Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
105 : PUM : Lemparan


__ADS_3

Franz yang tidak memperdulikan Ovin mau menjawab pertanyaannya atau tidak, Franz segera menyingkirkan tubuh Ovin dari pangkuannya itu dengan kasar, dan segera beranjak dari tempat tidurnya untuk menghampiri paman nya yang sudah mengambil gambar milik mereka berdua secara sembarangan itu. 


BRUK…


Ovin langsung tersingkir dari pangkuannya Franz dan terjatuh ke samping, sambil menutupi kedua buah nya dengan tangan kanannya itu. 


“Fardan, sini!” Sedangkan Franz sendiri sudah berada di depan kamar sambil mencoba merebut handphone milik paman nya itu. 


“Kau masih bocah, berani juga memanggilku Fardan tanpa memanggilku paman.”


“Peduli amat soal itu. Sini!” Franz langsung mencengkram kuat tangan kanan Fardan, lalu mencoba menariknya ke bawah agar bisa mengambil handphone itu dari tangannya. 


Tapi di saat sudah hampir mendapatkannya, handphone itu justru di alihkan ke tangan kirinya Fardan, sontak saja Franz semakin emosi, karena dia benar-benar tidak ingin foto tadi sampai di kirim ke Ibu nya.

__ADS_1


Karena Fardan masih bersikukuh untuk menghalanginya merebut handphone nya itu, Franz mau tidak mau akhirnya menggunakan cara kekerasan. 


Dia hendak menjegal kaki Fardan, agar laki-laki ini jatuh. Tapi semuanya gagal, sebab Fardan sudah memasang kuda-kuda lebih dulu, sehingga usahanya itu tidak membuahkan hasil, karena sekalipun sudah di tendang, posisi Fardan masih bisa berdiri kokoh. 


“‘Jangan berpikir ingin menjegal kakiku bocah.” Sindir Fardan. Masih menguasai handphone nya ada di tanganya itu, dalam posisi masih di angkat ke atas setinggi-tingginya agar Franz tidak dapat meraihnya, jari jempol Fardan pun akhirnya menyentuh tombol kirim. 


KLING…


Satu notifikasi dengan nada yang cukup samar itu pun menjadi tanda kalau gambar yang Fardan kirim akhirnya berhasil?


Karena di saat yang bersamaan, sesuatu yang datang dengan kecepatan tinggi, langsung menyentak pergelangan tangan Fardan dengan cukup keras, hingga Fardan refleks jadi merintih, “Ahww…”


Refleks pukulan yang entah datang dari mana itu, membuat handphone yang Fardan pegang itu langsung terlepas. 

__ADS_1


Sebuah kesempatan untuk Franz sendiri, sebelum handphone itu jatuh ke lantai, Franz pun menangkapnya lebih dulu dan segera menghapus gambar yang sempat terkirim ke Ibu nya, namun untungnya belum empat di baca. 


“Huh …, untung saja tepat waktu.” Setelah berhasil menghapus gambar senonoh tadi sebelum sampai ke Ibu nya, Franz pun menghela nafas penuh kemenangan, dan melempar handphone itu dengan kasar ke lantai, layaknya sebuah sampah. 


Sekalipun handphone yang dilempar Franz tadi tidak membuat handphone milik Fardan pecah atau rusak, tapi tetap saja Fardan jadi gagal dalam menyelesaikan tugasnya. 


‘Siapa yang melakukannya tadi?’ Pikir Fardan sambil memungut handphone nya yang di buang oleh Franz itu. Sampai ketika dia melirik ke arah kamar milik Franz, dia melihat sorotan mata Ovin yang begitu dingin, seolah itu adalah tatapan mata terhadap musuh bebuyutannya. 


Namun, melihat tangan kanan Ovin tadi sempat terulur ke depan, maka Fardan pun tahu akan sedikit sebuah kenyataan, kalau pergelangannya tadi bisa sakit, karena dia baru saja di lempar oleh batu kerikil yang sangat kecil. 


Batu itu adalah batu hias yang biasanya di gunakan untuk menghiasi akuarium, dan mengingat posisi Ovin saat ini, dia akhirnya tahu kalau orang yang barusan melempar batu ke arah pergelangan tangannya tadi adalah karena ulah Ovin. 


Maka dari itu, tatapan mata yang sedemikian tajam dan terlihat cukup dingin itu, juga menjadi pertanda sebagai perasaan Ovin yang sedang marah, karena niat untuk menggoda suaminya jadi hancur total karena Fardan!

__ADS_1


‘Mampus, dia jadi terlihat seperti orang yang ingin membunuhku.’ Kutuk Fardan. Wajah cemas milik Fardan pun kian terlihat saat Ovin yang belum berpenampilan benar itu kini turun dari tempat tidur, lalu berjalan ke arahnya. 


__ADS_2