Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
08 : PUM , Kejahilan Erin


__ADS_3

" Karena kamu sudah memanggilku ibu, terimalah angpao ini. " Mengulurkan sebuah amplop berwarna merah pada Ovin.


" Selamat kak! Ambil ini ambil. " membantu mengambilnya dan menyerahkannya pada Ovin.


[ Wow tebal sekali, isinya apa yah? Tapi aku merasa tidak enak. ] Ovin merasa tidak nyaman dengan pemberian dari ibunya Franz. " Apa ini tidak berlebihan? " sudah menerima angpao dari ibunya Franz, namun dalam hatinya masih ragu.


" Tidak! ini sudah menjadi tradisi dari keluarga kami. " Erin pulak yang menjawab.


" Terima kasih ibu. "


" Hahaha...tidak usah sungkan, mari aku perkenalkan ini adalah kakek. "


Datang satu orang laki-laki sekitar berusia 60 tahunan. Walaupun di bilang kakek, namun rupa beliau masih seperti berusia 50 tahunan, dan apatah lagi menggunakan jas formal.


" Maaf orang tua yang satu ini terlambat. " Kutuk dirinya sendiri karena terlambat menyambut menantunya sendiri.


" Senang bertemu dengan anda kakek. " Ovin berdiri dan menghormati kakek tersebut.


" Kemarilah. " Perintahnya dengan nada tegas kepada Ovin agar datang mendekat.


[ Dia terlihat seperti orang yang galak. ] batin Ovin, ia segera menghampiri kakek itu.


" Gadis pintar, semoga hidup kalian bahagia, terimalah angpau ini. " Sekali lagi anggota keluarga ini menyerahkan angpao dengan isi yang cukup tebal. " Dia sepertinya gadis yang tulus dan baik hati. " Memuji Ovin yang terlihat ramah tamah akan kesopanannya itu.


" Benar sekali, sejak awal bertemu aku juga sudah menyukainya. " Tidak kalah dengan Ibu Franz yang sama-sama memuji Ovin.


[ Bagaimana bisa kakek yang keras kepala dan super tegas itu langsung memuji Ovin dalam sekejap? ] Pikir Franz tidak tahu bahwa kakek yang selalu bertindak diluar perkiraannya malah terlihat sangat senang dengan kehadiran Ovin.


" Karena kalian sudah datang jauh-jauh kesini, sekalian saja menginap di sini semalam. " Sang kakek menawarkannya kepada kedua insan muda itu.


[ Apa?! ] Ovin terkejut, di dalam agenda hariannya sekarang tidak ada kata menginap di rumah orang, tapi sekarang.


" Baiklah! " Jawab Franz dengan cepat.


" Tapi aku tidak bawa baju ganti. " gerutu Ovin.


" Tidak masalah, kami sudah menyiapkan pakaian untukmu. " Ujar Ibu Franz kepada Ovin yang sedang mencemaskan soal pakaian.


" Atau jika kurang sesuai dengan selera kakak, kakak bisa mencoba bajuku. " Sela Erin dikala ibunya baru selesai menyelesaikan kalimatnya itu.


" Apa kalian keberatan? " Tanya kakek lagi.

__ADS_1


" Tentu saja- " Ovin merasa keberatan tapi Franz justru sebaliknya.


" Tidak! " Franz juga langsung menyela ucapannya Ovin lagi. [ Dasar pengecut ]


[ Aku tidak tahu kalau harus menginap segala. ] Ovin menatap malas Franz yang seenaknya main pendapat sendiri.


" Sepertinya kalian menyembunyikan sesuatu? " Tanya sang kakek karena merasa curiga dengan hubungan cucunya serta menantunya.


" Tidak! kami hanya takut karena sebentar lagi ujian. " Jawab Ovin dengan dalih ketakutan akan ujian yang sebentar lagi diterimanya.


[ Bodoh! Alasan yang kurang masuk akal! Ujian kan masih tinggal empat? tidak! Tinggal tiga bulan lagi! ] Franz pening bukan kepayang, tidak disangka ujiannya tinggal beberapa bulan lagi, jika harus masuk ke universitas ternama juga harus memiliki nilai yang bagus. [ Tenang-tenang, kamu anak pandai Franz. ] Franz mencoba menenangkan dirinya sendiri.


" Ahahaha......kalau memang itu masalahnya, ibu doa kan kalian berdua bisa lulus dengan nilai sempurna. Dan jika kamu mendapatkan kesulitan saat belajar, ada Franz yang bisa menemani rasa sulitmu itu. “ Ucap ibunya Franz dengan nada menggoda.


" Kalau begitu istirahat saja sekarang " Tawar Kakek Franz.


" Ahaha.....selamat istirahat kakak-kakak sekalian. " Erin juga pergi dan akhirnya meninggalkan mereka berdua di kamar yang sudah disiapkan sebelumnya.


"............." Franz menatap Ovin dengan tatapan datar.


