
Flashback On.
JDERR….
Malam yang cukup gelap, dingin, suhu yang lembab dan membuat bulu kuduk berdiri, suara ranting yang tertiup angin menjadi pengisi dari keheningan yang terjadi di dalam sana.
Lantai kotor bersamaan dengan aroma besi berkarat menjadi peneman dari gadis kecil ini.
Demi mendapatkan kehangatan yang ingin dia miliki, perempuan berseragam sekolah SMP itu pun duduk disudut ruangan persis sambil memeluk lututnya sendiri.
Rambut hitam panjang yang dimilikinya sudah tergerai karena kehilangan ikat rambutnya, wajahnya pucat sebab hampir seharian itu dirinya tidak mendapatkan makanan, rasa lapar yang mendera perutnya itu benar-benar menjadi penyiksa yang dialami oleh anak perempuan itu dalam memahami situasi yang sedang dimilikinya itu.
‘Bukannya tadi aku hendak berangkat sekolah? Kenapa aku tiba-tiba saja ada disini? Padahal sudah jelas aku tidak merasa kalau diriku ini di bius, tapi kenapa? Aku hanya mengingat ada seorang Ibu membawa anak yang pekerjaannya meminta-minta. Aku tentu saja memberinya, tapi kenapa aku bisa pindah tempat? Jangan-jangan aku ini baru saja mendapatkan hipnotis?!’ Pikiran dari kalimat terakhir itu membuat sepasang matanya membulat lebar.
Oktavin yang saat ini berumur tiga belas tahun itu buru-buru berdiri. Dia mencoba cek apapun yang saat ini dipakai.
Handphone tidak ada, jam tangan juga tidak ada, yang ada hanyalah kacamata yang dia pakai itu.
‘Jadi aku ini diculik? Eh diculik?! Bagaimana ini?! Apakah mereka akan menjualku?! Atau aku akan di per-’ Semua itu langsung menggantung saat pntu besi tiba-tiba saja terbuka.
BRAK….
Cahaya yang berasal dari luar sana membuat sosok yang saat ini sedang berjalan masuk, membuat Ovin tidak mampu melihatnya dengan jelas sebab background itu.
‘S-siapa dia?’ Ovin lantas perlahan mundur ke belakang. “Hahh~” Nafas yang Ovin hembuskan berhasil membuat uap, yang artinya suhu saat ini memang benar-benar dingin.
“Bagus ya, masih bisa hidup setelah satu hari tidak makan. Tidak mengeluh ingin pergi?”
Suara milik seorang perempuan, membuat Ovin tersadar kalau dirinya memang baru saja di culik, tapi bukan di culik karena orang lain yang tidak Ovin kenal, melainkan dikarenakan ulah seseorang?!
‘Suara ini-’’ Setelah beberapa saat, dirinya akhirnya bisa melihat wajah dari seorang perempuan yang tidak lain adalah seorang siswi dari kelas sebelah. ‘Elvie? T-tunggu kenapa aku bisa berurusan dengan anak ini?’ Ovin terkejut tapi juga sama sekali tidak mengerti, sebab dirinya sama sekali tidak merasa pernah menyinggung anak dari kelas C itu.
Perempuan yang Ovin kenal itu pun berjalan sambil bersilang tangan di depan dada, lalu tersenyum miring ke arahnya persis, membuat Ovin sadar kalau akan ada sesuatu yang buruk akan terjadi kepadanya.
“Kenapa ka-”
“Tangkap dia.” Tanpa menghiraukan apa yang ingin dikatakan oleh Ovin, Elvie tiba-tiba saja memberikan sebuah perintah kepada kedua temannya itu.
Dan tidak lama setelah perintah itu keluar dari mulut Elvie, kedua anak laki-laki yang kebetulan dari kelas yang sama dengan Elvie tiba-tiba saja masuk.
“Kamu yakin?”
“Elvie, apa yang mau kamu lakukan kepadaku?!” Sela Ovin atas perbincangan yang akan kedua orang itu lakukan.
“Melakukan apa? Lihat saja nanti.” Ucap Elvie dengan seringaian liciknya. “Lakukan.” Imbuh Elvie untuk ke dua temannya itu.
