Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
Dalang Pembuat Cemburu


__ADS_3

BRUKKK.......


Tubuhnya langsung ia hempas ke atas sofa, Ovin tidak ada niatan untuk tidur gara-gara mimpi buruknya.


'Sampai kapan, sampai kapan aku seperti ini?' benak hatinya, sembari memandang langit-langit kamar.


Posisinya langsung beralih tengkurap, tangan kanannya menggantung dan ujung jarinya menyentuh lantai beralas karpet itu.


"Kenapa dia disini?" gumamnya, mengingat pada akhirnya Franz malah mengikutinya seperti ekor.


'Saat aku menghindarinya, dia malah datang padaku. Tapi saat aku mendekatinya, dia yang menjauh. Aku tertarik karena wajahnya, untungnya kedua orang tuanya menikahkanku dengan dia karena balas budi, tapi-, aku rasa dia tidak ingat balas budi yang harus dia berikan padaku.' Pikir Ovin. Sampai sorotan matanya terlihat semakin tenggelam dalam kegelapan dengan bibirnya mengucapkan: "Balas budi atas nyawa ibuku.


Masih saja ada pikirannya tidak terima karena ibunya pergi selamanya hanya gara-gara menyelamatkan anak laki-laki waktu itu. Dan kebetulan adalah anak yang sangat dikenalinya, yaitu Franz sendiri.


Jika bukan karena menyelamatkan Franz dari tabrak lari yang terjadi dulu, Ovin sudah jelas tidak akan memiliki keputusan untuk menikah dan memiliki sejuta rasa marah di dalam dadanya yang terkadang muncul dan hilang begitu saja.


Dan satu alasan kenapa dirinya mau menikahi Franz, salah satunya selain karena wajah Franz, tentu saja sebab ia akan ingin sekali membuat Franz memiliki banyak hutang budi kepadanya.


Sampai, semua lamunannya itu langsung ovin tarik kembali selepas tiba-tiba saja ada ketukan pintu di luar sana.


"Permisi, saya datang untuk mengantarkan makan malam." ucap si pegawai ini, dengan troli makanan ia bawa untuk mengantarkan menu sajian makan malam hari ini.


"sekilas Ovin memandang pintu itu dalam diam, namun ia segera beranjak dari sofanya dan berjalan menuju asal suara tadi."


TAP....


TAP....


TAP....


Ovin keluar dengan wajah datarnya, yang melihatnya pasti sudah berpikiran bahwa Ovin nampak seperti orang sombong, karena tidak ada senyuman apapun untuk memberikan kesan ramah kepada pelayan tersebut.


Dan pelayan ini, tanpa sadar jadi sedikit mendongak ke atas, sebab Ovin memiliki tubuh yang lebih tinggi dari dia.


"Aku ambil yang ini dan yang ini. " pilih Ovin, mengambil dua piring, dan sisanya yang merupakan piring yang menyajikan ikan, ia tinggalkan saja di troli.


Tapi, ketika Ovin tengah memperhatikan makanannya itu, ia langsung tersadar dengan tatapan dari sang pelayan ini.


Secara, Ovin jadi salah tingkah, ia memeriksa bagian sisi tubuhnya adakah yang aneh atau ada sesuatu yang menempel di wajahnya?


"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa ada sesuatu yang menempel di wajahku?" Tanya Ovin tanpa basa-basi.


"M-maafkan saya, saya hanya merasa iri karena anda lebih tinggi dari saya." jawab perempuan ini, langsung menundukkan kepalanya, karena sedikit takut dengan tampan Ovin yang memang sedang serius itu.


"...?!" Sedangkan Ovin, dia sedikit memiringkan kepalanya dan langsung menjawab. " Untuk apa merasa rendah diri hanya karena bertubuh pendek? Yang seharunya kau lakukan itu justru kau harus menaikkan martabatmu. Tak perlu dipikirkan soal kau tinggi atau pendek."


"Keren sekali!" puji Mersela dengan wajah senangnya."Cara berpikir anda hebat banget!" imbuhnya, ia tidak pernah sekalipun mendapatkan pujian dari orang, karena dirinya memang tidak ada hal yang patut di puji.


Tapi, berbeda dengan tamu yang ia layani kali ini, hal itu membuat Marsela sendiri merasa senang.


'Padahal cuma beda 5 cm, tapi dia jadi girang dengan perkataanku itu?' pikirnya sambil menatap perempuan di depannya, jika di hitung-hitung melalui pengamatan, pelayan di depannya memiliki tinggi 157 sedangkan dirinya sendiri hanya 162 cm.