" ..........? " Ovin bertanya-tanya dengan memiringkan sedikit kepalanya, dari tindakannya sudah terbaca. “ Ada apa? “


Ritual untuk mendinginkan tubuh sekaligus kepalanya.


Franz pun langsung masuk ke dalam kamar mandi dan mengabaikan satu orang lainnya.


" Hahhh........ " Desah Franz tatkala sedang mengguyur tubuhnya dengan air dingin yang menyejukkan.


Namun bahkan setelah keluar dari kamar mandi, dia tetap tidak melihat keberadaan dari Ovin.


[ Dimana perempuan itu? ] Dengan keadaan tubuh masih bersimbah air yang menetes dari atas meluncur ke bawah dan kepala yang ditutupi dengan handuk kecil.


Franz celingak-celinguk dan untuk beberapa saat membuka pintu kamar dan melirik ke tempat mata memandang, namun tidak ada tanda keberadaan Ovin.


_____________


" Ahahah.......ah....geli! " Seru Ovin dengan sudut mata yang sudah berlinangan air matanya sendiri.


" Kakak....kenapa dada kakak lebih kecil ketimbang aku ya? " goda Erin pada kakak iparnya saat melihat buah dada milik kakak iparnya memang lebih kecil ketimbang milik Erin.


" Hahahaha......sudah....aku...hahaha " Alinda terus tertawa geli dengan tubuh bergeliat menahan geli yang dibuat adik ipar super bajingan ini.

__ADS_1


" Ahahaha.....kakak bisa tertawa lepas juga, jika kakak memijatnya setiap hari bisa tumbuh besar juga lho. " Ucap Erin dengan tindakan yang tidak merasa bersalah itu. 


Kedua tangannya masih bergelayut di kedua gunungan milik Ovin yang ternyata lebih kecil ketimbang dirinya.


" Hahhh...hahahah..hahahah " Setiap menghela nafas ia dibuat tertawa lagi, baru kali pertama ini ia dipermainkan seorang anak yang 3 tahun lebih muda darinya. [ Tenaganya kuat juga, tapi aku tidak bisa menahan tawaku. Tenagaku lemas gara-gara tertawa ini. ] Ovin benar-benar ingin menyerah karena rasa geli yang tidak tertahankan itu.


" Ini belum 5 menit kak, aku bantu lagi yah? " Masih memijat bagian empuk dan lembut yang dimiliki Ovin.


" Mwahahaha......jangan...aku sudah tidak tahan! "


Erin masih saja jahil pada kakak iparnya sendiri, perasaan memiliki orang yang sama-sama perempuan di rumahnya benar-benar memiliki sensasi tersendiri. 


Erin sekarang tengah duduk di atas tubuh kakak iparnya sambil dua tangannya memijat kedua hal yang setiap dimiliki perempuan.


" Ternyata sensasi memijat milik orang lain ada perbedaannya. " Erin menyeringai sambil melakukan aktivitasnya terus kepada kakak iparnya itu.


" Jangan lagi.....ah ah ah....aku sudah tidak tahan! Menyingkirlah! Hahaha dari atasku! " Pinta Ovin pada Erin yang jailnya minta ampun.


" Bentar lagi. " Masih melanjutkan aktivitasnya yang tidak tahu malu itu.


[ Kalau begini terus aku bisa mati tertawa! ] Pikir Ovin di tengah kekacauannya sendiri. " Ahhh....hahaha.....jangan...ah! "


Tanpa memperdulikan ketukan pintu yang dari tadi terdengar, Erin masih tidak sungkan dengan tindakannya itu.


" Hahah. “


" Erin! Buka pintunya! Kenapa berisik sih! " Tegur Franz karena merasa terganggu dengan gelak tawa yang cukup memekikan telinganya.


" Su..sudah...ah...ahaha! "


Tidak tahan menunggu akan kebisingan yang terus terdengar, Franz dengan cepat membuka pintu kamar Erin yang sedari tadi menjadi tempat kegaduhan.


[ A...apa ini?! ] sepasang matanya dikejutkan dengan dua orang yang sedang bertingkah.


Ovin yang terbaring lemas karena akhirnya bisa mengakhiri gelak tawanya, dan Erin yang masih duduk di atas kakak iparnya.


Hanya saja ada yang salah di sini.


[ Apa-apaan mereka ini?! ] Franz menahan sipu malunya melihat baju Ovin yang sudah separuh terbuka dan dimana satu tangan Erin di letakkan di atas perut Ovin yang tidak tertutup baju. " Jangan ribut lagi! Kalian mengganggu ibu dan kakek! " Tegur Franz pada dua orang perempuan yang terduduk di lantai beralaskan karpet. Setelah berkata seperti itu,Franz buru-buru pergi dari kediaman Erin.


" Aku kira kamar ini kedap suara? " Gerutu Erin, lalu akhirnya ia berdiri dan melepaskan Ovin yang terbujur lemas dengan nafas memburu.

__ADS_1


__ADS_2