Ovin yang lebih dulu bangun, menarik kemeja putih pendek milik Franz yang tergeletak di lantai, lalu Ovin pun memakainya.
"Kenapa kau memakai seragamku?"
"Jika bukan karena seragamku di robek-" Ovin sengaja menggantungkan kalimatnya, dan beralih kembali pada pakaian besar yang dia gunakan itu untuk segera di kancing.
'Sebenarnya seberapa keras aku melakukannya?' Dan Franz pun memang melihat seragam milik Ovin yang sudah robek di bagian dadanya, bahkan kancing juga sudah menghilang dari sana.
Agar pikiran mereka berdua bisa kembali sadar sepenuhnya dari momen semalam, Ovin menarik segera menyeret tirainya.
SREEKK.....
Walaupun hujan sudah berhenti, tapi awan kelabu masih menyelimuti langit, sampai dia sama sekali tidak mengharapkan adanya sinar matahari yang akan membangunkan bumi yang dingin ini.
'Apa dia sengaja memakai pakaianku seperti itu, agar dia menarik perhatianku?' Karena tetap merasa silau dengan perubahan cahaya yang begitu drastis.
Franz menyipitkan matanya, dan dia juga melihat penampilan Istrinya yang terkesan seksi, karena hanya menggunakan pakaian yang kebesaran di tubuh mungil itu, hingga Franz sendiri hampir melihat pan*at itu, karena perempuan itu sempat membungkuk saat memungut semua pakaiannya dari pakaian luar maupun pakaian da*am, yang berserakan di lantai kamarnya.
"Kenapa menatapku seperti itu? Masih kurang dengan yang semalam?" Tiba-tiba Ovin bertanya demikian sebab dia merasakan adanya tatapan maut pada Franz yang masih duduk santai itu.
"Memangnya kau mau jika kita melakukannya lagi?" Tanya balik Franz tanpa pikir panjang lagi.
Ovin langsung terdiam mendengar jawabannya yang terdengar begitu menggiurkan. Sehingga saat Ovin sudah berhasil memungut semua pakaian itu di tangannya, Ovin kembali membuangnya dan berjalan menghampiri Franz yang hendak minum air itu.
BRUK...
"Uhukk..." Franz tersedak air yang hendak dia minum, karena dia tiba-tiba kedua pahanya sudah di duduki oleh Ovin.
"Kenapa kau malah menanyaiku seperti itu? Kau yakin mau? Mau lagi?" Ovin bertanya dengan bisikan kecil di telinganya Franz, membuat telinganya bersemu merah .
"Kau memang perempuan liar," Balasnya dengan nada lirih pula.
"Tapi aku hanya liar untukmu saja, masih tidak sadar dengan itu, hmm?" Ovin masih berada di tempatnya, duduk berhadapan di depannya Franz, mendekatkan tubuhnya dan berakhir dengan tangan nakal yang mengusap lembut dada bidangnya Franz. "Nyam." Lalu bibir yang kemudian melahap ujung telinganya Franz.
"Ya, aku memang masih tidak sadar, kalau kau ternyata hanya akan menjadi liar untukku saja. Jadi sebaiknya minggir, aku sudah lapar,"
"Kalau lapar kan tinggal makan, makanannya ada di sini loh." Ovin menangkap tangan kirinya Franz dan menuntunnya untuk menyentuh area sensitifnya.
"Berhentilah menggodaku, aku hanya ingin makanan yang mengenyangkan perut, bukan naf*su." Menarik tangannya sebelum dia menyentuh harta terpendam itu, lagi?
Franz benar-benar masih berpikir kalau semalam ia sudah menyentuhnya, makannya dia jadi merasa enggan untuk menyentuhnya, karena dia sama sekali tidak ingin menerima kenyataan lebih dulu kalau ia memang sudah punya naf*su untuk perempuan ini.
__ADS_1
Dia gengsi untuk menerima tawaran itu, makannya Franz bergegas mendorong kembali tubuhnya Ovin, dan buru-buru pergi ke kamar mandi.
BRAK.!
Tapi Ovin diam-diam justru terkekeh, karena melihat semburat merah di tengkuknya Franz, menandakan kalau Franz ini memang sudah mulai mudah di goda.
Sedangkan di dalam kamar mandi, Franz cepat-cepat menyalakan shower dengan menggunakan air dingin.
Di dalam kamar mandi yang terang, setelah listrik kembali menyala, Franz sungguh dapat melihat adiknya sendiri yang lebih besar dan keras ketimbang beberapa saat tadi.
ZRASSHHH...
Telinga, rona pipi, dan tengkuk yang sudah merah merona, dia sama sekali tidak bisa menahan semua perasaan untuk tidak malu di depan perempuan itu.
Perempuan yang dulu ia benci, kini jadi orang yang dia suka.
Benar, hati memang bisa berubah seiring waktu. Dan Franz menyadari keinginannya itu untuk membuat Ovin berada di sisinya, sekaligus Franz sadar kalau perubahan hatinya ternyata jauh lebih cepat dari dugaannya.
'Kenapa aku jadi mudah luluh oleh dia?' Bogem mentah itu pun mendarat di permukaan dinding.
BUGH...!
___________________
"Siapa yang melakukannya? Kan bibi sudah tidak ada di sini lagi, dan paman Fardan juga sudah pergi." Gumam Ovin. Karena dia merasa perutnya minta di isi lebih dulu ketimbang harus merubah penampilannya yang kasar, karena hanya memakai kemeja pendek milik Franz, dia memilih untuk makan saja.