Ovin yang kala itu ketakutan, tubuhnya langsung gemetar, apalagi ketika dirinya tiba-tiba saja dihampiri dua anak laki-laki paling nakal diantara kelas lainnya. Dan kedua anak laki-laki itu saat ini sedang berjalan kearahnya?!
‘Apa yang mau mereka berdua lakukan?! Aku harus kabur dari sini!’ Apalagi setelah melihat pintu yang ada diluar sana terbuka, maka hal itu akan menjadi satu-satunya kesempatannya untuk kabur dari sana.
“Kamu mau kemana? Biar aku temani.” ucapnya.
DEG!
‘Temani apa?’ Hatinya merasakan kekhawatiran yang luar biasa. Dia benar-benar merasa tidak aman.
“Apa kamu tahu kesalahan apa yang membuatmu bisa ada disini, dan terkurung selama seharian?”
“T-tidak!” di saat yang sama Ovin berteriak untuk menghindari dirinya di tangkap oleh kedua laki-laki itu.
“Kamu harus tahu, orang yang selalu membantumu itu, laki-laki yang selalu perhatian padamu saat di sekolah, dia itu adalah ketua osis, dan sekaligus pacarku. Tapi setelah kedatanganmu, kamu justru merebutnya dariku!”
“Ketua Osis? Pacar? Aku sama sekali tidak tahu siapa dia!”
“Halah…padahal dia selalu datang kepadamu setiap pagi, jangan bilang sok tidak tahu! Bereskan dia! Gara-gara dia muncul di tengah hubunganku dengan pacarku, sekarang dia jadi tidak begitu memperdulikanku.”
‘Kalau dia tidak peduli padamu lagi, artinya dia memang tidak menginginkanmu lagi. Sifatmu saja seperti itu, siapa juga yang mau tahan denganmu!’ Dan kata-kata di dalam pikirannya itu menghilang begitu saja saat tiba-tiba salah satu tangannya berhasil di cengkram oleh kedua laki-laki tersebut. “Lepaskan!” Ovin memberontak dengan sekuat tenaga.
Tapi apa daya, tenaga milik laki-laki itu selalu lebih besar dari perempuan, karena itu usaha Ovin agar terlepas dari cengkraman dari mereka berdua pun, tidak membuahkan hasil.
__ADS_1
“Lakukan saja dia semau kalian.”
“Yakin nih, bahkan jika aku mencicipinya?” Tanya laki-laki ini kepada Elvie.
“Silahkan saja. Dengan begitu, dia pasti akan jadi sadar perbuatan apa yang sudah dia buat sampai membuat hubunganku dengan pacarku hancur.” Ucap Elvie.
“Dengar itu, kita sudah diizinkan untuk mencicipimu.” Seringaian itu pun tersungging di bibirnya.
Walaupun Ovin tidak tahu apa yang sedang di ekspresikan oleh kedua laki-laki di depannya itu, yang jelas sinyal bahaya sudah muncul!
“Aku malas berlama-lama disini, jadi lakukan saja sesuka hati kalian. Kalau bisa, lakukan saja sampai tubuhnya rusak. Itu akan membuat dia semakin hina.” Ujar Elvie.
“Ok.”
“T-tidak…jangan lakukan itu kepadaku!” Kata Ovin memohon.
“Lakukan apa? Itu? Memangnya kamu tahu apa tentang itu yang kamu maksud?” Tanya laki-laki ini kepada Ovin.
“Hei, kenapa wajahmu setakut itu? Padahal akan menyenangkan loh. Yah..karena yang aku tonton, kelihatannya sangat menyenangkan, jadi setidaknya aku ingin mencobanya denganmu.”Satu orang laki-laki lagi akhirnya angkat bicara.
Tapi apapun yang mereka katakan, semuanya sama saja.
Kacamata yang Ovin pakai pun tiba-tiba saja di lepas.
Dan hal itu pun mengundang selera dari kedua laki-laki itu untuk melakukan lebih kepada anak baru ini.
“Wah…kalau kacamatanya dilepas, dia lumayan juga. Dan rambut hitamnya ini…benar-benar membuatku jadi tambah menginginkannya.”
“Tidak! lepaskan aku! Atau kalian akan kena karmanya!” marah Ovin kepada mereka berdua.
“Muahaha…” Mereka berdua tertawa lebar dengan ucapannya Ovin.
