Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
21 : PUM : Meretas


__ADS_3

" Iih....siapa yang punya mobil keren itu? "


" Tapi siapa orang yang barusan masuk? " Tanya yang lainnya.


Kepergian Ovin ternyata cukup menarik perhatian orang-orang di kelas. Bagaimana tidak? Kelas mereka yang ada di tingkat 2 dan 3 tentu saja bisa melihat kedatangan dan kepergian mobil sport berwarna biru metalik itu.


Hanya saja sayangnya beberapa orang diantara mereka kecewa karena kursi bagian depan sudah di isi oleh seseorang.


" Apa yang kalian pandang? Cepat duduk! " Perintah sang guru.


Setelah duduk semua hanya tinggal satu orang yang tidak ada di rempatnya alias kosong.


" Kenapa orang yang dibelakang tidak ada? "


" Dia sudah izin pulang. Jadi jangan benyak tanya lagi. " Ketus sang guru lagi.


_______________


Di gedung atau markas pusat pengawasan lalu lintas kota.


" Tadi perjalanannya menyenangkan." Puji Chade dengan lalu lintas yang super macet dan juga lancar saat perjalanannya ke kantor.


" Sekaligus membuatku pusing. " Dari mana tidak pusing jika dirinya sedang di dalam mobil yang sedang melaju kencang, tapi dirinya harus berkonsentrasi menatap layar laptop.


Sungguh udah pekerjaan yang harus Obin hadapi sekaligus.


Ada seseorang meretas sistem keamanan lalu lintas kota, sehingga lampu lalu lintas menjadi acak-acakan dan membuat jalan raya menjadi kacau balau. Dengan dirinya ikut menyerang musuhnya ini, maka ia bisa menggantikan posisi dia walau hanya sekejap agar dirinya bisa sampai di tempat tujuan dengan cepat.


Walaupun pamannya itu ngebut gila, seperti angin.


" Ketua, kami disini."


" Oh ...rupanya kamu ya? Cepat bantu kita, semua petugas juga sedang kwalahan. " Pinta orang yang menjadi pemimpin gedung kantor pusat itu.


" Err....aku hanya asisten, dialah yang akan membantu kalian sepenuhnya." Chade menunjuk ke arah perempuan yang ada disebelahnya yaitu keponakannya.


" Apa? Gadis SMA? " Tatap direktur ini pada Ovin. 'Perempuan seperti dia yang akan membantu masalahku? Ha..jangan bercanda.' Pikirnya. "Dia? Kamu jangan bercanda. Disini bukan tempat bermain, dan jangan-jangan dia ini pacarmu?" Tanya pria ini.


"Apa? Pacar? Jika menurut anda dia pacarku, bukan masalah juga sih. Tapi jika anda menolak dia yang mengurus permasalahan anda, itu pun tidak masalah juga. Ovin, kita kembali saja," Ucap Chade, memberikan tawaran kepada Ovin untuk lebih baik pulang, sekaligus tidak membuat pria itu tidak mempunyai pilihan lain selain menerima keberadaan dari Ovin.


"Ok, kebetulan aku jadi pulang cepat dari sekolah." Ovin juga pada akhirnya mengikuti arus permainan dari pamannya sendiri.


'Chade ini...dia benar-benar ingin pergi begitu saja? Gadis ini juga....ah, jika Cahade sudah berniat pergi seperti itu, berarti dia benar-benar tidak mau membantuku, dan kalau seperti ini, artinya aku tidak memiliki pilihan lain untuk mengizinkan gadis SMA ini untuk memperbaiki semua jaringan lalu lintas kota. Hah...sudahlah.' Karena tidak memiliki orang lain yang bisa dia percaya selain Chade, mau tidak mau dia pun menerima permintaan Chade agar gadis yang dibawanya itulah yang berurusan dengan masalah yang pedang dihadapi oleh kota. "Tunggu,"


Chade dan Ovin yang sudah berada di ambang pintu pun memberhentikan langkah kakinya.


"Kalian berdua kesini, urus semua ini." tuturnya, pada akhirnya mengizinkan mereka berdua untuk melakukan apa yang mereka suka asal semua lampu lalu lintas yang sudah terkena retasan dari hacker, bisa di selesaikan.


"Ok." Kata Chade dengan senyuman penuh kemenangan. "Ayo..lalukan pekerjaanmu,nanti pacarmu ini akan kasih kamu hadiah besar." itulah yang dikatakan Chade kepada Ovin sembari menepuk lembut ujung kepala Ovin.


