Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
134 : PUM : Pertemuan Yang Menyakitkan


__ADS_3

'Merindukanku? Kenapa dia tahu namaku, padahal aku sama sekali belum memberitahu namaku. Apa dia sudah menyelidikiku?' Karena pikiran itu, Ovin berusaha untuk melepaskan dirinya dari laki-laki ini.


Dan seperti kemauannya, ia di lepaskan dengan begitu mudah sebelum Ovin menggunakan tenaganya untuk melepaskan diri.


Ovin kembali mendongak ke atas untuk melihat, ya...walaupun tidak bisa melihat wajahnya, setidaknya...ia ingin merasakan dan mengimajinasikan, seperti apakah ekspresi wajahnya sekarang?


'Tapi-' Semakin di pandang, kesedihan itu semakin mendalam. Ovin ingin sekali bisa melihat wajahnya. Setidaknya sekali saja, setidaknya ia ingin melihat wajah dari seseorang dengan aroma serta perasaan yang terasa familiar?


Entahlah, ia hanya mengikuti instingnya, bahwa laki-laki ini adalah seseorang yang mengenal dirinya, dan...


'Kenapa? Aku hanya ingin melihatnya...aku hanya ingin bisa melihat wajahnya, kenapa bisa sesakit ini?' Rasa pedih itu kembali datang, di dalam hatinya, ia ingin sekali bisa melihat wajah dari seseorang yang cukup mengenal dirinya.


Sungguh, ketika ia tidak bisa melihat sesuatu yang bisa di lihat oleh banyak orang pada umumnya, ia malah di beri sesuatu yang cukup menyakitkan dan terasa menyesakkan dada.


Padahal pria ini baru pertama kali menemuinya. Itu jelas, karena Ovin sendiri baru merasakan kehadiran pria ini. Tapi sesuatu yang ada di dalam dirinya seperti berkata kalau ia punya ikatan dengan pria ini.


Tapi apa?


'Apakah ada yang bisa menjelaskan perasaan apa ini? Tanpa membuatku bertanya seperti orang bodoh? Apakah ada yang bisa membantuku? Siapa orang ini? Tapi aku sama sekali tidak bisa melihatnya, aku-' Ketika pikiran dan perasaannya kacau, Ovin jadi sama sekali tidak bisa menganalisis nya.


Sangat tidak etis, padahal dia bisa melihat banyak orang, jalan dan lingkungan sekitarnya, ia malah jadi di hadapi perasaan sekacau ini di depannya.


Ovin terus menatapnya, ia tidak mau memikirkan hal lain, selain orang ini.


"Siapa?" hanya untuk bertanya seperti itu, suaranya jadi bergetar, bibir bawah terus di gigit, dan air mata yang sudah tidak bisa terbendung itu pun pecah juga.


Untuk sekedar mencari tahu siapa orang ini, untuk pertama kalinya, Ovin jadi harus rela bersikap bodoh, menanyakan siapa?


Sungguh tidak pantas rasanya.


Itulah yang terus di ucapkan di dalam hatinya.


"M-maaf...t-tapi bisa..hiks..bi-bisa kah, ka..kau memberi ta..hiks...memberitahuku...namamu?"


DEG!

__ADS_1


Seperti anak kecil yang kehilangan induknya, ya...dia memang sudah kehilangan semuanya sejak sepuluh tahun yang lalu, dia akhirnya menangis, memohon untuk memberitahukan namanya.


Setidaknya agar hatinya tidak merasa sesak ataupun sakit lagi, karena ketidaktahuan yang ada di depan matanya.


Akan tetapi, untuk pria ini, kalimat yang terucap itu jadi seperti satu tikaman langsung menghunus jantungnya.


Kenapa gadis di depannya ini malah bertanya?


'Kenapa, Ovin bertanya siapa aku? Dia sampai menangis seperti ini? Apa yang sudah dia alami? Bagaimana bisa? B-bukankah dia...seharusnya tahu, aku siapa?' Dengan hati yang teramat sakit itu, tangannya terangkat, dia membungkuk dan meraih wajah yang sudah mulai sembab dengan air mata itu.


Ekspresi wajah yang sangat familiar, ya...dia memang Ovin, anak dari mendiang kakaknya.


Pria ini memang sudah diberitahu kalau Ovin adalah anak dari sang kakak yang sudah meninggal lama akibat dari kecelakaan, bahkan semuanya sudah di ceritakan oleh Chade kepadanya. Tapi .... Ternyata ada satu hal yang pria ini tidak ia ketahui, kalau gadis yang sedang menangis ini sama sekali tidak mengenalnya?


