Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
127 : PUM : Menuju kencan bersama


__ADS_3

Di bandara, salah satu pilot kebingungan karena masalah rekan kerjanya yang tidak bisa datang. Padahal di jam ini, ia harus melakukan penerbangan.


"Bagaimana ini? Aku sama sekali tidak bisa menemukan pilot yang bagus untuk jadi asistenku. Si doni itu, dia malah tidak bisa datang gara-gara sakit." Gerutu pria awal tiga puluh tahunan ini.


Jika bukan karena perintah mendadak dari Tuan Chade, mereka semua tidak akan mungkin langsung kelabakan untuk mempersiapkan semua keperluan dari penerbangan yang akan berlangsung sepuluh jam lebih itu.


Pesawat kini sudah menunggu di landasan pacu, satu pilot pun berdiri di samping pintu masuk dan satu orang pramugari cantik untuk melayani sang tuan muda.


"Sabar, Tuan muda Chade itu kan bisa menerbangkan pesawat, jadi tidak perlu khawatir lagi." Sahut pramugari ini dengan tatapan terus mengarah ke depan, karena orang yang baru saja mereka berdua bicarakan sudah muncul di depan mata.


BRMM.........


Satu mobil berkecepatan tinggi datang menuju ke arah pesawat, dan di 10 meter terakhir barulah mobil tersebut menginjak rem dalam-dalam sehingga berhenti tepat 2 meter dari tangga yang terhubung langsung ke pintu pesawat.


"Hahh! Kau gila?! Kau hampir saja menabrak orang." kutuk Franz kepada Chade yang menyetir dengan kecepatan tinggi bagaikan hendak melayang atau lebih parahnya lagi hampir saja menabrak orang.


" Betul, aku memang gila dalam hal ini." Jawabnya dengan nada sombong. "Lagi pula hampir menabrak saja, bukan sudah menabraknya. Jadi tidak perlu sepanik itu." ejek Chade dengan senyuman miringnya, memuji diri sendiri dan mengiyakan kutukan Franz.


"Tapi kenapa kita dibawa ke bandara?" Tanya Ovin, melihat adanya jet pribadi sudah bersiap untuk terbang, sampai pilot dan satu orang pramugari juga sudah berdiri menyambut mereka bertiga.


" Tuan, ini paspornya " datang satu lagi pria berpakaian rapi dengan jas hitam. Pria ini menggunakan sarung tangan dan sekarang dia menyodorkan paspor beserta kartu identitas lainnya kepada Chade, Chade lah yang menerima semua itu.


" Rencana apa lagi yang kamu mainkan?! " Kini Franz bertanya.


" Lah...kita mau kencan, ya ke tempat romantis dong." Sela Chade memberikan satu persatu paspor dan kartu identitas kepada keponakannya juga kepada Franz.


Franz melotot, melihat paspornya sendiri sudah di siapkan, bahkan tandatangannya sekalipun sudah ada, tidak lupa dengan sidik jarinya!


"Kenapa kau bisa mendapatkan sidik jari dan tandatanganku?" Franz memberikan tatapan menyelidik pada Chade yang terlihat mencurigakan.


Ya, dari awal kemunculannya saja memang mencurigakan. Tapi kecurigaannya tetap saja kandas, karena temannya itu selalu gagal untuk mendapatkan identitas dari Chade dan Ovin.


Dua orang yang terlihat kenal dengan dekat, serta punya latar belakang yang cukup mencurigakan, itulah yang Franz rasakan terhadap dua orang ini.

__ADS_1


"Dari mana? Kan ada dia yang selalu senantiasa membantuku." Chade menepuk kepala Ovin dengan sebah usapan yang membuat rambutnya jadi berantakan.


'Kenapa aku? Kan yang melakukannya itu paman!' Ovin langsung menepis tangan Chade yang membuat rambutnya berantakan.


"Ovin, kau mencu-"


"Kenapa kau percaya dengannya? Aku mana mungkin memberikan data pribadimu pada dia." Sela Ovin detik itu juga, yang lantas membuat Franz bungkam, gara-gara mendengar ia hampir saja percaya dengan ucapannya Chade tadi. "Tapi pesawat dan romantis? Darimana kakak mendapatkan jet?"


'Jet, d-dia benar-benar punya jet?' Franz memperhatikan pesawat pribadi itu dengan cukup serius. Ada lambang A tepat di ekor pesawat. 'A? Apa apa itu nama lambang keluarganya?'


'Tapi aku tidak ingat, paman punya jet pribadi. Aneh nih paman,' Tapi tidak lama kemudian, dia melihat adanya huruf a di bagian ekor pesawat. Huruf A yang terlilit oleh tubuh ular itu melambangkan keluarga Albeson. 'Paman ini! Kenapa dia malah memakai jet ini? Walaupun itu samar, karena di cat ulang, tapi aku tahu kalau paman justru menggunakan jet punyanya kakek.'


