Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
PUM : Perasaan


__ADS_3

"Hah?" Sesaat Franz terkejut dengan memori dari masa lalunya tadi.


ZRASSHH........


ZRASSHH......


ZRASHHH.....


Guyuran air bak hujan membasahi tubuh kekar dan polos Franz, dia menengadah ke atas sehingga membuat wajahnya langsung diguyur oleh air dingin itu.


Berhasil melewati masa kritisnya, akhirnya bisa mendinginkan tubuhnya juga termasuk hal yang harus diprioritaskan sebagai laki-laki normal, karena adik kecilnya terbangun dan minta jatah.


'Gara-gara bertemu dengan Jordy, aku jadi harus kembali mengingat masa laluku.' Pejam Franz, saat wajahnya sedang di guyur air shower yang dingin.


Franz. Karena ia bertemu dengan Jordy, dan tatapan mata yang yang begitu tajam mengisyaratkan sebuah dendam lama, membuat Franz jadi teringat dengan masa lalunya sendiri yang cukup kelam, karena waktu itu dirinya tetap di cap sebagai pembunuh Juliska, yaitu adiknya Jordy.


Ya, sebuah masa lalu akan cinta yang berakhir dengan kematian.


Juliska. Dia adalah adiknya Jordy, dengan usia tarpaut dua tahun saja. Namun, asal kebencian dari Jordy ini sendiri adalah karena Franz lah, orang yang membuat Juliska meninggal tertabrak truk.


Siapa yang tidak akan memiliki dendam, coba? Jika Franz saja pada saat itu statusnya adalah kekasihnya Juliska, sebelum akhirnya memutuskan hubungan secara sepihak.


Dan karena itu pula, Juliska pula yang menjadi mendapatkan karma dari apa yang di perbuat oleh Franz terhadap adiknya Jordy, sampai membuat adiknya menjemput kematian dengan perasaan kesedihan yang amat mendalam.

__ADS_1


'Hah~ Pasti dia terus membuat kesalahpahaman sendiri denganku.


Aku akui kalau sikapku waktu itu memang salah. Tapi yang membuatnya tertabrak kan truk itu.


Sebenarnya siapa kira-kira yang bisa di salahkan? Apakah aku, karena aku mengabaikan panggilannya?


Padahal jika bukan karena aku memang di ancam untuk putus dengannya karena kedua orang tuanya Juliska memang akan menjodohkan anaknya dengan orang lain, aku juga tidak mungkin akan mengatakan putus.


Terserah, lagi pula ujung-ujungnya, Jordy akan tetap menganggapku sebagai orang yang bersalah atas kasus adiknya.' batin Franz.


Dan pada akhirnya semua yang sudah berlalu hanyalah tinggal kenangan yang tidak bisa di rubah lagi.


Takdir, kalau tuhan memang lebih mencintai Juliska dari pada mereka bertiga, adalah fakta yang menjadi pemahaman untuk Franz sendiri, kalau dirinya saja memang tidak cocok untuk perempuan itu.


Jika tidak tenang, dirinyalah yang akan repot nantinya.


Karena apa?


Sebab, alasan Franz mandi saat ini bukan untuk menghilangkan pikiran tentang percakapannya dengan Jordy, melainkan untuk menenangkan dirinya dari yang namanya godaan yang sempat terpicu karena seorang istri mudanya itu berhasil membuat nyali untuk menyantapnya, bisa berada di atas puncak menara.


Dan senyuman remeh temeh itu pun akhirnya tersungging di bibirnya, harinya kali ini ternyata dilewati dengan momen yang cukup membuat hasrat seorang pria jadi naik dan bisa dibilang bergairah.


"Jordy, Ovin, mereka berdua ternyata sama-sama membuat masalah saja. Aku jadi tidak tahan dan aku, heh...aku malah merasa justru aku yang yang sedang di uji oleh mereka berdua. " gumam Franz seraya menyibak rambut basahnya itu ke belakang dengan menggunakan jari-jari tangannya.

__ADS_1


Setelah selesai, Franz mengganti pakaiannya dengan pakaian yang sudah disiapkan oleh para salah satu staf.


Dan Franz pun keluar dari kediamannya.


KLEK....


Di sebabkan Ovin ada di dalam kamar layaknya kepompong yang akan berubah bentuk menjadi kupu -kupu pembawa masalah, Franz pun pergi ke kamar sebelah.


"Untung saja mereka semua kebanyakan pada keluar dari kapal. Jika tidak, apa jadinya nanti? Seorang gadis yang di anggap sepupu, berduaan bersama di dalam kamar sampai seharian." Mendengar kalimatnya keluar dari mulutnya sendiri, Franz pun tertawa geli.


Apa jadinya, jika suatu hari nanti rahasianya kalau ia sudah menikah dengan perempuan yang awalnya di anggap sebagai sepupu?


'Aku memang penasaran dengan reaksi wajah semua perempuan diseluruh sekolah jika rahasiaku suatu saat terbongkar, tapi jika memang benar-benar terbongkar seperti itu, aku tidak mau menanggung akibat kalau aku sudah pasti akan dijadikan bahan ledekan semua orang.' Dan dengan pemikiran seperti itu, Franz pun tersenyum mencibir dirinya sendiri.


"Hah..., dia itu memang gadis yang merepotkan. Yang membuatnya makan obat, dia. Tapi aku juga yang kena imbasnya." Perlahan Franz menatap sepasang tangannya itu, betapa menakjubkannya hati seseorang yang terus berubah seperti lampu suis?


Kadang kala dirinya merasa kesal, marah, dan ingin sekali menendang Ovin keluar dari kehidupannya, sebab perempuan itu, baginya terlalu banyak mengundang masalah.


Tapi, selain itu pula, Franz pun menyadari kalau dirinya pun bisa merasakan perasaan untuk bisa peduli dengannya.


'Sebenarnya apa yang aku lakukan ini berdasarkan apa? Logika atau hati?' Benak hati Franz.


Dia langsung berbaring di atas tempat tidurnya, lalu dia pun menatap langit-langit kamar yang ia tempati.

__ADS_1


__ADS_2