
BRAKKK........
Pagi itu, sebuah pintu tiba-tiba saja di buka dengan cukup keras. Hingga dua orang yang baru saja mandi itu, langsung terkejut dengan kehadiran Chade.
"Kalian sudah siap!? " Tanya Chade dengan penuh semangat.
"Kenapa kau membuka pintu kamar orang!" seru Franz. Franz yang hendak membuka bajunya, langsung mengurungkan niatnya itu, sebab ada tamu tidak di undang baru saja menerobos masuk.
Chade dengan seringaian tipisnya tiba-tiba berkata : "Memangnya kau tidak tahu, ini itu kamar kita, kenapa kau marah? " Chade malah balik bertanya.
Franz membelalakkan matanya lebar-lebar dengan jawaban yang berakhir dengan pertanyaan juga.
"Ki...ta? Kita bertiga?!" Franz langsung mengangkat tangannya, telunjuknya mengacung pada satu perempuan tengah menyisir rambut, yaitu Ovin yang kebetulan memang baru saja selesai mandi.
"Aku tinggal di kamar sebelah," sahut Ovin pula, orag yang menjawab pertanyaan Franz.
" Kalau begitu kenapa kau disini?! " Tanyanya. 'Padahal saat sebelum tidur dan setelah tidur, jelas-jelas dia tidur di sebelahku.'
Franz tentu saja masih ingat, setelah makan malam, Ovin sama sekali tidak beranjak keluar dari kamarnya, dan yang ada, Ovin justru ikut berbaring tidur di sebelahnya.
'Dia kenapa mudah di tipu. Aku sepanjang malam memang tidur di sini denganmu.' Dalam diamnya, Ovin tersenyum sendiri karena lagi-lagi bisa di perlihatkan ekspresi wajah Franz yang bingung, panik di saat yang bersamaan. 'Tapi ini kenapa rambutku kusut?'
Tanpa menjawab pertanyaannya Franz tadi, karena rambutnya yang kusut itu lebih di prioritaskan, Ovin pun berusaha untuk mengurai rambut yang kusut itu.
Sedangkan Chade, dia jadi menepuk dahinya sendiri melihat gadis kecilnya tidak bisa mengurus rambutnya sendiri sampai sisir pun nyangkut di rambutnya sendiri.
Dengan cepat Chade pergi ke sisi Ovin dan membantu merapikan rambutnya.
" Sudah aku bilang cepat bersiap, ini rambutmu benar-benar, tidak bisa di ajak kerja sama deh." Chade mencoba melepaskan sisir itu dan perlahan dengan kesabaran membantu menyisirnya juga mengepangnya.
__ADS_1
Walaupun Chade adalah laki-laki, tapi karena dia sudah lama mengurus keponakannya dari kecil, dia pun tahu bagaimana harus menata rambut lembut yang masih wangi itu dengan mengepang nya ke belakang. Seperti yang di lakukan oleh Jerry terakhir kali, itu juga yang kini Cahde lakukan kepada rambutnya Ovin.
" Aw...., pelan-pelan " wajahnya meringis kesakitan. "Iya, ini akan lebih lembut lagi. Makannya, rambut itu jangan kepanjangan seperti ini. Aku potong sedikit saja ya?"
"Kenapa di potong? Kan aku suka rambutku ini."
"Mana ada yang mau mempertahankan rambut yang ujungnya bercabang seperti ini?" Beritahu Chade sambil memperlihatkan ujung rambut ovin yang memang ada yang bercabang.
"Biarkan saja dulu,"
"Hmm...Ok. Berarti aku akan mengepangnya saja." Jelas Chade.
'Hei...aku disini loh, dia siapanya kamu sampai berani pegang rambutnya? Dan Ovin, beraninya bermesraan di depanku. Padahal kemarin aku sudah memberitahumu agar tidak dekat dengannya lagi kan?' dengan langkah panjang, Franz merebut sisir dari tangan Chade.
" Makasih sudah pegangin sisirnya " Ucap Chade memberikan senyuman menyindir, karena Franz salah sasaran.