Padahal baik dirinya, Chade, juga Ibu dari gadis ini tidak jauh berbeda.


Seharusnya gadis ini langsung mengenalnya, tepat di saat mereka bertatap muka tadi.


Tapi, semuanya seperti angan-angan belaka yang hanya di imajinasikan oleh pria ini saja, bahwa gadis ini akan langsung mengenalnya.


Baru pertama kali, baru bisa memeluk keponakannya sendiri, tapi dia harus di hadapi kenyataan pahit seperti ini.


"Ethan."


Untuk mengatakannya, ia jadi merasa bersalah sendiri, hatinya jadi ikut trenyuh karena ia jadi harus mengenalkan dirinya seperti orang asing saja.


Padahal ada ikatan diantara mereka berdua, setidaknya sebagai keluarga. Keluarga baru untuk Ovin.


Setidaknya begitu. Iya...tapi karena pertemuannya jadi semenyakitkan ini, pria ini akhirnya langsung memeluk kembali gadis yang dari luar terlihat kuat, sebenarnya di dalamnya sungguh...itu sungguh rapuh.


Sangat menyakitkan. Ethan tidak menyangka saja, kalau ia akan ikut merasakan sakit untuk sebuah pertemuan yang sudah ia lama nantikan.


"Namaku Ethan. Aku...pamanmu juga, adik dari mendiang Ibumu. Ovin," Bisik Ethan dengan suara yang cukup lembut.


"E-than-, jadi aku punya paman pertama? Jadi...jadi inilah perasaan familiar yang..hiks.... Yang aku rasakan ini?" Tidak kuasa menahan tangis lagi, Ovin segera membenamkan wajahnya di dada bidang Ethan.

__ADS_1


Sangat, tidak terduga...mengesankan, ia ternyata masih punya satu keluarga yang bisa dia ajak peluk bebas seperti ini?


Dengan hati dan entah...semuanya kacau.


Bahkan Ovin sendiri sama sekali tidak peduli dengan penampilannya yang pasti juga sama-sama kacau.


Karena, terbesit antara rasa senang, sedih, tapi juga ada rasa sakit. Semua perasaan yang bercampur aduk, untuk mengartikan satu perasaan utama yang ia miliki.


"Paman~ Hiks...hiks, jadi aku punya keluarga tambahan? Jadi ini paman yang hiks...yang ada di luar negeri terus?" Tanyanya, dengan kedua tangan semakin mengeratkan pelukannya. Seakan, dia sedang memeluk Ibunya.


Iya. Karena aroma dari pria ini memang benar-benar sama dengan mendiang Ibunya.


Dengan kata lain, pria ini punya selera yang sama dengan sang Ibu.


'Ah~ Betapa kacaunya aku. Tapi...aku senang, aku sangat senang karena.... Ternyata masih ada orang lain lagi yang bisa menjadi keluargaku, selai paman Chade.' Wajahnya pun semakin tenggelam dalam pelukannya Ethan.


Dengan senyuman leah, Ethan memejamkan matanya, merasakan bisa di peluk dengan gadis kecil yang kian menginjak dewasa.


Dengan semua kondisi yang sudah di lewati oleh gadis ini, walau memang ada perasaan sakit, tapi setidaknya ia merasa ada perasaan lega, kalau Ovin terlihat sehat.


"Iya." Jawab singkat yang sungguh bermakna. "Karena mulai hari ini, aku akan tinggal bersama kalian." Imbuhnya. Tangannya terus mengelus punggung gadis ini, berusaha agar perasaan yang sedang di miliki oleh gadis ini bisa tenang.


Walaupun Ethan sadar, kalau itu tidak bisa menghapus semua luka yang sudah banyak di dapatkannya, setidaknya Ethan mulai hari ini bisa berada di sisinya.


Seharusnya memang seperti itu.


Tetapi meskipun sayangnya di belakangnya ia sudah tahu kalau sudah ada orang lain yang berhasil mengisi hati dari keponakannya ini, mulai sekarang ia akan tetap menjadi keluarga yang akan mendukung gadis ini dari segala sisi.


Hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang.


"Paman~"


"Ada apa Ovin?" Tanya balik Ethan dengan lembut.


"Apakah wajah paman tampan?"

__ADS_1


Senyuman itu pun semakin mengembang, walaupun itu adalah senyuman lemah yang di paksakan, karena tiba-tiba di tanyai pertanyaan yang sebenarnya sudah jelas.


__ADS_2