
Kedua tamu yang di undang secara langsung oleh Jenifa kini berdiri di depan rumah megah di pinggiran kota juga, jika villa milik Franz sudah berada di pinggiran kota, tapi Villanya hanya berjarak Tujuh kilometer dari kota sedangkan rumah ini sekitar berjarak lima belas kilometer jadi permasalahnnya adalah lebih terpelosok.
Beberapa orang yang memiliki kekayaan lebih senang mendirikan villa di sebelah hutan demi mendapatkan suasana tenang, ini lebih ke kesibukannya yang pasti berbanding terbalik.
Pekerjaan yang tiap harinya lebih condong ke hiruk pikuk kota dan akan menguras tenaga serta pikiran, maka untuk mengatasi stress itu dibuatlah rumah di pinggiran kota.
" Nona, selamat datang kembali " Ke empat orang pelayan perempuan dan empat orang pelayan laki-laki berjejer rapi menyambut kedatangan majikannya itu bersama dengan kedua tamu yang berjalan di belakang Jenifa, Franz dan Ovin .
"Siapkan makan malam untuk kami semua." perintah Jenifa pada para pelayan saat itu juga, seraya menyerahkan mantel coat miliknya kepada salah satu diantara mereka yang sudah bersiap untuk melayani majikannya itu.
Selepas memberikan perintah kepada para pelayannya, Jenifa pun berbalik dan berkata lagi :"Lalu kalian berdua, kalian bisa menginap di sini mau semalam atau selamanya juga tidak masalah. Anggap saja rumah sendiri ya, Ovin dan Tuan muda Franz?" tersenyum manis pada kedua tamu tersebut.
"Terima kasih karena sudah mengizinkan kami menginap." Kata Ovin.
Sedangkan Franz hanya diam sambil celingukan memperhatikan tempat yang akan Franz tinggali untuk bermalam itu.
'Memangnya apa yang sebenarnya Ovin lakukan? Kalau di pikir-pikir selama ini aku merasa ada banyak orang-orang dari keluarga berpengaruh dekat dengannya? Bukankah dia hanyalah perempuan dari desa yang di pungut oleh Ibu?
Tapi kalau sudah sampai ke tahap ini, kelihatannya ini bukanlah hubungan yang terlihat biasa-biasa saja hanya sekedar mendapatkan bantuan darinya saja ya?
Oh ya, yang waktu itu juga, saat hampir ketahuan oleh Bella karena pulang tengah malam, aku tidak menanyakannya karena bukan waktu yang tepat untuk menanyakan itu.
Rasanya pasti ada hubungannya juga dengan hal seperti ini.' Pikir Franz panjang lebar.
Setelah mereka berdua bertemu dengan Jenifa, dan mengatakan Jenifa puny ahubungan dengan ovin sebagai bentuk balas budi, maka Franz pun jadi memiiliki kecurigaan besar yang ada pada diri istrinya itu yang kelihatan sangat jelas memiliki sejuta rahasia yang tidak akan pernah di ungkapkan, baik itu pada dirinya, maupun pada semua orang.
Sampai lamunan Franz terhadap Istrinya itu langsung Franz tarik kembali selepas dia mendengar sapaan dari orang lain.
" Hei nak, kenapa kau disini juga? " tanyanya.
Franz, jenifa dan Ovin pun di buat untuk menaruh perhatian mereka bertiga pada satu orang laki-laki berpakaian jas dokter baru saja turun dari lantai dua. Dia teman sekaligus dokter pribadi Franz yaitu...Ainz?!
" Justru aku yang harusnya tanya, kenapa kau ada disini? " Franz balik tanya pada dokter magang ini, yaitu Ains.
Melihat di sebelah Franz saat ini ada Ovin juga, Ainz pun melmabaikan tangannya kepada Istri dari majikannya itu seraya menajwab, " Oh....aku datang kesini, tentu saja karena aku ingin mengunjungi adiku tercinta, kenapa?" Sudut matanya kembai menangkap wksresi wajah Franz yang terlihat serius, dan kembali berkata : "Kenapa? Iri ya?"
Senyuman penuh kemenangan yang tersungging di bibirnya itu pun menjadi pertanda kalau dia sedang adu pamer kepada Franz itu.
__ADS_1
" Apa? Jadi dia- " Menoleh ke arah Jenifa lalu kembali menatap Ainz. "Adikmu?" Namun reaksi yang Franz berikan adalah ekspresi wajah yang tidak peraya dengan Franz. "JIka dia adikmu? Tapi kenapa tidak mirip?"
