
Perempuan yang menjadi adik kelas yang baru saja akan meregang nyawanya karena terjatuh dari lantai dua, kembali berhasil menjadi buah bibir.
“A-apakah aku sudah mati?” Matanya masih terpejam, karena dia masih tidak ingin melihat kenyataan yang harus dia hadapi kalau dirinya sudah mati?
“Jadi maksudmu kau ingin mati?”
Satu pertanyaan itu segera menghapus keraguan yang dimiliki oleh perempuan berambut pendek ini. Perlahan matanya terbuka, dan apa yang dia lihat pertama kali adalah wajah dari seorang perempuan?
“Eh? K-kenapa aku di gendong?” Tanyanya dengan perasaan gugup.
“D-dia, dia menyelamatkan perempuan itu?”
“Apa-apaan dengannya? DIa bisa menangkap anak itu dengan baik.”
“Hebat sekali dia. Aku tidak menyangka si mata empat ternyata bisa sekuat itu.”
Perlahan mereka semua takjub. Tapi untuk sesaat saja, karena mereka tiba-tiba menyadari satu hal.
“Eh, jika si mata empat sekuat itu untuk menangkap anak yang terjatuh dari lantai dua, lalu apa yang terjadi selama ini?”
“B-bukankah artinya, d-dia diam-diam menyembunyikan kemampuannya itu ya?”
Ovin yang mendengar itu, buru-buru melepaskan tubuh dari adik kelas yang hampir terjatuh itu dengan begitu saja.
BRUK..
“Akhww….” Perempuan ini pun jadinya jatuh juga ke lantai.
Tapi setidaknya itu tidak begitu seberapa menyakitkan ketika dirinya hampir saja koma, atau bahkan mati jika ia tidak di selamatkan oleh Ovin.
“Segera kompres wajahmu dengan Es.” pesan Ovin terhadap perempuan itu sebelum Ovin mendadak pergi ke lantai dua.
“T-terima kasih kak, sudah menyelamatkanku!” Ucap perempuan ini dengan nada sedikit lantang.
“Hmm…” Dehem Ovin.
“Dia menyelamatkannya. Aku benar-benar tidak menyangka dia bisa seberani itu menangkap orang yang sedang jatuh.”
“Kau benar, biasanya efek dari menangkap orang yang jatuh dari ketinggian, asti bahu dan tangannya itu sakit.”
“Tapi ya, jika tidak ada dia, mungkin saja perpustakaan ini akan jadi tempat horor.”
Dan mereka semua jadi membayangkan jika tadi benar-benar ada kecelakaan yang menyebabkan kematian, maka sudah pasti perpustakaan ini akan jadi tempat yang lebih menyeramkan dari sekedar aroma buku bercampur dengan pengharum ruangan berdamping dengan aturan untuk jangan berisik.
__ADS_1
KLEK.
“Ada apa ini? Kenapa ramai sekali? Apa kalian tidak tahu aturan terlarang di sini, untuk jangan beriisk?!” Tekan wanita berkacamata ini. Dia baru saja kembali dai toilet, tapi dalam sekejap mata suasana di dalam perpustakaan jadi riuh.
Hanya saja, tidak ada satu pun yang mau menjawab pertanyaan dari wanita itu, dan lebih memilih untuk kembali diam.
Bahkan keterdiaman mereka semua terjadi dengan serentak.
‘Mentang-mentang mereka dari keluarga kaya, kenapa kelakuannya seperti ini? Sama sekali tidak menghormati guru mereka sendiri, apalagi termasuk aku.’ Batin wanita ini.
Sampai suatu ketika, ia melihat ada seorang siswi sedang berdiam diri dengan kedua pipi memerah. Ia segera berjalan menghampiri siswi tersebut.
“Apa yang terjadi kepadamu? Kenapa pipimu memerah? Apa ada yang baru menamparmu?”
Takut akan konsekuensi yang bisa ia dapat jika memberitahunya, perempuan ini memegang kedua pipinya dan berjalan keluar dari sana.
“A-ah.” Wanita ini sadar kalau ucapannya itu salah. ‘Aku seharusnya tidak bertanya seperti itu.’ Ia pun hanya pasrah, karena dia sudah tahu, kalau kedua pipi dari siswi tadi hasil tamparan dari seseorang.
______________
Di lantai empat, lantai tertinggi dari gedung perpustakaan.
Seorang perempuan sedang duduk meringkuk sambil memeluk lututnya sendiri tepat di pojok ruangan, dan kebetulan juga berada di tepi jendela, sehingga ianya bisa melihat pemandangan luar perpustakaan dengan cukup jelas.
Ovin pun menghela nafas kasar. Dia menyadari sesuatu, bahwa dari awal dirinya juga sudah memperlihatkan kemampuannya itu.
‘Padahal paman menyuruhku untuk tidak memperlihatkan keahlianku di depan banyak orang. Tapi kali ini, karena aku tidak tega melihat anak itu sudah di tampar tapi hampir mati, aku mau tidak mau harus menyelamatkannya.’ Pikir Ovin. Dia terus merenungi dirinya sendiri karena melakukan kesalahan.
Ovin jadi merasa frustasi sendiri karena dia memang baru saja menjadi seorang pahlawan, tapi dengan seperti itu, maka ia pun jadi pusat perhatian lagi setelah beberapa hari ini kasus tentang dirinya baru saja mereda.
‘Kelihatannya hari ini ketenaranku akan jauh lebih meningkat.’ Ovin kembali memperlihatkan wajahnya, mengintip orang-orang yang saat ini sedang berlalu lalang di bawah depan gedung sana, baik itu seorang diri, berdua dengan temannya ataupun secara terang-terangan berjalan bersama dengan pacarnya.