'Dia mengataiku tinggi? Padahal model perempuan saja ada yang memiliki tinggi 170 cm.' pikir Ovin, benar-benar memperhatikan pelayan tersebut dengan cukup seksama.


"Terima kasih, sudah menasihati. " ucapnya dengan sedikit membungkuk pada Ovin, dan langsung undur diri.

__ADS_1


"Aneh. " gumamnya, setelahnya ia langsung balik masuk ke kamar.


___________


Sedangkan disisi lain, Franz pada malam itu juga pergi kembali ke pulau menggunakan heli yang masih berada di dek.


Meninggalkan istrinya?


"Persetan istri atau apa, aku tidak mau setempat dengan dia." rutuk Franz. Mode gengsinya pun kumat lagi. Dia merasa tidak perlu berlama-lama di kapal agar tidak mengundang kecurigaan banyak orang, apalagi teman-temannya.


Maka dari itu, Franz pun kembali ke hotel dan meninggalkan Ovin yang lebih suka menyendiri di kapal.


Dia duduk manis di sebelah pilot, sambil memandang keluar jendela, kapal terlihat lebih kecil ketika dirinya berada di atas dan akhirnya N pergi lebih jauh.


'Sudah beberapa jam, harusnya juga sudah baikan dan tidak menca-' Seketika Franz tersentak kaget. 'Kenapa aku jadi mikirin dia terus? Otak, kenapa kau masih saja memikirkan dia sih?' Rutuk Franz.


Dia jadi frustasi sendiri mengingat Jordy sendiri sudah tahu rahasia dari mereka berdua.


Dan Franz langsung menggeleng kuat untuk membuyarkan otaknya yang tiba-tiba saja memikirkan perempuan pembawa sial itu.


'Ada apa dengan tuan muda hari ini?' sang pilot pun hanya bisa bertanya dalam diam, melihat tuan muda hari ini bertingkah aneh.


________________


Pada akhirnya 2 hari kemudian...


Ketika mereka semua bersenang-senang menikmati karyawisata di pulau yang baru saja di bangun, dengan berbagai fasilitas menarik juga lengkap untuk menyenangkan mereka semua...


Gadis ini dengan santainya menikmati kolam renang yang berisikan air panas.


Melepaskan rasa penat tubuh dan lelah otak, benar-benar kenikmatan yang sangat didambakan.


Liburan harusnya dilakukan dengan santai dan inilah yang didapatkan, bukan seperti mereka yang riang kesana kemari tapi hasilnya liburan itu melelahkan.


"Blubphh.......bluphh......blupbhh......" gelembung udara berurutan langsung menghiasi kolam yang tak seberapa besar itu.


'Ini hari terakhir ya~?' pikirnya, ketika dirinya sedang terbaring di dasar kolam.


Tangannya ia angkat dan menemukan jam yaitu ari 2 menit 45 detik waktu sudah berjalan lewat dari 2 menit 45 detik dan terus berjalan.


"Na..!"


'Na? Apa ada yang memanggil na?' masih mencoba menahan nafasnya, namun sayup-sayup ada yang sedang berteriak?


"Nona!" teriak Marsela. Dia adalah pelayan yang tadi malam sempat mengantarkannya makan malam.


Dia berteriak memanggil Ovin, karena memang sedang mencarinya.


Hanya saja, panggilannya itu sama sekali tidak digubris oleh nona yang sedang di dasar kolam.


'Apaan sih? Padahal aku sedang bertarung melawan waktu, tapi masih ada juga yang mengganggu meditasiku di dalam kolam.' mengganggu ketentramannya, dahinya mulai berkerut-kerut karena teriakan itu.


Sedangkan di atas, seorang pelayan yang bernama Marsela panik bukan main, sampai di masa yang sama, seseorang berjalan cepat dimana Marsela berdiri.


"Ada apa?" tanya Chade dengan wajah serius. Kali ini dia akan pulang dengan kapal pesiar itu sendiri.

__ADS_1


"It-itu." Marsela menunjuk tepat ke arah kolam.


"Nona? Siapa yang sedang kau cari?"


"Nona Ovin, dia ada di dam, dan belum juga keluar." Jawab Marsela.


Mendengar kata Ovin, tanpa pikir panjang lagi, Chade ambil ancang-ancang dan langsung terjun masuk kedalam kolam.


BYURRR.......


Belum sampai masuk sepenuhnya, ada bunyi


JDEUGGHH.....


Ovin yang berniat keluar dari dalam air, secara tidak sengaja berhasil menjebak jidatnya untuk bertabrakan dengan kepalanya Chade.


