Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
40 : PUM : Menemukan


__ADS_3

“Kamu dengar tadi kan? Minggu depan kita sudah mulai simulasi ujian,”


“Ya..rasanya jadi berat. Padahal hanya simulasi, tapi jika aku ketahuan tidak mendapatkan nilai bagus, uang jajan aku langsung di potong sampai separuh.” Keluh perempuan ini, merasa khawatir sendiri dengan nasibnya, karena selama ini hasil ulangan harian saja hanya pas sesuai dengan KKM.


Tidak hanya satu atau dua orang yang mengeluhkan hal itu, tapi cukup banyak.


Tapi apakah lantas akan berlaku pada orang-orang ini?


“Franz, Bella, kalian berdua sungguh pintar. Padahal ujian simulasi ini bapak adakan secara dadakan. Tapi kalian bisa menjawabnya dengan sempurna.” Puji pria ini, guru yang menjadi pengawas ujian singkat yang di adakan secara mendadak tadi.


“Ya pastilah, secara mereka berdua kan pintar pak. Sejolin pula.” Salah satu berani menyahut ucapan guru tersebut. 


“Hah…tentu saja hal seperti ini, bagi Pangeran dan Putri adalah masalah yang cukup sepela, jadi jangan membanding-bandingkan kami lagi.”


“Bnear, puji saja mereka berdua terus.” Kritikan demi kritikan juga terlontar dari mulut mereka. Mengakibatkan guru tersebut jadi memilih diam ketimbang harus membahas hal tersebut lebih lanjut dan mengakibatkan masalah. 


‘Mereka bersik. Salah sendiri tidak pintar, tapi masih saja menyalahkan orang lain.’ Keluh Franz terhadap kalimat protes yang dari tadi terdengar, hanya karena dirinya terus di puji karena mendapatkan nilai sempurna di ujian simulasi tadi. ‘Tapi….aku tahu kemampuan Bella sudah tidak di ragukan lagi, hanya saja kenapa aku jadi penasaran berapa nilai yang di dapat oleh Ovin?’


Franz pun jadi curi-curi pandang istrinya yang ada di barisan belakang. 


Disana terlihat Jerry benar–benar sedang duduk berjejer di samping Ovin. 


‘Kenapa aku kesal lihat anak itu duduk di sebelahnya.’ Tatap Franz dengan tatapan mata yang cukup dingin. 


“LIma puluh? Itu masih lumayan, dari pada kosong? Bagaimana?” Kata Jerry, saat melihat hasil nilai iyang terpampang di layar komputer yang di gunakan oleh Ovin. 


“Buruk tetap saja buruk.” Ketus Ovin.


‘Lima puluh? Hah…karena tampangnya juga bodoh, makannya nular ke otaknya.’ Diam-diam Franz mengulas senyuman tipis. Tapi ekspresi wajahnya kembali terkontrol, ‘Kenapa aku jadi senyum?’ merasa tidak karuan ketika merasa cemburu melihat Jerry duduk bersebelahan dengan Ovin, sampai wajah mereka berdua benar-benar saling berdekatan satu sama lain, Franz pun kembali menatap ke arah depan. ‘Menyebalkan, kenapa aku rasanya cemburu?’


‘Franz….dia lagi-lagi melirik ke arah anak dekil itu. Apakah karena efek salah ciuman yang waktu itu, tanpa di sadari, Franz mulai tertarik dengan dia?’ Bella pun jadi menoleh ke belakang untuk menemukan Ovin yang ternyata sedang dekat dengan anak baru lainnya, yaitu Jerry.


“Ok…karena percobaan dadakan dari simulasi ujian untuk kalian sudah selesai, silahkan pulang. Jangan lupa, minggu besok sudah mulai untuk simulasi ujian lagi.”


“Baik pakkk..”


“Iya..pak guru.”


Mereka semua membalas ucapan guru mereka dengan nada yang cukup malas. 


____________


Waktu pulang sekolah. 


ZRASHH……

__ADS_1


Huja besar tiba-tiba saja menggutur sebagian besar wilayah dari kota metropolitan. 


Franz yang kala itu sedang naik mobil untuk perjalanan pula, dan mengalami kemacetan di jalan, hanya bisa duduk diam sambil menunggu.


TINN…..TIN…..


Suara klakson terus berbunyi, tidak ada orang yang punya kesabaran jika masalahnya adalah kemacetan. 


‘Kenapa di saat-saat seperti ini, harus macet?’ Karena lumayan lelah, Franz meletakkan kepalanya di atas stir mobil.


Di tengah-tengah Franz sedang mengistirahatkan kepalanya di atas stir mobil, tiba-tiba saja ada ketukan di pintu jendela .


TOKK…TOK….TOKK….


Franz yang malas untuk mengangkat kepalanya, hanya menoleh ke arah kanan. 


‘Siapa sih yang menggangguku? Jangan-jangan pengemis,’ Kutuk Franz, merasa terganggu dengan kesendiriannya. 


TOK….TOK….TOK…..