" Mari Tuan, Nona muda, kita akan berangkat setelah mendapatkan izin terbang dari menara pemantau 5 menit lagi," tutur sang pramugari menyambut kedatangan dua orang laki-laki dan satu perempuan.


Terpaksa libur karena memang waktu Ovin dan Franz bangun sudah lewat dari jam masuk sekolah, tenyata mereka bertiga pun berlibur ke tempat jauh tanpa ada persiapan apa pun.


Bagaimana tidak, jika diantara mereka bertiga tidak ada satu pun yang membawa koper.


Tetapi setelah masuk ke dalam kabin pesawat, semuanya sudah dipersiapkan dengan baik.


Chade kebetulan dipanggil sang kapten pilot sehingga hanya tinggal mereka berdua saja yang ada di kabin dan berusaha mengelola alur kedatangan Chade sebenarnya.


"Jangan bilang dia sengaja membuat jebakan? " gumam Ovin.


"Apa yang kau gumamkan? " Hembus Franz melihat Ovin terlihat berekspresi serius.


"Tidak ada," Jawab Ovin singkat.


Tangan kanannya memegang gelas kosong namun sang pramugari datang dan menuangkan wine kepada Franz.


Walau hanya bermodalkan kaos putih dan celana jeans dan dipadukan dengan jaket biasa pesona Franz masih saja bisa keluar.


Kebetulan di saat terik cahaya matahari sudah mulai tinggi namun cahayanya masih bisa masuk ke dalam kaca yang ada, dan Franz yang duduk di pinggir jendela sambil memandang pemandangan luar jendela, Ovin pun jadi sudah seperti melihat karya yang di pahat dengan begitu sempurna.

__ADS_1


'Mau seperti apapun dia duduk, atau sedang apa, dia terlihat tampan.' Ovin tanpa sengaja jadi terpesona sendiri, karena dia terus menatapnya tanpa henti dari tempat dia duduk itu.


"Orang itu dimana? " Franz menjeling ke tempat pintu masuk, tidak ada yang datang maupun keluar.


"Pengumuman kepada semua penumpang dari pesawat A0782, karena masalah teknis saya yang akan menjadi pilot utama. Jadi kepada semua penumpang pesawat, silahkan pasang sabuk pengaman anda, kita akan segera berangkat. Saya Chade kapten dari pesawat ini mengucapkan selamat menikmati perjalanan anda " selesai sudah pengumuman yang di ucapkan oleh Chade, membuat Franz yang sedang minum wine, langsung tersedak.


"Uhuk...uhukk..uhuk...apa? Dia yang mengendarainya?" Franz ternganga dengan suara barusan, pria aneh paling dibencinya menjadi pilotnya.


__________________


Di tempat Chade berada.


"Saya Chade pengganti pilot utama meminta izin kepada menara pengawas, pesawat A0782 untuk berangkat sekarang. " Pinta Chade, dia sudah mempersiapkan penerbangannya, mengaktifkan semua mesin kendali, dan hanya tinggala menunggu balasan dari menara pengawas.


"Permintaan di izinkan, gunakan lajur 11 untuk memulai penerbangan." balasnya.


jawab salah satu petugas di menara pengendali yang bertugas untuk memantau kepergian dan kedatangan pesawat dari dan menuju bandara internasional di kota A.


"Anda memang hebat, dari mana anda belajar mengendalikan pesawat? " tanya paman disamping Chade.


"Aku belajar dari ayahku." satu persatu tombol di aktifkan dan roda pesawat mulai berjalan dari pelan perlahan menjadi cepat, bagian sayap kanan dan kiri sudah mulai di atur dan kecepatan juga sudah diatur ke kecepatan yang bagus terus di pertahankan, dan dari situ, Chade mulai menarik



kembali ke tempat kedua orang pemuda yang berada di situasi canggung.


'Dia bisa menerbangkan pesawat?!' Entah mau berapa kali mau dibuat terkejut akan pria gila itu, dari kedatangannya kerumah yang tiba-tiba, lalu mengajak perempuan alias isterinya kencan, mengebut di kecepatan 140KM/jam di jalanan dan sekarang menjadi pilot dari pesawat yang sedang ditumpanginya. 'Aku pikir dia hanyalah orang kaya level biasa. Tapi dia, sampai bisa menerbangkan pesawat, dia bukan anak kuliahan biasa.'


"Kenapa wajahmu serius seperti itu?"


Pertanyaan dari Ovin, langsung menarik segala pikirannya. "Sebenarnya siapa dia?"


"Dia kakakku." jawab Ovin singkat dengan wajah polosnya.

__ADS_1


"Aku tidak butuh jawaban dengan makna luas seperti itu." tukas Franz.


__ADS_2