“Halah…karma apaan tuh? Dari pada membuang-buang tenagamu untuk berteriak dan mencoba memberontak dari kami, lebih baik rasakan saja apa yang bisa kami berikan.” Tangannya semakin mencengkram pergelangan tangan Ovin.
Ovin langsung mengernyitkan matanya saat tangannya terasa sakit. Dan karena tubuhnya benar-benar ketakutan untuk menghadapi kedua laki-laki ini, secara otomatis kedua kakinya saat ini jadi lemas.
“Tidak..~” Ucap Ovin dengan nada bergetar.
“Tidak apa, sini aku tenangin dengan hal lain.” Tidak memperdulikan ketakutan yang sedang Ovin alami, laki-laki ini akhirnya berjongkok untuk melihat ekspresi Ovin yang ketakutan itu.
Ketakutan yang menghasilkan rasa tertarik lainnya, itulah yang mereka rasakan saat melihat Ovin begitu takut, sampai-sampai, saat ini tidak perli membuang tenaga yang besar untuk menjaga perempuan ini, mereka jadi dipermudahkan untuk melakukan sesuatu hal yang lain.
“Hei-hei…jangan menangis.” Kata laki-laki ini sambil mengusap wajah Ovin dengan lembut. Dimana tangan yang awalnya mengusap wajah Ovin itu perlahan turun ke bawah, dari leher terus ke kerah baju Ovin. “Karena kulitmu kedinginan, aku akan menghangatkanmu.” Godanya lagi.
“Singkirkan tanganmu.” Pinta Ovin. Tapi siapa yang mau menuruti permintaan seperti itu?
“Tangan apa?” Tanyanya, tapi nyatanya tangannya saat ini sudah mulai melepas dasi yang mengikat di kerah seragam sekolahnya.
“Wah..rasakan ini. Kakinya sangat halus, kenapa aku tidak sadar kalau dia punya kulit sebagus ini?”
“Apa iya?” Dengan rasa penasaran yang tiba-tiba muncul itu, mereka berdua secara bersaman menyentuh kaki jenjang Ovin.
“Ah~”
“Hei..dia bereaksi tuh.” Beritahu teman dari laki-laki tadi.
“Hahaha…ternyata diam-diam menikmatinya ya?”
Tanpa menunggu waktu yang lama, kedua laki-laki itu pun melakukan pekerjaan mereka masing-masing, demi menghemat waktu, ketika yang satu mencoba melepaskan kancing seragam bagian atas, maka yang satunya lagi melakukan pekerjaan bagian bawah untuk melepaskan pakaian d*l*am yang dikenakan oleh mangsanya itu.
Di bawah malam yang dingin, Ovin untuk pertama kalinya mendapatkan perlakuan kasar di awal semester pertama saat di jenjang SMP.
Ya…
Di malam itu, Ovin dilecehkan. Dua orang itu dengan berani membuka apa yang selama ini Ovin tutupi.
“Tubuhmu bagus juga.”
“Dan bagian sini juga terasa bagus.” Sesuatu yang dia sentuh di bawah sana membuat Ovin mengernyitkan matanya agar tidak mengeluarkan suara apapun.
__ADS_1
Tentu saja melihat hal itu, mereka berdua semakin terpicu.
‘Siapapun, tolong aku. Aku tidak mau seperti ini. Aku tidak mau diperlakukan seperti ini. Aku takut..takut..aku lebih baik dipukul ketimbang ini.’ Batin Ovin.
Ovin yang merasa usahanya akan sia-sia saja untuk memberontak, di saat tubuhnya gemetar seperti itu, berhasil membuat mereka berdua untuk melakukan satu permainan panas kepada Ovin yang bahkan tidak tahu apa-apa asal muasal permasalahan dirinya yang ternyata mampu menyinggung Elvie.
Saat ini seragam atasnya sudah terbuka, dan rok yang dia pakai pun sudah tersingkap sampai mendarat di atas perutnya, membuat Ovin benar-benar tidak tahu apa yang bisa dia lakukan di saat terjebak seperti itu.
“Kenapa diam? Sudah menunggu ya?” Laki-laki ini pun dengan wajah senang, menurunkan resleting dan pengait celananya.
“Nanti gantian loh.”
“Tenang saja, hanya kita berdua, kita bisa lakukan padanya sepuas kita.”