"............." Ovin yang tidak mau tahu dengan tindakan yang barusan pamannya katakan, Ovin hanya beralih untuk mengerjakan apa yang harus dikerjakannya agar dia bisa cepat pulang ke rumah.


'Dia benar-benar pacarnya? Laki-laki seperti dia pastinya suka yang gadis yang lebih muda.' benak hati pria ini.

__ADS_1


Tanpa memperdulikan tatapan dari orang-orang yang ada disana, Ovin mulai memperlihatkan kemampuannya. Karena jika tidak di tangani segera mungkin, maka akan ada banyak kecelakaan di jalan raya.


Ovin segera duduk di kursi utama yang menjadi tempat kontrol server utama komputer di gedung itu.


Ovin mulai memainkan jarinya dengan menekan berbagai tombol yang ada di keyboard, dia berusaha untuk menyelesaikannya dengan sebaik mungkin.


Suara dari ketikan keyboard yang cukup cepat itu segera menarik perhatian banyak orang yang ada disana.


'Kecepatan tangan macam apa itu?' salah satu diantara mereka mengagumi kecepatan ke sepuluh jari yang Ovin gunakan cukuplah cepat ketimbang mereka yang sudah lama bekerja disana.


Beberapa layar komputer yang sempat mati, satu persatu mulai hidup kembali dan dari Cctv yang ada memperlihatkan banyak kecelakaan yang terjadi di jalan raya.


Dan itu banyak menguras waktu jika harus pulang dengan mobil, sebab keadaan jalan yang begitu ramai serta MACET TOTAL.


" Kakak, apa aku bisa meminjam uangmu?" tanya Ovin disela-sela pekerjaannya.


" Aku sudah membawa semua kartumu, jadi tidak ada kata meminjam lagi." sela Chade, dia ada di sebelah keponakannya yang


Ovin kemudian menggerakkan kursinya ke sisi meja di sebelah kanan, disana dia pun mulai menyalakan komputer yang mati dengan keyboard yang lain juga.


Tiga keyboard Ovin gunakan semua secara bergantian, membuat semua orang disana hanya diam membisu dan menyerahkan pekerjaan mereka pada satu orang gadis SMA?


Ya..mereka secara tidak langsung merasakan kekalahan pada pada seorang gadis SMA.


15 menit kemudian.


Polisi, pemadam kebakaran, ambulance, semuanya bersatu untuk menuntaskan masalah kemacetan akibat kecelakaan.


Rumah sakit banyak yang sudah penuh, pemadam kebakaran juga bertugas untuk memadamkan api dari mobil yang terlibat kecelakaan dan sempat terbakar.


______________


Sedangkan disekolah juga sudah diberitahukan mengenai situasi di kota yang sedang mencekam. Banyak yang masih berada disekolah karena alasan macet itu.


" Bagaimana kita bisa pulang? Semua jalur macet. "


" Kalian memang suka rumah ya, padahal ada asrama. Toh ngga jauh juga, bisa nginap semalam juga tidak masalah kan? "


" Sangat bermasalah, asrama itu kecil dan tidak senyaman kamar sendiri. " Akhirnya merli bersuara, tinggal di asrama yang kecil bukan merupakan bagian dari hidupnya, dari pada tinggal di asrma lebih baik tinggal di hotel bintang 5, itulah pilihan Merli sebagai orang yang kaya.


SWOSHH.....


SWOSHH....


SWOSHH...


" Apa itu? "


Orang-orang mulai membuka jendela kelas, dan ada juga yang menengadah ke atas. Ada angin yang mendadak datang dan cukup besar untuk membuat jendela bergetar.


" Helikopter. "


" Hebat sekali bisa punya helikopter untuk antar jemput ke sekolah. "

__ADS_1


Bukan antar jemput sih, tapi hanya jika dalam keadaan darurat seperti kemacetan yang menjalar puluhan kilometer.


Setidaknya siapa lagi yang punya helikopter selain anak-anak konglomerat tingkat tinggi?


Selain Franz ada beberapa orang lagi, namun helikopter yang sampai itu benar-benar milik Franz. Rela meninggalkan mobilnya di halaman sekolah, dia pun berjalan masuk ke helikopter pribadinya dengan cara yang mempesona dimana blezernya ia gantung di pundaknya dan rambut serabainya yang berkibar terkena angin menjadi pemandangan yang langka juga.


" Tuan, silahkan masuk. " tutur sang pilot yang mengendalikan helikopter lepas membukakan pintu untuk tuan muda nya.


"Kita pulang saja. " perintah Franz pada pilotnya.


Terbang tinggi dan lebih tinggi lagi, pemandangan kota yang terlihat itu sudah seperti rumah-rumahan, karena kecil dimata.