"Sudah lama aku tidak mengepang rambutmu, terakhir kali itu.....6 bulan yang lalu ya? "
"Ya." sahut Ovin.
'D-dia, dia benar-benar mengesalkan!' Kesal dengan perilaku Chade kepadanya, Franz langsung melempar sisir yang ada di tangannya itu ke atas kasur dengan kasar, lalu dengan cepat, dia menyerobot posisi Chade. " Sini! Aku saja yang kepang!"
" Ehh.....memangnya tuan muda sepertimu tahu mengepang rambut perempuan? " Chade sengaja mengejek Franz demi memantik emosinya.
"Aku bisa."Jawab Franz dengan percaya dirinya.
Dan benar saja, Franz mulai mencoba mengepang rambutnya Ovin. Tapi sayangnya tidak sesuai dengan ekspektasi apa yang Franz pikirkan, kepangan itu sungguh berantakan.
'Kenapa sesulit ini? Padahal aku yakin saat aku menonton video, aku sudah hapal, tapi tanganku! Kaku!' Franz pun jadinya mengutuk tangannya sendiri, sebab dia tidak berhasil membuat sebuah kemenangan, sesuai degan apa yang tadi dia ucapkan, kalau ia bisa mengepang rambut perempuan.
__ADS_1
" Sudahlah, tidak banyak waktu lagi. Jika bocah sepertimu yang menata rambut malah urusannya jadi panjang " Chade kembali menempati posisinya untuk meraih kemenangan dalam hal memberikan kesempurnaan sebagai laki-laki, tentunya. "Selesai."
Entah dari mana Chade mendapatkan keahlian mengepang rambut perempuan dengan begitu rapinya, tapi Chade adalah orang yang pengertian.
Ovin memegang rambutnya yang kelewat rapi dan tidak akan membuat lehernya panas.
"Rapi sekali." gumam Ovin. Tingkahnya kambuh lagi, karena tangannya itu sangat suka menyentuh kepangan di rambutnya sendiri.
'Tch...., jadi dia memang suka di kepang?' Franz jadinya mendapatkan kekalahan sebanyak dua kali, yang pertama dengan Jerry dan sekarang dengan Chade lagi.
Makannya, Franz sempat terbesit akan lebih giat lagi mempelajari cara mengepang rambut perempuan.
"Karena rambutmu sudah, sekarang saat kita berangkat." Perintah Chade, tangannya menarik kedua pemuda di belakangnya dan mereka bertiga pun jalan di koridor hotel mewah dengan penampilan Cool mereka.
" Hwahh.....siapa pria tampan di sebelah kanan itu? " yang dimaksudnya adalah Chade, beberapa orang yang sama-sama melewati lorong yang sama dengan mereka bertiga meluangkan waktunya untuk meliriknya.
" Dia siapanya kedua pria itu ya? " Yang sedang di dibicarakannya adalah Ovin sendiri, karena di antara kedua laki-laki itu hanya Ovin seorang yang merupakan seorang perempuan.
" Mungkin pacarnya? " terkanya.
"Masa iya, dia punya pacar dua, secara terang-terangan seperti itu?" masih kurang percaya.
"Kau ini, seperti tidak pernah melihatnya saja. Ayo jalan lagi." Perempuan ini pun mendorong sahabatnya itu agar segera melanjutkan perjalanannya untuk mencari kamar milik mereka berdua.
'Mereka memang benar-benar punya pikiran luas, sampai aku di kira punya dua pacar? Padahal salah satu yang ada di depanku ini adalah suamiku.' Ovin mencoba memuji dirinya sendiri di dalam hati, namun yang didapatinya ketika melirik ke samping kiri yaitu Franz, dianya justru hanya memasang wajah masam dan dingin. 'Apa dia kembali cemburu?'
Dimatanya, wajah Franz memang terlihat cukup suram. Bahkan seperti orang yang hendak membunuh.
'Kenapa perempuan ini melirikku terus? Memangnya aku tidak sadar kalau kau menatapku terus?' Benak hati Franz.
__ADS_1