
FlashBack 1 bulan yang lalu.
Sebuah kamar pasien berukuran besar yang merupakan kamar tingkat VIP.
Biasanya kamar pasien VIP hanya akan ditempati satu orang pasien, namun kali ini ada yang berbeda.
Di dalamnya ada dua orang pasien yang merupakan suami dan istri. Mereka adalah pasangan yang sudah berumur.
Namun untuk hari ini, ada satu orang pemuda yang sedang menjenguk kedua orang tuanya yang baru terlibat kecelakaan.
Pemuda ini duduk di kursi dan berada di tengah-tengah antara ranjang pasien yang ditempati ibunya juga ranjang pasien yang sedang ditempati ayahnya.
Banyak alat medis yang tertanam di tubuh sang ayah, yang berarti besar kemungkinan dialah pasien yang mendapatkan luka paling parah.
Sedangkan ibunya hanya mendapatkan luka ringan di kepala serta tubuh lainnya yang hanya dirawat dengan perban dan obat lainnya lalu di infus.
Awalnya pemuda ini hanya sedang menjenguk ayah dan ibunya, karena khawatir akan keadaan dari kedua orang tuanya ini.
Hanya saja, entah sejak menit keberapa lajur perbincangan mereka bertiga malah merambah ke sebuah pernikahan.
"Apa? Ayah mau aku menikah? Aku masih sekolah kenapa harus menikah!?" Tanya Franz yang merasa tak puas hati dengan ucapan dari sang ayah.
"Dasar anak nakal! Jika bukan sekarang jadi mau kapan? Ayah sudah tidak punya banyak waktu apa kau mengerti Franz?!" Walaupun mendapatkan luka paling parah, namun masih bisa memarahi anaknya yang nakal itu. “Dan ini juga karena perilakumu yang buruk, ayah berpikir lebih baik agar kau bisa cepat menikah, dan kalau bisa sekarang juga!"
"Jangan bercanda! Masa aku harus menikah muda?! Apa kalian ingin merebut masa muda ku?! Aku itu masih berumur 18 tahun loh! 18 tahun!" ucap Franz dengan sedikit penekanan.
"Dengarkan kata ayah! Jika ayah sudah memutuskan berarti harus dilaksanakan! Ibumu juga sudah menyetujuinya, benar kan?" sedikit melirik ke arah istrinya yang ada di samping kanan.
"Iya, jangan buat kami kecewa Franz. Apa kamu tidak kasihan pada kami? Lihat kita berdua malah sama-sama terbaring di ranjang rumah sakit." Ibu Franz akhirnya bersuara juga dan mendukung suaminya.
" ............. "
"Jika kamu tidak setuju, semua harta yang selama ini ayah berikan akan ayah cabut. Mobil, Atm, rumah, tidak ada uang jajan lagi, sekolah juga kamu bayar sendiri....bla...bla...bla." Banyak daftar harta kekayaan yang ayah Franz katakan dan akan dicabut jika anaknya benar-benar menolaknya.
Franz memijat keningnya sambil menutup mata dan berkata. "Cukup...cukup! Memangnya siapa yang harus aku nikahi?" Akhirnya Franz bertanya siapa calon pengantin wanitanya.
"Jadi kamu setuju?" Tanya ibu Franz dengan rasa penasarannya yang tinggi.
'Aku mana mungkin mau kehilangan mobil dan semua tunjangan selama aku hidup, aku tidak mau tidak memiliki uang!' PIkir Franz, dia benar-benar tidak ingin kehilangan hartanya yang selama ini dia gunakan. "Iya...iya! Tapi ada satu syarat." Franz memperlihatkan jari telunjuknya sebagai tanda.
"Katakan." Perintah ayah Franz.
"Aku tidak akan melakukan bulan madu atau honeymoon segala. Itu menjijikan dan membuang waktuku. Aku masih muda dan masih ingin bebas, aku tidak mau benar-benar terkekang oleh aturan hubungan suami istri itu." Jelas Franz kepada kedua orang tuanya.
"Yah....setidaknya bulan madu saja." Gerutu Ibu Franz, dari awal ia juga sudah memikirkan kemana anaknya akan berbulan madu dan sudah menyiapkan jadwal keberangkatannya.
Tapi semuanya benar-benar terasa akan sia-sia karena Franz sudah menyatakan penolakannya sebagai syarat atas pernikahannya.