Alhasil Ovin pun masuk kembali ke dasar kolam gara-gara orang yang baru saja mencebur tanpa peringatan dulu itu saling berbenturan kepala.


'Siapa yang barusan membentur kepalaku?!' detik hatinya, sebab peristiwa tadi benar-benar terjadi cukup cepat, sehingga Ovin sama sekali tidak melihat orang yang baru saja menabrakkan kepalanya dengan kepalanya Ovin.


Dan Chade yang masih menahan rasa sakitnya di kepalanya itu, dengan buru-buru menangkap tangan Ovin yang hampir menjauh dari jangkauannya, sebab Ovin akan kembali masuk ke dasar kolam.


Dan beberapa detik kemudian, Chade yang berhasil menangkap tangannya Ovin, langsung ia tarik keluar.


"PHUAAHH.., hah, hah-" All, keluar bersama dan segera mengambil nafas.


"Uhukk...uhuk...uhuk.. " akibat kemasukan air, telinga dan hidungnya jadi bermasalah ia pun N sangat tersiksa dengan semua yang sedang ia rasakan saat ini.


Sedangkan Chade langsung melontarkan kicauannya di tengah tersiksanya Ovin dengan kepala ang masih sangat sakit : "Kenapa malah menyelam di kolam ini? Sudah aku bilang kalau itu berbahaya." seru Chade pada gadis ngeyel ini, sambil menggoncang-goncang tubuhnya itu.


"Kalau mau menyelam harus kolam yang bawah, bukan ini. Lihat sekitarmu, jangan membuat orang khawatir seperti dia. "Imbuh Chade, dan jempolnya menunjuk ke belakang yaitu Marsela yang masih dilanda rasa terkejutnya. di


"Iya Nona, saya khawatir karena hanya melihat handuk saja di sini, sedangkan anda tidak muncul-muncul." Kata Marsela ini, mengungkapkan rassa khawatirnya itu.


'Dia sebenarnya sedang bicara apa?' batinnya, tangannya cepat-cepat menepis tangan Chade yang mencengkram kedua lengannya dengan kuat.


"Dengar itu? Dan tuh, matamu jadi merah. " dua jarinya milik Chade langsung menunjuk tepat ke depan mata Ovin yang memerah. "Dan bajumu-" matanya seketika menjeling gadis itu dari atas sampai bawah.


"Heh, jadi terlihat seksi kan?" Tanya Ovin tanpa sungkan mengikuti kemana arah pandangan Chade menatap tadi, jelas kalau Chade tengah memperhatikan penampilan dari diri Ovin ini.


Terlihat, baju kemeja warna biru muda yang dimana bagian dua kancing di bawah tidak ia kancing melainkan dia ikat dan celana olahraga yang dikenakannya sudah basah, apalagi rambutnya, seketika penampilan itu berhasil menyita perhatian dari pria tulen yang ad adi depannya itu.


Cukup seksi, dan dengan baju yang secara otomatis langsung menerawang, memperlihatkan pakaian da lam yang di pakai oleh Ovin ini.


"Kau mau menggodaku?" tiba-tiba saja nada bicara Chade berubah seperti menggoda, dengan seringaian licik itu tersungging di bibirnya. 'Aku suka sekali mempermainkanmu lagi.' benak hatinya, ketika iris matanya melihat satu orang yang sangat ingin ia kerjai yaitu, Franz.


Di sisi lain, tepat tingkat atas, berdirilah Franz yang sedang menatap mereka berdua. 'Apa yang dilakukan mereka berdua?'


Tangannya menggenggam erat besi pembatas itu, rasa kesalnya entah kenapa muncul ketika melihat si mata empat dengan Chade sedang berduaan di kolam.


'Kenapa aku terus-terusan merasa terpancing dengan dia? Padahal jelas dia hanya sengaja menggoda Ovin untuk menarik perhatianku. Tapi, aku ini malah terus saja tidak bisa untuk diam saja.' Pikir Franz ketika dia melihat betapa dekatnya posisi, dan wajah dari Ovin dan Chade yang masih berada di dalam kolam renang.


"Ya, aku sedang menggoda diri sendiri." akhirnya Ovin bersuara, meski dengan nada lirih kepada Chade.


Pasalnya, baju yang basah itu, kini memperlihatkan pakaian dalamnya yang berwarna putih.

__ADS_1


'Padahal aku tidak sengaja terjatuh, gara-gara tadi menghindari kotoran burung yang ada di lantai. Tapi, hasilnya lagi-lagi aku berhasil membuat Franz terpancing untuk cemburu denganku.' pikirnya.


__ADS_2