"Apakah punya adik itu harus mirip dengan kakaknya sendiri?" Sahut Ainz, berjalan menghampiri mereka bertiga, seraya memberikan kode kepada semua pelayan untuk pergi dan melakukan pekerjaan mereka masing-masing.
"Tuan muda, aku hanyalah adik tirinya saja." Jawab Jenifa membuat konfirmasi yang paling jelas kepada mereka berdua, yaitu Franz dan Ovin.
Dan Ainz memberikan anggukan setuju. "Ya, dia hanya adik tiriku, tapi walaupun begitu aku sudah menganggapnya sebagai adik kandungku. Tapi dari pada itu ngomong-ngomong, apa yang membuat Tuan muda manja ini sampai membawa is- "
Tenungan tajam langsung menusuk ke arah Ainz, sebagai kode rahasianya tidak boleh di bongkar.
" Maksudku teman istimewa ini bersamamu, Jenifa?" Ainz merevisi ucapannya sebelum menjadi bahan amukannya Franz.
" Ohh....jadi dia teman istimewanya." Jenifa mengangguk tanda mengerti kalau Ovin ternyata mendapatkan julukan sebagai teman istimewa untuk Franz, padahal artinya lebih dari sekedar teman istimewa saja. "Aku haya tidak sengja melihat ada dua orang berjalan bersama di bawah hujan. Karena tidak sengaja aku kenal mereka berdua, jadi aku ambil mereka dari jalan dan membawanya bersamaku ke sini. Tidak apa kan?"
"Ya, tidak masalah. Kau sudah melakukan kebaikan yang sangat bagus, karena aku jadi melihat mereka berdua yang terlihat cukup serasi ini." Jawab Ainz kepada adik tirinya itu seraya mengusap kepala Jenifa dengan lembut.
"Terima kasih kak." Menghentikan usapan kepala dari Ainz, Jenifa pun pergi dari sana sambil memberikan lambaian tangan salam perpisahannya kepada mereka bertiga. "Aku pergri dulu ya."
"Dah~" Ainz pun memberikan balasan salam yang sama, seblum akhirnya saat ini hanya ada mereka bertiga saja di ruang tamu. "Lalu selamat datang di kediaman kami." Ainz berkata demikian seraya memberikan salam hormat kepada kedua orang remaja yang lebih muda dari Ainz sendiri, sebab mereka berdua adalah majikannya juga. "Tuan dan Nona muda?"
Sebuah tatapan penuh arti itu jelas di tunjukkan untuk Franz dan Ovin yang sebenarnya tidak lama lagi pastinya akan menjabat sebagai Tuan dan Nyonya untuk Ainz sendiri.
"Kepala pelayan." Panggil AInz untuk memanggil kepala pelayan yang tugasnya mengurus hal yang lebih penting ketimbang pelayan lainnya.
Seorang wanita berpakaian seragam pelayan pria pun datang dan menyahut ucapanny. "Ya Tuan?"
"Antarkan mereka berdua ya, dan berikan pelayanan yang baik. Kau tahu kan, siapa dia." Menunjuk pada satu orang pria yang wajahnya tentu saja cukup terkenal di kalangan banyak orang, sebab Franz memang tuan muda manja yang penuh dengan sejuta pesona, sampai tua maupun muda pasti akan meliriknya.
"Baik Tuan." Wanita ini mengangguk. "Mari, Tuan dan Nona, ikut saya." Ajaknya.
Memimpin mereka berdua pergi ke kamar tamu yang memang selalu sudah siap untuk di gunakan kapanpun itu.
"Tuan, ini kamar untuk tempat istirahat anda." Menunjuk pada satu kamar yang pintunya sudah kepala pelayan ini buka dan memperlihatkan langsung isi dari kamar yang akan di huni oleh tamu dari majikannya itu. "Lalu untuk Nona, kamar Nona ada di sebelahnya." Imbuhnya, hanya dengan memberinya petunjuk saja, kalau kamarnya ada di sebelah persis dengan kamar yang akan Franz tinggali itu.
"Baik aku tahu." Sahut Ovin, tanpa memperdulikan kalau kepala pelayan ini terlihat enggan untuk mengantarkannya langsung ke kamarnya.
"Untuk pakaian anda berdua, nanti akan di atarkan oleh pelayan kami. Jadi saya permisi dulu." Pamit undur diri dari depan mereka berdua.
__ADS_1
Kepergian dari kepala pelayan itu pun segera menarik hati Franz untuk menanyai sesuatu kepada Ovin, karena kejadin yang terjadi beberapa waktu lalu, melihat Ovin, sangat ketakutan setengah mati.
