
Dalam waktu yang singkat itu, pikiran Franz tentu saja menjadi kacau balau, antara kemarahan yang sedang melanda diri Istrinya itu, dengan penampilan dari istrinya itu pula yang cukup menyaingin medan peran batin Framz saat ini.
"T-tidak, aku tidak an mem-"
"Tidak mau membahasnya?!" Pungkas Ovin. " Apa kau tahu? Antara Bella dengan aku, pada akhirnya siapa yang tenggelam? Kau yang menuduhku begitu saja tanpa melihat siapa disini yang licik?
Franz! Ternyata kau pria bermata rabun, bahkan jauh lebih rabun dariku yang tidak bisa melihat wajah siapapun selain kau! Apa kau tidak mengerti juga?! Jika saja bukan karenamu, aku tidak akan jadi seperti ini!" Racau Ovin.
Dia terus saja berbicara sambil mengguncang-guncang tubuh Franz, karena saat ini Franz sungguh sedang di sudutkan dengan kemarahan milik Ovin yang membludak gara-gara Franz sendiri yang selalu menuduh ini dan itu kepadanya, padahal Ovin sendiri tidak melakukan apapun kepada Bella itu, tapi apa akhirnya?
Suaminya ini selalu saja membela pujaan hati yang punya sisi lain yang cukup licik.
'Dia sampai seperti ini?' Franz tidak pernah percya, ternyata ada satu waktu dimana dirinya akhirnya mendapatkan banyak ceramah dan cibiran dari istrinya itu.
Ada apa dengannya?
Kenapa Ovin yang biasanya diam dan tidak melawan, kali ini tiba-tiba jadi seperti orang yang berbeda?
Apakah yang ada di depannya ini benar-benar Ovin yang itu?
Segala pertanyaan itu terus saja bermunculan, disamping dia harus menahan apa yang namanya godaan syetan, gara-gara Ovin saat ini benar-benar berekespresi berani, dan keberaniannya tentu saja samapi bisa menumbangkan tubuhnya dan berani meneriakinya tepat di wajahnya?
Dan racauan dari Ovin itu belum kunjung usai, "Apa kau tidak sadar?! Kalau kau hanyalah pria yang terus saja dimanfaatkan oleh mereka? Kira-kira yang bodoh disini itu siapa? Kau atau aku yang terus saja bertahan denganmu? Tapi asal kau tahu aku tidak akan pernah mencer-"
Di kata terakhirnya itu, tiba-tiba apa yang ada di dalam diri Franz langsung bereaksi.
Dia yang sudah lelah dengan segala omelan itu, langsung mencengkram tangan Ovin yang dari tadi mencarik kerah bajunya, lalu Franz pun menarik tangannya Ovin sampai tubuh setengah telanjang itu berhasil mendarat di atas tubuh Franz, dan....
CUP....
__ADS_1
Satu tindakan kecil berefek besar itu berhasil membungkam mulut Ovin yang dari tadi mengomel.
Ya..Ovin memang mengomel berdasarkan fakta yang ada. Tapi Franz bukanlah orang yang suka mendengar omelan tentang dirinya sendiri. Karena itu, dia pun terpaksa menghentikan ocehan dari Ovin itu dengan sebuah ciuman.
Wajah dan tatapan mata Franz memang terbilang datar, karena dia hanya punya satu tujuan. Walaupun menciumnya, dia tidak oleh tergoda akan pesona yang sengaja di buka oleh Ovin itu kepadanya.
Tapi lain hal dengan Ovin sendiri yang justru mebelalakkan matanya, karena ucapannya langsung di potong dengan ciuman?
Dia tidak mau mendengar keluhannya?
Amarah yang tidak terbendung itu dia lampiaskan dengan bentakkan, karena dia ingin mengembalikan apa yang Franz lakukan kepadanya kemarin sore, tapi Franz tidak menerimanya? Sampai mau membungkamnya dengan cara menciumnya?
Merasa tidak terima dengan perlakuan Franz kepadanya, Ovin langsung menarik diri dari ciuman yang tidak seberapa enak itu.
"Jangan kau pikir, memberikanku ciuman seperti itu, akan membuat amarahku mereda Franz! Dengar! Aku benci sekali kalau kau itu itu terus merendahkanku. Memangnya salahku dimana? Ya..aku akui aku memang banyak melakukan hal yang sel-mphh..!"