‘Puas? Inilah yang aku benci dari mereka. Mereka hanya suka mencari kepuasan. Dan yang rugi disini adalah perempuan sepertiku. Apakah aku akan berakhir seperti ini?’ Benak hati Ovin.
JDERR…
Dan di saat itu, suara petir yang tiba-tiba datang itu pun seperti sebuah alarm peringatan akhir dari hidupnya.
Ovin yang saat itu hanyalah perempuan biasa yang tidak tahu apa-apa hanya menatap mereka berdua dengan tatapan kosong.
Dia sudah tidak berdaya untuk melakukan pemberontakan di bawah ketakutannya sendiri yang membuat kedua kakinya saja saat ini benar-benar lemas.
"Ini sangat lembut, kenapa aku baru menyadarinya, kalau yang paling nikmat pasi ada di bawah ini?" Salah satu jarinya pun benar-benar menyentuh area pribadi Ovin.
Dan disaat itulah, Ovin meneteskan air matanya.
Dia merasa kalau malam ini adalah akhir dari segalanya.
Itulah yang bisa dia pikirkan ketika tidak ada yang bisa Ovin hubungi di tengah-tengah pelecehan yang sedang dilakukan oleh kedua laki-laki yang penasaran apa arti dari sebuah surga fisik diatas kenikmatan?
___________
Flashback Off.
Dan ingatan paling gelap itu selalu menghantui Ovin. Dan saat ini, ingatan itu kembali muncul secara mendadak, di saat Franz yang tiba-tiba saja menyentuh area pribadinya juga.
Memang sentuhan itu terkesan berbeda, hanya saja yang namanya trauma tetap saja akan terpatri dalam sebuah ingatan.
Walaupun saat itu dirinya bisa selamat dari kehancuran hidupnya, memori mengerikan itu tetap ada.
Dan saat ini?
JDERR.....
"Vin?! Apa yang terjadi padamu?! Hei..bangun! Apa mau aku tampar lagi biar kamu sadar?!" Seru Franz yang terlihat mengkhawatirkan dirinya.
Saat ini Ovin sebenarnya sudah sadar dari kenangan kelamnya. Tapi melihat Franz benar-benar terlihat khawatir, hal itu pun membuat hati kecil Ovin yang selama ini dia tutupi, tiba-tiba saja terbuka.
'Anak ini sebenarnya kenapa? Terpaksa, lebih baik aku menamparnya lagi agar dia bangun.' Batin Franz.
Saat ini tangan kanan Franz pun sudah dia angkat ke samping atas, setelah itu tanpa mengulur-ulur waktu lagi, Franz pun mengayunkan tangannya itu untuk menampar istrinya lagi agar sadar.
Tetapi apa yang terjadi saat itu adalah, Ovin yang sudah sadar dari lamunannya, langsung meraih wajah Franz lebih dulu, dan akhirnya sebuah ciuman langsung mereka berdua dapatkan.
CUP..
"............!" Franz tentu saja kaget, tiba-tiba bibirnya di cium oleh istrinya itu. 'Apa dia sedang mempermainkanku? Dia berpura-pura tidak merespon seperti itu agar aku khawatir?!' Dengan pemikirannya itu, Franz pun melepaskan tautan dari bibir mereka berdua.
".........!" Ovin yang tidak mengungkapkan kata-kata, setelah di dorong oleh Franz, Ovin justru di buat kembali melakukan perbuatannya.
Demi menghilangkan segala kenangan buruk yang dimilikinya di masa lalunya itu, Ovin pun mengubur ingatan buruk itu dengan membuat ingatan dan momen baru yang ingin dia dapatkan dengan menggunakan Franz, yang merupakan suaminya.
Ovin kembali meraih kepala Franz yang hendak menjauh darinya, dan mencium bibir itu lagi. 'Jangan menolakku.' Detik hati Ovin.
Franz yang melihat tatapan mata sendu yang tadi sempat terlihat itu, sukses membuat Franz untuk tidak mendorong istrinya itu menjauh.
'Sejujurnya bibirnya lembut dan terasa manis. Karena itu, kenapa aku jadi seperti ini? Aku merasa kali ini aku harus menuruti keinginannya ini.' pIkir Franz. Dia saat ini benar-benar tidak mengerti dengan perasaannya itu, seakan saat ini adalah bukanlah situasi yang tepat untuk bermusuhan dengan istrinya, seperti biasanya. '
__ADS_1