Sampai salah satu pintu rumah tiba-tiba saja terbuka.
"Ovin, aku datang lagi." Dan Chade lah yang datang dengan penampilan rapi, serta menggugah selera, karena Ovin merasakan adanya aroma berbeda yang tercium di indera penciumannya.
'Parfum Chanel Platinum Egoiste? Kenapa paman tiba-tiba saja memakai parfum ini? Memangnya mau kencan atau apa?' Satu suapan itu tidak jadi masuk kedalam mulut, karena kehadiran Chade yang begitu terkesan dewasa.
Dan si penyusup, karena Chade datang tanpa adanya pemberitahuan dan langsung masuk begitu saja kedalam rumah, ketika ia melihat keponakannya itu tangah duduk sendirian dengan penampilan yang cukup berantakan, membuat Cahde segera separuh berlari.
"Vin," Panggilnya, setelah ia sampai di samping persis keponakannya yang hendak makan itu. "K-kau, kau benar-benar melakukannya?"
TAK.
Ovin meletakkan garpu yang sudah menusuk daging ayam itu ke atas piring, lalu menoleh ke arah pamannya yang terlihat antara kesal, khawatir, juga, entahlah.
Ovin sama sekali tidak tahu ekspresi macam apa itu, dan apa yang terkandung di dalamnya pun, Ovin tidak tahu.
__ADS_1
"Apa dia, memperlakukanmu dengan buruk? Jika ada yang sakit, katakan saja, biar aku yang membalasnya, seperti aku membalas Fardan itu." Sesuai dengan keinginan Ovin kemarin, dia sudah mewakili kemarahannya, dengan memberikan Fardan pelajaran. Dan sekarang target selanjutnya adalah Franz, karena dia melihat ada banyak bekas ****** di leher, lengan, dan juga paha milik Ovin yang terlihat jelas itu.
"Tapi mau dia melakukannya atau tidak, kami kan sudah legal. Jadi tidak apa-apa."
Karena jawabannya kurang memuaskan, Chade jadi mengepalkan tangannya, sungguh rasanya ingin sekali meninju wajah Franz, karena sudah mengambil keponakannya yang sudah dia jaga selama ini.
Bahkan ia berusaha agar tidak ada satu orang laki-laki pun yang menyentuhnya, sekalipun itu ujung rambutnya.
Tapi semuanya sudah menghilang, setelah Ovin menyatakan ingin menerima pernikahan yang di tawarkan oleh kedua orang tuanya Franz tiga bulan yang lalu.
Makannya, Chade pun jadi tidak bisa berbuat apapun selain melindunginya dengan caranya sendiri.
"Kau bau alkohol, apa kau juga minum?" Chade mencoba bersabar, ia tidak boleh melampiaskan kesalnya itu pada orang yang di sukai oleh keponakannya itu, karena ia tidak ingin membuatnya perempuan ini sedih.
Chade langsung menarik kursi, dan duduk di sebelah kanannya Ovin.
"Aku hanya tertular aroma alkohol dari dia."
Hanya mendengar itu, Chade jadi punya imajinasi berlebih kalau semalam Franz melakukannya dengan kasar, apalagi mengingat kondisinya Franz yang sedang mabuk, sudah pastinya tidak bisa terlepas dengan mudah, dan hasilnya adalah Ovin lusuh tak imut yang ada di depan matanya itu.
Sambil mengatur raut mukanya yang semakin menegang, karena masih tidak bisa menerima kondisinya Ovin yang seperti itu, Chade berpura-pura tersenyum.
Tapi karena yang muncul adalah senyuman sinis, seperti orang yang hendak membunuh, Ovin buru-buru menghilangkan senyuman itu dengan menempelkan ayam pop itu ke bibirnya Chade.
Chade yang langsung di buat tersadar kembali, langsung membuka mulutnya dan melahap daging ayam itu kedalam mulutnya. "Nyam~"
Mengunyahnya dengan cepat, Chade minta di suapi, lagi-lagi dan lagi.
"Lah~ Punyaku habis." Karena sempat terlena dengan wajah pamannya yang tampan tapi sedang tersenyum maut ke arahnya, tanpa sadar Ovin jadinya menyuapi semua daging ayamnya itu ke pamannya.
Sambil menyangga dagunya dengan tangan kirinya, dan tersenyum pada Ovin, dia pun memberikan perintah. "Ya buat lagi, ini enak loh. Aku bahkan ketagihan. Keluarkan kemampuan memasakmu itu."
"Tapi ini bukan aku yang masak," Ovin berdiri dan beranjak dari sana untuk pergi ke dapur, mengambil air minum.
"Hei, apa kau benar-benar berpenampilan seperti itu di depan seorang laki-laki sepertiku? Aku bisa melihatnya," tegur Chade, karena dia bisa melihat, kalau Ovin sama sekali tidak memakai apapun di dalamnya, selain pakaian yang sedang di gunakan itu sendiri.
Ovin yang sedang menunggu air di gelasnya penuh, langsung melemparkan garpu yang tadi sudah dia ambil itu ke arah Chade.
SYUHTT..
Chade dengan cekatan langsung bisa menangkap garpu yang hampir saja melukai wajahnya.
__ADS_1
"Apa tidak bisa, jika diam saja? Anggap saja aku memakai pakaian lengkap." Tegas Ovin, sebenarnya dia merasa malu, karena ketahuan oleh Chade. Tapi karena paman nya itu yang tiba-tiba datanglah, makannya Ovin jadi sedikit tersindir.