'Berisik sekali dia.'Bagaimana jika Sean mendengarnya?' Franz terpaksa kembali menutup mulut cerewet itu dengan ciuman lagi.
PLAK...
Satu tamparan itu berhasil menarat di pipi kiri Franz, sampai Franz akhirnya merasakan tamparan itu. Tamparan dari balasan yang pernah Franz lakukan beberapa hari lalu kepada Ovin.
"Itu untuk ramparanmu waktu itu." Dengan ekspresi wajah yang terlihat kejam, Ovin hendak kembali menampar Franz lagi di pipi kanannya Franz.
Akan tetapi, Franz lebih dulu menangkapnya sebelum itu berakhir dengan lebih buruk lagi. "Kenapa kau tiba-tiba jadi sangat berisik sih? Bukannya dari kemarin diam saja, kenapa tidak seperti itu saja?" Nyatanya, mulut melontarkan kata provokasi yang lebih memicu gejolak dari hati Ovin.
"Kenapa? Tidak suka?" Tatap Ovin dengan sorotan mata beraninya.
Hanya saja, itu sorotan mata yang tidak seperti ovin yang biasanya.
__ADS_1
Ada yang aneh kepada Ovin ini, itulah yang disadari oleh Franz ini.
"Siapa kau sebenarnya?"
"Siapa?" Salah satu alis Ovin terangkat. "Siapa lagi, aku adalah Istrimu yang sangat kau benci itu. Antara benci dan suka, kau sendiri juga merasa dilema kan? Aneh...jika saja bukan karena ku, istrimu ini tidak akan menjadi seperti ini.
Tidak bisa melihat wajah pria lain, selain dirimu. Apa kau senang dengan derita dari Istri yang sering kau anggap sebagai perempuan yang enak untuk di cibir, hina, di bully?
Franz....padahal kau sudah besar seperti ini, kenapa tidak ada yang bisa aku rubah dari sifatmu ini ya selama lebih dari dua bulan ini? Aku harus apa lagi agar kau bisa mencintaiku?" Ungkap Ovin, dengan raut wajah serius.
Tapi sekalipun wajahnya dan tatapan matanya cukup serius, sayangnya tidak dengan air mata yang terbendung itu.
Ovin semakin mengernyitkan matanya saat melihat keterkejutan di wajah Franz.
"Apa?" Franz seketika bingung dengan alur pembicaraan ini. Awalnya marah, karena kejadian kemarin, lalu pembahasan tentang Bella yang licik, setelah itu mengembalikan dendam dari tamparan yang pernah Franz lakukan kepada Ovin ini, dan sekarang? 'Dia baru saja mengungkapkan perasaan?'
"Aku benci ini." Ovin semakin mengernyitkan matanya, sehingga dia terlihat lebih seperti orang yang ingin melakukan siksaan terhadap mangsa yang di dapatkannya. "Aku marah karena sifatmu, tapi aku benar-benar tidak bisa membencimu sepenuhnya, padahal aku selalu mendapatkan perlakukan kasar darimu. Apa artinya ini? Apa kau ma-"
BRUKK...
Dengan derita yang sedang di alami kepalanya yang sakit, dan terus menahannya saking kesalnya dengan Franz barusan, Ovin tiba-tiba saja tumbang.
Dengan nafas memburu, Ovin saat ini terbaring di sebelah Franz dengan posisi menghadap kearahnya.
"Vin~" Panggil Franz. Dia langsung duduk sambil membungkukkan tubuhnya ke arah Ovin. 'Aku pikir hanya perasaanku saja tangannya terasa panas, tapi dia memang sedang demam!'
Tanpa banyak drama lagi, Franz membopong tubuh Ovin yang cukup ringan itu.
Padahal jelas, kalau Ovin tipe orang yang suka makan. Tapi kenyataannya tubuhnya tetap saja kurus, dan apalagi bobotnya, Franz tentu saja bisa merasakan perbandinganannya saat kemarin dia menggendong Bella.
__ADS_1
Bella jauh lebih berat, dan memang punya tubuh yang cukup berisi, tapi sayangnya tidak dengan Ovin ini.