
Kedua tangan kecil Kelvin ia julurkan dan memaksa Franz untuk menggendongnya sekarang juga.
Franz melirik ke arah dua orang yaitu Chade dan Ovin. Keduanya sama - sama menggeleng tidak tahu bagaimana caranya menggendong anak kecil karena pergi ke restoran saja, Kelvin memilih jalan kaki sendiri.
"Kau kan perempuan? Kenapa tidak tahu caranya gendong anak kecil " marah Franz pada Ovin. Ucapan nya terkesan cukup lirih, tapi nadanya juga cukup menekan, sehingga Ovin sendiri langsung menatap wajah Franz dengan tatapan datar.
"Sudah wajar, kan? Kita berdua kan tidak pernah berurusan dengan anak kecil." Chade pula akhirnya angkat bicara setelah dari tadi diam, dan sengaja menjawabnya untuk keponakannya.
" Nah ini? Anak kecil kenapa kau bisa membawanya sampai kesini?" Maksud Franz sendiri sejak kapan bisa Kelvin menempel pada Ovin sampai dimana diantara mereka bertiga jadinya terselip satu anak kecil.
" Dia jalan kaki sendiri " Jawab Ovin dengan ketus.
" Ayah! Gendong! " seru Kelvin dengan ekspresi geretan.
'Dasar tikus kecil, dia terus mempermainkan aku.' Franz sendiri bingung bagaimana caranya menggendong anak kecil, makannya Franz lebih memilih hal paling mudah, yaitu keluar dari restoran. "Aku keluar!"
"Ayah! Aku Ikut!" Kelvin segera melepas pelukannya dari tubuh Ovin dan langung turun dari kursinya dan akhirnya ia berlari memeluk kaki Franz. Keadaannya sekarang bagaikan koala tengah memeluk pohon.
Langkah kakinya menjadi berat karena satu budak kecil tengah memeluk kakinya.
" Hah! " dengan kasarnya, Franz menarik baju kelvin dari belakang, dia menentengnya keluar restoran.
"Cepat! Aku mau pulang!" perintah Franz kepada Chade yang masih duduk dengan kekehan yang di buat secara diam-diam itu.
" Baik-baik, acara kencannya juga sudah selesai, sampai tidak terduganya jadi unya anak, kau sungguh hebat." Dengan santainya Chade berdiri dan membantu Ovin menarik bangku dia agar berdiri dengan lebih leluasa.
'Paman~ Apakah kau sama sekali tidak lelah menggombaliku terus?' Keluh Ovin, mau tidak mau harus menghadapi dua, ah ...tidak, tapi tiga orang laki-laki sekaligus. Tentu saja itu membuatnya jadi pusing tujuh keliling.
Inginnya liburan, tapi dia terus di buat lelah karena banyak ocehan yang terus menghantuinya.
Sedangkan ketika sudut matanya kemudian melirik ke samping kanan, Ovin banyak pasang mata dan umumnya kaum wanita sudah mulai ngences akan sosok Chade yang memperlakukan Ovin dengan cukup romantis, sampai membantu Ovin menarik kursi dan menuntunnya keluar dari restoran seperti sepasang kekasih sungguhan.
"Lebih baik jangan di lihat terus, itu sangat tidak baik untuk kesehatan matamu." Ucap Chade, meluruskan kepala Ovin agar terus menghadap ke arah depan.
__ADS_1
Setelah itu, Chade mendorong pelan punggung Ovin ke depan agar tidak terus-terusan melirik orang sekitar, karena rata-rata akan menyakitkan jika terus di tatap lama-lama.
Ketika sudah berada di luar restoran, terlihat dua anak itu saling adu mulut lagi.
" Hah! hah! A-aku sesak nafas! " Keluh kelvin karena Franz tidak menggendongnya namun di tenteng sekali dengan bajunya.
Melihat Kelvin sudah mengeluh dengan sendirinya akibat perbuatan Franz yang menenteng tubuh Kelvin seperti kantong sampah.
"Maaf, saja~ Aku itu orang yang tidak bisa gendong anak kecil sepertimu," Tutur Franz dengan angkuh.
" Hemph.... " Kelvin langsung memalingkan wajahnya ke tempat lain tepat setelah tubuhnya di turunkan.