"Iya atau tidak sama sekali." Ancam Franz.
"Baiklah, ayah tidak akan menuntutmu dengan hal yang lain selain menikah." Akhirnya ayahnya Franz lebih memilih mengalah akan hal bulan madu itu, dan lebih mementingkan pernikahan dari anak keduanya itu.
"Tapi kenapa bukan kakak saja?, kenapa harus aku?" Franz bertanya penasaran soal ini karena Franz sebenarnya memiliki satu kakak laki-laki.
Dan dari segi umur, kakak dari Franz lah yang harusnya mendapatkan perintah ini karena umurnya sudah pantas untuk menikah.
Tapi yang mendapatkan perintah hal semacam itu justru adalah Franz.
"Hei, kakakmu itu sibuk. Dia sudah bisa bekerja meneruskan perusahaan ayahmu di saat usiamu itu, jadi dia bisa memilih pasangan hidup sesuai dengan kemauannya itu. Sedangkan kamu, masih saja seperti anak kecil, main sana main sini, kemungkinan besar hidupmu hanya penuh dengan permainan hidup yang tidak menguntungkan." Jelas ibu panjang lebar.
__ADS_1
"Cih, benar-benar tidak adil." Kutuk Franz pada dirinya sendiri yang harus menanggung beban lebih berat di luar pekerjaannya.
"Karena kamu sudah menyetujuinya, maka yang harus kamu lakukan adalah bersiap." Satu telepon genggam ia ambil dan mulai menelpon seseorang. Ibu Franz merasa senang setelah selesai berbicara dengan nada berbisik di telepon, dimana kata terakhirnya itu adalah, "Urus sekarang."
TUT......
".........?" Franz merasa bingung dengan tingkah ibunya, sekaligus juga merasakan hal tidak mengenakan.
"Pfft...." Ayah Franz tertawa geli melihat anaknya yang terlihat kebingungan.
DRAPP....
DRAPP.....
DRAPP....
Tidak lama kemudian banyak orang yang masuk, namun orang yang masuk dengan setelan jas rapi itu tengah membawa kotak di tangannya masing-masing, lalu dibuka lah kotak tersebut dan bergegas melakukan tugasnya.
'Apa-apaan orang ini?' Franz terkejut bukan main, pekerja yang merupakan bawahannya ayah datang dengan membawa alat dekorasi seadanya namun terkesan mewah, bunga mawar putih yang tertata rapi di dalam pot, semua sofa dan meja dikeluarkan dan diganti dengan karpet merah lalu pita tadi di letakkan di bawah tepat di tepi karpet merah itu, ditaburi bunga juga.
Dan hal paling mengejutkan lagi adalah, Franz tiba-tiba di dijaga oleh dua orang bodyguard, dia langsung dibawa paksa oleh mereka berdua ke ruangan lain.
“Apa-apaan ini?! Lepaskan!“ Franz memberontak agar bisa lepas dari cengkraman dari kedua anak buahnya ayah.
Tapi usahanya sia-sia karena Franz kalah kuat dengan kedua orang itu.
"Hahaha....pertunjukkan yang menarik." Ibunya Franz tertawa geli melihat ekspresi anaknya yang terlihat lucu.
"Uhuk...uhuk....., aku benar-benar menantikannya." Ayah Franz benar-benar mengharapkan yang terbaik pada anaknya yang nakal itu.
5 menit kemudian.
"Tidak bisa Tuan muda, nanti anda terjatuh." Tutur salah satu orang itu.
Peringatan 'Terjatuh' itu ditunjukkan untuk Franz karena matanya ditutup dan kedua tangannya diikat layaknya seorang penjahat.
"Ini namanya pemaksaan!" Teriak Franz.
"Ini hanya untuk mengantisipasi." Jawab Ayah Franz.
Franz sudah masuk kembali ke dalam kamar rawat inap yang digunakan oleh kedua orang tuanya. Franz kemudian diletakkan di tengah-tengah karpet merah itu dan ditinggal pergi setelah ikatan di kedua tangannya dilepaskan.
Ada satu pukulan tiap kali hendak mau membuka penutup matanya, tentu saja sakit seperti anak SD yang melanggar peraturan ketika kukunya dipanjangkan, jadi mau tidak mau Franz lebih memilih untuk diam.
Dan di detik berikutnya dalam seketika suasananya menjadi hening.