Secara, Ovin jadi melihat semua kehidupan sekaligus aktivitas dari semua orang yang ada di sana dari tempat dia duduknya itu.
‘Apa aku tidak bisa seperti mereka ya?’ Ovin bertanya pada dirinya sendiri.
Walaupun dia berada di kerumunan, sayangnya Ovin tetap merasa sendirian.
Dia sekilas merasa iri dengan apa yang tengah dia lihat itu. Sepasang kekasih yang secara terbuka mengumbar kemesraan sesuka hati di depan orang. Padahal status dari semua sepasang kekasih yang ada di bawah sana masih dalam status pacaran saja.
‘Tapi aku? Padahal aku sudah menikah, tapi aku sama sekali belum bisa merasakan kencan seperti itu dengannya. Bergandeng tangan di depan banyak orang. Hahh~’ Ovin lagi-lagi kembali di buat menghela nafas.
Sungguh takdir yang begitu aneh. Itulah menurut dari sudut pandang Ovin sendiri.
__ADS_1
Ia sudah menikah, tapi sayangnya ia sama sekali belum bisa bermesraan di depan banyak orang, memperlihatkan dirinya sudah mempunyai pendamping hidup dalam hubungan yang sudah sah.
“Kebetulan di area belakang rumah kan kosong, Kira-kira jika aku menghiasnya, dia suka atau tidak ya? Roman-roman begitu.” Gerutu Ovin sambil tersenyum simpul, tapi tatapan matanya sungguh sayu, karena dia sangat iri bisa melihat orang dua berpacaran di sekolah pula. “Kencan. Apa nanti ujung-ujungnya aku akan kencan sendirian ya?”
Ovin jadi tertawa mencibir jika harus mengkhayal kalau Franz tidak akan mau ikut andil dalam rencana untuk kencan mereka berdua.
Selagi Ovin duduk sendirian, bersandar ke dinding kaca sambil memeluk lututnya sendiri, sebenarnya di balik rak buku yang ada di sebelah Ovin itu, ada satu orang yang sedang duduk di lantai. Kaki kanannya diluruskan ke depan, sedangkan kaki kirinya sedikit ditekuk, lalu meletakkan lengan tangan kirinya itu di atas lututnya.
Pria yang dari awal memang sudah lebih dulu ada di dalam perpustakaan di lantai empat, dia adalah Franz.
‘Kencan? Dia mau mendekor halaman belakang untuk membuatku kencan bersama?’ Benak hati Franz. Sama sekali tidak pernah terpikirkan kalau kencan ternyata bisa keluar dari mulut Ovin sendiri.
Dan memang kenyataan, kalau semenjak pernikahan mereka sampai sekarang ini, ia dan Ovin sama sekali belum pernah melakukan sesuatu yang terlihat cukup sepele tapi banyak di lakukan oleh banyak orang yang sudah jadi sepasang kekasih, yaitu kencan.
Bahkan mereka berdua yang sudah menjalani pernikahan selama dua bulan lebih, tidak ada di antara mereka berdua yang terpikirkan untuk kencan, dan sekarang perempuan itulah yang ternyata tiba-tiba ingin membuat rencana kencan di belakang rumah?
"'Hmm..." Franz menundukkan kepalanya ke bawah dan tersenyum simpul. 'Kenapa aku jadi penasaran apa lagi kejutan yang dia buat?'
"Ternyata kau disini."
"Hah?!" Franz sontak langsung mengangkat kepalanya dan menoleh ke samping kanannya.
"Kenapa kau terkejut seperti itu? Padahal yang terkejut itu aku, karena kau ternyata ada di sini juga."
"Bagaimana kau bisa tahu aku disini?" Wajahnya kembali suram, karena dia harus mengatur kembali raut wajahnya di depan perempuan ini, yaitu Ovin.
"Deheman tadi." Menyamakan posisi Franz yang sedang bersandar ke rak buku yang ada di belakangnya, Ovin pun juga melakukan hal yang sama, dan duduk di sebelah Franz persis.
'Dia- tidak mudah di tebak.' detik hati Franz. 'Banyak hal yang tidak terduga dari perempuan ini.'
"Franz~ Apa kita bisa lanjutkan apa yang malam tadi itu?" Tanya Ovin dengan nada menggoda.
Selagi itu juga, Ovin menyandarkan kepalanya di bahu kanan nya Franz.
Tapi Franz sendiri langsung bergeser cepat ke sebelah kiri. Sehingga tujuan Ovin untuk menyandarkan kepalanya di bahu lebar milik suaminya itu, gagal total dan membuat tubuhnya jadi jatuh sepenuhnya ke lantai.
Sesaat Franz memperhatikan Ovin yang terjatuh itu, dan cepat-cepat mengarahkan wajahnya ke depan lagi sambil menjawab : "Tidak"
Karena mendapatkan penolakan langsung seperti itu, Ovin tiba-tiba mendaratkan tangannya di atas paha Franz dengan kasar.
PHAK..
Seketika bulu kuduknya berdiri karena dia langsung tersentak dengan pukulan dari tangannya Ovin yang langsung mendarat di tempat yang masih sensitif itu, apalagi karena yang melakukannya adalah Ovin sendiri, Franz jadi merasa terpancing.
__ADS_1
'Tahan, tahan, jangan hanya karena dia menepuk pahaku, aku langsung kembali kambuh.' Tekad hati Franz dalam menahan dirinya itu.