" Apa lagi dengan mereka berdua." Chade hanya tersenyum simpul karena tindakan kedua orang itu hampir sama. Sama-sama marah, dan sama-sama saling membuang muka.
Ovin yang sama sekali tidak menggubris apa yang di katakan oleh Chade tadi, hanya terus menatap Chade.
" Kamu kenapa melirikku seperti itu? " Chade sedikit merasa aneh sebab Ovin sedari tadi hanya melirik kecil kearahnya.
" Jangan menoleh." Perintah yang terdengar tegas itu membuat Chade jadi merasa aneh, tapi tetap menurutinya.
" ................" Ovin selagi berjalan ia juga semakin mendekatkan jaraknya kepada Chade.
" Apa sih? " Chade mulai penasaran dengan apa yang akan di lakukan oleh keponakannya itu.
" Shhtt...." memperingatkan untuk diam.
Diam dan diam lalu.....
TEPLAK....
Tangannya langsung menampar tengkuk Chade.
" Aww...... " sedikit merintih kesakitan setelah tengkuknya berhasil di tampar dengan cukup keras. 'Apa yang barusan dia pukul tadi?' Chade mencoba mencari kemana Ovin pergi.
__ADS_1
Tapi Ovin langsung berlari ke depan dan menghentakkan kaki kanannya dengan kuat. 'Aduh, dia tidak kena.' Rutuk ovin. Tapi tidak mau tertinggal, Ovin kembali menghentakkan salah satu kakinya untuk menginjak sesuatu dengan keras.
Ovin yang tiba-tiba menghalangi jalan Chade membuat Chade tersandung tubuhnya Ovin dan..
BRUKK......
"Ahww..."
Mendengar suara keras, lantas Franz menoleh ke belakang dan mengeluh kesah atas kegaduhan itu, tetapi setelah berhasil menoleh ke belakang.
"Suara ap- " Sayangnya setelah berhasil menoleh ke belakang, matanya Franz langsung membulat sempurna.
Sebab di depannya itu dia sudah di perlihatkan dengan ada dua orang saling tumpang tindih, ya walau posisinya sekarang si gadis ada dibawah dalam posisi telungkup tapi yang lebih mengesankannya lagi ada si penindih sendiri sekarang ada di atasnya Ovin dalam posisi telungkup juga.
'Ovin dan Chade, pemandangan ini....., benar-benar menyakitkan mataku!' dengan perasaan tidak suka, Franz langsung berjalan dengan langkah lebar dan cepat ke arah mereka berdua.
" Aduh....., Ovin! Apa-apaan kau ini, memukulku tengkukku terus tiba-tiba ada di depanku?" Protes Chade dengan perlakuan keponakannya tadi.
"Ahw...lagian, aku ingin menangkap sesuatu, tapi ini...ah..kau menyingkirlah, ini berat." Sama-sama protes dengan Chade yang berhasil menindihnya, di saat itulah Franz yang sudah berdiri di samping kanan mereka berdua, langsung menarik jas yang Chade pakai agar menyingkir dari atas tubuhnya Ovin.
"Apa yang sebenarnya kalian lakukan di tempat seperti ini sih? Sangat menyakitkan mata." Hardik Franz, lalu Franz memaksa tubuh Ovin untuk berbalik.
"Ah.....pinggangku, pelan-pelan kenapa" menggerutu sakit agar Franz melakukannya dengan pelan-pelan.
"Sakit? Mau aku pijat sekarang?" Tawar Franz dengan ketus.
'Dia benar-benar cemburu.' Seringai Chade dengan perlakukan Franz sesaat tadi kepadanya.
Tapi sekarang sayangnya sekarang Chade bukan sedang mengkhawatirkan Ovin yang sedang kesakitan setelah di tindih tadi, melainkan mengkhawatirkan dengan apa yang maksud yang dilakukan Ovin.
Dan ketika Chade melihat ke arah bawah, dimana keponakannya tadi baru menginjak sesuatu dengan sangat keras, barulah ia sadar, kalau ia baru saja di buntuti.
Dan bukitnya ada pada puing-puing kecil dari satu robot serangga yang sudah pasti menjadi alasan kenapa Ovin memukul tengkuknya dengan keras.
__ADS_1
'Mereka sudah mulai membuntutiku ya?' wajahnya seketika berubah menjadi serius, lalu dia mendongak ke atas, tepatnya ke menara Eifel.