Setelah itu Franz mendengar suara pintu yang terbuka lagi dan berarti ada orang yang masuk lagi.
"Pelan-pelan Nona." Tutur suara wanita pada seseorang yang dituntunnya. "Berhenti."
Langkahnya pun berhenti sesuai instruksi.
"Siapa disebelahku?!" Tanya Franz disertai peringatan.
"Ekhem......, di hari yang bahagia ini, bolehkah saya bertanya pada pria ini. Apakah anda menerima wanita di sampingmu ini menjadi isterimu?" Tanya pendeta itu pada Franz.
"Apa? Jadi......kenapa mendadak?"
"Jawab saja" Sela Ayah Franz.
__ADS_1
"Ck....iya." ketus Franz tidak berpuas hati.
"Lalu wanita yang ada disini, apakah anda bersedia menikah dengan pria disampingmu sebagai suamimu?" Tanya pendeta tersebut pada mempelai perempuan itu.
"Uhm.....ya." Jawabnya walau sedikit ragu.
Dalam beberapa menit, sang pendeta mengucapkan berbagai sumpah yang harus dijawab oleh Franz dan mempelai wanitanya.
Dan di sesi terakhirnya, sang pendeta pun mengutarakan kalimat sumpah lainnya.
"Dengan ini, mulai dari sekarang kalian berdua sudah sah menjadi suami dan isteri. Silahkan tuan dan nona bertukar cincin."
'Ini mendebarkan!' Gerutu Ibu Franz dalam hati, karena bisa melihat pernikahan anaknya secara langsung bersama dengan suaminya.
Walaupun sederhana dan terkesan memang betulan mendadak, tapi kebahagiaan itu penuh dengan makna yang sangat mendalam untuk mereka berdua.
"Apa harus?!"
"Harus sayang." Ibu Franz pulak yang bersedia menyela.
'Jangan bilang jelek?' Franz sekali lagi berusaha mengintip, namun tidak diperbolehkan dulu oleh seseorang yang dari tadi memukul tangannya dengan rotan. "Aww.....,jangan memukulku."
Franz dengan terpaksa harus memasangkan cincin ke jari manis pasangannya yang bahkan tidak tahu siapa dia.
"Mana tanganmu?" Franz menunggu uluran tangan dari perempuan yang sudah menjadi istrinya.
Sama-sama dibimbing seseorang, tangan mempelai wanita diulurkan tepat kedepan tangan Franz yang sudah mengambil salah satu cincin di kotak cincin tersebut.
Franz memasangkan cincin tersebut dengan kasar namun tidak ada rintihan 'Aw' sakit dari perempuan yang dinikahinya.
"Silahkan gan-"
"Tidak usah, aku bisa memakainya sendiri." Celetuk Franz.
SLUB.....
Dengan tak tahu malunya, Franz memasangkan cincin yang satunya lagi ke jari manisnya sendiri dan akan melepaskannya ketika tidak berada di depan orang tuanya.
Ibunya Franz menepuk jidatnya sendiri karena tingkah kurang ajar anaknya yang benar-benar kelewat nakal dan tidak tahu malu.
Tapi di dalam hatinya yang terpenting adalah anaknya sudah menikah sesuai dengan perintah suaminya.
Ia melirik ke samping kiri dan melihat suaminya tersenyum bahagia.
Dia tahu kalau suaminya senang akhirnya beban dari salah satu anaknya yang mengkhawatirkan itu bisa dibuang jauh-jauh, karena Franz yang sekarang sudah menikah.
"Sudah!" Merasakan jengkel, Franz berusaha membuka ikatan yang menutupi matanya dan melihat siapa perempuan yang dinikahinya dengan terpaksa.
"Tunggu, kalian berdua belum berciuman!" Sengaja mendorong tubuh Franh ke depan.
Franz yang tersentak kaget apatah lagi dorongan yang dilakukan anak buahnya yang tidak tahu diri itu membuatnya kehilangan keseimbangan, di saat dirinya sudah melihat wajah mempelai perempuan yang ternyata sama-sama matanya ditutupi dengan kain.
Perempuan itu membuka penutup matanya namun belum sempat sepenuhnya terbuka satu hal tidak terduganya adalah Franz langsung jatuh ke arahnya.
BRUKK......
JEDUG.....!
"Ah..!" Rintih perempuan itu yang sakit akibat tertimpa tubuh Franz.
__ADS_1