Jalan utama yang macet total oleh mobil juga terlhat seperti mobil mainan, dan orang yang berlalu lalang itu bagaikan semut yang bisa di injak kapanpun.


'Kemana dia pergi?' dengan tangan menyangga dagunya dan tatapannya yang terus menerus keluar jendela, ia juga sedang memikirkan sesuatu yang jarang dipikirkannya.


'Dengan siapa dia pergi? Aku menelfonnya berkali-kali tapi tidak bisa di hubungi.' Pikir Franz. " Oh ya.....apa yang sebenarnya terjadi? "


" Kantor pusat yang mengawasi seluruh lalu lintas di kota sedang diretas, walaupun sekarang sistem di kantor sudah pulih tapi butuh waktu lama untuk menormalkan lalu lintas. Banyak kecelakaan terjadi, itulah mengapa sekarang semua jalan macet dan mobil pun tidak bisa bergerak untuk beberapa jam kedepan." jelas sang pilot.


'Kecelakaan? Dia menaiki mobil, apa dia ju.....jangan berpikiran buruk, mungkin dia hanya terjebak macet dan ponselnya mati.' Lalu Franz tiba-tiba tersentak kaget, tidak biasanya memikirkan orang lain sampai tahap ini.


Sampai kepalanya pun sedikit dibuat pusing dengan perasaan khawatirnya? Khawatir akan seseorang.


'Ada apa dengan tuan muda? Ekspresinya lebih cepat berubah ketimbang membalikkan halaman.' benak hati pilot yang terkadang melirik ke arah majikannya yang bertingkah sedikit aneh.


Tak butuh waktu lama helikopternya bisa sampai di villa, dengan keadaan halaman depan rumah yang luas, helikopter itu bisa mendarat dengan bebas.


Sekembalinya dari sekolah, tubuhnya benar-benar lelah seperti tenaganya dikuras habis-habisan oleh gurunya seseorang Franz pun berjalan dengan malas menuju depan pintu, namun pintu itu sudah terbuka dengan sendirinya dan Bibi Ani sudah ada sana.


" Tuan, dimana nona? " Bibi Ani datang menyambut kepulangan tuannya, namun bibi Ani juga sempat mencari-cari satu orang lagi.


" Paling masih di jalan." Menjawabnya dengan cuek, cueknya bukan ditunjukkan pada bibi Ani melainkan pada orang yang dicari bibi Ani yaitu Ovin.


" Apa tidak masalah meninggalkan nona sendirian? " Bibi Ani merasa cemas, sekalipun Ovin hanya orang asing yang baru masuk ke dalam kediaman villa tuan Franz, tapi ia menghormatinya dan menyayanginya seperti dirinya menyayangi Tuan mudanya yang sudah ia asuh dari kecil.


" Pasalnya, bibi meminjamkannya uang karena nona bilang tidak punya uang. Apa anda tidak merasa khawatir? Karena bibi baru datang jadi mungkin uangnya tidak cukup buat nona pakai."


" Dia meminjam uang pada bibi? " Franz menepuk dahinya sendiri tidak percaya jika Ovin meminjam uang dari orang lain, padahal dia sudah menikah dengan Tuan muda yang ka-...


" Mungkin karena nona semalam belanja banyak, tanpa sadar uangnya habis dan tuan lupa memberikannya lagi "


Seketika ia baru sadar, kata kaya raya tadi tidak jadi di ucapkannya dalam hati karena...


'Sekalipun aku memang kaya, tapi dari awal aku menikah dengannya, aku tidak pernah memberikannya uang.' Telapak tangannya pun turun dan menutup separuh wajahnya sambil berpikir lagi. ' Jadi selama dua bulan ini dia belanja dan mengisi kulkasnya dengan uangnya, dan secara tidak langsung aku memakai uang dari perempuan itu?!'


Kepalanya menggeleng minta ampun, baru pertama kali dirinya memakai uang milik seorang perempuan dan apatah lagi...


" Maaf bi, aku tidak pernah memberikannya uang. "


" Kalau begitu, bagaimana nona bisa pulang? Bibi tidak tahu pasti apa yang nona lakukan dengan uang 75 ribu itu, sekalipun memakai jasa taxi juga harus bayar lebih dari 100 ribu untuk sampai di tempat ini dan lagi, layanan KRL juga sedang tidak bisa beroperasi untuk 1 hari ini. "


" Apa aku harus mencarinya? "

__ADS_1


Bibi Ani mengangguk iya,dan mendukung untuk hubungan kedua orang ini untuk seterusnya.


__ADS_2