Ketakutan yang terlihat luar biasa untuk di jadikan pemicu trauma berat yang pernah Ovin alami?
Di mata Franz kebetulan memang seperti itu, tapi apa tanggapannya?
"Apa kau baik-baik aja?" Tanya Franz pada istrinya yang terlihat murung dan jadi lebih pendiam.
"Ya." Sahut Ovin dengan cukup singkat, dan setelah itu Ovin langsung pergi dari hadapan Franz menuju kamar sebelah, meninggalkan ketidakpuasan Franz dalam mendengar jawaban Ovin yang terdengar sangat dingin itu.
Dan hal itu pun, 'Kenapa aku jadi khawatir denganya?'
Melihat Ovin diam begitu dan meninggalkannya tanpa banyak kata, rupanya hal itu membuat hati dari Franz ternyata ikut berdnyut.
'Kenapa aku seperti ini?' Franz mengerutkan keningnya sambil mengepalkan tangannya dengan erat. 'Padahal aku selama ini mencoba untuk terus tidak memperhatikannya. Tapi kali ini, saat dia tidak banyak bicara seperti itu, aku jadi, sakit? Apa-apaan ini.' Franz yang tiba-tiba kesal dengan perasaannya sendiri yang terus aja berubah-ubah itu membuat diri franz pun jadi sedikit kesal dan langsng melampiaskannya dengan masuk kedalam kaar denggan pintu sedikit di tutup dengan lebih keras.
Setelah mereka berdua masuk kedalam kamar, lima menit setelahnya ada pelayan mengetuk pintu membawakan baju ganti untuk mereka.
Di kamar tamu yang ditempati Ovin terlihat sama besarnya dengan kamar yang ditinggalinya saat di rumah Franz.
Dia langsung pergi ke kamar mandi setelah baju keringnya itu sampai di tangannya persis.
Menyingkirkan semua masalahnya yang terjadi hari ini, Ovin pun menyalakan shower. Dengan kehanagatan air dari shower itu Ovin pun merasa tubuhnya terasa lebih ringan serta segar. Kotoran yang sempat menempel di pori-pori kulit juga sudah menghilang sehingga merasakan kesejukan sampai di kepalanya.
Ovin sempat memegang kepalanya yang beberapa saat lalu di pegang oleh tangan hangat milik suaminya, ah...Ovin masih kikuk juga jika anak seusianya memanggilnya suami apatah lagi disaat masih muda begini.
Ovin pun jadi menundukkan kepalanya. Di bawah hujan yang mengguyur tubuhnya dengan air yang terasa hangat itu nyatanya tidak membuat dia merasa merasakan kehangatan yang lebih dari skedua tangan Franz yang sempat mendarat di kedua bahunya.
'Kenapa hanya di saat aku merasa seperti berada di pinggir jurang, dia selalu saja memberikan bantuan kecil yang membuatku tidak bisa melupakannya?' Keluh Ovin.
Bantuan dimana Franz tiba-tiba membuatnya tenang beberapa waktu lalu saat dirinya hampir saja berhadapan dengan maut karena sebuah petir yang datang secara tidak terduga itu.
Dan bantuan kecil itu berupa usapan kepala. Usapan yang biasanya di lakukan oleh pamannya, Chade sebagai bentuk kasih sayangnya, dan usapan kepala dari Ainz terhadap Jenifa, ternyata bisa Ovin dapatkan juga dari Franz?
Tapi dari pada itu, Ovin sebenarnya saat ini justru sedang di buat frustasi lagi, karena kebodohannya yang dilakukannya di depan pemakaman kepada Franz.
'Anghh....kenapa aku jadi semakin bodoh? Memeluknya dari belakang, sampai aku mengatakan keinginanku agar dia tidak meninggalkanku secara terang-terangan seperti itu? Apa yang sebenarnya aku lakukan sampai aku bisa mengatakan itu, apa lagi di depan tempat pemakaman? Aku pasti sudah di cap aneh, karena mengungkapkan perasaanku di depan tempat horor seperti itu.' Racau Ovin, dia terus memejamkan matanya seraya memegang kepalanya dengan kedua tangannya dan menghadap ke arah dinding.
__ADS_1
Dan di tengah-tengah Ovin sedang merutuki dirinya sendiri karena terbawa arus perasaan gara-gara kesepan di tinggal ibunya, ketika masih berada di pemakaman tadi, tiba-tiba saja Ovin jadi merasakan suasana yang cukup intim?
GREP...