‘Ck..dia pikir aku tuli?!’ Merasa terprovokasi sendiri, Franz pun mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah kanannya. “Dasar, sembarangan sa- haa?!” Keluhan itu berubah jadi kejutan besar. 


Klek….Klek…..


Mata Franz melotot, dia terkejut dengan orang yang menginginkan pintu itu di buka. 


BRAK….BRAK……BRAK…..


Ovin memukul-mukul kaca mobil, agar pintunya bisa di buka.


‘K-kenapa dia tahu aku disini? Ini kan ada lebih dari ratusan mobil, kenapa dia bisa tahu ini mobilku?’ Terkejut Franz dengan kemunculan Istrinya yang tiba-tiba saja sudah ada di samping mobilnya. 


Ovin terus memukul-mukul jendela pintu itu agar Franz yang ada di dalam, bisa membukakan pintu untuknya. 


“Franz….kamu dengar kan? Buka!” Pinta Ovin kepada pria di dalamnya. 


‘Apa dia ingin menumpang?’ Matanya mengernyit melihat Ovin ingin masuk kedalam mobil. Dia awalnya tidak ingin membiarkan istrinya itu masuk, sebab kalau-


“Hai Nona, mau masuk kedalam mobilku?” Tanya seorang laki-laki yang kebetulan mobilnya berada di sebelah mobilnya Franz. “Dari pada lama menunggu di sana, lebih baik masuk saja ke mobilku.” Tawar laki-laki ber jas hitam ini kepada Ovin.


JDERR….


“..............!” Franz yang mendengar tawaran dari laki-laki lain itu di tunjukkan untuk istrinya, apalagi setelah mendengar dentuman keras dari petir yang baru saja menggelegar, secara Franz langsung membuka kunci pintu mobil. 


KLEK…

__ADS_1


Ovin yang tidak menyahuti tawaran yang di berikan oleh orang tadi, langsung masuk ke dalam mobilnya Franz.


BRAK…


“Kenapa kamu bis-” Belum sempat juga bertanya alasan kenapa Ovin mampu menemukan mobilnya di antara ratusan mobil yang ada di jalan, kalimat Franz langsung menggantung setelah melihat penampilan dari istrinya yang benar-benar basah kuyup.


“Maaf, mobilmu jadi basah. Nanti aku keringkan.” Ucap Ovin sambil mengusap wajahnya dengan kasar. 


Mungkin karena hujan, Ovin tentu saja tidak akan memakai kacamatanya, tapi…Franz tentu saja melihat kacamata lain yang masih terpakai dengan cukup jelas di balik seragam Ovin, sebab blazer itu tadinya digunakan untuk menutupi kepalanya.


“Kenapa kamu bisa tahu ini mobilku?” Tanya Franz, memberikan tatapan menyelidik pada perempuan di sampingnya itu. 


“Karena, plat mobilmu.”


“.............” Sayangnya Franz sama sekali tidak puas dengan jawabannya itu. 


Tahu kalau suaminya tidak puas dengan jawabannya, Ovin kembali menjawab, “Aku tidak sengaja melihat mobilmu, jadi aku mengikutimu.”


“Tapi kenapa juga, mengikutiku?” Franz benar-benar menginterogasi istrinya sampai sedalam-dalamnya. 


Ovin pun menoleh ke arah kiri, dan menatap mata Franz, lalu menjawab, “Karena yang terlintas di pikiranku, hanya kamu saja yang bisa aku mintai bantuan.”


“Bantuan apa?”


“Membuatku menumpang di mobilmu.”


“Terus bagaimana dengan sepeda listrikmu itu”


“Kereta bawah tanah nya sedang terendam banjir, aku tidak bisa pulang kecuali aku harus jalan kaki.” Jelas Ovin. Dia melepaskan tas, sepatu dan kaos kaki yang agak mengganggu itu karena terasa berat. 


“Ck…jalan kaki? Bukannya kamu punya beberapa orang yang bisa di mintai bantuan? Mereka mungkin bisa mengantarmu.” Sela Franz, tiba-tiba saja teringat dengan malam dimana Ovin sedang makan bersama dengan pamannya.


Tapi karena Franz tidak tahu kalau pria yang ada di dalam foto itu adalah pamannya Ovin, maka Franz pun jadi mendapatkan pemicu untuk membuat alasan demi alasan. 


“Mengantarku? Bukankah kamu ingin hubungan kita di rahasiakan?” Timpal Ovin.


“.........!” Franz jadi tersadar. 


“Handphone ku mati, aku lupa membawa dompet, dan tadi siang uangku sudah aku gunakan untuk beli seragam.”


DEG…!


Walaupun semua cerita itu agak meragukan, tapi mengingat tadi siang Ovin memang mendapatkan masalah dengan perempuan lainnya saat di kantin, di dalam hatinya, Franz pun terbesit rasa kasihan.


“S-sudah…jangan bahas itu lagi.”

__ADS_1


“............” Ovin hanya melirik kearah Franz yang terlihat canggung itu. ‘Padahal dia sendiri yang ingin tahu alasannya.’


__ADS_2